[CeritASI] We Haven’t Given Up Yet!

Ya, kami belum menyerah!

Proses memberikan ASI kepada Daanish sudah melalui perjalanan penjang lengkap dengan aneka likunya. Bukan hal mudah memperkenalkan “ASI saja selama 6 bulan pertama” pada kedua keluarga besar. Mereka pada awalnya bingung, menyangsikan, sekaligus khawatir. Maka tak heran, satu demi satu nasihat pun mampir dan menggoyahkan niat kami.

Sebab Daanish adalah anak pertama, tentu saja kami NOL besar dalam bingkai pengalaman. Namun, sebab orangtua kami mendidik kami dengan bekalan akademis yang cukup untuk mengobrak-abrik isi pelbagai pustaka dunia tentang ASI, kami memberanikan diri untuk terus maju. Tanpa ragu, tanpa takut.

Sampai hampir 1,5 tahun perjuangan ini, orang mungkin melihat bahwa sayalah motor utama penggeraknya. Mungkin tidak salah. Tapi laju motor utama tidak akan pernah maksimal tanpa dukungan si bahan bakar: suami.

Waktu tidak mampu bergerak di tempat tidur pasca operasi, suamilah yang mengatur manajemen penyimpanan ASIP dan sterilisasi alat perah. Beliau juga yang tiap minggu menjadi “kurir” impor ASI dari Lampung ke Bekasi tiap minggunya. Oya, setiap kali harus dinas meninggalkan rumah, suami juga manajer pemberian ASIP Daanish. Dan, yang paling tidak sanggup saya lakukan, adalah menjadi penengah sekaligus pengkampanye ASI di tengah keluarganya; terutama saat Bapak mertua mau memberi kopi untuk bayi 4 bulan saya dulu.

Daanish bukan hanya obyek dalam proses ini. Ialah sesungguhnya tombol “starter”nya. Ia mumpuni dalam memberikan ritme terbaiknya, yang memampukan produksi ASI saya menjadi maksimal. Sangat maksimal malah. Ia yang berusaha dengan cintanya tidak bosan menyusu–tidak bingung puting maupun melakukan “nursing strike”–selalu membuat prolaktin dan oksitosin di tubuh ini bekerja sinergis. Ah, ia yang dengan tatapan lucunya, kantuknya, hangat tangannya, hingga perut gendut dan kaki mungilnya yang melingkar manja saat menyusui, yang membuat pabrik ASI saya seolah kian semangat bekerja.

20130506-083224.jpg

Dan setelah satu tahun yang begitu bergelimang produksi, begitu berkelimpahan, hingga berkali-kali didonorkan pun stok ASIP Daanish tetap surplus, kini tibalah “turning point” itu. Titik yang membuat satu demi satu stok itu berguguran. Botol demi botol kosong dan tidak menemukan lagi isinya.

Sedih? Awalnya, ya. Sebelum kami tahu rencana-Nya. Tapi kini tidak lagi. Ribuan syukur tidak mampu lagi menandingi besar kuasa-Nya atas pengaturan yang begitu indah, begitu sempurna.

InsyaAllah stok ASIP untuk Daanish masih mencukupi. Dan sebagai bukti syukur, kami hanya bisa terus berjuang dan meniadakan kata “menyerah” dalam jalan ini. Ya, kami belum menyerah. Sebab inilah titik di mana perjuangan fase berikutnya baru saja dimulai.

Kami masih semangat ASI! Bagaimana dengan keluarga-keluarga ASI di sana?

2 Comments

  1. Mbk ryka, kebetulan sy habis sakit selama seminggu. Sebelumnya hasil asip sy selalu mencukupi. Baby usia 8 bln. Tp sejak sakit asi sy drop, bahkan sempat nggak keluar. Sekarang sudah mulai keluar. Tp hasil nya hanya setengah dari biasanya saat sy blm sakit. Sy jd nombok terus. Sy khawatir stok sy tdk cukup. Krn baby kuat bgt konsumsi asip nya bisa 8-10 botol tiap sy tinggal kerja. Apa produksi sy bisa balik seperti semula ya mbk? Gmn caranya mbk?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s