[CeritASI] Mau Bayi Lelaki Atau Perempuan, Sama Saja!

Oh, please… jangan pernah bilang bayi lelaki kita minum “terlalu” banyak, sehingga produksi ASI tidak mampu mengejarnya. Jangan bicara gender yang memojokkan saat upaya kita belum maksimal. Mekanisme tubuh sudah diatur, sebagaimana rahim pun mampu menyangga segala bayi, dan plasenta pun mampu menafkahi semua janin. Bayi lelaki kita tidak “rakus”. Bukan mereka yang membuat ASI tidak mencukupi. No! That’s our perception, Momies and Daddies!
Bun, sering denger orang bilang, “anak saya laki-laki, minumnya kenceng banget, ASI sampe gak cukup jadi ditambah sufor, deh!” atau “beda, sih, anak lelaki dan perempuan. anak lelaki rakus minumnya!” atau “kalo anak laki-laki mah nenen aja gak bisa kenyang, masih nangis minta lagi!” atau “wajar anak ibu bisa ASIX, kan anaknya perempuan. kalo anak saya laki-laki, sih, jadi emang susah!” Apakah benar anak lelaki punya demand ASI yang berbeda dengan anak perempuan? Apakah benar lebih susah memenuhi kebutuhan ASI anak lelaki ketimbang anak perempuan?
Mengutip potongan artikel dari ayahbunda, produksi ASI tergantung pada permintaan yang diterima tubuh ibu sebagai rangsangan untuk terus memproduksi ASI. berikut kutipannya:

… produksi ASI akan seirama dengan kebutuhan bayi. Jika bayi Anda minumnya banyak, otomatis ASI yang keluar juga banyak. Semisal yang diminum 250 ml, hormon prolaktin akan memacu kelenjar susu agar menghasilkan ASI 25 ml. Jika rangsangan bayi minum ASI semakin sering, produksi susu juga meninggi. Sebaliknya, air susu akan berkurang jika rangsangannya jarang.

Konten senada juga dilansir oleh Healthy Children, yang menyatakan bahwa berkurangnya frekuensi dan waktu menyusui akan menurunkan juga produksi ASI. Website ini dikelola oleh The American Academy of Pediatrics (AAP), sebuah organisasi yang sering menjadi rujukan ilmiah, sebab beranggotakan atas para dokter spesialis anak, spesialis bedah anak, dan spesialis pengobatan anak dari US, Meksiko, Kanada, dan negara-negara lainnya. Sering-sering pentengin laman ini juga penting, loh.

In reality, the efficient supply-and-demand rhythm of normal breastfeeding—in which your baby’s increased demand for milk spurs greater milk production from you and her diminished suck ling decreases your milk supply—nearly always takes a while to establish fully and requires readjustment as your baby grows.

As your baby’s suckling time increases, milk production will also increase. Her suckling stimulates nerve endings in your breast, sending a message to your brain that results in the release of the hormone prolactin. This plays a major role in stimulating milk to be created in your breasts using substances obtained from your bloodstream. While she breastfeeds, your prolactin levels surge, ensuring continued production of milk. If breastfeeding is decreased—if your infant is fed on a restricted schedule or given supplemental formula, water, sugar water, or even a pacifier to satisfy her suckling urge—your milk production will decrease accordingly.

Berkali-kali mencari lewat Google baik artikel maupun tulisan ilmiah berbahasa Inggris maupun Indonesia tentang mitos yang konon dipercaya bertahun-tahun oleh para orang tua di tanah air ini, saya tak kunjung menemukan satu dokumen pun yang bisa menjelaskannya. mitos itu senduri, tampaknya hanya santer di Indonesia. Satu-satunya artikel semi ilmiah seputar hubungan antara produksi ASI dan gender bayi hanyalah yang dilansir oleh Examiner, sebuah laman yang menyediakan pelbagai informasi dari kekhususan dan kedalaman ilmu para kontributornya di Kanada. Itu pun tidak bicara pasal kuantitas, melainkan kandungan dari ASI, sebagaimana kutipan berikut:

Human breast milk contains ingredients, as well as functions, that artificial formulas cannot replicate. Breast milk is not just different from formula, it’s different from mother to mother. The relationship between mother and baby goes further than supply and demand. Interaction between mother and child affects the composition of milk according to the child’s specific needs.

According to a new article in Nature (Dec 23/30), breast milk produced for boys contains more protein and fat than breast milk produced for girls.

“We know that boys grow faster than girls, and perhaps this is due to the milk, or the milk may be responding to the commands of the child,” said Ginna Wall, coordinator of lactation services at University of Washington Medical Center in Seattle.

Atau, sebuah laman lain yang menyediakan informasi dan dukungan seputar menyusui, Low Milk Supply juga menyinggung soal perbedaan tipis antara produksi ASI ibu berbayi lelaki dan perempuan. Itu pun tidak disebutkan bahwa kemampuan tubuh si ibu tak kan mampu mengikuti. Sebaliknya, ditemukan kecnederungan ibu dari bayi lelaki untuk memproduksi lebih banyak ASI daripada ibu dari bayi perempuan. See!

It has long been understood that the breast works on a demand and supply process—baby suckles at the breast to demand milk, and the body responds by supplying it to him (via milk ejection) and then replacing what he takes and making even more if baby keeps asking. Calibration, the body’s process of figuring out how much milk to make, is designed to be an infant-driven system. Your body responds to your individual baby with a supply that is tailored to your baby’s specific needs. This is why women may have very different breastfeeding and milk production experiences from one baby to the next; each is a new and unique situation. Similarly, some women may develop a larger milk supply on one side than the other, especially if baby favors one breast over the other.  Interestingly, , probably due to the fact that baby boys seem to grow a little faster and need a little more milk, thus creating a bigger milk supply in their mothers.

Mulai sekarang, percayailah diri kita sendiri akan kemampuan “memuaskan” bayi-bayi kita, baik lelaki atau perempuan. Bertumbuh cerdaslah dari melihat, mendengar dan membaca. Bersusah payahlah hingga ujung-ujung batas kemampuan kita untuk berjuang. Berbesar hatilah untuk memilah kumpulan, mana “teman” dan mana “lawan” dalam menjalankan komitmen sebagai orang tua ASI; terutama saat fondasi belum kokoh, jangan pernah ragu untuk meninggalkan debat kusir yang tak perlu. Dan, berbangga dirilah atas niat dan kesungguhan kita menjadikan anak-anak para doktor ASI.
Semangat ASI!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s