Perlengkapan MPASI (2)


Pas liat isi dapur di pojok khusus alat-alat buat bikin MPASI, saya baru nyadar kalo masih banyak peralatan yang belum saya tulis di sini. Meskipun sebagian peralatan, gak khusus buat MPASI aja sih, tapi dipake harian buat masakan keluarga juga. Soalnya ada keterbatasan jumlah dan budget dan selain itu, usia Daanish yang udah 8 bulan rasanya udah mulai kuat deh saluran pencernaannya. Meskipun, ga berarti lantas alat-alat ini kotor dan sembarangan dipakenya juga.

/>
20120930-230837.jpg

Kecuali cetakan aluminium, semua alat di atas saya beli di One-coin-shop waktu di Jepang dulu. Gak cuma di Daiso, ada juga produk Seria. Dalam foto di atas ada aneka cookie cutter, loyang aluminium kecil, kitchen timer, capitan, tirisan/alat pembuang buih, dan penghancur kentang. Sorry, maknya Daanish emang doyan yang ijo-ijo. Jadi, jangan salahin kalo aneka alat MPASInya dominan hijau. Hehe.

20121025-002623.jpg

Nah, kalo yang ini, isinya ada parutan keju jenis lurus dan melengkung, hasil parutannya sih sama aja. Ada saringan kawat, pengocok telur, dan sumpit panjang dengan ujung silikon. Sumpit ini favorit kalo lagi bikin sup telur. Soalnya buat jatuhin si telur ke dalam panci supaya teksturnya jadi mirip sarang burung gitu. Sama buat aduk n tumis kalo pake marble pan, termasuk si T-Fal itu. Supaya gak gores lapisan anti lengketnya. Kan sayang bo’. Hehe.

[MPASI 8 Bulan] Aneka Sup Buah


Sebenernya, kalo gak pake anggur dan buah naga, menu ini mah udah bisa dimakan bayi dari umur 6 bulan. Buah naga mulai umur 8 bulan ya. Sementara, anggur dan nenas sebaiknya baru diperkenalkan ke bayi di usia 10 bulan. Ah, modifikasi sama aneka buah yang ada di rumah aja lah, Moms. Jangan dibikin ribet, yak! 😀

1. Setup Pisang

Bahan:
-pisang ambon/sunpride, potong menjadi 2 bagian
-kayu manis
-biji pala
-air matang

Cara:
-rebus air matang hingga mendidih bersama dengan kayu manis dan biji pala
-masukkan pisang, rebus hingga lunak

20121024-235226.jpg

2. Sup Buah Variasi 1

Bahan:
-Pisang setup, potong kecil-kecil
-Mangga, potong kecil-kecil
-Alpukat, potong kecil-kecil
-Anggur, potong kecil-kecil
-Kuah pisang setup

Cara:
susun semua bahan di mangkuk, siram dengan kuah pisang setup

20121024-235145.jpg

3. Sup Buah Variasi 2

Bahan:
-buah naga, potong kecil-kecil
-mangga, potong kecil-kecil
-kacang merah, rebus hingga lunak, tumbuk kasar
-kuah pisang setup dan kuah rebusan kacang merah, campur

Cara:
susun semua bahan di mangkuk, siram dengan campuran kuah pisang setup dan kacang merah

Kuahnya, bisa juga menggunakan sari jeruk, jus mangga, atau jus buah lainnya. Pokoknya MPASI mah tergantung isi kulkas dan kreativitas setiap Ibu. Jangan keburu mati gaya dulu ya, Mom. Semua yang sehat dan alami itu bisa disulap jadi aneka MPASI. Dan, pastinya gak sesusah bikin makanan orang dewasa. Hehehe. Semangat bikin MPASI Dapur Ibu yaa!

20121025-000124.jpg

[MPASI 8 Bulan] [Meals during Ilness] Fruit Mix Juice with Mint Leaves and (again) Doria!


Today, Daanish’ cough came to the peak that made him lost his voice. So sad to suddenly unable to hear his cries, his laughs, his speech. Bed time is the nightmare: fever, cough, and anxiety happen at the same time. We’ve been struggling to feat this. As Daanish lost his appetite, I gave him combination of fruit juice with lemon and mint leaves. Yap, mint leaves did some good job in giving ‘different sensation’ on the fruit juice and also for the recovery. And, who doesn’t know lemon’s ability in recovering human’s symptoms in regards to throat? It is fresh and rich of vitamin C. Go help Daanish antibody to beat bacteria amd virus, Dude! :))

Here are menus during Daanish’ home treatment against the cough:

1. Juice 1: mango, dragon fruit, banana, red bean, lemon, mint leaves

2. Juice 2: mango, banana, dragon fruit, grape, lemon, mint leaves

3. Solid foods: rice gratin/doria
This menu never fails in raising his appetite. This time, I made the Bechamel sauce (white sauce) for the Doria using cream cheese and homemade soy milk. Also, addition of some Dill leaves arose a very good smell of this baked menu.

