GTM: Psikologi Sebab dan Solusinya (Tabliod Nakita)


Orang tua mana yang tidak merasa khawatir ketika anak susah makan? Sedangkan makanan bagi anak adalah hal terpenting karena dalam masa pertumbuhan tubuh.  Sedangkan makan bagi anak memiliki tiga fungsi yang baik, yaitu pemenuhan kebutuhan gizi dan energi, edukasi, dan entertainment.

 

Penyebab Anak Susah Makan

Memang, masalah anak susah makan ini harus segera diatasi, tetapi tidak dengan memaksa anak untuk menghabiskan makanan dengan porsi berlebihan. Cari dulu penyebab anak jadi susah makanNah sebenarnya apa sih yang membuat anak susah makan?

Read more: Anak Susah Makan Menurut Psikologis

Dilihat dari segi psikologis anak susah makan, penyebabnya adalah (Tabloid Nakita):

1.     Cemas

Rasa cemas ini paling sering dialami anak batita. Contoh, cemas berpisah dari orangtua karena berpikir akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa orangtuanya; cemas berada di lingkungan baru, semisal ketika mulai bersekolah, dan sebagainya. Kecemasan yang timbul sering kali disertai gejala-gejala fisiologis maupun perilaku seperti gelisah, berkeringat dingin, berdebar-debar, sulit konsentrasi, susah tidur, dan sebagainya. Kondisi-kondisi ini berpengaruh pada pola makan anak, termasuk membuat anak jadi susah makan.

2.     Depresi

Anak yang depresi bisa mengalami dua masalah makan, yaitu makan berlebihan/tidak terkendali sehingga membuatnya obesitas atau ia menjadi sulit makan. Depresi banyak dialami anak usia sekolah. Penyebabnya bermacam-macam. Ada yang karena menjadi korban bully seperti diejek, digoda, mendapatkan kekerasan, dan sebagainya.

3.     Pola relasi yang tak bagus dengan orangtua.

Ketika anak makan dan rewel, lalu direspons orangtua dengan tidak sabar dan memaksa anak, maka peristiwa makan menjadi hal yang tidak menyenangkan. Akibatnya, anak pun jadi susah makan. Dalam hal pola asuh, orangtua tidak mengajari anak untuk mengonsumsi makanan yang bervariasi alias hanya menyediakan makanan yang itu-itu saja. Ini membuat anak tidak belajar mengenal rasa dan jenis makanan yang beragam. Akibatnya, anak menjadi pilah-pilih makanan dan makan yang itu-itu saja. Ujung-ujungnya, anak pun akan susah makan.

Selain itu faktor psikologis yang dapat mengganggu anak susah makan, seperti kondisi rumah tangga yang bermasalah, suasana makan yang kurang menyenangkan, tidak pernah makan bersama orangtua, maupun anak dipaksa memakan makanan yang tidak disukai.

Cara Mengatasi Anak Susah Makan

Cara mengatasi anak susah makan ini harus dilihat secara detai apa faktor penyebabnya, apabila secara medis tak ada masalah, biasanya anak yang sulit makan akan dirujuk kepada psikiater/psikolog. Psikiater/psikolog akan mencari latar belakang masalah dari segi kejiwaan si anak. Para ahli juga akan memberikan saran untuk mengatasi masalah psikis tersebut, sehingga bila sudah berhasil diatasi, diharapkan perilaku makan anak akan membaik.

