[Cemilan] Banana Soft Cookies


Banana Soft Cookie

Bahan: 20130531-152428.jpg
-Tepung terigu 200 g
-Almond Poudre (Almond Powder) 30g
-Baking Powder 1,5 sdt > skip untuk bayi 8m
*Minyak kelapa 30 g > saya ganti minyak zaitun
*Gula 3 sdm > skip untuk bayi 8m
*Telur ukuran sedang 1 butir
Pisang 100 g
Chocochips 30 g > saya ganti kismis

Cara:

1. Sangrai bubuk almond sampai berwarna kecoklatan, namun jamgan sampai gosong. Sisihkan dan dinginkan. Campur semua bahan (-), ayak.
2. Masukkan semua bahan (*) dalam mangkuk, kocok hingga rata. Tambahkan pisang yang sudah dilumatkan, kocok dengan mixer sampai semua bahan tercampur. Panaskan oven (pre-heat) sampai suhu 180 dercel.
20130531-153049.jpg3. Dalam mangkuk berisi bahan no 2 masukkan bahan-bahan no 1 dan chocochips (kismis) dan aduk hingga rata. Potong/bagi adonan menjadi seukuran kira-kira 50 g, bulatkan ujungnya hingga berbentuk bulatan dengan diameter 5-6 cm (saya pilih jalan cepat, cetak dengan dua buah sendok makan).
4. Letakkan kukis yang sudah di bentuk di atas loyang datar yang sudah dialasi kertas roti, panggang selama 15 menit.

Sumber: http://cookpad.com/recipe/1437417

Advertisements

[Cemilan] Puding Roti dari Hotel Bread Bantat :D


hotel bread bantat

hotel bread/soft bread yang kurang soft 😀

Hula!

Saya mau cerita dulu, ya. Awalnya kan setelah sukses bikin hotel bread (soft bread) resepnya Mba Melia itu, saya jadi sok PD pengen eksperimen. Karena punya temen yang bayinya baru 8 bulan, saya mau bikinin si Qila, nama anak temen saya itu, hotel yang super soft n yummy itu. Hasil konsultasi dengan si empunya resep, gula bisa diganti dengan jus buah. Garam sih saya inisiatif sendiri aja buat diskip. Bikinnya setengah resep, karena cuma percobaan, takut gagal. Nah, si susu cair yang seharusnya 100 gr, saya buat jadi 50 gr susu dan 50 gr pisang yang saya blender bersama. Ummm, wangi pisang loh adonannya.

Sayangnya, selama diulen, memang terlihat kalau adonannya gak kayak biasa. Sempat terlalu padat, saya tambahkan sedikit susu. Eh, malah jadi basah. Tambah lagi terigu, deh. Diulen pun gak kalis-kalis. Malah adonannya cenderung melar gitu. Kalo ditarik kayak permen karet. Hihihihihi. Fermentasi pun gak saya tambahin waktunya. Walhasil, breadnya jadi mirip sponge cake. Berlubang, lembut, tapiiii.. tetep aja bukan roti! Meskipun pas udah dikunyah2 kok jadi mirip whole-wheat bread yang tanpa rasa untuk diet itu yak? Untungnya rasa pisang n kismisnya tertinggal, jadi masih enak.

20130531-150224.jpg

aku sukaaa pudingnya, bubun!

Tiga hari gak abis-abis, mungkin karena rotinya gak manis sama sekali. Jadinya gak pada suka di rumah. Semalem, kok ya ndilalah baca resep puding roti di FB-nya temen di jepang dulu. Liat resep super gampang, plus emang ada si roti nganggur, jadi pengen bikin. Kebetulan lagi, kelapa parut muda (bukan kelapa muda/dugan yang buat es yah) sisa bikin klepon pun masih ada. Si kelapa parut muda ini awet n masih harum, soalnya kan dikukus sama pandan. Daaannn, kebetulan lainnya adalah, stok kismis juga masih ada, sisa bikin hotel bread sebelumnya. Gimana gak eksekusi tuh, semua “kebetulan” terjadi dalam satu waktu yang sama. Hiyahahahaha.

