Cerdik Cerdas Bersahabat dengan GTM Daanish

Urusan makan-memakan memang bukan melulu urusan perut. Ya, harus saya akui itu. Ada cinta yang harus bermain apik di dalamnya. Ada kesabaran yang harus dikali-lipatkan. Ada pengorbanan yang tidak boleh dihitung. Ada pembelajaran yang tak henti. Orang tua dituntut untuk cerdas; tidak cuma dalam hal memvariasikan menu dan tekstur makanan.

Apakah kita kerap kehabisan senyum saat si kecil mulai memilih untuk membuang ketimbang memakan makanannya? Kalau saya, harus saya akui, ya.😦

Saya pun kerap menunjukkan rasa gusar hingga bicara dengan nada tak menyenangkan saat makanan (yang saya anggap) sudah susah payah saya buat disia-siakannya. Saya sering hilang kesabaran membujuk dan menungguinya makan hingga bilangan jam. Saya hampir selalu kesal tiap kali ia dengan polosnya menyemburkan, melepeh, meremas, hingga menumpahkan semua makanan (yang saya anggap) sudah saya sediakan penuh cinta untuknya.

Saya anggap, saya pikir, saya sudah cukup memberinya cinta dan energi demi tumbuh kembang fisiknya. Itu yang saya tahu.

Karena tiap habis melewatkan waktu makan dengan emosi negatif itu saya selalu menyesal, mungkin dengan menulis catatan ini, ada sesuatu yang bisa diperbaiki.

Apa yang saya inginkan? Apa yang Daanish maui?

Oke, karena yang saya inginkan sudah jelas; yaitu tuntutan yang tak habis-habis. *huhu, maafkan Ibubun, nak ;(. Maka, saya coba menebak apa yang si kecil maui sebenarnya. Mungkin, ia mau:

  • Agar saya memvariasikan menu dan tekstur makanannya.
  • Agar saya memberinya makan di saat ia “ingin makan”, bukan saat saya “ingin memberi makan”.
  • Turut serta dalam proses memilih makanannya.
  • Turut serta dalam proses sederhana mempersiapkan makanannya.
  • Turut serta membuat makanan itu masuk ke mulutnya.
  • Menunjukkan pada saya kalau ia mulai “bisa” menyuapi sendiri makanannya.
  • Menunjukkan pada saya kalau ia juga “bisa” menyuapi makanan untuk Ibunya.
  • Diberi perhatian lebih.
  • Diberi pujian.
  • Sederhananya, menunjukkan rasa rindu dan sayangnya pada saya.

Ah, oke. Sampai pada poin terakhir saya sudah “cukup banyak” mengumpulkan bukti ketulusan dalam kepolosannya. Saya sudah “cukup puas” untuk menjustifikasi dan menyalahkan diri sendiri untuk perlakuan-perlakuan tidak mendidik yang bisa saja membuatnya sedih. Atau, memang sudah berkali-kali membuatnya sedih.😦

Jadi, begini saja. Penyesalan selalu di belakang. Sebab, kalau di depan namanya “pendaftaran” atau “persiapan”. *hehehe, ngegaring dikit😀. Jadi (lagi), mulai sekarang, apa yang harus jadi catatan saya saat menghadapi hal demikian? Bagaimana menyikapinya? Atau, bagaimana tips dan triknya? Ini yang berhasil saya kumpulkan:

  • Ganti makanan yang “mudah disembur” menjadi yang “sulit disembur”.

Beberapa makanan tampak dramatis saat disemburkan dari mulut anak, misal: bubur, sereal, yoghurt. Hal inilah yang membuat anak senang saat menyemburkan makanan. Coba ganti dengan makanan berbentuk irisan kasar khusus untuk tumbuh gigi, seperti irisan wortel, pisang, ubi rebus, atau roti. Dengan begitu efek “seru” saat makanan disemburkan yang hilang, akan mengurangi setengah motivasi anak menyemburkan makanan. (Sumber: tentang anak)

  • Memberi kesempatan partisipasi aktif si kecil dalam hal memilih alat makan warna-warni, memilih menu, atau membantu langkah-langkah sederhana menyiapkan makanannya.

 

  • Tidak mengambil jalan pintas, seperti memberi suplemen atau mengencerkan makanan. Ini akan membuat masalah GTM jadi kian berlarut-larut dan sulit teratasi.

