Here It Is: Cheesecake A La Philadelphia!


Akhirnyaaa, kesampean juga bikin cheesecake ini. Dengan full recipe dan cuma ngurangin takaran gulanya aja. Kenapa baru sekarang? Karena Daanish udah 13 bulan dan sudah berhak makan nyaris semua bahan makanan! Yippiyeeey!

20130226-224512.jpg

Bikin satu resep, kirain bisa buat cemilan Daanish n Ayayahnya barang 2 hari. Ternyataaa… ludes dalam sehari tanpa Ayayah dan Ibubun sempet makan banyak, cuma incip doang. Laris manis tanjung kimpul. Mana bikinnya gampak pulak! Yang tekor cuma belanja bahannya, soalnya cream cheese dan fresh cream/whipped cream cair di Indonesia kan muahal booo.

Karena resep udah ada di postingan dulu-dulu, kali ini saya cuma mau sharing fotonya ajah yah. Ayok bikin, Ibu-ibu, gampang dan anti gagal kok. Wong bahan dasarnya aja udah high quality gitu, pasti enak deh jadinya, gak bakalan enggak. Hihihi.

20130226-224621.jpg

[CeritASI] ASIP Dibuang? Duh, Eman!


Jadi, beberapa hari lalu, seorang sahabat yang baru melahirkan di Lampung, ngajak ngobrol di FB. Biasalah, soal tata cara penyimpanan dan pemberian ASIP. Ibu muda ini bilang, kalau 4 botol ASIP beku yang sudah susah payah dikumpulkannya ternyata mencair seluruhnya setelah listrik padam seharian. Pertanyaanya berikutnya, “Perlukah keempat ASIP ini dibuang?”

Saya suka merasa “nyeri” sendiri tiap denger acara buang-membuang ASIP. Kebayang susahnya ngumpulin itu ASIP, kebayang perihnya PD abis dipompa, kebayang sulitnya pada masa awal kelahiran bayi; kebayang perjuangan dan penderitaannya itu lho. Makanya, sama si ibu muda ini pun saya gak mau langsung ujug-ujug meng-ACC urusan buang-membuang ASIP ini. Sayaaang!

Dari ceritanya, ternyata memang si ASIP keempat-empatnya, sayangnya, sudah 100% mencair dari keadaan beku sebelumnya. Yes, it means they are should be given to baby within 24 hours. Dan tidak boleh lagi dibekukan. Tapi, gak dibuang juga kaliii. Lalu saya sarankan melakukan beberapa poin ini:

  1. Berikan ASIP beku pada si bayi dalam 24 jam ini, semampunya menghabiskan. Kalau buat 24 jam, mungkin bisa saja habis semua.
  2. Selama bayi diberikan ASIP, PD harus dipompa lebih sering dari biasanya. Logikanya, PD dipompa di tiap jadwal bayi minum plus jadwal perah yang sebelumnya sudah dijalani.
  3. Stok 4 botol memang habis, tapi dari hasil pompa dengan frekuensi di atas biasa itu, sebagian atau seluruh stok bisa tergantikan. Yakin!

Sayangnya, si ibu muda terlanjur paranoid. Takut ASIPnya rusak. Takut PD membengkak tambah nyeri. Ditambah lagi, dia bilang penyimpanan ASIPnya belum steril, karena masih disimpan bersama bahan makanan lain, baik di kulkas atas maupun kulkas bawah. Eh, jangan keburu panik yah, kalo kita belum bisa beli kulkas/freezer khusus ASIP. ASIP tetap bisa disimpan, diselamatkan, diperjuangkan; merdeka! 😀 Kalo saya sih, trik simpen ASIP di kulkas yang masih gabung dengan makanan lain tuh begini:

