[CM] Cinta yang Berpikir: Preambule

Hai! Fiuh, setelah lewat dua minggu panjang yang cukup melelahkan, setelah setor salah satu tunggakan kerjaan hari ini, setelah bisa napas lega sedikit dengan berakhirnya urusan kejar-mengejar antara saya dan para atasan; finally bisa punya me time ngisi blog malem ini.

Dari awal, saya mikir bedol desa mindahin beberapa konten dari dua blog lama di FB dan MP, karena saya pengen banget ngedokumentasiin apa yang saya pelajari. Yap yap, seratus untuk kamu! Ngos-ngosannya punya anak pertama, trial-errornya, pusing-pusingnya, bakal ada di sini. Bukan buat jualan kisah susah, apalagi umbar aib. Sekadar, biar saya bisa belajar dan terus belajar, tiap kali baca postingan di sini.

Bosen sama postingan yang isinya makanaaaaan mulu, yak? Haha. Kali ini nutrisi otak dan jiwa pun perlu dikasih makan. Yang buanyaaaak! Biar ga cuma sehat badan, tapi sehat jiwa, sehat iman.

Di tangan saya, sudah sebulan ada buku berkaver dwiwarna putih-pink; Cinta yang Berpikir. Buku besutan Ellen Kristi yang disarikannya dari banyak sumber seputar metode pendidikan klasik a la Charlotte Mason.

Siapa sih, Charlotte Mason (CM) itu? Ellen bilang, Charlotte adalah guru yang lain dari yang lain. Guru yang meyakini potensi anak dan berlepas dari anggapan bahwa anak adalah “ember kosong”.

Ketika para edukasionalis di jamannya menganggap anak seperti ember kosong, yang baru berisi jika dituangi pengetahuan oleh guru, atau ranting pohon yang bisa dibengkak-bengkokkan ke arah mana pun guru mau, atau lilin plastis yang bisa dibentuk sesuka hati para pendidiknya, Charlotte meyakini anak-anak adalah jiwa dengan kedalaman dan kekayaan spiritual tak terbatas, ibarat obor yang sudah penuh minyak, hanya menunggu pantikan api kecil untuk bisa menyala berkobar-kobar.

See! Saya agak kaget. Seperti yang sudah saya dengar bertahun-tahun, sejak dulu kala, dengan kutipan yang begitu terkenal; anak ibarat kertas putih, kitalah yang menulisinya. Pernah dengar? Nah, apa bedanya dengan guru-guru lain di jaman Charlotte dulu, yang menganggap anak ibarat ember kosong. Anak=kertas putih=ember kosong. Wow, betapa sederhananya kita menilai seorang anak. Dan betapa–dengan keterlalu-sederhanaan itu–kita telah mengecilkan “kebesaran” yang sebenarnya telah terpendam bahkan sejak seorang anak hadir di dunia.

Paradigma Charlotte berikutnya, membuat saya akhirnya bisa memutuskan: kalau saya harus (minimal) membaca buku ini sampai halaman terakhir.

…, Charlotte berkata bahwa sejak semula anak adalah pribadi yang utuh, terlahir lengkap dengan berbagai hasrat, emosi, hati nurani, dan bakat. … . Orang tua dan guru hanya membantu agar pribadi itu mekar dalam segala kekuatan latennya, mengatasi kelemahan-kelemahan bawaannya.

Okeh, saya harus baca dua-tiga kali buat memahami bahasa nyastra si Charlotte. Jangan sampai dengan keterbatasan pemahaman, saya cuma dapet indahnya estetika bahasa si Guru nyentrik satu ini.

Belum terlalu mudeng, saya memutuskan untuk terus membaca. Sebenarnya, bahasa mudahnya bagaimana, ya, ide Bu Charlotte ini?

Sambil jalan, sambil mencari tulang belakang metode CM, saya menemukan lagi kata-kata mengesankan–yang saya tidak tahan untuk tidak menuliskannya di sini.

Menjadi orangtua itu luar biasa: tidak ada promosi, kehormatan, yang bisa dibandingkan dengannya. Orangtua seorang anak bisa jadi membesarkan sosok yang kelak terbukti sebagai berkat bagi dunia.

Lho, kok mendadak saya jadi mellow baca pernyataan ini, ya. Haru, sekaligus ngeri.

Charlotte yang lahir di Inggris tahun 1842 ternyata menikmati pendidikannya di rumah sampai usia 16 tahun. Setelah itu, 15 tahun dibaktikannya menjadi guru. Selama itulah ia merumuskan prinsip-prinsip dasar pendidikan yang disambut baik oleh masyarakat dan pemerintah Inggris. Simpatisan Charlotte tersebut akhirnya membentuk Parents National Educational Union/PNEU.

Hasil dari sekolah dengan gaya belajar ramah anak, baik yang dilaksanakan dengan tatap muka langsung maupun korespondensi, adalah anak-anak yang “mencintai pengetahuan dan pendidikan”. Anak-anak ini begitu menikmati melahap setiap suapan ilmu, mencintai proses yang menjadikannya tahu, dan tumbuh dengan kekayaan intelektual yang bersinergi dengan karakter luhur.

Hmmm. Sampai di sini, apa kita sudah saatnya untuk bilang “wow”–tanpa koprol tentunya :p– dan merasa takjub atas ide-ide Charlotte? Terserah. Yang jelas, tunggu lanjutannya di postingan berikutnya yaa. ^^

20121012-215242.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s