  • Di rumah, orangtua sebenarnya bisa mengenali masalah psikis pada anak lewat terapi bermain. Biasanya cara ini dilakukan pada anak yang masih kecil hingga usia batita. Saat bermain, orangtua bisa mengamati dan menganalisis bagaimana pola bermain anak dari kisah-kisah yang diperlihatkan. Misal, dalam bermain anak selalu memilih peran utama binatang buas yang menerkam binatang lemah. Bila pola ini selalu berulang, ini merupakan pertanda penting, anak merasa dirinya selalu jadi objek/korban dari pola asuh /perilaku, apakah orangtua atau teman. Lewat terapi bermain, konflik permasalahan anak dapat ditelusuri, kemudian diatasi sesuai penyebabnya.
  • Terapi bermain juga dapat digunakan untuk memperbaiki relasi antara orangtua dan anak. Karena dalam bermain, orangtua dapat belajar bagaimana merespons anaknya. Namun, perlu dipahami, terapi bermain yang dilakukan ini tidak serta merta berdampak langsung pada pola makan anak. Artinya, setelah relasi/pola asuh diubah tidak serta merta perilaku sulit makan anak teratasi. Perlu proses dan waktu yang cukup hingga akhirnya terjadi perubahan perilaku makan pada anak. Selain terapi bermain, orangtua juga bisa melakukan terapi kognitif, utamanya pada anak yang lebih besar. Anak dibantu mengatasi kondisi cemas atau depresinya dengan mengubah cara berpikirnya. Lakukan dengan pendekatan komunikatif, anak diajak mengungkapkan perasaannya, sehingga ia merasa nyaman dan tenang. Lakukan komunikasi pada anak sesuai tahapan usianya.
  • Lakukan introspeksi diri atas sikap dan pola asuh terhadap anak, mungkinkah selama ini kerap bersikap otoriter atau overprotektif, sehingga membuat anak merasa cemas, marah, dan tak nyaman. Orangtua diharapkan bisa mengubah cara berpikirnya.
  • Mengajarkan perilaku makan yang baik. Sediakan menu makanan yang bervariasi agar anak mengenal banyak rasa dan jenis makanan. Jadilah model yang baik dengan membiasakan makan bersama di meja makan. Makan bersama merupakan ajang interaksi penting antara orangtua dan anak. Orangtua juga bisa menjadi teman menyenangkan di meja makan. Dengan begitu, hubungan orangtua dan anak semakin erat.
  • Jadikan saat makan menyenangkan. Hindari mengancam, menghukum, atau menakut-nakuti anak agar ia makan lebih banyak. Ini akan membuatnya merasa bahwa saat makan merupakan saat yang tidak menyenangkan. Dan bukan tak mungkin menimbulkan trauma psikologis baginya.

Nah itulah fenomena anak susah makan, semoga dengan membaca artikel ini anda bisa mengatasi anak anda yang susah makan.
sumber: belajar psikologi

Cerdik Cerdas Bersahabat dengan GTM Daanish


Urusan makan-memakan memang bukan melulu urusan perut. Ya, harus saya akui itu. Ada cinta yang harus bermain apik di dalamnya. Ada kesabaran yang harus dikali-lipatkan. Ada pengorbanan yang tidak boleh dihitung. Ada pembelajaran yang tak henti. Orang tua dituntut untuk cerdas; tidak cuma dalam hal memvariasikan menu dan tekstur makanan.

Apakah kita kerap kehabisan senyum saat si kecil mulai memilih untuk membuang ketimbang memakan makanannya? Kalau saya, harus saya akui, ya. 😦

Saya pun kerap menunjukkan rasa gusar hingga bicara dengan nada tak menyenangkan saat makanan (yang saya anggap) sudah susah payah saya buat disia-siakannya. Saya sering hilang kesabaran membujuk dan menungguinya makan hingga bilangan jam. Saya hampir selalu kesal tiap kali ia dengan polosnya menyemburkan, melepeh, meremas, hingga menumpahkan semua makanan (yang saya anggap) sudah saya sediakan penuh cinta untuknya.

Saya anggap, saya pikir, saya sudah cukup memberinya cinta dan energi demi tumbuh kembang fisiknya. Itu yang saya tahu.

Karena tiap habis melewatkan waktu makan dengan emosi negatif itu saya selalu menyesal, mungkin dengan menulis catatan ini, ada sesuatu yang bisa diperbaiki.

Apa yang saya inginkan? Apa yang Daanish maui?

Oke, karena yang saya inginkan sudah jelas; yaitu tuntutan yang tak habis-habis. *huhu, maafkan Ibubun, nak ;(. Maka, saya coba menebak apa yang si kecil maui sebenarnya. Mungkin, ia mau:

  • Agar saya memvariasikan menu dan tekstur makanannya.
  • Agar saya memberinya makan di saat ia “ingin makan”, bukan saat saya “ingin memberi makan”.
  • Turut serta dalam proses memilih makanannya.
  • Turut serta dalam proses sederhana mempersiapkan makanannya.
  • Turut serta membuat makanan itu masuk ke mulutnya.
  • Menunjukkan pada saya kalau ia mulai “bisa” menyuapi sendiri makanannya.
  • Menunjukkan pada saya kalau ia juga “bisa” menyuapi makanan untuk Ibunya.
  • Diberi perhatian lebih.
  • Diberi pujian.
  • Sederhananya, menunjukkan rasa rindu dan sayangnya pada saya.

