[CeritASI] Ekspor-Impor ASI

[CeritASI] Ekspor-Impor ASI

Para pemirsa yang terhormat, kali ini sari berita penting akan membahas tentang… Eh, stop, stop. Kok kayak jadi pembaca berita di TVRI jaman baheula, yak. Hihihi.

Jadi, karena ada permintaan dari salah seorang sahabat yang juga pengen banget struggling buat ASIX sampe S3 ASI buat buah hatinya, saya mau cerita tentang pengiriman ASIP mingguan dari Bandar Lampung ke Bekasi selama saya cuti bersalin di sana.

Merasa kurang PD melahirkan anak pertama, saya pilih mudik ke kampung halaman, Bandar Lampung, tepat sebulan sebelum HPL tiba. Well, bukan pilihan buruk sebenarnya, tapi namanya juga tinggal dengan orang tua, pastilah gasak-gesek kerap kali terjadi. Plus, pilih ambil cuti sebulan sebelum HPL itu ternyata tidak terlalu menyenangkan. Sebulan harus dilalui tanpa kesibukan berarti, jauh dari teman dan aktivitas harian, kadang justru mendatangkan jenuh dan pikiran-pikiran negatif.

Daanish lahir 1 minggu lebih cepat dari HPL, karena konsentrasi ketuban yang kian berkurang, dan terutama, menghindari kontraksi alami rahim karena plasenta previa totalis pada kandungan saya. Ia pun harus dilahirkan via operasi caesar, yang tentu saja tidak saya rencanakan sebelumnya.

Meskipun gagal IMD karena pendarahan akut akibat si plasenta yang tepat menutupi seluruh jalan lahir, alhamdulillah ASI saya sudah keluar sejak pertama kali Daanish menyusu. Memang baru berupa tetes-tetes, tapi itulah sifat kolostrum, bukan? Zat hidup luar biasa yang menjadi perisai paling fundamental untuk keselamatan jiwa bayi yang baru saja melihat dunia.

Jam 4 saya mulai menyusui Daanish, malamnya aktifitas perah sudah dimulai. Soalnya, Daanish sempat diduga kuning, dan pada hari pertama itu seluruh keluarga (kecuali suami) menyarankan agar Daanish tidur di ruang neonatal, supaya saya bisa total istirahat.

Bermula dari tetes-tetes itulah, saya dan suami menguatkan diri untuk memberikan ASI ekslusif untuk Daanish. Setelah dua minggu yang membuat stress dengan hasil ASIP yang hanya membasahi dasar botol, setelahnya sedikit demi sedikit perolehan ASIP bertambah. 10, 20, 30, sampai akhirnya pernah bisa 150ml satu kali perah pada usia Daanish yang satu bulanan.

PD memang sudah mulai terasa bengkak dan penuh, tapi hasil perah tidak melulu banyak. Aktivitas perah memang sudah dirutinkan, tapi belum terlaksana dalam jadwal-jadwal yang tertib dan teratur. Bahkan, ketika 10-20 botol mulai terisi, saya justru sudah mulai merasa “cukup”. Toh, nantinya saya akan tetap perah selama bekerja, bukan? Jadi, untuk apa stok “terlalu” banyak?

Sampai suatu ketika, seorang sahabat menghubungi. Lama sekali rasanya tidak punya “me time” untuk chit-chat sesama ibu baru seperti ini. Sahabat ini adalah salah satu “dopping” yang paling pertama jadi sumber energi terdekat saya. Kami seangkatan, seusia, berkantor sama, dan melahirkan di waktu yang tidak terlampau jauh. Ia yang terlebih dahulu “merasakan” ritme kantoran setelah cuti, menyarankan saya untuk mulai sangat disiplin dan tertib perah sejak sebelum masuk kantor. Stok bisa dengan mudah habis dan sulit terkejar, saat aktivitas kantor sudah menyita banyak energi, pun membuat tekanan kian berat. Hati-hati dengan hasil perah yang kian sedikit, begitu masa cuti habis.

Kira-kira tiga minggu sebelum cuti usai, saya benar-benar menuruti nasihatnya. Saya mulai rutin perah 3-5 kali sehari; dengan jadwal pagi, siang, sore, malam, dan dini hari. Tidak terasa, puluhan botol ASIP tutup karet rekondisi, botol wideneck, dan plastik-plastik es terkumpul sudah. Kini, tinggal memikirkan langkah berikutnya: bagaimana agar stok ini bisa selamat sampai Bekasi?