  1. Simpan ASIP di botol kaca dengan tutup yang dirapatkan seperti biasa.
  2. Bungkus botol ASIP tadi dengan plastik es batu ukuran 1/4 kg atau 1/2 kg, rapatkan ujungnya dengan mengikatnya kencang.
  3. Untuk penyimpanan di chiller, masukkan botol yang sudah dibungkus tadi dalam wadah plastik rapat, seperti Tupperware, Lock n Lock. Satu wadah biasanya bisa dipakai untuk menyimpan beberapa botol. Agak space consuming di kulkas memang, tapi berguna banget buat meminimalisisr kontaminasi ASIP.
  4. Untuk penyimpanan di freezer, tambahkan bungkusan plastik es batu pada botol. Bisa dibuat 2-3 lapis. Lalu simpan pada rak/sisi/sudut yang terpisah (tidak kontak langsung) dengan aneka makanan beku yang kita simpan bersamaan.
  5. Untuk lebih mengurangi kontaminasi, sebaiknya makanan lain yang disimpan di chiller maupun freezer pun disimpan dalam wadah-wadah rapat, entah plastik yang diikat atau wadah/box bertutup rapat seperti yang digunakan untuk menyimpan ASIP. Jadinya, si makanan gak ganggu ASIP, dan si ASIP ga diganggu makanan lain. Double protection, deh!
  6. Bagaimanapun, penting untuk selalu mengecek kondisi ASIP setiap kali akan diberikan pada bayi. Pastikan semuanya OK, baru berikan. Untuk berjaga-jaga, ASIP yang disimpan dalam keadaan kurang ideal, sebaiknnya dipergunakan kurang dari umur ASIP dalam keadaan ideal. Misal, jika ASIP di chiller idealnya bertahan 2 minggu, sebaiknya dihabiskan dalam 1-1,5 minggu. Jika ASIP di freezer kulkas 2 pintu idealnya bertahan hingga 6 bulan, ya sebaiknya dihabiskan sebelum itu.

Ah, tapi segala macam teori itu kan hitungan di atas kertas ya. Kitalah yang memastikan kondisi aktual di lapangan. Berikut kesiap-siagaan dengan aneka trik saat menghadapi darurat dalam penyelamatan ASIP kita. Observasi pada bayi yang harus dikedepankan. Selagi semua tampak normal dan baik-baik saja. Lakukan saja apa kata hati kita. Saya sih mikirnya sederhana aja, yang kasih sufor sama bayinya saja santai-santai saja kok, apalagi kita yang mau kasih ASI. Meskipun kadang kondisinya gak ideal, PD aja kalik!

Itu sebabnya, waktu saya gak sadar freezer khusus ASIP saya mati selama 2-3 hari dan menyebabkan sebagian isinya mencair sebagian, dan beberapa yang di simpan di pintu bahkan mencari 100%, saya tidak membuangnya. Eman! Bismillah, saya bekukan lagi, namun saya urutkan dari yang paling cair hingga yang masih beku untuk dikonsumsi Daanish. Apalagi hasil perah saya tidak lagi semelimpah dulu, dan perjalanan menuju S2 ASI Daanish masih 10 bulan lagi. Sambil saya observasi, tampaknya memang tidak ada efek buruk, maka para ASIP tadi sampai kini masih nangkring manis di freezer. Tanpa saya sia-siakan setetes pun. 🙂

[CeritASI] Mau Bayi Lelaki Atau Perempuan, Sama Saja!


Oh, please… jangan pernah bilang bayi lelaki kita minum “terlalu” banyak, sehingga produksi ASI tidak mampu mengejarnya. Jangan bicara gender yang memojokkan saat upaya kita belum maksimal. Mekanisme tubuh sudah diatur, sebagaimana rahim pun mampu menyangga segala bayi, dan plasenta pun mampu menafkahi semua janin. Bayi lelaki kita tidak “rakus”. Bukan mereka yang membuat ASI tidak mencukupi. No! That’s our perception, Momies and Daddies!
Bun, sering denger orang bilang, “anak saya laki-laki, minumnya kenceng banget, ASI sampe gak cukup jadi ditambah sufor, deh!” atau “beda, sih, anak lelaki dan perempuan. anak lelaki rakus minumnya!” atau “kalo anak laki-laki mah nenen aja gak bisa kenyang, masih nangis minta lagi!” atau “wajar anak ibu bisa ASIX, kan anaknya perempuan. kalo anak saya laki-laki, sih, jadi emang susah!” Apakah benar anak lelaki punya demand ASI yang berbeda dengan anak perempuan? Apakah benar lebih susah memenuhi kebutuhan ASI anak lelaki ketimbang anak perempuan?
Mengutip potongan artikel dari ayahbunda, produksi ASI tergantung pada permintaan yang diterima tubuh ibu sebagai rangsangan untuk terus memproduksi ASI. berikut kutipannya:

… produksi ASI akan seirama dengan kebutuhan bayi. Jika bayi Anda minumnya banyak, otomatis ASI yang keluar juga banyak. Semisal yang diminum 250 ml, hormon prolaktin akan memacu kelenjar susu agar menghasilkan ASI 25 ml. Jika rangsangan bayi minum ASI semakin sering, produksi susu juga meninggi. Sebaliknya, air susu akan berkurang jika rangsangannya jarang.