Ah, oke. Sampai pada poin terakhir saya sudah “cukup banyak” mengumpulkan bukti ketulusan dalam kepolosannya. Saya sudah “cukup puas” untuk menjustifikasi dan menyalahkan diri sendiri untuk perlakuan-perlakuan tidak mendidik yang bisa saja membuatnya sedih. Atau, memang sudah berkali-kali membuatnya sedih. 😦

Jadi, begini saja. Penyesalan selalu di belakang. Sebab, kalau di depan namanya “pendaftaran” atau “persiapan”. *hehehe, ngegaring dikit :D. Jadi (lagi), mulai sekarang, apa yang harus jadi catatan saya saat menghadapi hal demikian? Bagaimana menyikapinya? Atau, bagaimana tips dan triknya? Ini yang berhasil saya kumpulkan:

  • Ganti makanan yang “mudah disembur” menjadi yang “sulit disembur”.

Beberapa makanan tampak dramatis saat disemburkan dari mulut anak, misal: bubur, sereal, yoghurt. Hal inilah yang membuat anak senang saat menyemburkan makanan. Coba ganti dengan makanan berbentuk irisan kasar khusus untuk tumbuh gigi, seperti irisan wortel, pisang, ubi rebus, atau roti. Dengan begitu efek “seru” saat makanan disemburkan yang hilang, akan mengurangi setengah motivasi anak menyemburkan makanan. (Sumber: tentang anak)

  • Memberi kesempatan partisipasi aktif si kecil dalam hal memilih alat makan warna-warni, memilih menu, atau membantu langkah-langkah sederhana menyiapkan makanannya.

 

  • Tidak mengambil jalan pintas, seperti memberi suplemen atau mengencerkan makanan. Ini akan membuat masalah GTM jadi kian berlarut-larut dan sulit teratasi.

Menurut Nia banyak juga ibu yang kurang memahami situasi anak yang susah makan. Misalnya saja membuatkan susu formula sebagai pengganti makan anak, menambahkan vitamin atau suplemen untuk menambah nafsu makan anak, atau mengencerkan makanan agar lebih mudah dimasukkan ke mulut anak. (Sumber: Kompas)

  • Menciptakan suasana menyenangkan saat makan. Tapi, tetap menanamkan pada anak bahwa “menyenangkan” tidak berarti makan sambil main di luar atau menonton TV. Menyenangkan bisa berarti memangkunya saat makan atau berfantasi tentang “isi” makanannya. Yang pernah saya coba adalah dengan bilang: “Hohoho, ayo makan bayam segar. Biar bugar seperti Popeye”, “Daan, mana nih mulutnya, si kentang kuning yummy yummy mau masuk, loh”, “Eh, ada jagung manisnya juga loh di atas nasi, makan yuuuk, kamu kan suka jagung”, atau “Mata Daanish mana? Oh itu, biar sehat makan wortel yuk, Nak”. Nah, meskipun terus berusaha keras untuk tidak mengajarkan makan sambil nonton TV, nonton DVD tepatnya, terkadang saya masih harus menyerah soal urusan ini. Memang tidak full makan sambil nonton DVD. Biasanya aktivitas makan sudah dimulai dulu, dan DVD baru “dipekerjakan” begitu konestrasinya tampak terpecah. Kalau cuma mau main saja sih, saya belum mau menghidupkan DVD. Tapi, kalau sudah mau mengeluarkan sepeda atau minta main ke rumah tetangga, barulah DVD dihidupkan. Tapi, tetap bukan cara yang baik ternyata. Karena sesudahnya ia tetap saja beralih dari makanannya. Jadi, mari stop nonton sambil makan, atau pun sebaliknya!

 

  • Memberinya kesempatan makan sendiri atau menyuapi ibunya. Well, ini akan butuh kesabaran segunung memang. Tapi sedikit banyak efektif guna mendulang sesendok demi sesendok makanan ke mulutnya. Saya mencobanya dengan:
    • Menyiapkan dua sendok saat dia mulai merebut sendok yang saya pegang. satu untuk saya menyuapinya, satu untuk dia pakai.
    • Alih-alih menghentikan, saya pilih mengarahkannya dalam menggunakan sendok atau tangannya. Hasilnya, ia akan mulai menyuapi dirinya sendiri atau malah menyuapi saya. 😀
    • Membiarkannya memangku piring makannya jika ia ingin.
    • Tidak buru-buru mengomel atau memunguti lauk yang bertebaran saat ia mulai “seru” dengan aktivitas barunya. Selain supaya hemat tenaga, juga supaya ia tidak lantas “melawan” karena saya salah mengartikan kreativitasnya.

 

  • Makan saat ia ingin, dan berhenti saat ia sudah tak ingin. Sebaiknya tidak berusaha memaksa, karena bisa menyebabkan trauma atau justru memperparah aksi GTMnya.

