[Manajemen ASIP] Jadwal Penggunaan Breast Pump (less-sterilizing)

Saya pernah sok ideal dengan cara mencuci-steril breast pum (BP) tiap kali pakai. Hasilnya? Gempoorrr. Saya jadi terlalu lelah dan mudah marah, plus uring-uringan. Setelah ngobrol sama salah satu teman, yang juga tempat saya belanja aneka perlengkapan perah, dia menyarankan untuk mempersedikit frekuensi cuci-steril. Yap, BP bisa langsung dipakai untuk pumping berikutnya. Asalkan, jaraknya 1×12 jam. Anggapannya adalah karena asi sendiri kan mengandung anti bakteri yang tidak rusak selama disimpan di suhu dingin (chiller). Nah, bagaimana pembagian waktu perah dan jadwal cuci-steril BP a la saya?

image

Waktu jadwal perah masih sangat tinggi, begini jadwal perah di kantor:
1. perah jam 9/10 pagi : BP baru steril, habis pakai simpen chiller.
2. perah jam 11/12 siang : pakai BP dari chiller, habis pakai simpan chiller lagi.
3. perah jam 2/3 sore : pakai BP dari chiller, ini langsung bawa pulang ke rumah, cuci & steril.

Begitu juga untuk jadwal perah di rumah. Tapi karena di rumah lebih longgar, biasanya gak sampe 12 jam, sudah saya steril :
1. perah jam 6/7 sore : BP baru steril, habis pakai simpen chiller.
2. perah jam 9/10 malam : pakai BP dari chiller, habis ini langsung cuci & steril.
3. perah jam 3/4 pagi : BP baru steril, habis pakai simpen chiller.
4. perah jam 6/7 pagi : pakai BP dari chiller, habis ini langsung cuci & steril.

Oya, kalau buat di kantor saya pake BP yang manual. Alasannya karena lebih fleksibel pemakaiannya, tidak tergantung listrik AC maupun DC. BP manual juga yang terlebih dahulu saya pakai sejak melahirkan, jadi sudah terlanjur nyaman dan LDR pun cenderung lebih cepat dengan ini.

Sebaliknya, untuk di rumah saya pakai yang elektrik. Alasannya karena harus multitasking kalau di rumah. Pakai BP elektrik memungkinkan perah sambil menyusui, maupun aktivitas lainnya. Lagipula biasanya saya sudah teramat lelah ketika pompa di rumah. BP elektrik yang effort-less bikin stamina yang tinggal satu strip bisa tetep menghasilkan hasil perahan yang lumayan banyak. Mungkin karena energi buat ngomel dan ngeluh sedikit teratasi dengan alur hisap-lepas otomatis itu yah. Tanpa kelelahan buat jungkat-jungkit tuas BP manual, lumayan juga kalau sisa tenaga masih bisa diirit.. Hehehe.

Punya dua BP juga amat sangat membantu. Saya sempat kewalahan di satu bulan pertama ketika masih hanya mempekerjakan satu BP. Pakai sistem cuci-steril tiap dua-tiga kali perah pun tetan saja melelahkan. Seringkali, jadwal perah harus di-skip lantaran BP belum dicuci, atau belum disteril. Gak banget deh kalau keseringan tunda gitu, bisa bikin produksi ASI turun. Belum lagi sakit gak ketulungan bengkak berhari-hari yang masih harus diderita. Aih, inget masa-masa itu jadi bersyukur bisa memaksimalkan bantuan dari dua BP di rumah. Padanannya pas pula, satu manual, dan satu elektrik. Pittar, klop! Terima kasih banyak, BP-BPku sayaaang.😡

Semoga info ini membantu, yaa. Terutama untuk Ibu-ibu baru yang masih amat keteteran dengan jam biologis bayi, dan masih harus menyesuaikan pula dengan jadwal pekerjaan rumah tangga maupun urusan kantor. Bisa, kok, bisaa. Pasti bisa lah!😉

14 Comments

  1. Salam kenal mba,
    Mba mw nanya donk, itu BP nya kalo d kantor kan setelah selesai pake langsung masuk chiller ya? Berarti masih ada bekas tetesan2 asi nya ya? Apa perlu d basuh air lg?
    Bentar lagi udah jadwal masuk kerja lagi soalnya mba🙂
    Makasi sebelumnya mbaaa..

    • kalo saya gak dibasuh lagi, mba. itu sebabnya saya masukka BP ke wadah tertutup dan segera dimasukkan chiller begitu selesao dipakai. biar efisien krn harus pumping berkali-kali di jam kantor (dan gak setiap hari kondisi kondusif, kan. ;)). analoginya sama dengan ASI yang mempunyai resistensi terhadap kuman selama penyimpanannya benar (merujuk pada tabel daya tahan ASI). begitu, mba.🙂

    • setelah dicucu bersih, BP saya masukkan wadah lock n lock (atau sejenisnya), mba. setelah itu disiram air mendidih dan ditutup semi rapat (dgn tidak mengancing 1-2 sisinya). kalau ditutup rapat biasanya wadahnya jadi pepat dan susah dibuka nantinya. biasanya saya steril malam hari, paginya tinggal tiriskan n bawa ke kantor.

  2. Mba, salam kenal ya. Saya mau nanya. Kan klo abis di steril, ad sisa2 air yg nempel di bp, itu gpp mba? Atau nunggu kering bgt? Trus mba setiap steril pake sterilizer atau rebus?
    Makasii mbaa🙂

  3. Mba, kalo disiram air panasnya malam trus ditiriskannya pagi apa nggak apa2? Soalnya pernah baca kalau nyeteril dengan direbus/disiram air panas, jgn tunggu air panasnya jadi dingin, takutnya bakterinya akan tumbuh lagi di air dingin.. Mohon penjelasannya ya mba..

    • kalau saya begini, mba. saya taruh semua yg mau disetril di wadah besar dgn tutup rapat (semacam tupperware atau loch n lock gt), lalu saya siram air mendidih. tutup rapat (atau buka sedikit agar tidak memuai). nanti saya tiriskannya kalau sudah gak panas lagi, dengan hanya membuka bagian ujung wadah, gak saya keluarin satu2. lalu langsung simpan dan tutup rapat dgn wadah tsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s