[CeritASI] Kenalan dengan ASIX

Ceritanya, duluuu, saya cuma ikut-ikutan temen yang ngajak dateng ke seminar kecil tentang ASI dan gizi keluarga. Waktu itu, baru beberapa hari saya dinyatakan positif hamil dan usia kandungan baru jalan dua bulan. Blas, saya blank soal apa itu ASI ekslusif.

Oke, saya tahu bahwa setelah proses panjang hamil dan melahirkan, alaminya seorang ibu akan menyusui anaknya. That’s it and that’s all. Maka jangan ditanya betapa shocknya saya begitu diberi tahu oleh pemateri–seorang dokter perempuan yang cantik–bahwa selama 6 bulan awal hidupnya, bayi tidak memerlukan APAPUN selain ASI. Jadi, air putih pun tidak boleh. Tidak perlu. Tidak setetes pun!

Belum habis rasa terkejut saya, dokter itu membeberkan daftar panjang “dosa-dosa” si susu formula. Lah, apa kabar para bayi–termasuk saya dan adik-adik–yang sudah lama–bahkan mulai sejak begiti dini–mengkonsumsinya? Kalau bukti ilmiah ini benar adanya, kenapa publik tidakk heboh? Kenapa para ibu–termasuk Mama saya–dengan sukarela dan bahkan bangga dengan susu formula yang susah payah dibeli dengan harga selangit? Apa cuma keluarga saya yang tidak tahu perkara ini? Kenapa seumur-umur saya baru dengar?

Jawabannya sederhana: karena sampai sebelum saya ikut seminar itu, saya tidak cukup berinteraksi dengan informasi terkait hal tersebut. Saya buta karena tidak baca, pun tuli karena tidak dengar.

Meskipun pulang dengan suntikan semangat untuk memberi anak saya kelak ASI, saya tidak lantas “matang” pada hari itu juga. Ah, tidak harus hanya ASI, bukan? Ah, masa sufor seburuk itu?

Tapi tidak lama berselang, sahabat saya melahirkan putrinya. Saya beberapa kali tidak sengaja mengikuti postingnya di FB. Oh, ibu baru ini ternyata sealiran dengan Bu Dokter waktu itu. Kadang, saya ikuti diskusi di dindingnya, kadang saya ikut membaca link yang dibaginya.

Tambah penasaran, saya bergabung di beberapa komunitas penggerak pemberian 6 bulan ASIX dan 2 tahun ASI. Seolah masih dahaga, artikel ringan dan agak berat saya teguk. Toko buku jadi langganan buat hunting buku referensi. Masih lapar, saya unduh jurnal gratisan, outline hasil riset, sampai berbagai kebijakan nasional dan internasional. Yap! Semua dikunyah dan ditelan habis. Kadang, bahkan sampai lupa makan, saking asyiknya. Setelah tesis S2 di Nagoya kemarin, rasanya baru kali ini saya bergairah lagi membaca tulisan ilmiah, baru kali ini merasa begitu penasaran lagi, dan baru kali ini merasa meledak-ledak penuh semangat lagi.

Dan, ternyata sebegitu serunya memang debat panjang antara ASI dan sufor itu. Oke, Nak, Bubun sudah memilih. Dan pilihan itu, insyaAllah sudah melalui proses pencarian panjang dari upaya terbaik yang bisa dilakukan. Bismillah, semoga bisa, memang bisa, dan beneran bisa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s