Akhirnya, dimulailah proses cemplang-cemplung itu. Sempet ga yakin karena bahan-bahan yang dipakai kan “sisa-sisa perjuangan”. Hihihihi. Setelah jadi, didinginkan. Taraaaa… separuh loyang langsung ludes disikat bertiga. 😀 Daanish yang udah beberapa hari males makan nasi dan cuma mau makan buah sedikit-sedikit, malah super semangat makan pudingnya. Sampe badannya maju-maju disorongkan ke saya kalo terlambat dulangin sementara mulutnya udah kosong. Hiyaaaa… Begini ini yang bikin saya selalu meleleh-meleleh kalo abis bikin sesuatu. Huhuhuhu. I love you full, anakku!

puding roti

aw awww… si pudding manis 😉

20130531-150545.jpg

di-zoom, ahhh… 😀

***

Resep Puding Roti

4 lembar roti tawar
2 butir telur, kocok lepas
300 ml susu cair putih
1/2 cup gula
1 sendok makan margarin
1 sendok makan butter, cairkan
1 bungkus vanilla
Sedikit bubuk kayu manis

Pelengkap:
Kismis dan kelapa muda

Cara membuat:

1. Potong roti tawar menjadi beberapa bagian,sesuai selera. Tuangkan susu dan aduk hingga semua bagian roti terendam susu.
2. Tuang telur yang sudah dikocok, aduk hingga rata tambahkan vanili dan sedikit bubuk kayu manis. Tuang pelengkap yaitu kismis dan kelapa muda, aduk kembali.
3. Masukkan gula dan mentega serta butter yang sebelumnya telah dicairkan. Aduk kembali.
4. Siapkan loyang untuk roti atau pinggan anti panas dan olesi dengan butter. Panggang hingga matang.
5.Dinginkan begitu panasnya hilang masukan kulkas biarkan dingin.

Sumber: Pici Ummu Afif

[Cemilan] Klepon Ubi


KLEPON UBI

20130525-215233.jpg

Bahan:
500 gr ubi jalar
110 gr tepung tapioka
125 gr gula merah, disisir halus
1/2 sdt garam
1,5 sdt pasta pandan -> saya paki daun pandan yang diblender
2 lembar daun pandan
1/2 kelapa parut kasar
Air secukupnya untuk merebus

20130525-215330.jpg

Cara Membuat:
-Kupas ubi jalar, kukus hingga matang, panas-panas haluskan hingga lembut, dinginkan.
-Campurkan ubi dengan tepung tapioka dan garam, campur hingga rata, tambahkan pasta pandan hingga warna hijau yang diinginkan.
-Uleni hingga dapat dibentuk.
-Ambil sejumput adonan, pipihkan, beri isian gula merah dan bentuk bulat. Lakukan hingga seluruh adonan habis.
-Didihkan air, tambahkan daun pandan, masukkan bulatan-bulatan klepon sedikit demi sedikit saja, angkat apabila sudah terlihat mengambang.
-Gulingkan klepon di dalam kelapa parut hingga seluruh permukaannya tertutupi kelapa (Saya kukus dulu kelapa parut muda dengan sedikit garam dan daun pandan supaya tahan lama dan harum). Siap untuk disajikan.

sumber: http://catatan-nina.blogspot.com/2011/11/klepon-ubi.html?m=1

***
Catatan Ibubun:
1. Saya buat dengan 2 jenis ubi, ubi ungu dan kuning. Satu resep saya bagi dua aja waktu mencampurnya.
2. Ubi ungu lebih ligat dan kandungan airnya lebih sedikit, sehingga saat menguleninya saya tambah air masak 20cc. Hasilnya adonan yang mudah dibentuk dan gulanya tidak mudah bocor saat direbus. Very recommended!

20130525-215452.jpg
3. Adonan dengan ubi kuning cenderung lembut, basah dan tidak bisa dibentuk. Saya menambahkan lagi 80 gr tapioka untuk membuatnya lebih ligat. Tapi adonannya memang tidak sesempurna ubi ungu, meskipun masih bisa dibentuk, tapi agak sulit dan rentan bocor.

20130526-093210.jpg
3. Separuh dari adonan ubi kuning (atau seperempat dari total adonan), saya tambahkan 2 sdm pandan yang sudah diblender halus. Niatnya karena ingin buat klepon warna hijau. Karena jadi tambah basah, adonannya terpaksa ditambah lagi 30 gr tapioka. Hijau pandan ternyata kurang OK berkombinasi dengan kuningnya ubi. Hasilnya warna hijau lumut yang kurang menyala. Lain kali, untuk klepon hijau, sebaiknya gunakan ubi putih.

