[CeritASI] [NWP-Story] Yang Surplus Itu, Sudah Allah Kalkulasikan dengan Sempurna

Huhuy! Yang ngeh sama NWP, mohon jangan kaget liat tag line yang menunjukkan ‘serial baru’ di konten blog ini, yah! Saya hanya mohon doanya saja, Kawan-kawan, doakan semua berjalan dengan baik.πŸ™‚ Yang belum kenalan sama NWP, baca curhatan saya dulu yeee sampe abis. *Niat bener bikin penasaran, hihihi.πŸ˜€

Saya beranikan buka serial baru ini, karena pengen curhat-curhatan sama Ibu-ibu lainnya, terutama yang bernasib sama. Tulisan yang sekarang melanjutkan kisah tentang turunnya produksi ASI saya di tulisan sebelumnya. Saya ulang sedikit, ya.

Jadi, sampai bulan November saya masih diberkahi Allah dengan rejeki bisa dapet 300-350ml ASIP sekali pumping. Bedanya dengan sebelumnya, kali ini jadwal pumping sudah dikurangi jadi sekali sehari. Itu pun masih surplus, karena Daanish cuma mau minum 200ml tiap kali ditinggal kerja. Sementara surplus dari bulan-bulan sebelumnya–saat jadwal pumping masih 5 kali, turun jadi 3 kali, dan turun lagi jadi 2 kali itu–tentu saja Alhamdulillah masih sangat banyak. Sebagai bayangan, sampai bulan Desember 2012, stok ASIP di freezer khusus 8 rak itu masih full sampai ke pintu. Saat itu saya cuma tertegun, untuk apa stok sebanyak ini?

Bulan Desember, memang sudah terasa berkurangnya produksi ASI. Tapi, saat perah saya masih bisa mengumpulkan minimal 200 ml sekali pumping. Artinya, sama dengan kebutuhan Daanish. No surplus.

Nah, mulai panik itu begitu masuk Januari. Lhaa, hasil pumping-an kok kian turun drastis. Tau ga sih, selama Januari itu saya catat cuma sehari berhasil dapet 100ml, lainnya cuma sekitar 60-80ml. Hiyaaa… buat ibu yang pabrik ASInya melimpah kayak saya, jelas ini bikin pusyiiing. Saya langsung pesen tape hijau katuk di salah satu olshop langganan. Makan itu tape dengan semangat 45 dan mulai komat-kamit berdoa. Doa yang panjaaang sekali.πŸ˜€

Di bulan Februari, akhirnyaaa… Err, produksi malah makin turun. Stress gak tuh, Ibu-ibu, kalau jadi saya. Jadi nih ya, saya biasa dapet 300ml sekarang jadi 20-30ml aja sekali pumping. Aaaaa!!! Saya beneran freak out saat itu. Kontan, sejak Januari isi freezer 8 rak itu jadi berkurang sebotol demi sebotol. Tambah parah dan tambah berkurang drastis dengan hasil perah-memerah di bulan Februari.

20130412-144000.jpg

Mau tau posisi kumpulan ASIP saya di akhir Maret hingga kemarin? Hehehe. 5ml pun kadang dapet kadang gak. Di freezer sekarang sudah berkurang 1,5 rak plus yang di pintu juga sudah habis. Apa saya tambah stress melihatnya?

Tentu tidak!πŸ˜€ Jadi, setelah tau penyebabnya, saya justru gak hentinya bersyukur. Justru makin yakin dengan kuasanya Allah. Justru makin mantap dengan program ASI yang saya jalani. Mau tau gak kenapa? Ehm, mau tau aja, apa mau tau banget?πŸ˜‰ Hihihihi, ABG sekali gayanyaaa.

1, 2, 3…

Eng ing eng. Ternyata, eh ternyata, saya hamil. Ya, hamil anak ke dua, Ibu-ibu. Bahagia iya, kaget iya, bingung iya, semua rasa jadi kayak nano-nano. Lengkap!

Saking ga nyadar, ga ada tanda, dan begitu aman, damai, dan tentramnya kehamilan ke dua ini, saya baru tahu ketika kandungan sudah berusia 12 minggu. Gleg! 3 bulan booo!

Berkali-kali saya terharu atas rancangan rencana Allah yang begitu sempurna ini.

