[CeritASI] Tuas Pompa Patah Itu Sesuatu, Deh!


Cuma sekali Daanish pernah ditinggal selama tiga hari dua malam. Saat itu usianya sekitar 5 bulanan, masih ASIX. Jadwal perah masih cukup rigid. Sehari bisa 4-5 kali perah. Yah, kalo sambil ditahan-tahan sih, ganbatte, bisa 2-3 kali perah aja. 🙂

Perlengkapan perang mulai dari BP manual, ice gel besar, cooler bag, sampai aneka pritilan pumping sudah duduk manis di dalam tas. Bawaan beginian sekarang udah bisa menggeser bawaan lainnya. Baju, jadilah kita ulang-alikkan padu padannya saja. Make up kit? Huhuhu. Sudah lama sekali saya mengucapkan bye bye. Pokoknya asal perlengkapan mandi komplit, cukup.

Sebenernya Daanish cukup anteng selama saya tinggal. Pun, hasil perah amat sangat memadai, karena jadwal masih bisa dipatuhi, kamar dilengkapi kulkas, makanan yang enak, dan tempat tidur yang cukup nyaman buat busui istirahat dan tidur pulasss. Eh, bener lho, istirahat nyaman kan memicu oksitosin, memicu juga LDR berkali-kali. Hehehe.

Dari sebelum berangkat pelatihan kali ini pun, tuas pompa manual saya memang sudah agak memprihatinkan keadaanya. Di bagian ujung tepat tempat jari-jari menekan tuas agar terjadi hisapan di corong BP, sudah terbentuk patahan horizontal. Yeah, mengarah ke kecenderungan untuk patah memang, tapi saya pikir mungkin dia masih bisa bertahan sedikit lagi. Hihihi, maksa banget sih. 🙂

Dan yang saya khawatirkan benar-benar terjadi, di hari kedua pelatihan, tuas pun patah. Terbelah dua persis di patahan horizontalnya. Apakah masih bisa dipaksa dipakai? Yeah, I wish! Sayangnya nyatanya gak bisa, sodara-sodara! Dan itu bikin pusing. Sementara jadwal pelatihan cukup ketat. Sementara PD sudah luar biasa bengkak dan sakit. Huhuhuhu. Ini menyiksa, menyiksa sekali!

Mau gak mau, saya harus perah dengan tangan. Sembari meringis menahan sakit, saya mulai perah dengan sisa-sisa ingatan tenyang teknik mermet. Saya tidak terlalu pedulu apakah saya melakukannya dengan benar ataupun tidak. Yang saya tahu hanyalah saya harus melakukannya selembut dan sealami mungkin agar rasa sakit tidak menjadi lebih parah. Yang saya yakini adalah proses ini pun kan menghasilkan ASIP sama banyak dengan menggunakan pompa. Yang saya perjuangkan adlah bagaimana terus memerah meskipun tangan sudah terasa sakit dan pegal.

Jujur saja saya sempat merasa senewen. Lelah karena materi dan tugas pelatihan masih harus berjibaku dengan lelah perah dengan tangan. Rasa kantuk juga harus ikut bersaing dengan keinginan untuk mengosongkan PD yang ternayata makan waktu lebih lama kini. Ya, perah dengan tangan buat saya yang kurang pengetahuan dan keterampilan ini memang “sesuau banget”! Capek, iya. Sakit, iya. Hasil perahan lebih sedikiy, iya.  PD bengkak terasa masih belum benar-benar kosong, iya.

Dua hari terakhir pelatihan harus diisi dengan ritual perah metode mermet. Lebih dari seliter ASIP berhasil saya bawa pulang. Bersama itu, harus saya bawa pula sisa rasa sakit dan bengkak akibat tidak kosongnya PD secara sempurna,terutama di dua hari terakhir itu. Obat penawarnya ada di Daanish ketika kami bertemu: meminta sekaligus menbiarkannya memuaskan rindu dengan menyusu sebanyak dan sesering ia mau. Terima kasih ya, Nak. 🙂

Advertisements

[CeritASI] Titip di Kulkas Kitchen, Boleh Yaaa!