Hindari mengancam, menghukum, atau menakut-nakuti anak agar ia makan lebih banyak. Ini akan membuatnya merasa bahwa saat makan merupakan saat yang tidak menyenangkan. Dan bukan tak mungkin menimbulkan trauma psikologis baginya. (Sumber: belajar psikologi)

  • Makan sedikit, tapi sering. Makan tidak melulu harus banyak. Saat GTM, mungkin anak sedang malas makan. Sedikit makan akan membuatnya cepat lapar. Mengenali tanda ia lapar dan menawarinya makan lebih sering mungkin bisa membantu. (Sumber: Kompas)

 

  • Lupakan persepsi bahwa “makan” harus “nasi”. Cemilan sehat seperti pasta, roti, dan biskuit yang kita buat sendiri di rumah pun bisa jadi “makanan utama” untuknya. Jangan lupa, aneka buah, sayur, dan umbi-umbian pun tetap bisa jadi makanan mengenyangkan, bahkan sangat baik untuk tubuhnya. Ingat, “makan nasi” adalah budaya, ada banyak manusia lain di belahan dunia lain bisa hidup sehat dan tumbuh dengan baik tanpa nasi, bukan. 😉

 

  • Sesekali mengajaknya makan di luar. Ini bisa menunjukkan padanya atmosfir baru. Dimana semua orang makan dengan lahap, dimana semua orang tampak menikmati dan membutuhkan makanan. Sesekali saja, bukan untuk dijadikan kebiasaan. Toh, belajar dari melihat (atau yang orang Jepang kenal dengan metode belajar minarai) biasanya lebih efektif untuk menanamkan suatu nilai pada anak-anak.

 

  • Terakhir, memupuk kesabaran, mengambil jarak sesaat ketika sedang marah, dan berusaha melihat dari perspektif positif bisa memperbaiki reaksi kita terhadap GTM anak. Emosi negatif jelas bukan solusi. Semakin buruk interaksi kita dengan anak saat ia makan, justru akan makin membuatnya enggan makan.

 

Oh, makan bukanlah mimpi buruk, Nak. Sama sekali bukan. Mari kita makan dengan kenyang, senang, dan riang, ya!

[Cemilan] [MPASI 1y] [MPASI 8m] Lemon Cookies


Masih dari buku resep yang sama dengan si Chocolate Short Bread. Bedanya, yang ini resepnya saya modifikasi. Aslinya kan Orange Cookies. Orange, yang dipahami masyarakat Jepang, bukan jeruk biasa. Tapi jeruk sebangsa Sunkist di Indonesia, tapi rasa buahnya asam dan aroma khasnya cukup kuat. Nah, di sini kan kalaupun ada, pasti mahal. Dan memang ga ada stoknya sih di rumah. *nyengir 😀

Sementara, ada banyak lemon dan jeruk nipis di rumah. Soalnya lagi musim radang tenggorokan dan flu ringan gitu kan. Beberapa minggu lalu saya kena, terus nular ke Daanish, sekarang Yayahnya udah ‘kesenggol’ gejalanya. Jeruk lemon/nipis, kencur maupun madu adalah amunisi saya buat menghadapi masa-masa inkubasi virus begini. Biasalah, pengen konsisten dengan home treatment dulu, sebelum buru-buru ngacir ke dokter buat penyakit ‘harian’ yang menyambangi orang serumah.

Jadi, saya ganti aja Orange-nya dengan lemon. Ih, ternyata jadinya oishii loh. Enak! Aroma lemon dan sedikit asamnya ga boong. Lemon abis. Bersatu sama manisnya choco chips, jangankan Daanish, saya aja doyan. Hehehehe.

Meskipun agak sedikit kelamaan manggangnya, tapi kukis ini enak loh. *menghibur diri sendiri. Iyah, sama dengan si short bread, ini kukis juga sama crunchynya, sama easy bitenya. Ancur deh begitu digigit. Kalo ga percanya, tanya Daanish deh. Dia yang giginya cuma 6,5 biji aja bisa lahap makannya. Yah, dengan bantuan air liur juga sih kayaknya. Hehehe. 😀

Lagi-lagi, saya belum sempet terjemahin dan tulis ulang resep di bukunya, jadi selamat menikmati foto-fotonya dulu yaa. Semoga sukses bikin ngiler dan pengen coba.

