[Curhat MPASI] MPASI Pertama: Apa Kabarnya Si Pisang, Daan?

Mulai makan puree pisang hari Minggu, Daanish belum pup sampai hari Kamis. O’ow. Apa yang salah?

Daanish makan selalu di rentang waktu yang sama. Antara jam 8-9 pagi. Supaya dia terbiasa dengan ritme sarapan. Makannya baru sekali. Sebab, sejatinya MPASI tahap awal, proses ini memang baru ‘memperkenalkan’ makanan selain ASI pada bayi; baik itu cita rasanya maupun cara mencernanya. Dan seterusnya, MPASI haruslah tetap diposisikan sebagai ‘pendamping’ ASI, sehingga pemberiannya memang tetap di sisi ASI sebagai asupan utama.

Hari Minggu dan Senin, puree pisang ambon Daanish diencerkan dengan ASIP hangat. Dari suapan pertama, si anak soleh ini sudah memamerkan antusiasmenya. Hap hap lep lep. Semua masuk. Sendok pun puas digigit-gigit.

Tapi namanya juga baru belajar, banyak belepotannya. Dari satu sendok bayi, cuma 30-50% yang masuk mulut. Sisanya menetes-netes di dagunya. Menciptakan cemong di area hidung, mulut, pipi gembul, dan dagunya. Belepotannya pun heboh; dari celemek, sapu tangan, popok, kasur, tangan dan kakinya. Hihihi. Cemong campur ekspresi wajahnya itu yang bikin ga tahan, lutjuuuuuw!

Ingat bahwa kandungan air dalam ASI cukup tinggi, saya belum memberinya air putih di dua hari pertama ini. Tekstur si puree pun encer, namun tidak seencer air/ASIP. Tadinya saya pikir semua akan berjalan normal dengan cara ini.

Dua hari belum pup, saya mulai ketar-ketir. Bayi yang baru minum ASI saja memang memiliki toleransi hingga 14 hari untuk pup. Alasannya karena ASI mudah dicerna dan mungkin untuk diserap hingga 100%. Tapiii, tidak setelah MPASI dimulai. Pup harus tiap hari. Setidaknya, 2 hari sekali.

Selasa pun Daanish belum pup. Saya mulai memberinya air putih. Bahkan, mengencerkan pureenya pun dengan air putih. Tingkat keenceran pun dinaikkan. Puree jadi hampir bening warnanya saking encernya.

Sayangnya, Daanish masih belum pup hingga hari Rabu. Padahal, menurut 4-days-rule, kalau tidak ada indikasi alergi, seharusnya Daanish sudah bisa ganti menu. Haduh, apa kabar si pisang sih Nak di perutmu?

Hasil konsultasi dengan teman, saya putuskan untuk ganti menu di hari Kamis pagi. Sayang kalau terus-terusan makan pisang. Apalagi kalau harus stop sementara belajar makannya. Plus, Daanish juga anteng, tidak ada tanda-tanda sembelit, dan tetap aktif seperti biasa. Saya persering saja pijat ILU di perutnya dan gerakan menggowes di kakinya. Tak lupa, porsi dan frekuensi minum air putih pun ditingkatkan.

Okeh, kita lihat satu dua hari ke depan. Semoga Daanish memang baru belajar mencerna, bukan sembelit. ^^

2 Comments

  1. Bun…gimana dd danish..
    Anak qu jg mpasi perdana udh hr ke tiga dr hr minggu trakhir pup..
    Ank qu tdk rewel dan ttp lahap makan pure alpukat..
    Menu ny pun udh ganti bun..pure pepaya,pisang…
    Sampai mau hr kamis ini belum pup jg..
    Aq udh pijat ilu gowes tp ankqu blm pup jg bun..
    Mhn info ny bun..

    • daanish akhirnya susah pup di seminggu awal mpasi aja kok, bunda fitri. selebihnya lancar. saya ternyata salah dalam hal pemberian air putih yang kurang. diseringin aja air putihnya bun. setiap beberapa suap, seling air putih. selesai makan juga. jeda di antar waktu makan juga. kalo anak-anak gak rewel dan perut ga keras/kembung, dan pupnya nantinya juga ga keras/encer, saya rasa gpp, bun. diobservasi terus aja, ya. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s