20130526-093323.jpg
4. Hasil akhir: klepon ungu lembut, klepon kuning kenyal, klepon hijau sangat kenyal. Soalnya perbandingan terigu dan ubinya kan berbeda-beda karena kekentalan adonan berbeda tadi ya.
5. Kalau mau disimpulkan, Daanish sukanya yang ungu, sementara yang kuning dan hijau untuk Yayah Bubunnya. 😀

[Cemilan] Hotel Bread (Soft Bread) dan Tuna Cheese Onion Bread


Semalem, bela-belain nge-baking sampe midnight demi cemilan anak lanang yang sudah habis. Sempet kecewa karena salah resep yang bikin adonan gak kalis-kalis. Akhirnya, karena udah capek banget, nekad ajah nerusin adonan yang salah plus improvisasi sana-sini, alhamdulillah jadi juga: hotel bread (soft bread) n tuna cheese onion bread. Adonan rotinya sih sama. Dari satu resep, dibagi dua, jadi dua jenis penganan deh. Ini roti tawar pertama yang berhasil saya buat. Seneng! Lain kali, mau bikin yang bener-bener sesuai resep, ah. Arigatou resepnya, Mba Melia!

*****
Resep Hotel Bread (Soft Bread)

*Karena sempet salah resep tapi berhasil juga, saya tuliskan juga improvisasi resep yang saya buat semalem. In case, kalo kesalahan yang sama terulang lagi, saya bisa inget cara “ngakalinnya”. 😀

(Resep aslinya dari : http://cookpad.com/recipe/1337254, sedikit saya modifikasi sesuai selera)

Bahan:
1. Tepung terigu protein tinggi/sedang 350 gr -> Saya pakai yang protein tinggi dan ditambah jadi 450 gr
2. Kuning telur 2 butir -> Saya salah masukin, jadi telur utuh 2 butir
3. Gula 50 gr -> Dengan pertimbangan gula Indonesia lebih manis, saya buat 40 gr aja
4. Garam 7 gr
6. Susu 195 gr
7. Fresh cream (whip cream cair) 60 gr
8. Butter 25 gr -> Saya pakai margarin 25 gr
9. Ragi dry yeast 6 gr -> Saya tambahkan juga bread improver Baker’s Bonus 4 gr
10. Telur kocok untuk olesan secukupnya -> Skip

Cara membuat:
1. Uleni sampai kalis atau masukkan semua bahan ke Home Bakery (Bread Maker), pilih mode uleni adonan. -> Berhubung gak punya HB dan capek ngulenin manual, setelah campur semua bahan, saya kocok dengan standing Mixer (gunakan sambungan pengocok yang berbentuk spiral) sampai adonan setengah kalis. Lalu, lepaskan Mixer dari peyangganya, dan lanjutkan menguleni dengan posisi Mixer di tangan dengan kecepatan tinggi hingga benar-benar kalis.
2. Setelah adonan kalis, siap dibentuk sesuai selera misalnya dimasukkan ke cetakan roti tawar atau dibuat roti isi(*). -> Separuh adonan saya buat roti tawar, langkahnya melanjutkan no 3&4 ini. Separuhnya lagi saya bikin roti isi. Biar gak bingung, langkahnya ada di bagian bawah yaaa.
3. Fermentasi sampai mengembang 1,5 kali lipat. Olesi permukaannya dengan telur
4. Panggang di oven yang telah dipanaskan 180℃ (roti tawar : 30 menit, roti isi : 12-15 menit)

Untuk roti isi (*), masih dari resep Mba Melia, saya coba Tuna Cheese Onion Bread. Berikut bahan dan langkah-langkahnya:

Isi:
Process cheese/Slice cheese 150g
Bawang bombay 1/2 buah (ukuran besar)
Tuna 1/2 kaleng
Mayones 1 sdm
Garam, merica sejumput/sesuai selera

Cara Membuat:

Isi:
Potong dadu keju 1×1 cm dan bawang bombai (kira-kira aja)
Campur potongan keju, tuna, bawang bombai, mayones, garam dan merica