Ooops… iya, iya. Resep kan? Siap! Segera! ^^

Hai! Ini dia resepnya. Hiyaaa, baru aja jelar nerjemahin di dalem busway. Selamat mencoba! ^^

Orange Cookies

Bahan:
Terigu 200gr
Baking powder 1/2 sdt > skip untuk 8m
Unsalted butter 50gr
Gula 60gr > skip untuk 8m
Telur (ukuran besar) 1 butir
Jeruk sunkist 1/2 buah (bisa juga diganti lemon/jeruk nipis 2 buah)
Choco chip 60gr > Skip, ganti dengan kismis untuk 8m
Madu 1 sdt > Skip, ganti dengan jus buah untuk 8m
Air 1 sdt

Cara:
– Peras air jeruk dan parut kulitnya.
– Ayak terigu dan baking powder bersamaan.
– Panaskan oven (pre-heat) hingga 200 dercel.
– Masukkan butter ke dalam mangkok dan kocok hingga berwarna putih (seperti krim). Setelah itu, masukkan gula bertahap, 2-3 kali, kocok hingga rata.
– Kocok telur dalam wadah terpisah, lalu masukkan ke adonan di atas, tambahkan sari dan parutan jeruk.
– Masukkan terigu yang sudah bercampur dengan baking powder, aduk rata, lalu masukkan chocolate chip (sisakan sedikit untuk hiasan), aduk hingga benar-benar rata.
– Gunakan satu sendok makan untuk mengambil adonan sampai munjung/menjulang, dan gunakan satu sendok lain untuk meletakkannya di loyang yang telah dialasi kertas roti. Buat jarak sekitar 3 cm di loyang, taburi dengan sisa choco chip di atasnya.
– Campurkan madu dan air, lalu oles dengan kuas ke masing-masing cookie.
– Panggang dengan suhu 200 dercel pada rak tengah oven selama 10-15 menit atau sampai permukaannya berwarna kekuningan.

20130412-163951.jpg

20130412-164136.jpg

20130412-164119.jpg

[Cemilan] Chocolate Short Bread


Gak kok, saya bukan mau sok ke-inggris-inggrisan. Suwer! 😀

csb1

Cuman, yah, namanya juga nyontek resep dari buku. Judulnya mau ga mau menyesuaikan dengan yang tertera dong. Iya, kan? Iya aja, deh. Ya ya ya. 😉

Padahal, udah lama banget nyari resep biskuit yang renyak dan gampang hancur di mulut gitu buat cemilan si Daanish. Ternyata gak jauh-jauh, ada di buku resep yang dulu saya beli di toko buku bekas di Book-off, Jepang. Harganya juga murah lhooo, cuma sekitar Rp.11.000,-. Cihuy, kaaan. *duh, jadi kangen sama tobuk bekas di Jepang deh, bukunya itu lho, masih super kinclong dan keren-keren isinya.

Nama bukunya: Orange Page Books シリーズ3 : チョコレート本

Err… fotonya dulu aja yah, resepnya menyusul. Sekadar bikin ngiler dulu. 😀

 

 

 

csb3csb2

 

[Cemilan] Kembaran Si Koja: Bolu Manan Samin


Aha, si Manan Samin versi coba-coba! Apakah berhasil? Kita lihat…

(jreng jreeeeng…)
Begini, atas berkat rahmat… eh, salah. 😀

20130412-115132.jpgBerkat takaran (hanya) kira-kira aja dari si Neneknya Daanish *yang emang udah jago bikin kue-kue tradisional Sumatera Selatan, bolu ubi manan samin panggangan pertama sukses keluar oven dengan aroma ubi dan pandan yang harum, tapi terlalu lembut sehingga sulit dipotong dengan pisau. Meskipun Daanish mau makan lahap, ibubunnya tetep ga puas.

Akhirnya, itu kue seloyang, akhirnya dicemplungin lagi ke baskom plastik, diancurin lagi dengan potato masher, ditambahin lagi santan, telur, daaan… lebih banyak terigu. Ini mbandel dari pesan si Nenek yang bilang kalau terigunya ga boleh banyak. Beres itu, dipanggang lagi deh :D. Alhamdulillah, meskipun ga sesukses si kojo, yang ke dua ini lebih ligat dan bisa dipotong. PR ibubun lain kali adalah: cari resep yang pas n ga pake kira-kira! 😀

Sementara, ini resep kira-kira dulu yaa. ^^

Resep Bolu Manan Samin

Bahan
* 5 butir telur ukuran sedang
* 3/4 gelas gula
* 500 gram ubi kukus, hancurkan
* 1 gelas terigu
* 1/2 gelas kara/santan kental
* 1/4 gelas air perasan pandan

Cara Membuat :

* Kocok telur dengan kocokan tangan, tambahkan gula, kocok hingga rata dan gula tercampur
* Masukkan air perasan daun pandan dan santan kental
* Masukkan ubi dan terigu, aduk rata tapi jangan dikocok lagi.
* Oleskan mentega/minyak makan ke cetakan, lalu tuangkan adonan sedikit demi sedikit cetakan
* Panggang dalam oven dengan api kecil. -> saya panggang selama 55 menit, sesekali loyang dipindahkan antara rak atas dan tengah oven.