Kejadian titip-menitip ASIP sudah pernah juga terjadi sebelumnya. Serunya, produksi ASI masih sangat tinggi waktu itu. Saya harus menjadi MC di hotel di bilangan Senen. Jam 5 meluncur, diperkirakan baru jam 6-7 malam bisa sampai rumah.

Awalnya saya santai, toh ada teman-teman panitia yang menginap. Saya bisa numpang di kamar mereka untuk perah. Pun, saya bisa titip ice gel dan ASIP di kulkas kamarnya. Ternyata, kenyataan tak seindah mimpiku (sing Desi Ratnasari song nih jadinya :p). Kamar panitia tidak dilengkapi kulkas. Tidak ada kulkas, artinya? Tamatlah riwayat ASIP saya! Oh, nooo… Gak rela!

Sebelum acara mulai, saya mulai tengok-tengok ke petugas di ruang makan. Bertanya bisik-bisik apakah saya bisa menitipkan “sesuatu” di kulkas raksasanya kitchen hotel ini. “Titip apa, Bu?” tanya si petugas. Saya ragu-ragu untuk menitipkan ASIP di lemari pendingin yang sya tak yakin isi dan bentuknya bagaimana. Alhamdulillah, hari itu saya bawa ice gel yang besar, tak seperti biasa saya bawa ke kantor. Ice gel ini butuh waktu lebih lama untuk membeku dibandingkan yang kecil. Tapi, juga akan tahan lebih lama untuk mendinginkan sebelum akhirnya mencair total. 5-6 jam pun ASIP aman di kisaran suhu cukup ideal.

“Ice gel, Mas,” jawab saya. Sudah menduga pertanyaannya selanjutnya, sejurus kemudian saya sudah menjelaskan bentuk, fungsi dan cara kerja ice gel tersebut. Tak terelakkan, saya jadi harus menyebutkan ASI yang akan amat sangat membutuhkan ice gel tersebut. Untungnya penjelasan panjang saya membuahkan hasil. Dia mengagguk sembari menyarankan saya untuk menghubungi bellboy kapan pun saya ingin si ice gel dibekukan.

Dan, ke meja itulah saya berjalan. Ada satpam dan bellboy di sana. Ada ice gel juga di tangan saya. Sayangnya, kembali saya harus mengulangi penjelasan panjang seperti sebelumnya. Bapak-bapak ini, mungkin karena beramai-ramai, bertanya lebih banyaj dari petugas dapur tadi. Tak peduli dengan raut wajah yang mungkin sudah berubah-ubah warna, saya coba jelaskan sesederhana mungkin. Tampak tidak paham dengan istilah ASIP, mereka pun akhirnya mengangguk dengan wajah bingung ketika saya menjawabnya, “ASI, Mas, air susu ibu untuk anak saya. Saya butuh ice gel ini dalam keadaan beku untuk mempertahankan kesegarannya hingga saya tiba di rumah.”

Saya menangkap juga semburat menahan tertawa dari seseorang di antara mereka. Ah, saya tak tahu apa yang dia bayangkan. Saya tak punya waktu juga untuk mengurusi orang dengan pikiran kerdil begitu. Seusai mengisi formulir penitipan, berisi jam titip, jam ambil, nama barang dan keterangan lainnya, seorang petugas dapur mengambil ice gel yang sudah saya bungkus plastik bekas dokumen panitia yang sudah sobek di sana-sini. Maklum, saya tidak sedia kresek, sementara mereka mempersyaratknnya untuk menempelkan identitas. Dan, voila, akhirnya si ice gel pun seolah melambaikan tangannya pada saya.