Roti:
Uleni adonan sampai kalis (ngga lengket di tangan dan mulus). Caranya terserah, boleh ngulenin pakai tangan, boleh pakai Home Bakery.
Kalau ngulenin pakai tangan: fermentasi 25 menit 40 derajat celcius, sampai mengembang 1,5 kali lipat kira-kira
Bagi dua adonan, pipihkan segi empat (kira-kira 15×20 cm)
Letakkan adonan isi di atas adonan roti (sisakan bagian kosong di bagian atas dan bawah adonan ketika digulung ngga berantakan dan bisa rapat ujungnya)
Bagi adonan menjadi 6 bagian (tandain dulu aja supaya ukuran sama besar)
Masukkan adonan di muffin cup atau aluminium cup
Fermentasi 20 menit 40 derajat celcius (sampai adonan membesar)
Olesi permukaan adonan dengan telur
Panggangn 190 derajat celcius 15 menit, kalau kurang coklat permukaannya tambah 2-3 menit lagi.

[CeritASI] Di Atas Kertas, Kami Gagal ASIX: Tahu-tahu Dicekoki Sufor Tanpa Pemberitahuan :( (2)


Ada puluhan email merespon curhatan saya di milis “asiforbaby”; artinya, ada begitu banyak sumbangan kekuatan yang meneguhkan, sebagian malah berupa doa.

Sebagian dari pembaca tulisan saya sebelumnya, mungkin turut merasakan ‘sakit’ seperti yang saya rasakan. Sebagian lain mungkin merasa saya terlalu ‘lebay’. Ah, gara-gara sufor seuprit doang?

Saya tidak peduli reaksi orang, apalagi yang negatif. Saya peduli pada mereka yang memang ‘sehati’ untuk urusan ini.

Saya tidak mencari suaka lagi, sebab begitu banyak orang sudah memberi saya dukungan yang luar biasa.

Tapi, ijinkan saya bercerita sedikit. Tentang satu hari di mana dalam keadaan saya yang separuh sadar, seorang bayi dikeluarkan perlahan dari rahim saya. Tanpa kacamata dan kesadaran yang baik turun, saya tidak mampu melihatnya dengan jelas. Saya cuma ingat makhluk itu bercahaya; sinarnya melambai dan membuat saya yang menggigil di ruang operasi merasa begitu hangat. Begitu melihatnya, ketakutan akan bayangan kematian begitu memasuki ruang operasi itu pupus sudah. Saya siap menghadapi apapun sekarang.

Lama saya menunggu usainya segala tetek bengek di ruang serba putih itu. Selama itu pula saya menanti; di mana bayi saya? Kenapa ia tidak diletakkan di dada saya untuk mencari sendiri sumber kehidupannya? Kenapa kesepakatan IMD dengan RS dan dokter gagal?

Sesaat sebelum dipindahkan ke ruang observasi, saya sempat bertanya lemah: “Jadi, kapan saya bisa IMD, Dok?” Saya yang separuh sadar dan begitu lemah, tidak tahu kalau empat jam sudah berlalu, dan tidak ada lagi IMD setelah jeda sepanjang itu.

Mereka menjelaskan soal pendarahan hebat, dua kantong darah, kesulitan paramedis untuk menghentikan pendarahan, titik kritis saya, dan sebagainya yang membuat IMD gagal dilakukan. Saya sedih, tapi mungkin inilah jalannya. Saya bertekad, meskipun gagal IMD, bayi saya kelak harus bisa ASI eksklusif. Harus!

Daanish dibawa ke kamar rawat inap dan dipertemukan dengan saya, dan keluarga besar yang datang, pada sekitar pukul setengah 5 sore. Ia sendiri lahir pukul 12.55, tanggal 1 Januari 2013. Ia datang dalam keadaan bersih, harum, dan tertidur sangat pulas. Lelahkah ia setelah melewati perjalanan panjang untuk membuatnya terhubung dengan dunia? Mengapa ia tertidur begitu pulas, tidakkah ia lapar ataupun haus? Pertanyaan-pertanyaan itu cuma mampir sekelebat, kalah oleh gegap gempita akan hadirnya. Pun, kalah oleh beratnya mata saya dan nyeri yang mulai terasa saat obat bius perlahan berkurang daya kerjanya.