Nih, hasilnya… lumayan kan, dari pada lu manyun. Hihihihi. Daan, sikat, Daaan! 😀

 20130412-115648.jpg

[Cemilan] Pepaya Siram Jeruk Nipis


Para emak, ada yang anaknya ga doyan pepaya? Atau seperti Daanish, awal MPASI dulu mau-mau aja, sekarang jadi ogah?

Pepaya emang gampang-gampang susah ya dicari yang enaknya. Kadang rasanya ga karuan, kadang baunya ga bisa ditolerir. Mau pepaya impor, mau pepaya lokal, sama aja susahnya. Harus dicari cara supaya si kecil tetap mau makan pepaya, dan supaya gak jadi picky eater di kemudian hari.

Keukeuh amata sih mau kasih pepaya ke anak? Iya, dong. Harus! Soalnya pepaya adalah buah yang murah dan mudah di dapat, tapi kaya akan manfaat. Apa aja sih manfaat dari buah satu ini?

  • Kaya akan vitamin C, bahkan lebih banyak dari jeruk!

… vitamin C yang dikandung oleh jeruk per 100 gram, hanya 49 miligram. Sedangkan dalam 100 gram pepaya, terkandung 78 miligram vitamin C. Jadi, pepaya mengandung vitamin C yang lebih banyak. Satu-satunya buah yang mampu mengalahkan pepaya dalam hal kandungan vitamin C-nya, hanyalah jambu biji, yang mengandung vitamin C sebanyak 87 miligram per 100 gram. (Sumber: kompasiana)

  • Sebagai anti-inflamasi (anti peradangan)

Manfaat Buah Pepaya bisa sebagai anti-inflamasi yang baik. Selain itu, vitamin A dan C serta beta-karoten juga efektif dalam mengobati peradangan. Oleh karena itu, pepaya adalah buah yang baik bagi penderita asma, osteoarthritis, dan rheumatoid arthritis. (Sumber: republikazone)

  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Manfaat Buah Pepaya untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Vitamin A dan C serta beta-karoten yang terkandung di dalam pepaya mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, terutama bagi mereka yang sering terkena serangan pilek, batuk, dan flu. (Sumber: republikazone)

  • Baik untuk pencernaan

Manfaat Buah Pepaya adalah untuk kesehatan pencernaan. Protein dan papain yang ada di dalam pepaya merupakan enzim pencernaan yang membantu proses pencernaan dan mencegah sembelit dengan alami. Jus pepaya membantu menghilangkan nanah, infeksi, dan lendir di dalam saluran pencernaan. Sekali waktu, cobalah untuk mengonsumsi pepaya selama tiga sampai empat hari, karena dapat membantu membersihkan perut dan usus serta bekerja sebagai tonik. Para pakar juga mengatakan bahwa serat yang ada pada pepaya membantu mengikat racun penyebab kanker di usus besar dan mencegah mereka (racun-racun) untuk pergi mendekati sel-sel yang masih sehat di usus besar. Folate pepaya, vitamin C, beta-karoten, dan vitamin E juga bekerja sama dalam mencegah timbulnya kanker. (Sumber: republikazone)

  • Mencegah penyakit jantung

Manfaat Buah Pepaya adalah untuk mencegah penyakit jantung. Pepaya dipercaya efektif dalam mencegah atherosclerotic dan penyakit jantung akibat diabetes. Konsentrasi dari pro-vitamin, carotenoid phytonutrients, yang dikandung oleh pepaya juga membantu dalam pencegahan. Nutrisi-nutrisi ini membantu mencegah oksidasi kolestrol sehingga mencegah terjadinya penumpukan di dinding arteri dan, dengan begitu, plak berbahaya yang menyebabkan timbulnya serangan jantung dan stroke dapat terhindari. Serat pepaya juga mampu membantu menurunkan kadar kolestrol LDL (kolestrol jahat). (Sumber: republikazone)

  • Baik untuk perawatan kulit dan rambut

Manfaat Buah Pepaya adalah untuk perawatan kulit. Pepaya atau jus pepaya dapat diaplikasikan untuk mencegah dan menyembuhkan gangguan-gangguan kulit, seperti jerawat, kutil, dan luka bakar. Jika sering digunakan, pepaya dapat mengembalikan warna asli kulit yang sebelumnya berubah akibat sinar matahari. Oleh karena itu, pepaya sering dijadikan unsur penting dalam banyak krim pemutih dan masker. Antioksidan yang terkandung dalam pepaya dapat memperlambat penuaan dan memberikan warna kulit yang cerah. Pepaya juga bagus untuk kesehatan rambut karena dapat membantu mencegah timbulnya ketombe. (Sumber: republikazone)