Sebagai MC, saya punya waktu istirahat yang sangat singkat. Makan siang jadi prioritas nomer sekian, yang penting perah dulu. Perah selesai dan panggung depan sudah menanti. Segera saya rapikan segala perlengkapan perah dan si ASIP yang sudah terkumpul, lalu bergegas turun. Sudah 5 jam berlalu dan saya yakin si ice gel pastilah sudah sempurna membeku. Dan, inilah saatnya mempertemukan dua sejoli ini: ASIP dan ice gel. Mereka akan dipertemukan bersama dalam kantong yang penuh cinta: cooler bag! Hahahaha. 🙂

Oh, lagi-lagi saya harus menjelaskan tentang si ice gel ketika akan mengambilnya. Petugas siang mungkin berbeda dengan yang pagi. Untunglah saya tak perlu berpanjang lebar seperti sebelumnya. Dia menyerahkan dengan khidmad, lalu membawa pergi robekan formulir penitipan yang tadi pagi saya isi.

Dengan demikian berakhirlah kisah cinta si ASIP. Cooler gel dan cooler bag sukses menjalankan tugasnya dengan baik. ASIP tiba di rumah dalam kedaan sangat baik: tetap dingin dan segar. Daanish, alhamdulillah, lagi-lagi Allah dan banyak orang baik di sekitar kita memungkikan makananmu tiba dengan selamat sampai di rumah. ^^

[MPASI] Serba Kukus: Sehat, Mudah, Murah!


Hai, lagi-lagi postingan kecil. Ini mah langganan makanannya si Daanish kalo emaknya lagi kelabakan n banyak kerjaan kantor. Aneka sayur dipotong, dicuci, dikukus. Jadi, deh! Hahaha, superrr gampang kaaan.

Ceritanya mau keluar seharian. Daanish mau kami pertemukan dengan temen-temen baik kami dari berbagai negara. Ada temen S1 Yayah dan Bubun dari Thailand di arena ASC di JCC. Pulangnya kita mau ketemuan ama temennya Bubun di Nagoya dulu, deh, yang orang Jepang. Kitanya mah bisa makan di mana aja. Tapi Daanish gimana? Bawain jajanan aja ah, dari rumah. Tapiii.. Ibubun cuma punya waktu singkat, soalnya Yayah ga mau keluar rumah naik motor siang-siang. Panas, katanya. Ya udah deh, bikin yang gampang-gampang aja, deh. Yang penting makan siang dan cemilannya si Daanish selamat dulu. *Halah, excuse emak males. 😀

Isinya apa aja, sih? Here we go.

1. Boiled red spinach and corn

Bikinnya persis bikin sayur bening orang dewasa. Bedanya, gak pake gulgar dan kuahnya dibikin sampai kering. Soalnya, Daanish sukanya yang kering-kering.

Bahan:

Bayam merah

Jagung rebus

Bawang merah, iris

Temu kunci

Daun salam

Cara:

Cemplungin deh semua bahan. Masah sampai airnya habis. Hehe.

 

2. Scrambled tuna

Bahan:

Tuna, kukus, suwir

EVOO

Cara:

Campur suwiran tuna dan EVOO tanpa dimasak. (EVOO akan berubah menjadi mengandung lemak jahat jika terkena pemanasan).

 

3. Havermout with sea-weed and sesame oil

Bahan:

Quick Cooking Oats, masak hingga air habis

Rumput laut kering, rebus, potong kecil-kecil

Minyak wijen

Cara:

Campurkan semua bahan, masak dengan api kecil sebentar saja.

 

4. Steamed vegetable: carrot, squash, sweet potato

Jadi, dehhh! ^^

[CeritASI] What? Beneran Ga Ada Kulkasnya, nih?


Minggu lalu, ya, persis minggu lalu selama satu minggu full, saya mendapat perintah yang tak mampu ditolak. Senin sampai jumat saya harus “diasramakan”; ikut pelatihan dengan pembicara expert dari Jepang. Well, kalau saja belum ada Daanish, saya paling suka ikut beginian. Tapi, sekarang beda, deh. Beneran, ini gak dibuat-buat. Berat banget rasanya waktu nerima penugasan. Sudah sempat negosiasi juga sebenarnya. Apa boleh buat, memang tak terelakkan. Saya harus pergi. 😦

Yang terlebih dahulu saya cek adalah lokasi kegiatan. Di salah satu penginapan sederhana di area Cipayung. Bagaimana ini? Mau menginap, lima hari rasanya terlalu “kejam” jika harus meninggalkan Daanish. Saya masih inget hebohnya orang rumah waktu Daanish”cuma” ditinggal satu malam saat saya mengikuti pelatihan sebelumnya. Itu satu malam. Nah, ini kan empat malam! How come?

