[CeritASI] What? Beneran Ga Ada Kulkasnya, nih?

Minggu lalu, ya, persis minggu lalu selama satu minggu full, saya mendapat perintah yang tak mampu ditolak. Senin sampai jumat saya harus “diasramakan”; ikut pelatihan dengan pembicara expert dari Jepang. Well, kalau saja belum ada Daanish, saya paling suka ikut beginian. Tapi, sekarang beda, deh. Beneran, ini gak dibuat-buat. Berat banget rasanya waktu nerima penugasan. Sudah sempat negosiasi juga sebenarnya. Apa boleh buat, memang tak terelakkan. Saya harus pergi.😦

Yang terlebih dahulu saya cek adalah lokasi kegiatan. Di salah satu penginapan sederhana di area Cipayung. Bagaimana ini? Mau menginap, lima hari rasanya terlalu “kejam” jika harus meninggalkan Daanish. Saya masih inget hebohnya orang rumah waktu Daanish”cuma” ditinggal satu malam saat saya mengikuti pelatihan sebelumnya. Itu satu malam. Nah, ini kan empat malam! How come?

Saya mulai memikirkan opsi untuk pulang-pergi saja. Kalau bisa tiap hari. Kalau tidak, dua hari sekali pun tak apa. Yang penting Daanish tidak terlalu lama ditinggal. Malam memang masih menjadi masa-masa terberat buat Daanish tanpa saya. Umurnya yang baru 10 bulan, membuatnya masih sangat tergantung di fase jelang tidur, bangun tengah malam, dan fase jelang bangunnya. Yap, kalo gak perlu nen, ya mentil. Hehehe. Tapi saya sukaaa sekali cengengnya dia kalo lagi butuh saya. Saya jadi merasa benar-benar dicintai. Merasa jadi Ibu paling bahagia! ^^

Waktu cek jadwal selama seminggu, saya langsung terlonjak gembira. Mulai setiap hari pukul 9 pagi, dan selesai pukul 5 sore. Kalaupun agak ngeret, bisa dipastikan sebelum jam 6 sore saya sudah bisa meninggalkan tempat pelatihan. Okeh, diputuskan, mari coba PP sehari dulu.

Hari Senin pagi, saya butuh waktu 4 jam dari Bekasi ke lokasi. Tertinggal satu sesi, saya terus terang mulai berpikir tentang rencana PP ini. Tepat jam 5 sore, saya pulang dan tiba di rumah jam setengah 9 malam. Artinya, 7,5 jam habis di jalan. Lelah bukan kepalang. Saya juga tidak bisa perah, sebab ternyata, wisma tempat saya menginap tidak menyediakan kulkas. Bahkan di dapur sekalipun! Tapi hari itu, hari pertama, untunglah saya bisa pulang.

Malamnya, sembari mengurai lelah, saya mulai berpikir strategi berikutnya. Kalau tak ada kulkas, maka satu-satunya jalan, saya harus bawa icegel beku dari rumah, simpan serapat mungkin, pertahankan kebekuannya. Lalu, memompa ASI di jam tak jauh dari kepulangan, simpan ASIP dalam cooler bag bersama si ice gel (dengan sisa-sisa bekunya tadi). Kalau begitu, jangankan mau menginap, PP saja sudah teramat sulit untuk mempertahankan kualitas ASIP. Ya, kan?

Selasa pun kembali saya tidak perah, sebab tidak menginap di wisma. Rabu, dengan tetap menggotong-gotong si alat perah manual, saya kembali dilema: menginap tapi ASIP terbuang, atau pulang tapi harus berangkat sangat pagi keesokan harinya. Ya, saya lupa mempersiapkan. Saya lupa, kalau Kamis akan diadakan kunjungan ke pabrik di Sukabumi, dan seluruh peserta harus sudah berkumpul dari pukul 7 pagi. What? Jam 7 pagi di wisma. Sementara saya harus naik angkutan umum dan berganti angkot dan bus hingga 6 kali untuk sampai di sana. Pengalaman selama ini, waktu tempuh adalah 3,5 sampai 4 jam. Kalau begitu, jam berapa saya harus berangkat keesokan harinya? Jam 3 pagi? Apa sudah ada angkutan umum beroperasi untuk tujuan saya? Atau, mungkin memang sebaiknya saya menginap saja?

