[MPASI Dasar] MPASI, Kenapa Harus Bikin Sendiri?

20120926-033937.jpgYa, kenapa makanan si Daanish harus repot-repot saya bikin sendiri? Bukannya ada banyak banget produk makanan bayi buatan pabrik yang lebih mudah, lebih “kaya akan gizi” di pasaran? Kenapa?

Karena Ibubun terlalu cinta sama Daanish!

Ets, dilarang ngomong “gombal deh, lu!” yaaa. Hihihi. Lha, emang iya. Coba deh coba deh, alesan apa lagi yang sedahsyat alesan cinta? Yang mampu bikin energi terisi lagi, yang bisa bikin semangat naek lagi; yang–dengan sangat luar biasa–bisa memampukan kita yang tadinya ga mampu! Hebat ya, si cinta itu.Sebagai tambahan, ada deretan fakta umum soal makanan rumahan ini. Iya, pastinya lebih sehat karena bahannya alami. Iya, pastinya lebih seger karena bukan penganan yang disimpen berbulan-bulan. Iya, pastinya bebas bahan pengawet, pewarna, penyedap, bahkan ga pake gula dan garam sebelum umur satu tahun.

Saya pilih MPASI rumahan, sama seperti saya pilih ASI. Secara logika, dua jalan ini koheren. Gampangnya, saya mikir gini, “Udah susah-susah ASIX, udah berdarah-darah perjuangan ASIX, masa abis itu dikasih makanan pabrik? Lhaaa, ama susu formula bedanya apa dong?”

Ya, kan. Ibu-ibu anti sufor seperti saya, mengkhawatirkan aneka proses mekanis dan tambahan zat kimia dalam makanan pabrik. Kami mengasihani beratnya kerja lambung, usus halus, usus besar beserta jajaran flora dan enzim di dalamnya. Kami meragukan kesterilan dan keamanannya jika dikonsumsi terus-menerus, oleh bayi pula!

Ga usah jauh-jauh, saya aja yang orang dewasa ga yakin sanggup berbulan-bulan (bahkan bertahun-tahun) makan dengan mie instan, roti pabrik, biskuit pabrik, bubur pabrik, sereal pabrik, dkk. Oh, itu saya, yang udah dewasa gini lho. Gimana Daanish yang baru mulai makan umur 6 bulan?

Maka meskipun ga jago masak, saya pilih MPASI rumahan buat Daanish. Karena saya cinta, saya peduli sama organ pencernaan Daanish. Karena saya cinta, saya ingin indra pengecapnya asyik merasakan sensasi makan sebenarnya: aneka tekstur, aneka rasa, aneka bau. Karena saya cinta, saya ingin Daanish merasakan nikmatnya makan. Karena saya cinta, saya ingin Daanish belajar menentukan apa dan seberapa banyak yang ingin dimakannya, tanpa menjadikannya picky eater maupun anak dengan obesitas.

Pemberian satu makanan tunggal sekali sehari dengan aturan tunggu 4 hari pada usia bayi 6 bulan, membuat bayi bisa dengan mudah “merekam” sensasi makanan yang diterimaya. Juga, menjauhkannya dari kemungkinan alergi atau intoleransi makanan akibat masih belianya kesiapan sistem pencernaan.

Inget, ini makanan pertama buat dia. Dia ga punya rekaman sebelumnya tentanh urusan pilah-pilih makanan. Dia ga punya rekaman “ga suka sayur” atau “ga mau keju”. Thus, MPASI bertahap dari tunggal ke campuran sederhana, membuat bayi cuma punya satu rekaman, “Oh, rasa yang ini sama rasa yang itu beda. Terus tekstur yang ini lebih kasar dari yang itu. Hummm…aromanya juga beda, ya.”

Penundaan pemberian gula dan garam pun berefek sinkron. Pencernaan ga kerja terlalu berat. Bayi ga terlanjur suka sama yang gurih-manis buatan pabrik yang bikin dia pilah-pilih sama makanan alami. Klop!

Akhirnya, pola makan sehat ini diharapkan jadi kebiasaannya di masa yang akan datang. Bukan dengan pemaksaan, tapi bertahap lewat proses makan hariannya. Tinggal, kita para orang tua yang berbenah. Dengan rendahnya angka harapan hidup orang Indonesia jaman sekarang akibat aneka penyakit yang berhulu dari pola makan ga sehat, sanggupkah kita–seperti bayi–kembali “belajar makan” dengan pola lebih baik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s