Saya mulai memikirkan opsi untuk pulang-pergi saja. Kalau bisa tiap hari. Kalau tidak, dua hari sekali pun tak apa. Yang penting Daanish tidak terlalu lama ditinggal. Malam memang masih menjadi masa-masa terberat buat Daanish tanpa saya. Umurnya yang baru 10 bulan, membuatnya masih sangat tergantung di fase jelang tidur, bangun tengah malam, dan fase jelang bangunnya. Yap, kalo gak perlu nen, ya mentil. Hehehe. Tapi saya sukaaa sekali cengengnya dia kalo lagi butuh saya. Saya jadi merasa benar-benar dicintai. Merasa jadi Ibu paling bahagia! ^^

Waktu cek jadwal selama seminggu, saya langsung terlonjak gembira. Mulai setiap hari pukul 9 pagi, dan selesai pukul 5 sore. Kalaupun agak ngeret, bisa dipastikan sebelum jam 6 sore saya sudah bisa meninggalkan tempat pelatihan. Okeh, diputuskan, mari coba PP sehari dulu.

Hari Senin pagi, saya butuh waktu 4 jam dari Bekasi ke lokasi. Tertinggal satu sesi, saya terus terang mulai berpikir tentang rencana PP ini. Tepat jam 5 sore, saya pulang dan tiba di rumah jam setengah 9 malam. Artinya, 7,5 jam habis di jalan. Lelah bukan kepalang. Saya juga tidak bisa perah, sebab ternyata, wisma tempat saya menginap tidak menyediakan kulkas. Bahkan di dapur sekalipun! Tapi hari itu, hari pertama, untunglah saya bisa pulang.

Malamnya, sembari mengurai lelah, saya mulai berpikir strategi berikutnya. Kalau tak ada kulkas, maka satu-satunya jalan, saya harus bawa icegel beku dari rumah, simpan serapat mungkin, pertahankan kebekuannya. Lalu, memompa ASI di jam tak jauh dari kepulangan, simpan ASIP dalam cooler bag bersama si ice gel (dengan sisa-sisa bekunya tadi). Kalau begitu, jangankan mau menginap, PP saja sudah teramat sulit untuk mempertahankan kualitas ASIP. Ya, kan?

Selasa pun kembali saya tidak perah, sebab tidak menginap di wisma. Rabu, dengan tetap menggotong-gotong si alat perah manual, saya kembali dilema: menginap tapi ASIP terbuang, atau pulang tapi harus berangkat sangat pagi keesokan harinya. Ya, saya lupa mempersiapkan. Saya lupa, kalau Kamis akan diadakan kunjungan ke pabrik di Sukabumi, dan seluruh peserta harus sudah berkumpul dari pukul 7 pagi. What? Jam 7 pagi di wisma. Sementara saya harus naik angkutan umum dan berganti angkot dan bus hingga 6 kali untuk sampai di sana. Pengalaman selama ini, waktu tempuh adalah 3,5 sampai 4 jam. Kalau begitu, jam berapa saya harus berangkat keesokan harinya? Jam 3 pagi? Apa sudah ada angkutan umum beroperasi untuk tujuan saya? Atau, mungkin memang sebaiknya saya menginap saja?