Menurut Nia banyak juga ibu yang kurang memahami situasi anak yang susah makan. Misalnya saja membuatkan susu formula sebagai pengganti makan anak, menambahkan vitamin atau suplemen untuk menambah nafsu makan anak, atau mengencerkan makanan agar lebih mudah dimasukkan ke mulut anak. (Sumber: Kompas)

  • Menciptakan suasana menyenangkan saat makan. Tapi, tetap menanamkan pada anak bahwa “menyenangkan” tidak berarti makan sambil main di luar atau menonton TV. Menyenangkan bisa berarti memangkunya saat makan atau berfantasi tentang “isi” makanannya. Yang pernah saya coba adalah dengan bilang: “Hohoho, ayo makan bayam segar. Biar bugar seperti Popeye”, “Daan, mana nih mulutnya, si kentang kuning yummy yummy mau masuk, loh”, “Eh, ada jagung manisnya juga loh di atas nasi, makan yuuuk, kamu kan suka jagung”, atau “Mata Daanish mana? Oh itu, biar sehat makan wortel yuk, Nak”. Nah, meskipun terus berusaha keras untuk tidak mengajarkan makan sambil nonton TV, nonton DVD tepatnya, terkadang saya masih harus menyerah soal urusan ini. Memang tidak full makan sambil nonton DVD. Biasanya aktivitas makan sudah dimulai dulu, dan DVD baru “dipekerjakan” begitu konestrasinya tampak terpecah. Kalau cuma mau main saja sih, saya belum mau menghidupkan DVD. Tapi, kalau sudah mau mengeluarkan sepeda atau minta main ke rumah tetangga, barulah DVD dihidupkan. Tapi, tetap bukan cara yang baik ternyata. Karena sesudahnya ia tetap saja beralih dari makanannya. Jadi, mari stop nonton sambil makan, atau pun sebaliknya!

 

  • Memberinya kesempatan makan sendiri atau menyuapi ibunya. Well, ini akan butuh kesabaran segunung memang. Tapi sedikit banyak efektif guna mendulang sesendok demi sesendok makanan ke mulutnya. Saya mencobanya dengan:
    • Menyiapkan dua sendok saat dia mulai merebut sendok yang saya pegang. satu untuk saya menyuapinya, satu untuk dia pakai.
    • Alih-alih menghentikan, saya pilih mengarahkannya dalam menggunakan sendok atau tangannya. Hasilnya, ia akan mulai menyuapi dirinya sendiri atau malah menyuapi saya.😀
    • Membiarkannya memangku piring makannya jika ia ingin.
    • Tidak buru-buru mengomel atau memunguti lauk yang bertebaran saat ia mulai “seru” dengan aktivitas barunya. Selain supaya hemat tenaga, juga supaya ia tidak lantas “melawan” karena saya salah mengartikan kreativitasnya.

 

  • Makan saat ia ingin, dan berhenti saat ia sudah tak ingin. Sebaiknya tidak berusaha memaksa, karena bisa menyebabkan trauma atau justru memperparah aksi GTMnya.

Hindari mengancam, menghukum, atau menakut-nakuti anak agar ia makan lebih banyak. Ini akan membuatnya merasa bahwa saat makan merupakan saat yang tidak menyenangkan. Dan bukan tak mungkin menimbulkan trauma psikologis baginya. (Sumber: belajar psikologi)

  • Makan sedikit, tapi sering. Makan tidak melulu harus banyak. Saat GTM, mungkin anak sedang malas makan. Sedikit makan akan membuatnya cepat lapar. Mengenali tanda ia lapar dan menawarinya makan lebih sering mungkin bisa membantu. (Sumber: Kompas)

 

  • Lupakan persepsi bahwa “makan” harus “nasi”. Cemilan sehat seperti pasta, roti, dan biskuit yang kita buat sendiri di rumah pun bisa jadi “makanan utama” untuknya. Jangan lupa, aneka buah, sayur, dan umbi-umbian pun tetap bisa jadi makanan mengenyangkan, bahkan sangat baik untuk tubuhnya. Ingat, “makan nasi” adalah budaya, ada banyak manusia lain di belahan dunia lain bisa hidup sehat dan tumbuh dengan baik tanpa nasi, bukan.😉

 

  • Sesekali mengajaknya makan di luar. Ini bisa menunjukkan padanya atmosfir baru. Dimana semua orang makan dengan lahap, dimana semua orang tampak menikmati dan membutuhkan makanan. Sesekali saja, bukan untuk dijadikan kebiasaan. Toh, belajar dari melihat (atau yang orang Jepang kenal dengan metode belajar minarai) biasanya lebih efektif untuk menanamkan suatu nilai pada anak-anak.

 

  • Terakhir, memupuk kesabaran, mengambil jarak sesaat ketika sedang marah, dan berusaha melihat dari perspektif positif bisa memperbaiki reaksi kita terhadap GTM anak. Emosi negatif jelas bukan solusi. Semakin buruk interaksi kita dengan anak saat ia makan, justru akan makin membuatnya enggan makan.

 

Oh, makan bukanlah mimpi buruk, Nak. Sama sekali bukan. Mari kita makan dengan kenyang, senang, dan riang, ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s