Tak lama, ia yang dibaringkan di sisi kanan saya mulai menggeliat lucu. Seakan tau yang diinginkannya. Saya pun terlonjak gembira. Aha! Ini dia waktunya. Inilah saat yang saya tunggu-tunggu itu: menyusui perdana. Ya, saya menyusui untuk pertama kalinya seumur hidup!

Nyatanya, menyusui dalam keadaan habis operasi itu tidaklah mudah. Sakit sekali rasa nyeri di bagian perut itu. Kaki yang kebas, membuat saya tidak sanggup memiringkan tubuh dengan tenaga sendiri. Sambil dibantu suami, juga sambil gemetar menahan sakit, saya cangklongkan tangan di pinggiran tempat tidur. Semaksimal mungkin saya miringkan tubuh ini meski nyeri dan ngilu sembilu justru kian menyayat-nyayat.

Tahu apa ganjaran dari semua proses awal ini? Air mata. Ya, air mata bahagia ketika pertama kali merasakan sensasi menyusui itu. Dan, yes, karena saya juga gak langsung ‘jago’ dari awal, tentu saja perlekatan menyusui si bayi belum benar. Bisa ditebak yang terjadi berikutnya, puting nyeri! Tapi suer, saya gak kapok!

Hari pertama dan ke dua memang paling berat. Tidak cuma pasal penyesuaian, kehilangan darah membuat saya masih harus menerima transfusi darah. Satu jarum untuk darah, ditambah lagi dengan dua tusukan jarum infus. Demi menyusui, salah posisi kerap membuat letak jarum bergeser; luka dan jarum lepas sudah berulang kali terjadi. Tidak apa, saya yang menginginkan demikian.

Mungkin karena operasi caesar anak pertama, proses pemulihannya terasa lama sekali. Empat hari di rumah sakit, saya baru bisa duduk di hari ke-3, dan berjalan di hari ke-4. Rasanya, separuh badan yang mati rasa itu pun baru sepenuhnya berfungsi di hari terakhir. Tapi tak apa, sakit itu terbayar lunas: Daanish bisa full ASI.

Maka, tidak terkatakan pedihnya di saat detik-detik akhir meninggalkan RS dan mengetahui bahwa ‘mereka’ sempat memberi sufor pada Daanish. Ingat, tanpa pemberitahuan lisan, apalagi permintaan perserujuan tulisan di atas materai.

Di hari itu, saya merasa gagal. Di hari itu, saya merasa perjuangan empat hari kemarin sia-sia belaka. Di hari itu, saya gamang. Begitu gamang sehingga jalan di depan tampak kosong.

Jadi, jangan bilang ‘cuma sedikit sufor’ di depan saya. Berikan saja sufor pada mereka yang memang mengiyakan untuk itu, jangan pada anak saya. Kalau memang saya ikhlas dengan ‘cuma sedikit sufor’ itu, untuk apa berbantah-bantahan dengan orang tua sendiri? Untuk apa separuh tubuh kebas yang lukanya menyayat itu dipaksakan sejak mula untuk memberikan ASI pada si bayi? Tolong, jangan bilang ‘cuma’; tidak berarti buat orang lain, tapi luar biasa maknanya buat saya.

[CeritASI] Di Atas Kertas, Kami Gagal ASIX: Tahu-tahu Dicekoki Sufor Tanpa Pemberitahuan :( (1)


Ini akan jadi serial baru dalam tagline ‘CeritASI’. Agak sulit untuk memulainya. Sebab, serial ini akan dibuka dengan pengalaman paling getir selama kami mengusahakan ASI untuk Daanish. Satu titik di mana kami selalu merasa sakit ketika mengingatnya lagi; satu fase yang menorehkan luka dalam. Pun, kami buka kegagalan ini pada khalayak, karena kami percaya, ada hikmah di sana. Karena kami ingin, para Ayah Ibu pejuang ASI di sana tidak akan pernah lagi mengalami kegetiran ini.

(untuk selanjutnya kata ganti “kami” akan diganti menjadi “saya”, karena penuturnya adalah saya, Ibubunnya Daanish)

Di tulisan pertama ini, ijinkan saya meneruskan email yang saya tulis ketika Daanish baru berusia lima hari. Aksara di dalamnya begitu berat, ditulis berbarengan dengan air mata yang sulit berhenti menetes. Saya mengumpulkan tiap keping puing semangat yang hancur berantakan, dan berkirim keluh kepada milis asiforbaby@yahoogroups.com; sebuah komunitas yang dinaungi langsung oleh AIMI. Tujuannya satu: agar saya tau ke mana lagi harus melangkah.