Sampai menjelang jam 5 sore, saya belum bisa memutuskan. Sementara hujan di luar kian deras, dan kemacetan sudah mulai merambah bahkan sampai ke depan wisma. Setelah koordinasi dengan suami, bismillah, saya memutuskan untuk pulang. Biarlah, besok kalau perlu naik taksi saja sampai Puncak. Jadi, lagi-lagi, hari Rabu pun saya tidak perah. Alhamdulillah, stok di rumah masih sangat banyaaak. Jadi saat-saat terdesak begini pun, saya tidak perlu terlalu khawatir. Yang harus saya pikirkan, adalah bagaimana agar bengkak di PD bisa dihilangkan, tanpa harus membuang-buang hasilnya.

Sesuai dugaan, Puncak dan Bogor macet. Bus ke Jakarta tidak kunjung datang. Pasang mata dan telinga sambil tetap waspada, saya beranikan bertanya. Ternyata, ada “omprengan” rute Ciawi-UKI. Melihat ada beberapa perempuan yang juga menaikinya, saya ikut naik. Ternyata hasilnya bisa lebih cepat tiba di Bekasi. Keuntungan lain, saya jadi tahu jam operasi dan lokasi ngetem omprengan ini di UKI. Problem solved! Saya bisa tetap bisa mencapai Puncak jam 7 dengan omprengan ini. Alhamdulillah! Pertolongan Allah rasanya tidak pernah putus.

Saya berhasil tiba jam 7 pada Kamis pagi itu. Sudah mengantongi ijin dari suami juga untuk bisa menginap hari itu. Soalnya, hari Jumat ada jadwal presentasi dari pagi plus jam penutupan pelatihan hanya sampai jam 11.30. Kalau mau PP, kayaknya bakalan panjangan waktu buat di jalan ketimbang di kelas, deh. Sekarang, urusan ASIP ini, bagaimana? kalau hari-hari tanpa menginap saya bisa tahan tanpa perah. Kali ini jelas tidak bisa! Tapi, kulkas pun tidak ada. Dan, ice gel lupa saya bekukan. (Kalaupun dibekukan pasti sudah cair kan keesokan harinya :P).

Jelang magrib, PD sudah sangat bengkak dan mau tak mau, saya harus perah. Bismillah dulu. Kan ASIP segar bisa tahan sampai 5-6 jam di suhu ruang. Apalagi Puncak sejuk begini. Sambil tetap membiarkan ASIP di cooler bag, saya coba lagi pendekatan ke petugas wisma. Benarkah tidak ada kulkas?

Orang ke-4 yang saya tanyai, akhirnya memberi sedikit harapan. Ada kulkas! Bukan milik wisma, tapi milik pribadi salah seorang kepercayaan pemilik. Bukan di dalam wisma, tapi tidak jauh. Oke, kita coba negosiasi dulu.

Akhirnyaaa, perjuangan pun menemukan oasenya. Dengan dibantu salah seorang penjada wisma, 300 mL ASIP dalam sebungkus plastik Natur meluncur ke chiller, sementara sebuah icegel kecil bentuk monyet lucu pun anteng menginap di freezer. Cihuy! Eh, Alhamdulillah, deng. 😀

Besoknya, PD udah mulai bengkak lagi. Rencana saya gak perah dulu, tunggu sampai di rumah aja. Apa boleh buat, jam 11 sakitnya udah tak tertahankan. Terkumpullah lagi 300 mL ASIP. Sayangnya saya baru bisa meninggalkan wisma jam 3 sore, sementara mau nyuruh si penjaga bolak-balik ke rumah tempat “penitipan barang” terasa sulit. Jam 5 kurang 15, akhirnya saya tiba di rumah. Hasil cek-cek selintas dari bau ASIP, tampaknya meskipun mepet-mepet, mereka selamat. Hehehe. Buru-buru saya masukkan ke kulkas dan sengaja tidak dibekukan. ASIP ini akan jadi prioritas untuk diminum Daanish selama beberapa hari ke depan. Legaaa dan puas sekali rasanya, 600 mL ASIP bisa selamat meski penuh perjuangan. Ternyata bener ya, yang penting yakin dulu, yang penting semangat dulu, yang penting berjuang dulu. Hasilnya, nanti biar Allah yang atur, biar Dia yang bantu. Cemungudhhh!