[Manajemen ASIP] Introducing My Best Partners in Pumping: Mezzo and Mosella

Kenalkaaan. Ini teman-teman baik saya saat perah. Mereka sudah setia mendampingi sampai hari ini, saat Daanish udah berumur 8,5 bulan. Saya pertama kali punya pompa yang manual, merek Unimom Mezzo. Sudah saya beli jauh-jauh hari sebelum lahiran, dan masuk dalam tas berisi perlengkapan melahirkan yang dibawa ke rumah sakit. Tapiii… saking sibuknya menenangkan diri yang harus mendadak operasi caesar, eh, botol yang harusnya dipasangkan di breast pump (BP) malah ketinggalan di rumah. Gapapa juga, sih. Soalnya akhirnya dengan rumus the power of kepepet, di RS malah belajar perah pake tangan. Memang masih sakit dan belum terbiasa, tapi biar satu-dua tetes (ihikss), kekumpul juga tuh ASIP.

Setelah satu bulan pake Mezzo, saya mulai berpikir untuk punya “yang ke-dua”. Pertama, saya lelah kalau harus segera membersihkan dan men-steril pompa tiap kali mau perah. Kedua, kalau sudah masuk kerja nanti, saya pikir akan lebih mudah jika punya dua pompa; satu khusus untuk di rumah dan satu untuk di tempat kerja. Sama aja sih, ujung-ujungnya biar ga grabak-grubuk sama urusan cuci-steril itu. Udah punya yang manual, jadi pengen yang berikutnya tuh yang elektrik. Kata orang-orang sih, biar ga gampang capek, jadi bisa pompa lebih sering. Terus karena otomatis, bisa sambil menyusui atau menegrjakan pekerjaan lain. Yeay! I’m gonna (learning to) be a multitasking mom!

Ternyataaa… pompa elektrik itu mahal-mahal sekali loh, Saudara sebangsa dan setanah air! Hehe, lebay yah. Hasil investigasi ringan plus wawancara singkat dengan Mba Dian (owner of Gerai Laktasi), akhirnya saya pilih Mosella dari Little Giant. Murah meriah. Alhamdulillah, pas dipake pun cocok. Awalnya memang cukup sakit. Tapi testimoni sebagian besar orang memang menyebutkan kalau pompa elektrik akan sedikit lebih “menyakitkan” daripada pompa manual. Dan memang, kekurangannya terutama adalah bentuk corong yang kurang pas, sehingga hasil perahan kadang berbalik ke luar (tumpah) atau masuk ke selang hisapnya. Kasus ini terutama terjadi kalau PD sedang LDR; dimana ASI mengucur dengan laju cukup cepat dan volume cukup banyak. Ini yang nampaknya sulit tertampung dengan baik untuk segera diteruskan ke botol, sehingga menumpuk sementara dan meluber ke mana-mana.

Entah kenapa, hasil perahan pun lebih banyak Mezzo daripada Mosella. Mungkin karena pengaturan manual lebih bisa mengikuti ritme tubuh kita ya, ketimbang elektrik yang cenderung bekerja konstan dengan hitungan kerja otomatis. Meskipun, sebenarnya si Mosella ini sudah dilengkapi dengan berbagai tingkat kuat-lemah dan ritme pompa. Ada 5 tingkatan hisapan dan 2 jenis ritme hisapan. Kombinasi pengaturan keduanya bisa membantu para Ibu menyesuaikan dengan ritme dan kekuatan yang diinginkan sesuai kebutuhan dan kondisi saat itu.

Lalu, setelah 6 bulan lebih menggunakan Mezzo, akhirnya si tuas pun patah. Huks huks..sedihnyaaa. usut punya usut, ternyata tuas ini sebaiknya tidak dipanaskan, dan memang tidak perlu di-steril. Sementara saya sudah melakukan perebusan, penguapan, pemanasan dan tindakan-tindakan terlarang lainnya bagi si tuas. Ya iyalah, wajar kalau akhirnya dia pun patah jadi dua. Beli tuasnya aja Rp. 40.000,-, mendingan beli sekalian sepaket Mezzo baru Rp. 210.000,-. Hitung-hitung saya jadi punya cadangan satu pompa baru. Pun, si yang baru itu akhirnya sampai detik ini memang cuma dimanfaatkan bagian tuasnya aja. Overall, saya rasa ibu bekerja memang lebih baik punya dua pompa. Selain supaya masih bisa pompa selagi yang satunya kotor, juga sebagai cadangan pada saat mendadak salah satu pompa tidak bisa dipergunakan.

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s