Since he keeps on refusing other solid foods, I made this a kind of “soft-foods”. The base of this Doria was cooked oats. On top of that, there were cheddar cheese, well-cooked vegetable mix, and last, topped by Bechamel sauce. He ate like he was not attacked by any sickness, the portion was even more than he usually eats. How can I not be happy to see this! \^.^/

The rest, responsibility of skin to skin contact, handling midnight tantrum, and settling Daanish down to sleep goes to Daanish father. Hand in hand, we’re struggling to gain Daanish voice back! 😀 Get well soon, Daan! :* ❤

20121024-231458.jpg

[Diary Ibubun] 4 Tahun Kita, dan 9 Bulan Daanish


Episode saya dan kamu:

Apa yang saya ingat? Aduh, saya ini pelupa. Dari dulu pelupa berat! Saya ‘cuma’ ingat lika-liku sampai akhirnya kamu menjabat tangan Papa. Dan, hopla! Tau-tau kita bisa resmi ‘sekamar’!

Bagaimana? Oh, oke. Harus lebih serius, ya?

Baiklah. Saya ingat kembang di ranjang pengantin yang baunya semerbak, tapi bikin merinding di tengah malam itu. Saya ingat lapisan dekorasi kamar pengantin yang rame dan justru bikin udara jadi panas dan pengap itu. Ya, saya ingat.

Habis itu, tau-tau jarum-jarum jam terasa berputar cepat sekali. Rentang dua tahun Nagoya-Bekasi pun bak sekelebat. Tau-tau jarak menciut lagi di antara kita, mewarnai buncah rasa ingin segera dipertemukan dengan makhluk baru; yang padanya ada sebagian saya, pun sebagian kamu.

Belum lagi berjalan segala macam urusan dokter kandungan dengan pelancar haidnya itu, tiga kali alat tes kehamilan mendeteksi garis merah muda yang dirindui selama ini. Oya! Kita pernah ‘salah baca’ dulu, maka kali ini pun kembali tak merasa cukup yakin.

Lima minggu ‘dia’ hidup di sana, barulah kita bisa ‘mencuri lihat’. Oh oh, makhluk itu benar-benar tengah membelah; dari gumulan ovum dan sperma jadi layaknya bentuk manusia sejati.

Episode kami dan kamu:

20121019-161907.jpgHey, hey, bertumbuhlah yang sehat, ya! Sebab kami di sini, mati-matian menekan harap, untuk tidak meneriakimu: cepatlah sempurna, lalu cepatlah keluar!

Tidak! Kami ingin menikmati tiap detik kebersamaan denganmu, bocah lucu. Baik sejak kau masih jadi ‘imajinasi’ kami, maupun sampai jari-jemari kita bisa bertemu. Jadi, bertumbuhlah dengan tenang. Sebab, kami pun tak ingin menghela waktu tergesa-gesa.

Jadi, minumlah ASImu dengan tenang tanpa tersedak. Kunyahlah perlahan-lahan apa yang kami sediakan penuh cinta. Merangkak dan merambatlah kapanpun kamu ingin melatih motorikmu. Jelajahi dan puaskan rasa ingin tahumu, sampai jenuh alam memberimu ilmu. Menjadilah wujud yang kau senangi. Asalkan, Rabb kita ridha pada pilihanmu.

Episode saya dan kamu (epilog):

 

Empat tahun. Sekarang sudah ada dia di antara kita. Kamu di ujung ranjang sana, saya yang di sini. Semata, karena kita tak ingin dahi kirinya memar membiru lagi lantaran beradu dengan ubin.

Oya, meskipun kamar kita jadi jauh dari indah, tapi terasa lebih menentramkan. Kaki-kaki tempat tidur sudah disingkirkan. Barang-barang ringkih yang bisa dipanjati si dia, sudah digudangkan. Sesekali, aroma kamar berubah jadi ‘manusiawi’ sekali, dengan ulah biologis si kecil. Tapi tak apa. Kita sering menertawai keadaan ini, bukan?