Konten senada juga dilansir oleh Healthy Children, yang menyatakan bahwa berkurangnya frekuensi dan waktu menyusui akan menurunkan juga produksi ASI. Website ini dikelola oleh The American Academy of Pediatrics (AAP), sebuah organisasi yang sering menjadi rujukan ilmiah, sebab beranggotakan atas para dokter spesialis anak, spesialis bedah anak, dan spesialis pengobatan anak dari US, Meksiko, Kanada, dan negara-negara lainnya. Sering-sering pentengin laman ini juga penting, loh.

In reality, the efficient supply-and-demand rhythm of normal breastfeeding—in which your baby’s increased demand for milk spurs greater milk production from you and her diminished suck ling decreases your milk supply—nearly always takes a while to establish fully and requires readjustment as your baby grows.

As your baby’s suckling time increases, milk production will also increase. Her suckling stimulates nerve endings in your breast, sending a message to your brain that results in the release of the hormone prolactin. This plays a major role in stimulating milk to be created in your breasts using substances obtained from your bloodstream. While she breastfeeds, your prolactin levels surge, ensuring continued production of milk. If breastfeeding is decreased—if your infant is fed on a restricted schedule or given supplemental formula, water, sugar water, or even a pacifier to satisfy her suckling urge—your milk production will decrease accordingly.

Berkali-kali mencari lewat Google baik artikel maupun tulisan ilmiah berbahasa Inggris maupun Indonesia tentang mitos yang konon dipercaya bertahun-tahun oleh para orang tua di tanah air ini, saya tak kunjung menemukan satu dokumen pun yang bisa menjelaskannya. mitos itu senduri, tampaknya hanya santer di Indonesia. Satu-satunya artikel semi ilmiah seputar hubungan antara produksi ASI dan gender bayi hanyalah yang dilansir oleh Examiner, sebuah laman yang menyediakan pelbagai informasi dari kekhususan dan kedalaman ilmu para kontributornya di Kanada. Itu pun tidak bicara pasal kuantitas, melainkan kandungan dari ASI, sebagaimana kutipan berikut:

Human breast milk contains ingredients, as well as functions, that artificial formulas cannot replicate. Breast milk is not just different from formula, it’s different from mother to mother. The relationship between mother and baby goes further than supply and demand. Interaction between mother and child affects the composition of milk according to the child’s specific needs.

According to a new article in Nature (Dec 23/30), breast milk produced for boys contains more protein and fat than breast milk produced for girls.

“We know that boys grow faster than girls, and perhaps this is due to the milk, or the milk may be responding to the commands of the child,” said Ginna Wall, coordinator of lactation services at University of Washington Medical Center in Seattle.

Atau, sebuah laman lain yang menyediakan informasi dan dukungan seputar menyusui, Low Milk Supply juga menyinggung soal perbedaan tipis antara produksi ASI ibu berbayi lelaki dan perempuan. Itu pun tidak disebutkan bahwa kemampuan tubuh si ibu tak kan mampu mengikuti. Sebaliknya, ditemukan kecnederungan ibu dari bayi lelaki untuk memproduksi lebih banyak ASI daripada ibu dari bayi perempuan. See!

It has long been understood that the breast works on a demand and supply process—baby suckles at the breast to demand milk, and the body responds by supplying it to him (via milk ejection) and then replacing what he takes and making even more if baby keeps asking. Calibration, the body’s process of figuring out how much milk to make, is designed to be an infant-driven system. Your body responds to your individual baby with a supply that is tailored to your baby’s specific needs. This is why women may have very different breastfeeding and milk production experiences from one baby to the next; each is a new and unique situation. Similarly, some women may develop a larger milk supply on one side than the other, especially if baby favors one breast over the other.  Interestingly, , probably due to the fact that baby boys seem to grow a little faster and need a little more milk, thus creating a bigger milk supply in their mothers.

Mulai sekarang, percayailah diri kita sendiri akan kemampuan “memuaskan” bayi-bayi kita, baik lelaki atau perempuan. Bertumbuh cerdaslah dari melihat, mendengar dan membaca. Bersusah payahlah hingga ujung-ujung batas kemampuan kita untuk berjuang. Berbesar hatilah untuk memilah kumpulan, mana “teman” dan mana “lawan” dalam menjalankan komitmen sebagai orang tua ASI; terutama saat fondasi belum kokoh, jangan pernah ragu untuk meninggalkan debat kusir yang tak perlu. Dan, berbangga dirilah atas niat dan kesungguhan kita menjadikan anak-anak para doktor ASI.
Semangat ASI!