BB Si Newborn Turun? Ets, Jangan Buru-buru Nyufor, Yak!

asip awal di RSceritanya, ada seorang sahabat yang gundah ketika perawat di salah satu RS di jepang tempatnya bersalin menyarankan pemberian sufor lantaran di usia bayi yang ke-2 hari terjadi penurunan BB. sementara, sufor untuk bayi baru lahir di negeri matahari terbit itu, semua tidak dapat dikonsumsi muslim karena mengandung zat-zat yang diharamkan.

saya hanya bisa sedikit berbagi pada sahabat saya itu. dan, semoga tak dianggap sebagai nursing nazi, saya ingin juga berbagi di sini. siapa tau ada ibu dan ayah yang butuh suntikan semangat. meskipun sufor berlabel halal bertebaran di tanah air, tahan diri dulu dan baca sejenak tentang serba-serbi ASI dulu ya, ibu dan ayah jempolan. semoga niat kita untuk ASIX yang dibarengi usaha maksimal dan doa takzim, dikabulkan oleh Yang Maha Esa.

***

  • pertama, betul, memang memungkinan BB bayi pada masa awal kelahirannya akan sempat turun dulu, baru kemudian naik. turunnya BB si newborn ini dikarenakan ia yang membawa banyak cairan dari fase hidupnya di rahim, akhirnya mengeluarkan cairan tersebut, terutama melalui urin. tidak perlu khawatir, sebab yang dikeluarkan ini “cuma” air biasa, yang justru baik karena akan mempermudah adaptasi sistem pernapasan dan kardiovaskular. bayi normal dapat mengalami penurunan 7-10%, sementara bayi prematur 10-15% dari BB lahir selama rentang dua-tiga minggu awal kelahirannya. barulah setelah itu sedikit demi sedikit BBnya akan mengalami kenaikan. kenaikan ini pun bisa jadi bervariasi antara bayi satu dan lainnya. ada beragam cara mengukur progress kenaikan BB ini. pun, ada beragam chart yang biasa dipakai sebagai patokan untuk melihat naik-turunnya BB ini. kalau tidak salah, chart dari WHO (http://www.cdc.gov/growthcharts/who_charts.htm#The%20WHO%20Growth%20Charts) adalah yang paling “ramah” anak. sehingga deviasi BB bayi mungil pun biasanya masih masuk zona aman. ada baiknya ortu juga turut mengukur, memantau, dan membuat grafiknya sendiri. sehingga mempermudah dan memperkaya wawasan jika nantinya diperlukan argumentasi dengan pihak RS. ah, jangan lupa untuk selalu ingatkan diri sendiri ya, bahwa BB bukanlah satu-satunya tolok ukur bayi sehat. proporsi tiga komponen pengukuran antropemetri: berat badan, tinggi atau panjang badan, dan lingkar kepala adalah yang seharusnya dicermati dalam memantau tumbuh kembang anak.
  • kedua, bayi dengan kelahiran normal tanpa komplikasi, bahkan sanggup bertahan tanpa asupan apapun hingga maksimal 3×24 jam. dua orang dokter rekan saya sendiri yang menyatakan demikian. tentu ini keadaan ekstrim, tidak pula kita ingin demikian. tapi jikapun terjadi, hitungan ilmiah di atas kertasnya memang demikian. selama kurun waktu 1-3 hari pertama, sebaiknya produksi ASI terus-menerus distimulus. hisapan bayi pada fase ini, lebih berfungsi untuk merangsang kelenjar susu untuk memproduksi susu, membiasakan bayi dengan ritme menghisap, dan mengkondisikan hormon-hormon si ibu agar siap menyusui. dan BUKAN untuk memberi makan anak sebanyak-banyaknya, apalagi menargetkan kenaikan BBnya. oleh karenanya, susui bayi sesering mungkin, bukan cuma 2 jam sekali. bayi-bayi baru lahir ada yang cenderung kurang semangat menyusu dan lebih suka tidur. saya tak kan menyebutnya “malas menyusu”. sebab memberi label negatif pada anak jelas bukan pilihan bijak bagi para ayah dan ibu ASI. nah, dalam kondisi ini, ibulah yang harus aktif menyusui. susui dan susui sesering mungkin, TANPA terlalu ambil pusing dengan kuantitas ASI kita. untuk menambah dongkrakan rangsangan ini, ada baiknya juga untuk mulai perah sejak fase ini. perah dan hisapan bayi, keduanya, secara sinergi membantu terus-terusan mengirim sinyal ke otak untuk memproduksi ASI. sinyal ini yang akan direspon oleh mekanisme tubuh, termasuk sekresi hormon penunjang, untuk kian gencar memproduksi ASI. jika di awal perah ASI masih sedikit, ini pun tak perlu terlalu dirisaukan. mekanisme hisapan bayi jauh lebih canggih dari alat perah manapun; sebab mereka mampu memaksimalkan dan bahkan mengosongkan isi PD si ibu, bahkan sampai benar-benar habis! sehingga, kuantitas ASI perah memang tak akan pernah sepadan dengan yang langsung dihisap bayi dan meluncur manis ke perut mungilnya. ah, satu lagi, lambung bayi baru lahir yang baru sebesar kelereng itu belum membutuhkan berpuluh-puluh cc ASI kok, ia hanya butuh sekitar sesendok teh. memang, kebutuhannya akan terus meningkat, tapi tak secepat kilat itu. seiring rajinnya ibu menyusui, yakinlah bahwa segenap tubuh ibu pun makin hari makin memampukan dirinya untuk menjadi sparring partner si kecil.
