[Curhat MPASI] MPASI Pertama: Pisang Nyam-Nyam

Daanish memulai fase konsumsi MPASI pada tanggal 1 Juli, tepat di usianya yang ke-6 bulan. Dari berbagai aliran pemberian MPASI, pilihan saya jatuhkan pada pemberian buah, dan untuk sementara tanpa metode BLW–Baby Lead Weaning.

Buah, saya pilih karena nampaknya akan sangat mengasyikkan jika makanan pertama adalah sesuatu yang bercita rasa ‘rame’ macam buah. Saya pikir, sensasi tekstur dan rasanya yang seru tentu mampu membangkitkan selera makan Daanish.

Pun, saya pernah membaca kalau asumsi tentang pengenalan buah–dengan rasanya yang enak–terlebih dahulu sebelum sayur dan serealia–dengan rasanya yang cenderung hambar–akan menyebabkan bayi menjadi picky eater, tidaklah terbukti secara ilmiah. Meskipun saya paham, bahwa serealia memiliki kandungan pencetus food intollerance dan alergi lebih kecil daripada buah atau sayur. Tapi toh, kasus-kasus yang terjadi sangat bervariasi dari bayi satu ke yang lain.

Oleh sebab itu, dengan mengucap ‘bismillahirrahmanirrahiim’, MPASI Daanish pun dimulai dengan pemberian pisang ambon. Kenapa pisang ambon?

Dari informasi yang saya dapat, pisang, pepaya, alpukat, apel, dan pir adalah buah-buah yang paling banyak dirujuk oleh penganut mazhab MPASI pertama dengan buah. Selain bertekstur lembut, berasa manis, dan mudah didapat, buah-buah tadi memiliki kemungkinan lebih mudah dicerna dan, kembali lagi, lebih kecil kemungkinan mencetus ‘food intollerance’ dan alergi.

Saya tidak pilih apel dan pir, sebab pada awal pengenalannya mereka sebaiknya disajikan setelah dimasak–entah itu dikukus, dibakar dengan oven, atau diblansir. No! Saya pengennya yang pertama tuh yang fresh from nature. Jadi jelas dong, mereka berdua tidak saya pilih.

Saya juga menghindari pepaya. Karena meskipun kasuistik, ada bayi-bayi yang justru mengalami sembelit gara-gara pepaya. Berhubung salah satu konsultan MPASI saya (ehem!) juga mengalami pengalaman tersebut pada bayinya, maka pepaya pun saya coret.

Alpukat adalah pilihan bagus. Disebutkan bahwa sumber makanan nabati paling kaya akan nutrisi yang jauh melampaui lainnya adalah si ‘creamy’ alpukat ini. Dewanya makanan bergizi lah. Lemak yang dikandungnya adalah lemak baik, yang paling sering dipakai para ibu yang ingin mem’boost’ berat badan bayinya. Terutama, mereka yang BBnya pas-pasan selama ASIX sebelumnya. Dan, justru inilah yang membuat alpukat tidak saya pilih. Daanish sudah cukup ‘jumbo’, dan untuk saat ini saya belum perlu asupan untuk membuatnya lebih ‘jumbo’ lagi.

Sudah ketahuan kan sisanya? Yup. Si pisang! Maka, sehari sebelumnya, saya dan si Mas melipir sebentar ke pasar membeli pisang ambon. Daanish ikut. Kepadanya saya tunjukkan bahwa benda inilah yang akan mampir ke mulut mungilnya, terus berjalan perlahan ke saluran cernanya yang lain, dan insyaAllah berakhir dengan manis sebagai nutrisi tambahan di tubuhnya, dan juga sisanya ‘dibuang’ sesuai prosedur yang berlaku. Hehe.

Selamat memulai aktivitas baru, Daanish! Mari kita maka~n!πŸ˜€

20120922-191653.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s