[CeritASI] Saya Pun Tak Selalu Sukses: Ketika Produksi Turun Tajam

Sudah lama saya mengalami dilema untuk berbagi cerita ini. Sebab, ini bukan kisah sukses memberi ASI. Tadinya, pikiran idealis saya menuntut untuk menundanya hingga nanti–entah kapan–jika kondisi sudah berbalik jadi lebih baik, agak lebih banyak semangat yang bisa berhamburan dari rangkaian huruf-huruf ini.

Tapi, beberapa waktu berlalu, dan saya tak menemukan titik terang menuju keadaan ideal yang diimpikan itu. Pun, akhirnya saya putuskan untuk tetap menawarkan cerita ini, agar ada hikmah yang bisa kita petik bersama. Agar kesalahan yang ada juga tak terulang. Cukup saya yang terjerembab, ibu-ibu lain tak usah jatuh di lubang yang sama.

Ceritanya, kalau pernah membaca postingan-postingan lainnya di blog ini, saya adalah salah satu ibu yang begitu diberkahi karena memiliki quota produksi ASI yang cukup tinggi. Sampai Daanish berumur 8 bulan, ASIP yang saya kumpulkan bisa mencapai 800-1000 ml per hari, sementara kebutuhan Daanish hanya sekitar 400-500 ml (sampai usia 6 bulan), dan 300-400 ml (sampai usia 8 bulan). Produksi ini memang sedikit menurun, hingga sekitar 400-500 ml per hari dengan kebutuhan Daanish hanya 200-300 ml sejak ia berusia di atas 8 bulan. Bisa dibayangkan betapa banyak surplusnya per hari, lalu akumulasikan hingga berbulan-bulan. Alhamdulillah, sangat banyak memang.

Ditambah dengan pengajuan diri ke atasan kerja untuk sebisa mungkin menghindarkan saya dari perjalanan dinas yang mengharuskan menginap dan meninggalkan si bayi, otomatis stok ini bukannya berkurang, malah kian menggunung. Saya sudah berdonor pada dua orang bayi. Bayi kedua malah hampir rutin mengambil ASIP selama 3 kali. Saya lupa persisnya berapa botol sudah didonorkan, 200-an botol/wadah (@ 100 ml) mungkin.

Di usia Daanish yang ke-10 bulan, saya mulai berpikir ‘aneh’. Saya bingung mengatasi over-production dan memusingkan freezer khusus ASIP yang penuh sesak namun tak kunjung berkurang. Saya mengambil keputusan–yang pada akhirnya sangat saya sesali saat ini–nekad dan ‘nyeleneh’: mengurangi frekuensi perah agar produksi tidak terlalu melampaui kebutuhan. Sampai Daanish berusia setahun, dengan keputusan itu, saya hanya perah 1 kali sehari dan awalnya bisa mengumpulkan 300-350 ml per hari. Lama kelamaan, jelang usia setahun Daanish, produksi menjadi 200-250 ml per hari. Artinya, jumlah produksi sama dengan jumlah konsumsi. Aha, inilah yang saya mau!

Sayang seribu sayang, keputusan yang didasari pesimistis itu ternyata berbuntut panjang. Ditambah saya yang kian malas perah hingga terkadang tidak melakukannya sama sekali demi ‘menggerakkan stok’, Allah mengirim tunai apa yang menjadi bersitan hati saya sebelumnya: produksi yang menurun (dan terus menurun, dengan signifikan, dan bikin senewen)!

Hari pertama masuk setelah libur panjang di awal Januari 2013 ini, saya harus menelan pil pahit bahwa hasil perah bahkan tidak menyentuh angka 100 ml. Daanish sudah melalui fase kelulusan S2 ASInya saat itu. Selama bulan ini, cuma satu hari saya bisa bawa pulang ASIP 120 ml. Selebihnya, rata-rata hanya 70-80 ml per hari. Padahal kebutuhan Daanish selama ditinggal kerja masih bertahan 200-250 ml per hari.

Terkejut bukan kepalang! Bisa dibayangkan, yang baru beberapa hari sebelumnya bisa bawa 250-an, mendadak jadi 80-an sehari. Saya pun tetap berusaha menenang-nenangkan diri. Sambil terus menyemangati diri, bahwa stok ASIP Daanish masih melimpah.