—–

From: “ryka” <lolita_ry@…>
Subject: Tau2 dicekoki sufor tanpa pemberitahuan 😦
Date: Thu, 05 Jan 2012 17:22:42 -0000
To: asiforbaby@yahoogroups.com

Bunda dan Ayah ASI, perkenalkan, nama saya Ryka. Saya mau curhat boleh yah. Mohon masukannya juga kalo ga keberatan.

Alhamdulillah tgl 1 kemarin, putra pertama kami telah melihat dunia melalui proses SC akibat plasenta previa totalis. IMD yg sdh diiyakan dokter terpaksa gagal dilakukan karena saya mendadak butuh penangangan khusus terkaitkelainan letak plasenta tersebut dan mengalami pendarahan hebat karenanya. Melihat itikad baik DSOG sudah cukup terlihat, hal
ini akhirnya saya ‘maafkan’ dengan berjanji pada si kecil bahwa kelak, untuk urusan ASIXnya, apapun akan saya lakukan.

Si DSOG pun mendukung niat ini, beliau pun tidak serta merta memerintahkan tambahan sufor
begitu melihat si kecil agak kuning, tapi justru memotivasi untuk sesering
mungkin memberikan ASI. Saya sangat bersyukur untuk ini.

Meskipun operasi berjalan cukup panjang dan obat bius yg pun berkali-kali ditambah, saya tetap memaksakan diri untuk rawat gabung dengan si bayi. Kesadaran saya belum pulih benar, tapi untuk bolak balik antar asi ke ruang bayi lebih tak mungkin, sebab meski ASI sudah keluar, belum bisa dipompa.

Bismillah, dengan sisa-sisa tenaga, kesadaran yang naik turun, nyeri bekas
operasi yang terus berdenyut, dan jumlah ASI yg masih minim, rawat
gabung dapat terlewati. Hingga akhirnya tanggal 4 Januari 2013 kami semua bisa melambaikan salam
perpisahan pada RS tempat si kecil lahir.

Pengkhianatan paling menyakitkan selama saya hidup hingga hari ini, adalah ketika mengetahui bahwa pihak RS ternyata pernah memberikan sufor pada si kecil. Hal ini baru kami tahu ketika akan berpamitan pada suster-suster di ruang rawat bayi (neonatus),
sesaat sebelum kami meninggalkan RS. Ada beberapa laporan perkembangan bayi, rujukan dokter dan kassa untuk tali pusar bayi yang mereka serahkan. Bersama dengan itu, yang mengejutkan, sekaleng sufor yang sudah dibuka segelnya pun disodorkan. “Itu sisanya,” kata salah satu dari mereka. “Silahkan dibawa untuk diteruskan di rumah,” ia menutup pembicaraan kami.

Sisa? Sisa apa? Apa-apaan dengan kaleng ini?

Langit terasa runtuh bersamaan dengan gemetar hebat di lutut saya. Padahal sejak
mengazankan si bayi, berkali-kali suami sudah menyatakan kepada setiap nakes di RS, bahwa kami ingin ASIX, dan diiyakan termasuk oleh para suster itu.. Di kartu nama tanda pengenal pada boks bayi pun jelas2 tertulis: ASI
Ekslusif. Penanda yg tadinya membuat kami yakin semua sudah berjalan sesuai kesepakatan.

Yang bisa saya lakukan detik berikutnya adalah menatap nanar ke arah dua suster senior di hadapan saya, dan berusaha keras untuk tidak menampar keduanya. Dengan suara berat dan sarat getaran menahan tangis, Saya ungkapkan dengan sangat gamblang tentang kekecewaan saya. Saya tambahkan pengetahuan saya tentang diwajibkannya RS meminta pernyataan tertulis tentang persetujuan pemberian sufor sebelum secara sepihak memberikannya pada bayi. Ini jangankan yang tertulis, secara lisan pun mereka tidak pernah minta persetujuan, bahkan memberi
tahu pun tidak! Kami benar2 terluka, dan buat kami tindakan mereka terlalu
jahat! Culas!