Sampai menjelang jam 5 sore, saya belum bisa memutuskan. Sementara hujan di luar kian deras, dan kemacetan sudah mulai merambah bahkan sampai ke depan wisma. Setelah koordinasi dengan suami, bismillah, saya memutuskan untuk pulang. Biarlah, besok kalau perlu naik taksi saja sampai Puncak. Jadi, lagi-lagi, hari Rabu pun saya tidak perah. Alhamdulillah, stok di rumah masih sangat banyaaak. Jadi saat-saat terdesak begini pun, saya tidak perlu terlalu khawatir. Yang harus saya pikirkan, adalah bagaimana agar bengkak di PD bisa dihilangkan, tanpa harus membuang-buang hasilnya.

Sesuai dugaan, Puncak dan Bogor macet. Bus ke Jakarta tidak kunjung datang. Pasang mata dan telinga sambil tetap waspada, saya beranikan bertanya. Ternyata, ada “omprengan” rute Ciawi-UKI. Melihat ada beberapa perempuan yang juga menaikinya, saya ikut naik. Ternyata hasilnya bisa lebih cepat tiba di Bekasi. Keuntungan lain, saya jadi tahu jam operasi dan lokasi ngetem omprengan ini di UKI. Problem solved! Saya bisa tetap bisa mencapai Puncak jam 7 dengan omprengan ini. Alhamdulillah! Pertolongan Allah rasanya tidak pernah putus.

Saya berhasil tiba jam 7 pada Kamis pagi itu. Sudah mengantongi ijin dari suami juga untuk bisa menginap hari itu. Soalnya, hari Jumat ada jadwal presentasi dari pagi plus jam penutupan pelatihan hanya sampai jam 11.30. Kalau mau PP, kayaknya bakalan panjangan waktu buat di jalan ketimbang di kelas, deh. Sekarang, urusan ASIP ini, bagaimana? kalau hari-hari tanpa menginap saya bisa tahan tanpa perah. Kali ini jelas tidak bisa! Tapi, kulkas pun tidak ada. Dan, ice gel lupa saya bekukan. (Kalaupun dibekukan pasti sudah cair kan keesokan harinya :P).

Jelang magrib, PD sudah sangat bengkak dan mau tak mau, saya harus perah. Bismillah dulu. Kan ASIP segar bisa tahan sampai 5-6 jam di suhu ruang. Apalagi Puncak sejuk begini. Sambil tetap membiarkan ASIP di cooler bag, saya coba lagi pendekatan ke petugas wisma. Benarkah tidak ada kulkas?

Orang ke-4 yang saya tanyai, akhirnya memberi sedikit harapan. Ada kulkas! Bukan milik wisma, tapi milik pribadi salah seorang kepercayaan pemilik. Bukan di dalam wisma, tapi tidak jauh. Oke, kita coba negosiasi dulu.

Akhirnyaaa, perjuangan pun menemukan oasenya. Dengan dibantu salah seorang penjada wisma, 300 mL ASIP dalam sebungkus plastik Natur meluncur ke chiller, sementara sebuah icegel kecil bentuk monyet lucu pun anteng menginap di freezer. Cihuy! Eh, Alhamdulillah, deng.😀

Besoknya, PD udah mulai bengkak lagi. Rencana saya gak perah dulu, tunggu sampai di rumah aja. Apa boleh buat, jam 11 sakitnya udah tak tertahankan. Terkumpullah lagi 300 mL ASIP. Sayangnya saya baru bisa meninggalkan wisma jam 3 sore, sementara mau nyuruh si penjaga bolak-balik ke rumah tempat “penitipan barang” terasa sulit. Jam 5 kurang 15, akhirnya saya tiba di rumah. Hasil cek-cek selintas dari bau ASIP, tampaknya meskipun mepet-mepet, mereka selamat. Hehehe. Buru-buru saya masukkan ke kulkas dan sengaja tidak dibekukan. ASIP ini akan jadi prioritas untuk diminum Daanish selama beberapa hari ke depan. Legaaa dan puas sekali rasanya, 600 mL ASIP bisa selamat meski penuh perjuangan. Ternyata bener ya, yang penting yakin dulu, yang penting semangat dulu, yang penting berjuang dulu. Hasilnya, nanti biar Allah yang atur, biar Dia yang bantu. Cemungudhhh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s