Pada suatu hari, status FB seorang teman memberi saya ide. Dia bilang, pepaya enak dimakan dengan perasan jeruk nipis dan taburan gula pasir. Dari sekian banyak yang komentar di bawah statusnya, ternyata banyak juga orang-orang yang familiar dengan cara penyajian pepaya yang demikian. Sementara, saya baru seumur hidup sekali ini mendengarnya. Boro-boro makannya, belum pernah, lah! *bangga lagi :D. Tanya sama suami, ternyata dia juga sama, belum pernah denger, belum pernah tau, belum pernah makan. Dan berhubung pepaya di rumah sudah dua hari dicuekin sama Daanish, saya coba aja resep sederhana ini.

Continue reading

[CeritASI] [NWP-Story] Yang Surplus Itu, Sudah Allah Kalkulasikan dengan Sempurna


Huhuy! Yang ngeh sama NWP, mohon jangan kaget liat tag line yang menunjukkan ‘serial baru’ di konten blog ini, yah! Saya hanya mohon doanya saja, Kawan-kawan, doakan semua berjalan dengan baik. 🙂 Yang belum kenalan sama NWP, baca curhatan saya dulu yeee sampe abis. *Niat bener bikin penasaran, hihihi. 😀

Saya beranikan buka serial baru ini, karena pengen curhat-curhatan sama Ibu-ibu lainnya, terutama yang bernasib sama. Tulisan yang sekarang melanjutkan kisah tentang turunnya produksi ASI saya di tulisan sebelumnya. Saya ulang sedikit, ya.

Jadi, sampai bulan November saya masih diberkahi Allah dengan rejeki bisa dapet 300-350ml ASIP sekali pumping. Bedanya dengan sebelumnya, kali ini jadwal pumping sudah dikurangi jadi sekali sehari. Itu pun masih surplus, karena Daanish cuma mau minum 200ml tiap kali ditinggal kerja. Sementara surplus dari bulan-bulan sebelumnya–saat jadwal pumping masih 5 kali, turun jadi 3 kali, dan turun lagi jadi 2 kali itu–tentu saja Alhamdulillah masih sangat banyak. Sebagai bayangan, sampai bulan Desember 2012, stok ASIP di freezer khusus 8 rak itu masih full sampai ke pintu. Saat itu saya cuma tertegun, untuk apa stok sebanyak ini?

Bulan Desember, memang sudah terasa berkurangnya produksi ASI. Tapi, saat perah saya masih bisa mengumpulkan minimal 200 ml sekali pumping. Artinya, sama dengan kebutuhan Daanish. No surplus.

Nah, mulai panik itu begitu masuk Januari. Lhaa, hasil pumping-an kok kian turun drastis. Tau ga sih, selama Januari itu saya catat cuma sehari berhasil dapet 100ml, lainnya cuma sekitar 60-80ml. Hiyaaa… buat ibu yang pabrik ASInya melimpah kayak saya, jelas ini bikin pusyiiing. Saya langsung pesen tape hijau katuk di salah satu olshop langganan. Makan itu tape dengan semangat 45 dan mulai komat-kamit berdoa. Doa yang panjaaang sekali. 😀

Di bulan Februari, akhirnyaaa… Err, produksi malah makin turun. Stress gak tuh, Ibu-ibu, kalau jadi saya. Jadi nih ya, saya biasa dapet 300ml sekarang jadi 20-30ml aja sekali pumping. Aaaaa!!! Saya beneran freak out saat itu. Kontan, sejak Januari isi freezer 8 rak itu jadi berkurang sebotol demi sebotol. Tambah parah dan tambah berkurang drastis dengan hasil perah-memerah di bulan Februari.

20130412-144000.jpg

Mau tau posisi kumpulan ASIP saya di akhir Maret hingga kemarin? Hehehe. 5ml pun kadang dapet kadang gak. Di freezer sekarang sudah berkurang 1,5 rak plus yang di pintu juga sudah habis. Apa saya tambah stress melihatnya?

Tentu tidak! 😀 Jadi, setelah tau penyebabnya, saya justru gak hentinya bersyukur. Justru makin yakin dengan kuasanya Allah. Justru makin mantap dengan program ASI yang saya jalani. Mau tau gak kenapa? Ehm, mau tau aja, apa mau tau banget? 😉 Hihihihi, ABG sekali gayanyaaa.

1, 2, 3…

Eng ing eng. Ternyata, eh ternyata, saya hamil. Ya, hamil anak ke dua, Ibu-ibu. Bahagia iya, kaget iya, bingung iya, semua rasa jadi kayak nano-nano. Lengkap!