Nasi memang sudah jadi bubur. Tapi saya berharap ada yang bisa kami lakukan. Menurut member milis sekalian, langkah apa yang sebaiknya kami ambil, agar setidaknya
ada efek jera di pihak-pihak yg melakukan kesalahan di RS tsb? Mohon masukannya, yah.
Kalau ada yang punya solusi yg baik tapi tegas saya mohon sarannya juga
yah.

Terima kasih banyak sebelumnya.

Ryka

Nanti, di tulisan berikutnya akan saya ceritakan cerita lengkap tentang duka ini. Tentang perasaan saya yang merasa “sangat gagal” di usia Daanish yang baru tiga hari. Berkali-kali saya menciuminya dan menahan sesak; saya ingin memohon maaf darinya, atas kesalahan dan kelalaian ini.

[CeritASI] Kampanyenya Si Kakek-Nenek (2)


si bayi gembul yang sudah pintar menyusu meski gagal IMD :(

si bayi gembul yang sudah pintar menyusu meski gagal IMD 😦

Tidak ada yang mampu mengalahkan ikatan keluarga. Sebab itulah, sepulang dari RS, sudah tidak ada lagi ketegangan yang tersisa. Gunung es sudah mencair. Kini, tiba saatnya semua mencurahkan segenap cintanya untuk Daanish. Saya begitu merasakan besarnya kasih sayang untuk cucu sekaligus keponakan pertama ini, dari orang tua dan adik-adik saya. How lucky you are, Daan. ^^

Tapi, apakah hari-hari ASIX berikutnya lancar jaya tanpa hambatan? Hohoho. Tentu tidak! 😀

Daanish masih berusia 2-3 minggu waktu terkena oral candidiasis/oral thrush (selengkapnya dapat dibaca di: http://www.mayoclinic.com/health/oral-thrush/DS00408). Bibir dan lidahnya tertutup lapisan putih tebal yang kerap mengelupas dan meninggalkan jejak kemerahan. Sebenarnya ini penyakit lumrah. Bagi bayi ASI, kebersihan PD ibu harus menjadi perhatian. Saya harus rajin mengelap PD dengan lap yang sudah direndam air hangat sebelum dan sesudah menyusui. Pipi dan bibir bayi pun harus dibersihkan dari sisa air susu. Dalam kasus yang memburuk, DSA bisa saja memberikan obat tetes untuk meringankannya.

Tapi, inilah solusi yang diusulkan Kakek dan Neneknya Daanish: beri sesendok air putih tiap Daanish selesai menyusu dan oleskan madu di bibir si kecil. Lagi-lagi, ‘pertempuran’ kecil kami terjadi. Lamanya waktu yang diperlukan untuk penyembuhan Daanish, membuat mereka kian gencar mendesak. Pemberian air putih memang bisa sukses ditolak. Apa daya, beberapa kali bibir mungil Daanish sempat tersentuh olesan madu.

Neneknya Daanish juga tidak sepakat dengan kegiatan pumping saya. Nanti PDmu rusak. Lagipula, ASI berubah jadi darah kalau ditampung, ia tak bisa disimpan! Mereka tambah heran melihat saya mengumpulkan ASIP dalam botol, dan menyimpannya di freezer. Saya bahkan sempat khawatir, kalau diam-diam mereka akan membuangnya karena ketidaksetujuan itu. Karena ini aktivitas rutin, saya coba jelaskan sesederhana mungkin dan sesering mungkin. Buat si Kakek, sudah saya beberkan juga bukti ilmiah berikut rekomendasi WHO atau Unicef tentang ini. Meskipun belum mendukung, perlahan mereka tidak lagi mempertanyakan botol-botol ASIP yang tambah hari tambah banyak itu.

Karena tidak berani membawa bayi keluar rumah sampai usianya 2 bulan, 1-2 kali saya pernah meninggalkannya untuk belanja keperluan maupun kontrol rutin pasca operasi. Prosedur pemberian ASIP sudah saya ajarkan ke orang rumah, termasuk pengasuh Daanish. Melihat Daanish yang tenang dan semangat minum ASIP, ditambah tidak adanya komplikasi medis setelahnya, membuat hati mereka terbuka perlahan-lahan. Tidak ada lagi keributan soal ASIX. Sang Nenek bahkan kerap ikut sibuk menyiapkan wadah untuk botol ASIP (karena di kulkas masih bercampur dengan makanan lain), mensterilkan botol dan pompa, dan bahkan membeli kulkas baru agar ASIP yang kian banyak itu punya ruang penyimpanan yang cukup.

