[CeritASI] [NWP Story] Pssst… Hati-Hati Berkomentar, Ya!

Duluuu, waktu hamil anak pertama, rasanya sumringah banget. Seneng pas perutnya mulai nongol. Seneng ditanya orang soal “isi” si perut. Jalan sini senyum-senyum. Jalan sana hati berbunga-bunga. Ah, inilah rasa itu: bahagia menjelang status baru sebagai ibu.

Nah, kalau yang ke dua?

Saya memang sempat kaget, begitu tahu kandungan sudah jalan 3 bulan saat Daanish berusia 14 bulan. Artinya, saya hamil saat usia Daanish setahun kurang sebulan. Tapi, sebagai perempuan yang butuh prosesi panjang untuk bertransformasi dari cuek bebek hingga begitu menginginkan anak, sebagai istri yang tahu rasanya tiga tahun menunggu keturunan, dan sebagai ibu yang sudah terlanjur menikmati “asyiknya” begadang, memberi ASI, mengganti popok, dan putar otak buat MPASI anak; terus terang saya tetap sangat bahagia begitu mengetahui kehadiran si janin. Wow, rahim yang baru saja dikosongkan itu, kini tahu-tahu sudah “berisi” makhluk lain. Ya, makhluk baru, dan dia bukan Daanish!

Kehamilan, mau yang ke berapa pun, tetap saja membuat ‘excited’. Membayangkang ada makhluk mungil yang tumbuh dari hari ke hari di dalam tubuh kita itu lho. Ada nyawa di dalam nyawa. Indah bukan?

Tapi saya mulai terusik, oleh komentar sekitar yang menurut saya seringkali kurang tepat. Saya paling benci kata-kata “kesundulan”. Makna konotasinya begitu terasa. Kesab utama saya terhadap kata itu adalah: kecelakaan atau kejadian yang tidak diinginkan. Oke, tidak direncanakan mungkin iya. Tapi, tak berarti tidak diinginkan, kan? Maka, jangan sesekali berkomentar dengan kata itu terhadap kehamilan saya, kalau tidak mau saya diamkan setelahnya. Serius, ini serius!

Lainnya tidak kalah seru. Di belakang, pernah ada salah satu rekan kerja yang bilang, “kasian ya anak pertamanya, padahal masih kecil.” Lho lho. Hei, tunggu dulu! Memang saya ini ibu macam apa? Jaminan apa yang bisa dia berikan bahwa anak-anak yang lahir dengan jarak usia “terencana” itu pasti tidak perlu dikasihani? Duh, Bu, kasihan deh Ibu yang masih saja berpikir demikian di jaman semaju ini.

Duh, duh, teman, tolong hati-hati dengan ucapanmu, ya.

Karena mayoritas pegawai di kantor adalah lelaki, maka komentar mereka tak kalah “ganas”. Ehm, lebih tepatnya “vulgar”. Kalimat-kalimat macam, “wuih, doyan juga” atau “mantap amat suaminya” atau “enak sih ya, bikinnya, ” adalah statemen gila yang menurut saya sudah menyinggung area yang sensitif. Ini adalah ‘sexual harassment’ dalam bentuk verbal. Menyinggung? Iya, sangat!

Hubungan suami istri adalah hubungan paling pribadi yang Allah saja melarang untuk menyebar-nyebarkannya. Tidak untuk bahan bercanda, apalagi sindiran. Cukup sudah dipersaksikan langit perjanjian Mitsaqan Ghaliza yang menghalalkan hubungan suami istri itu diketahui. Lainnya, bukan urusan anda. Kita masih punya segudang masalah masyarakat terkait kehamilan di luar nikah. Fokuskan saja energi ke situ. Tak usah repot-repot mengurusi kehamilan perempuan yang bersuami sah.

Lalu, yang tak kalah heboh. Saya pernah diajak bicara oleh atasan, panjang, lebar dan lama. Tahu inti dari obrolan itu? Ia ingin agar saya berhenti menyusui pun menerah ASIP.

Kalau sekadar memberi masukan, kuping saya takkan panas. Tapi mengintervensi sedemikian jauh, menafikkan rekomendasi medis dari dua SPOG saya, dan menegasikan mentah-mentah bukti ilmiah dari pelbagai sumber bacaan akademis tentang NWP yang sudah mati-matian saya baca, adalah tidak adil!