Saking ga nyadar, ga ada tanda, dan begitu aman, damai, dan tentramnya kehamilan ke dua ini, saya baru tahu ketika kandungan sudah berusia 12 minggu. Gleg! 3 bulan booo!

Berkali-kali saya terharu atas rancangan rencana Allah yang begitu sempurna ini.

Pertama, hamil selama menyusui membuat saya makan sangat teratur; ga terlambat makan, ga makan sembarangan, ga banyak jajan, dan aneka pola makan positif lainnya. Jadi, meskipun tahu tentang kehamilan ini cukup terlambat, insyaAllah saya ga terlalu khawatir. Selama masa “tidak tahu” itu, saya ga sembarangan memenuhi asupan, dan ga sembarangan juga di pola istirahat. Saya bahkan masih mempunyai sedikit dispensasi dari kantor untuk “tidak terlalu aktif'” dalam hal perjalanan dinas. Tapiii… kalo soal sembarangan bergerak; alias jalan grabag-grubug. Wah, itu dia yang saya ga berani jamin. 😀

Kedua, soal urusan ASIP. Udah saya bilang kan ya, kalau di awal kehamilan saya masih bisa tetap produktif menyimpan stok. Nah, stok melimpah ruah itu, ternyata sudah ada alokasinya. Allah sudah hitung rejeki tiap ummatnya, termasuk anak-anak saya. Luar biasa bukan?

Ketiga, dengan kondisi ini, saya berharap nantinya adiknya Daanish akan lebih cepat mendapatkan ASI pertamanya. Ya, si kolostrum itu. karena kondisi hamil selama menyusui ini memungkinkan tubuh saya tetap memproduksi ASI dan bahkan memperbanyak produksinya ketika kelak demand dari si bayi baru kian meningkat.

Soal yang kedua ini yang ingin saya ceritakan lebih banyak di sini. Ada perang aneka emosi di dalamnya. Ketika saya hampir tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan ASI Daanish, yang belum lulus S3 ASI, di sanalah stok itu bekerja. Ketika mungkin ibu-ibu lain mengalami kesedihan karena turunnya produksi ASI saat NWP (Nursing While Pregant-menyusui saat hamil), saya justru sebaliknya. Ugh, menulis ini aja udah buat kacamata saya berembun saat ini. Subhanallah! Terjawab sudah teka-teki dariNya selama ini. Untuk apa saya tetap rajin pumping sementara stok melimpah dulu itu? Untuk apa stok melimpah, bahkan setelah berkali-kali didonorkan, sampai Daanish usia setahun itu? Untuk apa isi freezer 8 rak yang saking gak bergeraknya bahkan sudah dipenuhi bunga-bunga es yang membuat isinya hampir gak keliatan itu? Untuk apa? Fabiayyi alaa irabbikuma tukazziban.

Sekarang, saya makin tenang menjalani kehamilan ke dua ini. Tenang karena yakin akan kecukupan asupan ASI Daanish. Tenang karena sudah tau naturalnya penyebab turunnya ASI. Sekaligus, tenang karena insyaAllah, dengan status NWP ini, artinya adiknya Daanish bisa langsung mendapatkan haknya sejak detik-detik awal kelahirannya; bisa dari kondisi saya yang masih menyusu, bisa juga dari stok ASIP Rakanya.

20130412-144202.jpgYang saat ini saya lakukan, adalah memupuk syukur dengan tidak memutuskan ikhtiar dan tidak meredupkan dian semangat. Karena percaya bahwa produksi ini hanya turun sementara dan bukan stop total, saya tetap menyusui Daanish. Jadwal perah pun justru saya naikkan frekuensinya jadi 2-3 kali sehari.

Selain untuk menjaga semangat dan bentuk dari manifestasi syukur, terus perah dan menyusui saya lakukan demi menjaga konsistensi produksi dan media syiar ke sekitar. Masyarakat kita masih sangat percaya dengan mitos yang mengharuskan ibu hamil untuk berhenti menyusui. Alasannya beragam, dari kekhawatiran nutrisi janin, kesulitan menyapih, sampai–yang paling konyol buat saya–adalah ASI yang berubah jadi racun! Oh noooo! Ini dia medan laga saya yang baru; memberikan persepsi berbeda berbasis data ilmiah tentang kepercayaan itu. Kali lain, saya akan cerita banyak tentang “peperangan” ini. Tunggu saya punya amunisi dulu ya. Hihihi.

Untuk sekarang, saya cuma mau berbagi semangat dengan ibu-ibu pejuang ASI. Semangat ASI, lanjutkan NWP, teruskan tandem nursing! ^^