Saya sesekali juga mendengar kalau Sang Nenek mengobrol dengan tetangga atau teman kantornya, bahwa cucunya hanya minum ASI saja. Karena Daanish pertumbuhan fisiknya juga sangat baik dan termasuk ‘gembul’ dibanding bayi-bayi lain, Neneknya pun mulai merasakan dan berbagi manfaat ASI ke lingkungan sekitarnya.

Sesekali, kami masih berseberangan pikir. Mama meminta saya juga memberikan sufor ke Daanish beberapa waktu sebelum mulai bekerja. Alasannya, supaya Daanish bisa ditinggal dan antisipasi kurangnya ASI. Untunglah jalan tengahnya ada; nyatanya Daanish bisa ditinggal dengan diminumkan ASIP saat saya belanja atau kontrol tadi, dan kuantitas ASIP dalam kulkas yang kian bertambah. Tidak perlu panjang kami berdebat, masalah ini pun selesai.

Dengan pemahaman akan ASI yang kian membaik pun, mereka tetap pernah melakukan pelanggaran atas regulasi ASIX kami. Suatu hari, Neneknya makan semangka, dan meskipun tidak diberi makan, Daanish dicicipkan semangka itu. Daanish kecil pun menjilat-jilat semangka merah yang disodorkan padanya. Kakeknya? Malah tertawa melihat ekspresi Daanish yang lucu. Kontan saya tegur mereka, dan mengulangi bahwa sampai 6 bulan, setetespun atau sebutirpun makanan dan minuman tak boleh mampir ke mulut Daanish.

Bagaimana perubahan Kakek dan Nenek setelah hari demi hari berlalu?

Mereka ikut sibuk lho, saat pengepakan ASIP di kloter terakhir yang pernah saya ceritakan itu. Ikut susun-susun ASIP dan es batu dalam cooler bag, ikut bungkus-bungkus plastik supaya lebih tahan panas, ikut tata-tata ASIP di mobil, dan ikut penasaran sama keadaan ASIP-ASIP itu setibanya di Bekasi. Yeay! Kampanye sukses!

Sang Nenek tetap heboh kalau sudah cerita tentang BB Daanish yang terus naik berkat ASI. Kalau si Kakek, apa kabar ya?

Asyik, dipangku Kakek!

Asyik, dipangku Kakek!

Kakek yang bekerja di Dinas Tenaga Kerja bagian pengawasan ketenagakerjaan terutama pekerja anak dan wanita, ternyata sudah lebih jauh berkampanye ASI. Dalam kegiatan koordinasinya dengan Dinas Kesehatan, beliau sempat bertukar pikiran tentang program penyebarluasan kesadaran ASI yang dijalankan oleh Dinkes ke seluruh lapisan masyarakat. Perlunya dukungan dari instansi maupun perusahaan tempat ibu bekerja adalah hal penting dalam suksesnya pemberian ASI. Spontan, Kakeknya Daanish ini mempromosikan saya. *hasyaaaah, GR! Beneran loh! Beliau menawarkan untuk melibatkan saya selaku ibu ASI yang bisa tetap terus perah dan memberikan ASI untuk Daanish meskipun sudah mulai bekerja. Bahkan, sang Kakek juga ‘menjual’ gerakan kampanye ASI kecil-kecilan yang saya upayakan; mulai dari pumping bareng di ruang laktasi, blog ASI, hingga promosi ASI kepada teman-teman dekat. Wow banget, kan.

Begitulah. Sosok yang tadinya bersikukuh untuk meninggalkan sufor di ruang rawat RS dengan alasan untuk jaga-jaga, yang menyarankan madu dan air putih, yang tidak merasa ada yang salah dengan menyuruh Daanish menjilati semangka dalam fase ASIXnya itu, berubah drastis! Ia yang jadi perpanjangan tangan saya untuk menjamah ranah yang tidak bisa saya tembus. Ia yang sangat mendukung kampanye ASI saya lewat FB maupun di darat saat pulang kampung. Ia yang kini bukan hanya percaya tapi juga berusaha membuat orang lain percaya akan pentingnya ASIX dan hebatnya ASI bagi tumbuh kembang anak. Ah, so proud of you, Pa!