Tidak hanya sampai di sana. Alam bawah sadar yang berniat mengurangi produksi itu pun telah membuat pengaturan mekanisme tubuh jadi demikian berubah. Bulan Februari, saat Daanish memasuki usia 14 bulan, saya harus menahan tangis, demi ASIP yang kian sedikit bisa dikumpulkan. Dua minggu awal, 50-60 ml. Dua minggu terakhir, 30-40 ml. Sampai detik ini. Terkejut? Sangat!

Akhirnya, saya harus mengakui dosa kini. Dosa karena ‘meremehkan’ kerja tubuh yang mempu memproduksi banyak. Dosa karena ‘menyombongkan’ stok ASIP yang melimpah. Dan, yang paling saya sesali, dosa karena pernah terbersit ‘doa’ agak produksi menurun disertai dengan ‘usaha’ menurunkan frekuensi perah. Betapa tidak bersyukurnya hamba macam saya!

Sekarang, saya cuma bisa menyesal. Tapi saya tidak mau menyerah. Mulai dua minggu lalu, saya perah 2-3 kali per hari. Hasilnya, kadang bisa 50 ml, kadang hanya 30 ml. Tak apa. Saya kembali belajar bersyukur. Saya kembali belajar rendah hati. Saya kembali belajar membangun semangat. Saya kembali belajar dari nol.

Masih 10 bulan lagi perjalanan Daanish menuju S3-nya. Saya tidak tahu apakah stok yang kini sudah mulai berkurang itu bisa mengantarnya ke gerbang itu atau tidak. Tapi yang jelas, saya menggiatkan lagi jadwal dan perbaikan tata cara perah harian, saya berusaha mengeliminir pikiran negatif yang melemahkan, dan berdoa lebih sepenuh hati untuk cita-cita itu. Saya belum menyerah. Dan insyaAllah, tidak mau menyerah.🙂

Semangat ASI!

8 Comments

  1. Bubun.. saya coba sering perah dikantor tapi kalo rutin 2jam skali cuma 80-100 ml dptnya tapi kalo 3jam skali bs 130-150 ml kadang jd males klo interval jarak perahnya deket.. hasilnya segitu2 juga.. bagusan yg mana bun rajin perah tapi hasilnya dikit apa agak dilamain dikit waktu perahnya biar banyak dpt?

    • kalo teori pumpingnya sih, tetep bagusan yang sering ya, mba. tapi karena pada prakteknya saya juga ngerasain yg mba rasain, saya rasa fine2 aja pumping dibikin berjarak asalkan hasilnya bisa banyak. kecuali kalo dibikin berjarak tapi hasilnya tetep dikit, ya mending sering2 kan, biar total perolehannya bisa banyak. senyamannya aja, mba, yg penting ga bikin mba stress, dan justru malah bikin semangat. mba pasti lebih rau ritme tubuh mba. semangat yaaa! ^^

  2. huaaaa,,,
    sedihnya baca yang ini bundaaaa,,

    semangat terus yaa,,

    waktu baca yang ini https://bodymindsoulnutrition.wordpress.com/2012/09/13/asip-selama-bekerja-hitung-dan-tabung/
    saya iriiiiiiiiiiiiiiiiiiii,, seiri2nya,, setengah mati,, sekaligus sedih,,
    karena ASI saya “pas” sesuai kebutuhan anak saya,, hari ini saya perah, besok pagi diminumkan habis,, saat punya stok 3 botol di freeezer, saya bersyukuurr,, tenang rasanya,,

    alhamdulillah,, saya walau sering ketakutan asi saya kurang untuk anak saya,, saya selalu meyakinkan diri saya dan terus berjuang supaya asi saya terus keluar,,

    doakan saya ya bun,,
    yang sedikit ini semoga barokah,,

    bunda yang semangat ya,,

  3. Mbk, sy habis sakit selama seminggu. Sejak sakit asi sy drop banget, bahkan pernah tidak keluar. Sy sudah sembuh tapi produksi asi sy belum kembali. Sy nombok trs. Padahal anak sy kuat konsumsi asipnya. Apa produksi sy bisa balik seperti semula mbk? Gmn caranya? Sy sudah menambah jadwal pumping dibanding sblm sakit. Tp blm kelihatan hasilnya…..
    Makasih….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s