Empat tahun. Kita masih bertengkar, adu mulut dan puasa bicara. Tapi, kita juga masih bergandengan tangan, saling berbagi cerita, dan merasa rindu saat pekerjaan kantor merenggangkan jarak.

Empat tahun, dan kita masih terus belajar: menggeser ‘saya’ dan ‘kamu’, lalu menggantinya dengan ‘dia’ dan ‘kita’.

Empat tahun, dan semoga Dzat Maha Pengasih di atas sana, sudi mengekalkan kita di sebaik-baik tempat kembali manusia kelak.

Sebuah Renungan


Copas dari status temen di FB, yang juga mengutip dari sumber tak bernama. Aih, bikin pengen minta maaf ke anak sambil peluk erat-erat. :((

Kuantar kau tidur malam ini, seperti biasa ..
Bersama kita ucapkan doa sebelum tidur sambil tanganmu melingkar di leherku, kau tersenyum.
Matamu menatapku, bening dan bahagia.
Sudah kau lupakan sedihmu tadi siang saat aku marah karena kau tidak turuti perintahku.
Kulontarkan panah tajam kata-kata, mengkritikmu.
Berapa banyak Nak, yang menancap di hatimu sehingga ia berdarah? Tak kau kesal padaku juga …
Padahal tadi siang aku menatapmu dengan panasnya amarah
Hanya karena masalah sepele, yang bahkan akupun tahu kau tak bermaksud melakukannya.
Berapa banyak benih cinta dalam ladang hatimu yang hangus karena tatapanku, Nak?
Tak pernah kau jera untuk mencintaiku.
Sementara tadi sore kau tertunduk saat aku tuding kau … sebab kurasa kau tak perhatikan kata-kataku.
Tembuskah tombak telunjukku menusuk dalam jantungmu, Nak??
Masih tetap kau cari aku untuk memelukmu.
Sesudah saat makan malam tadi aku menghukummu karena tak kau habiskan makananmu yang kubilang dibeli ayahmu dengan susah payah.
Menyusutkah rasa sayang dalam kantong jiwamu karenanya, Nak?
Malam ini, kutemani kau tidur seperti biasa ..
Bersama kita ucapkan doa sebelum tidur, sambil tanganmu melingkar di leherku, kau tersenyum ….
Matamu yang mengantuk menatapku, bening dan bahagia.
Airmataku meleleh saat kau terpejam dengan senyummu masih dibibir dan tanganmu masih memeluk leherku …
Aku mohon maafmu, Nak ..
Ajari aku untuk mencintaimu seperti kau mencintaiku ….

sumber: anonymous

(hasil googling karena penasaran ama yg bikin tulisan ini, nemu salah satu blog yg nge-share dari tanggal 6 Oktober 2010. Tertulis, sumbernya didapat dari acara tausiyah Aa Gym. Tapi, bukan Aa yang tulis, melainkan seseorang yang mengirimkan sms kepadanya. Ini blognya: Ajari Aku untuk Mencintaimu.

[Updated] [MPASI 6 Bulan] Bubur Hijau Kuning


Yang ini “kolak” yang gak pake santan. Jadi, bayi dari umur 6 bulan juga bisa lho. Perhatikan tekstur dan kekentalan sesuai kemampuan bayi aja yah.

Bahan:
-kacang hijau, rendam semalaman, rebus dengan daun pandan sampai pecah kulit
-ubi kuning/labu parang, kukus, potong dadu
-ASIP

Cara:20121017-003653.jpg
Hihihi. Tinggal taruh di mangkuk terus campur semua. Gampang kaaan. Saya sih saranin disajikan hangat. Artinya, ASIP dihangatkan dulu, baru disiram ke mangkuk. Terutama kalau ASIPnya dari yang beku. Kenapa? Soalnya ASIP beku yang mencair cenderung berbau&berasa “khas”; pengaruh enzim dan mineral di dalamnya yang “terganggu” saat proses pembekuan maupun pencairan.

Don’t worry, meskipun demikian, ASIP kita tetep bagus kok, lebih bagus dari sufor malah. Cuma kan proses penyimpanan pasti akan selalu menurunkan kualitas dari asalnya. Plus, bau dan rasa khas ASIP dingin kadang kala kurang disukai bayi. Solusinya, hangatkan dulu si ASIP. Otherwise, gunakan ASIP segar yang sudah didinginkan di chiller, kalau tetap ingin menyajikan hangat.