  • ketiga, perhatikan perlekatan. hal sederhana namun kerap diabaikan adalah masalah perlekatan. padahal, perlekatan yang baik amat mempengaruhi produksi ASI. perlekatan juga menghindari ibu dari puting lecet maupun mastitis; dua momok yang di fase berikutnya kerap jadi trigger gagalnya ASIX. dalam perlekatan yang baik, areola payudara harus masuk semua ke mulut bayi, mulut bayi dalam posisi menganga/membentuk huruf O ketika menyusu, hidung bayi tidak tertutup PD, posisi kepala bayi agak mendongak, jika dipangku bayi tidak berada di pangkuan paha ibu, melainkan di perut atas di mana perut bayi dan ibu berhimpitan di zona bawah payudara ibu. lebih jelasnya ada banyak gambarnya di google. kalo saya dulu lihat gambar lebih mudah mudengnya. hehe.
  • keempat, selain urusan kehalalan yang tentunya tak bisa kita tinggalkan sebagai muslim, mari letakkan opsi pemberian sufor pada daftar paling akhir di tengah kegalauan kita, para ortu. atau, malah dengan gagah berani, keluarkan opsi itu dari daftar. tentunya, yang lebih keren lagi adalah para ortu yang TAK PERNAH mencantumkan opsi itu. hehe. apa pasal? pemberian sufor yang tak akan pernah menyamai ASI, berikut daftar panjang efek uji klinisnya, tak bisa kita anggap mitos. jika WHO saja sudah tahunan menggelindingkan program ASIX selama 6 bulan pertama tanpa sufor sama sekali, dan menyediakan begitu banyak data dukung mengenai ini, jelas kita tidak bisa memalingkan wajah dari isu ini. kepedulian akan program ini pun bukan semata kampanye berbau ekonomis. ketidakmatangan saluran cerna bayi baru lahir, dimana organ tubuhnya belum sempurna terbentuk, hanya dapat disempurnakan dengan pemberian ASI. kolostrum, antibodi, prebiotik, zat imunologik, serta beragam zat “hidup” lainnya jelas tak mungkin bisa disubstitusi oleh sufor dengan komposisi buatan sebaik apapun dari pabrik secanggih apapun.
  • kelima, kolaborasi ciamik antara kepercayaan diri dan dukungan sekitar. sangat penting dalam program ASIX untuk memiliki keyakinan dalam diri. inipun haruslah disertai pengetahuan tentang cara menjalani pilihan dan pasangan/lingkungan yang sangat mendukung. sesekali, mintalah tolong pada suami untuk membisikkan kata-kata motivasi, melakukan pijatan relaksasi, mengecup kening si ibu lembut sebelum dan setelah menyusui si kecil. bercengkerama dengan keluarga, minum teh di teras, meneruskan hobi filateli, mungkin bisa jadi salah satu sumber semangat. jangan ragu untuk minta bantuan para supporter agar terus mengirimkan dukungannya, minta bantuan perawat untuk memijat PD, atau ibu kita untuk mengompres PD. bergabunglah dengan berbagai komunitas yang berkontribusi positif pada pilihan kita untuk memberi ASIX dan ASI selama minimal 2 tahun bagi si kecil, ikutilah berbagai kelas dan seminar seputar ASI, dan rajinlah mengeksplorasi aneka rupa informasi di dunia maya. ibu pun bisa melakukan perawatan tubuh a la rumahan, mandi dengan air hangat, dengarkan musik kesukaan, taruh bunga kesayangan di vas. pokoknya, lakukan yang ibu suka, makan dan minum yang ibu mau, berikan kelima indra apa yang memuaskannya, dan biarkan hormon oksitosin do the rest! ^^
  • keenam, komunikasikan dengan bayi. hey, makhluk mungil di sebelah itu terlalu kawaii (cute/lucu) untuk dicuekin lhoo, dan terlalu kashikoii (cool/keren) untuk sekadar ditatapi. lihat matanya yang bundar, sentuh kulitnya yang halus, kecup pipinya yang montok, dan mulailah berbisik padanya. ceritakan bagaimana kerinduan yang membuncah ketika menunggunya. katakan betapa kita mencintainya. dan, ajak ia “bergandengan tangan”, bekerja sama dengan cinta, agar program ASIX yang diupayakan demi kesempurnaan tumbuh kembangnya dapat berjalan dengan baik. ah, dia pasti mendengarmu, ibu. lihatlah, tidak lama lagi dia akan merajuk dan mulai menyusu dengan setenang jiwa yang merindui bau tubuh ibunya. bau areola, konon begitu serupa dengan aroma rahim selama ia dikandung. jadi, bagaimana mungkin dia sanggup menepis godaan ASI yang begitu menggiurkan dan dada ibu yang begitu menghangatkan? they just can’t resist!

terakhir, tulisan ini pun semata hanya akan menjadi rentetan huruf belaka, tanpa ayah dan ibu yang mempercayai “nilai magis” ASI itu sendiri; tanpa ayah dan ibu yang bergelimang semangat dan niat untuk mengentaskan program ASInya. semoga semua komentar dan masukan positif tentang ASI, bisa menjadi obat gundah, pelipur lara bagi para ortu yang berada di ujung tanduk kepercayaan diri dalam memberi ASIX. lalu, kemudian mentransformasikan berkali lipat semangat untuk bisa memberikan yang terbaik untuk si kecil. semoga ikhtiar maksimal semua ibu, ayah, dan si kecil segera dijawab langit dengan kemudahan dan jalan terindah penuh cinta.

semangat ASI!😡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s