Sudahlah rekomendasinya jelas tidak relevan dengan hasil penelitian terkini, ia tetap memaksa saya ‘pindah’ ke jalurnya. Why oh why? Di mana perginya ‘menghargai perbedaan pendapat’ itu?

Sempat ia membandingkan dengan anak bungsunya yang terlambat disapih dan menumbuhkan rasa cemburu pada diri si anak, saya makin tidak paham dengan korelasinya dengan masalah saya. Masalah si ibu adalah terlambat menyapih, sementara jarak usia anak-anaknya jauh-jauh. Masalah saya adalah: saya hamil saat menyusui. Lha, di mana benang merahnya, sih?

Sia-sia saya minta unduh paper-paper dari jurnal tertutup khusus mahasiswa kepada beberapa teman di Jepang, kalau berdiskusi masalah ini saja saya menyerah. No way! Setelah berbagai argumennya bertumburan dengan saya, ia menutup ‘enforcement’ atas idenya dengan kalimat yang memojokkan, “Saya gak mau badan kamu yang jadi drop lantaran kamu tetap menyusui selama hamil ini, nanti aktivitas dan pekerjaanmu yang terganggu!”

Oh, oke, saya paham. Jadi si ibu ini mengira saya akan lemah, sering sakit, dan kerap ijin setelah ini. Ia pikir pekerjaan saya akan terbengkalai, tanggung jawab tak bisa saya emban, dan keputusan tak bisa saya ambil setelah ini. Ia pikir, NWP yang saya jalani akan merugikan semuanya, semua urusan pekerjaan di kantor terkait saya!

Eh eh, saya tidak sedang emosi tingkat dewa, kok. Itu mah duluuu, awal kehamilan ke dua ini. Sekarang? Whooops, I’m the happiest mommy in the world!

Jadi ya, jadi, saya belajar banyak dari kehamilan ke dua ini. Mulai dari mengendalikan emosi dari kata-kata yang tak mengenakkan hati itu. Hingga berupaya mengendalikan kata-kata sendiri saat harus berhadapan dengan kasus serupa milik orang lain. Belajar dari pengalaman.

Nyatanya, lima bulan berlalu, saya tetap mampu konsisten perah dan menyusui. Sebulan pertama, produksi ASI malah sama sekali tak terganggu. Tetap surplus. Bulan-bulan berikutnya memang berkurang dan kian berkurang. Tapi tidak apa. Saya sudah pensiun jadi Ibubun gundah yang kerap bersedih.

Yap, saya tak perlu sedih. Sebab lima bulan berlalu, Daanish sehat, adiknya pun demikian. Saya merutinkan ritme produksi ASI dan berharap agar dengan semua ini ASI buat adiknya Daanish insyaAllah juga selancar rakanya. Lima bulan berlalu, alhamdulillah tidak ada flek atau kontraksi yang mengharuskan saya berhenti menyusui maupun perah. Lima bulan berlalu, tubuh pun makin menyesuaikan diri menampung dua amanah ini. Lima bulan berlalu dan Daanish belum tersentuh sufor. Kalau UHT, sesekali iya, dalam jumlah terbatas. Alhamdulillah, kerja keras setahun mengumpulkan ASIP yang terus-terusan surplus itu, berbuah manis kini. Sekulkas ASIP buat Daanish, kini siap sedia memenuhi kebutuhannya. Saya tak risau, sebab memang stoknya insyaAllah mencukupi.

Lima bulan berlalu, dan saya bahagia! ^^

1 Comment

  1. assalamu’alaikum Rika
    pa kabar…
    wah selamat ya hamil yang kedua…
    ini anakku yang kedua dan pertama berjarak 19 bulan…jadi aku ngerti banget apa yg Rika rasain….
    santai aja rik, tapi untungnya istriku kerja di rumah jadi gak begitu terganggu dengan komentar di lungkungan kerja…hehehe…

    sekarang dimana rik? jakarta kah? atau masih di Jepang?

    Ryka—–

    Hai, Za. Waalaykumussalam. Aku baik, semoga Reza dan keluarga juga begitu, ya.
    Makasih banyak dukungannya, Za. Wah, sama ya aku dengan istrimu?
    Udah jauhhh lebih nyantei dan bisa tutup kuping kok kalo sekarang, mah. Galaunya pas dulu2 itu, makanya baru sekarang di-share dalam bentuk tulisan.
    Aku udah lama menetap di Bekasi kok, Za. Reza dan keluarga masih di Bali?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s