Pertama, hamil selama menyusui membuat saya makan sangat teratur; ga terlambat makan, ga makan sembarangan, ga banyak jajan, dan aneka pola makan positif lainnya. Jadi, meskipun tahu tentang kehamilan ini cukup terlambat, insyaAllah saya ga terlalu khawatir. Selama masa “tidak tahu” itu, saya ga sembarangan memenuhi asupan, dan ga sembarangan juga di pola istirahat. Saya bahkan masih mempunyai sedikit dispensasi dari kantor untuk “tidak terlalu aktif'” dalam hal perjalanan dinas. Tapiii… kalo soal sembarangan bergerak; alias jalan grabag-grubug. Wah, itu dia yang saya ga berani jamin.πŸ˜€

Kedua, soal urusan ASIP. Udah saya bilang kan ya, kalau di awal kehamilan saya masih bisa tetap produktif menyimpan stok. Nah, stok melimpah ruah itu, ternyata sudah ada alokasinya. Allah sudah hitung rejeki tiap ummatnya, termasuk anak-anak saya. Luar biasa bukan?

Ketiga, dengan kondisi ini, saya berharap nantinya adiknya Daanish akan lebih cepat mendapatkan ASI pertamanya. Ya, si kolostrum itu. karena kondisi hamil selama menyusui ini memungkinkan tubuh saya tetap memproduksi ASI dan bahkan memperbanyak produksinya ketika kelak demand dari si bayi baru kian meningkat.

Soal yang kedua ini yang ingin saya ceritakan lebih banyak di sini. Ada perang aneka emosi di dalamnya. Ketika saya hampir tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan ASI Daanish, yang belum lulus S3 ASI, di sanalah stok itu bekerja. Ketika mungkin ibu-ibu lain mengalami kesedihan karena turunnya produksi ASI saat NWP (Nursing While Pregant-menyusui saat hamil), saya justru sebaliknya. Ugh, menulis ini aja udah buat kacamata saya berembun saat ini. Subhanallah! Terjawab sudah teka-teki dariNya selama ini. Untuk apa saya tetap rajin pumping sementara stok melimpah dulu itu? Untuk apa stok melimpah, bahkan setelah berkali-kali didonorkan, sampai Daanish usia setahun itu? Untuk apa isi freezer 8 rak yang saking gak bergeraknya bahkan sudah dipenuhi bunga-bunga es yang membuat isinya hampir gak keliatan itu? Untuk apa? Fabiayyi alaa irabbikuma tukazziban.

Sekarang, saya makin tenang menjalani kehamilan ke dua ini. Tenang karena yakin akan kecukupan asupan ASI Daanish. Tenang karena sudah tau naturalnya penyebab turunnya ASI. Sekaligus, tenang karena insyaAllah, dengan status NWP ini, artinya adiknya Daanish bisa langsung mendapatkan haknya sejak detik-detik awal kelahirannya; bisa dari kondisi saya yang masih menyusu, bisa juga dari stok ASIP Rakanya.

20130412-144202.jpgYang saat ini saya lakukan, adalah memupuk syukur dengan tidak memutuskan ikhtiar dan tidak meredupkan dian semangat. Karena percaya bahwa produksi ini hanya turun sementara dan bukan stop total, saya tetap menyusui Daanish. Jadwal perah pun justru saya naikkan frekuensinya jadi 2-3 kali sehari.

Selain untuk menjaga semangat dan bentuk dari manifestasi syukur, terus perah dan menyusui saya lakukan demi menjaga konsistensi produksi dan media syiar ke sekitar. Masyarakat kita masih sangat percaya dengan mitos yang mengharuskan ibu hamil untuk berhenti menyusui. Alasannya beragam, dari kekhawatiran nutrisi janin, kesulitan menyapih, sampai–yang paling konyol buat saya–adalah ASI yang berubah jadi racun! Oh noooo! Ini dia medan laga saya yang baru; memberikan persepsi berbeda berbasis data ilmiah tentang kepercayaan itu. Kali lain, saya akan cerita banyak tentang “peperangan” ini. Tunggu saya punya amunisi dulu ya. Hihihi.

Untuk sekarang, saya cuma mau berbagi semangat dengan ibu-ibu pejuang ASI. Semangat ASI, lanjutkan NWP, teruskan tandem nursing! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s