[Manajemen ASIP] Step By Step Perah dengan Pompa

Saya pumping (perah dengan pompa ASI) di kantor biasanya menggunakan breast pump (BP) manual, sementara yang di rumah pakai BP yang elektrik. Alasannya sederhana, di kantor saya butuh yang ringkas, mudah digunakan, dan bisa digunakan di mana pun. Sebab, saya pernah satu kali pompa di gudang sambil berdiri! Hanya karena semua ruangan sedang terpakai dan waktu yang singkat tidak memungkinkan saya untuk turun 5 lantai menuju ruang laktasi. Alasan kedua, supaya saya, yang biasanya sudah sangat lelah untuk menggenjot BP manual, masih bisa menikmati rutinitas pumping di rumah dengan BP elektrik. Tanpa harus mengeluh pegal, saya bisa lebih enjoy meskipun masih punya beberapa jadwal perah. Plus, saya masih bisa “melayani” si kecil sembari memompa; bisa sambil menyusui, bermain, maupun membantunya tidur. Hadiah satu lagi, BP elektrik yang memungkinkan saya pompa sambil menyusui itu bisa melipatgandakan hasil ASIP. Soalnya, LDR jadi lebih mudah dipancing, soalnya LDR jadi bisa berkali-kali terjadi. Yeyeyeyyy!

Sebenarnya tidak ada rutinitas spesial sebelum pumping, cuma untuk membuat keadaan rileks mungkin bisa dibantu dengan melakukan beberapa hal menyenangkan. Beginilah step by step pumping, terutama di kantor, yang selama ini saya jalani.

  1. Begitu tiba di kantor, ice gel langsung masuk freezer, box Lock n Lock berisi pompa dan botolnya masuk chiller, dan cooler bag berisi tuas pompa, hand sanitizer, plastik ASIP, dan kadang ada tissue juga saya letakkan di musholla kecil yang biasa saya pergunakan untuk pumping.20120918-151330.jpg
  2. Jadwal pumping di kantor saya tetapkan 2x sehari. Dipilih jam yang tidak mengganggu ibadah orang lain, jadwal pertama jam 11.30 dan jadwal kedua jam 14.30. Patuhi jam pumping! Ini penting untuk menjaga kuantitas produksi ASI.
  3. Duduk manis begitu jam pumping tiba. Niatkan dengan tulus agar cinta yang kita upayakan dengan ikhlas ini, benar-benar bisa jadi manfaat buat anak-anak kita. Bayangkan ekspresi lucu si kecil, atau lihat fotonya di hp kita.
  4. Sebelumnya mulai, minum segelas air putih hangat, ini juga membantu memusatkan pikiran dan membawa kita ke suasana yang lebih santai.
  5. Berdoa sebelum mulai dan dahulukan PD kanan (keculai bila dalam kedaan khusus seperti bengkak, rembes, atau mastitis). Dua anjuran bagi penganut agama Islam ini saya patuhi, karena saya percaya, pastilah ada dampak baik jika suatu aktivitas sampai diajarkan dalam agama. Setidaknya, saya beroleh efek rileks dari ritual ini.
  6. Bersihkan tangan dengan hand sanitizer.
  7. Pijat perlahan dengan gerakan memutar maupun gerakan dari luar ke dalam aerola PD.
  8. Mulailah memompa dengan ritme perlahan lalu sedikit demi sedikit dipercepat (tidak usah terlalu cepat). Biasanya, efek dari pompa yang sudah dingin di chiller juga turut berperan memanggil momen LDR.
  9. Lakukan aktivitas pompa dengan senang, bahkan jika di waktu-waktu awal hanya setetes demi setetes yang bisa kita kumpulkan. Syukuri, syukuri, dan syukuri.
  10. Begitu LDR tiba, segera percepat ritme memompa. Pertahankan LDR selama mungkin sambil terus merasa bahagia melihat tetes-tetes ASI bertransformasi jadi kucuran air yang lancar dan deras keluar. Ah, nikmatnya ya, menjadi seorang ibu itu. ^^
  11. Jika LDR tak kunjung tiba, kita bisa merangsangnya. Intensifkan pijat perlahan di area PD atau raba perlahan areola PD. Tetap lakukan perlahan, ya, tidak perlu tergesa-gesa.
  12. Lakukan pumping sampai benar-benar tidak ada tetesan ASI yang keluar.
  13. Lalu, lakukan finishing dengan “mengeringkan” PD dengan perah metode Mermet (perah manual dengan tangan).
  14. Simpan ASIP dalam wadah yang diinginkan; bisa plastik ASI, plastik es, botol kaca ASIP, maupun tetap di botol plastik yang dipakai selama pumping.
  15. Masukkan bersama cooler bag ke chiller.
  16. Sebelum pulang, keluarkan ice gel dan masukkan juga ke dalam cooler bag.
  17. Tutup rapat dan tentenglah tas berisi “hasil kerja keras” kita hari ini dengan perasaan syukur dan bahagia tak terkira. ^^

Lalu, begitu tiba di rumah, kecuplah kening buah hati kita sambil berkata, “Sayang, maaf ya Ibu tinggal kamu kerja seharian. Meskipun tidak bisa menggantikan, ini, Nak, oleh-oleh cinta dari Ibu untukmu. Besok, minum yang banyak, yah!”

2 Comments

  1. Thumbs up banget buat blogpost yg ini mbak🙂
    Kalau boleh tanya, biasanya rata-rata berapa menit yang dihabiskan untuk sekali pumping di kantor, dan berapa menit di rumah? Apakah waktunya bisa bervariasi tergantung produksi ASI pada saat itu?
    Terima kasih untuk penjelasannya ya Mbak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s