[Diary Ibubun] 4 Tahun Kita, dan 9 Bulan Daanish

Episode saya dan kamu:

Apa yang saya ingat? Aduh, saya ini pelupa. Dari dulu pelupa berat! Saya ‘cuma’ ingat lika-liku sampai akhirnya kamu menjabat tangan Papa. Dan, hopla! Tau-tau kita bisa resmi ‘sekamar’!

Bagaimana? Oh, oke. Harus lebih serius, ya?

Baiklah. Saya ingat kembang di ranjang pengantin yang baunya semerbak, tapi bikin merinding di tengah malam itu. Saya ingat lapisan dekorasi kamar pengantin yang rame dan justru bikin udara jadi panas dan pengap itu. Ya, saya ingat.

Habis itu, tau-tau jarum-jarum jam terasa berputar cepat sekali. Rentang dua tahun Nagoya-Bekasi pun bak sekelebat. Tau-tau jarak menciut lagi di antara kita, mewarnai buncah rasa ingin segera dipertemukan dengan makhluk baru; yang padanya ada sebagian saya, pun sebagian kamu.

Belum lagi berjalan segala macam urusan dokter kandungan dengan pelancar haidnya itu, tiga kali alat tes kehamilan mendeteksi garis merah muda yang dirindui selama ini. Oya! Kita pernah ‘salah baca’ dulu, maka kali ini pun kembali tak merasa cukup yakin.

Lima minggu ‘dia’ hidup di sana, barulah kita bisa ‘mencuri lihat’. Oh oh, makhluk itu benar-benar tengah membelah; dari gumulan ovum dan sperma jadi layaknya bentuk manusia sejati.

Episode kami dan kamu:

20121019-161907.jpgHey, hey, bertumbuhlah yang sehat, ya! Sebab kami di sini, mati-matian menekan harap, untuk tidak meneriakimu: cepatlah sempurna, lalu cepatlah keluar!

Tidak! Kami ingin menikmati tiap detik kebersamaan denganmu, bocah lucu. Baik sejak kau masih jadi ‘imajinasi’ kami, maupun sampai jari-jemari kita bisa bertemu. Jadi, bertumbuhlah dengan tenang. Sebab, kami pun tak ingin menghela waktu tergesa-gesa.

Jadi, minumlah ASImu dengan tenang tanpa tersedak. Kunyahlah perlahan-lahan apa yang kami sediakan penuh cinta. Merangkak dan merambatlah kapanpun kamu ingin melatih motorikmu. Jelajahi dan puaskan rasa ingin tahumu, sampai jenuh alam memberimu ilmu. Menjadilah wujud yang kau senangi. Asalkan, Rabb kita ridha pada pilihanmu.

Episode saya dan kamu (epilog):

 

Empat tahun. Sekarang sudah ada dia di antara kita. Kamu di ujung ranjang sana, saya yang di sini. Semata, karena kita tak ingin dahi kirinya memar membiru lagi lantaran beradu dengan ubin.

Oya, meskipun kamar kita jadi jauh dari indah, tapi terasa lebih menentramkan. Kaki-kaki tempat tidur sudah disingkirkan. Barang-barang ringkih yang bisa dipanjati si dia, sudah digudangkan. Sesekali, aroma kamar berubah jadi ‘manusiawi’ sekali, dengan ulah biologis si kecil. Tapi tak apa. Kita sering menertawai keadaan ini, bukan?

Empat tahun. Kita masih bertengkar, adu mulut dan puasa bicara. Tapi, kita juga masih bergandengan tangan, saling berbagi cerita, dan merasa rindu saat pekerjaan kantor merenggangkan jarak.

Empat tahun, dan kita masih terus belajar: menggeser ‘saya’ dan ‘kamu’, lalu menggantinya dengan ‘dia’ dan ‘kita’.

Empat tahun, dan semoga Dzat Maha Pengasih di atas sana, sudi mengekalkan kita di sebaik-baik tempat kembali manusia kelak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s