Suami yang tinggal di rumah kami di Bekasi, rutin datang ke Bandar Lampung selama saya cuti. Hampir tiap Jumat malam ia berangkat dari terminal Kampung Rambutan menuju pelabuhan Merak, menyambung perjalanan dengan menaiki kapal ferry, dan menutupnya dengan naik travel dari Bakauheni ke rumah orang tua saya. Hari Minggu sore atau malam, ia berpamitan, menempuh jalur sebaliknya karena esoknya harus kembali ke kantor.

Sejak saya belum “sangat disiplin” perah itu, sudah dua kali ia menjadi kurir ASIP Daanish. Saya akan menyusun botol-botol ASIP ke dalam cooler box dan cooler bag serapat mungkin, lalu mengelilinginya dengan blue ice/ice gel dan es batu beku.

Saya minta ia meletakkan wadah ASIP ini di rak atas/tempat menaruh barang dalam bis AC yang dinaikinya. Tidak ditaruh di bawah kursi, apalagi di bagasi. Tidak boleh. Dan karena agak pelupa, sama seperti saya, ia kerap kali saya telepon sepanjang perjalanan hanya untuk mengingatkannya agar “nutrisi berharga mahal” itu tidak tertinggal.

Begitu jadwal perah menjadi lebih sering, otomatis hasilnya pun bertambah banyak. Saya tinggal punya 2 kesempatan untuk memanfaatkan waktu kunjungan suami, agar proses ekspedisi ASIP ini berjalan lancar. Sementara, yang dipakai hanyalah satu cooler box kecil, yang meskipun daya tahannya sangat bagus tapi hanya cukup menampung 10-15 botol ASIP tutup karet, ditambah dengan satu cooler bag.

Di pengiriman ASIP terakhir, suami tidak lagi mengembalikan cooler box, cooler bag, dan ice gel yang ia bawa, karena selanjutnya sayalah yang harus kembali ke bekasi tepat seminggu sebelum mulai bekerja. Bagaimana ini, bagaimana membawa sekian banyak stok ASIP yang tersisa tanpa amunisi pelengkap yang cukup? Saya tidak mau ASIP itu rusak. Pun, saya tidak mungkin pulang ke bekasi tanpa ASIP itu.

Syukurnya, saya ada beberapa cooler bag yang biasa saya pakai untuk membawa bekal makan siang. Insulatornya memang agak tipis dan tidak terlalu kuat, mungkin memang tidak akan maksimal menahan bekunya ASIP selama 10 jam perjalanan darat Bandar Lampung-Bekasi. Tapi, dari informasi yang saya kumpulkan, asalkan ASIP tidak cair seluruhnya, ASIP bisa kembali dibekukan. Dengan catatan, ia yang akan diprioritaskan untuk dikonsumsi terlebih dahulu.

Tapi cooler bag yang cuma 3 buah dan kapasitasnya kecil itu tentu tidak cukup. Harus ada wadah lain yang juga punya fungsi serupa. Di saat saya blank dengan solusinya, idenya justru datang dari usul neneknya Daanish; bagaimana kalau termos nasi? Aha! Iya betul! Bahan, bentuk, dan cara kerjanya kam mirip dengan cooler box. Termos nasi yang tahan panas itu pun pasti cukup baik untuk menahan dingin. Kekurangan dalam hal tutup yang tidak rapat bisa diakali dengan membungkusnya dengan serbet, mengisolasinya dari luar, dan memasukkannya dalam berlapis-lapis kantong plastik. Lapisan kantong plastik ini juga yang akan menyelimuti di tiga cooler bag yang insulatornya tipis itu. Oke, masalah wadah terselesaikan sudah. Sekarang, ice gel dan blue icenya bagaimana?

Adik saya yang sedang berwirausaha punya dua blue ice. Itu saya pinjam darinya. Sisanya, kami membuat banyak sekali es batu dalam wadah plastik aneka ukuran, untuk dijejal-jejalkan ke dalam tas-tas ASIP. Khawatir cepat leleh, garam pun ditaburkan di atas plastik-plastik es batu itu.

Cara menyusun botol dan plastik ASIP sebenernya sederhana. Hanya membuat mereka berdempetan serapat mungkin untuk menghemat ruang sekaligus menjaga suhu dingin. Namun, yang kali ini saya selipkan juga es batu dalam wadah es mambo tiap 2-3 botol. Sekeliling tas juga rapat oleh es batu. Bagian atas tas baru saya letakknya es batu paling besar. Blue ice saya pakai untuk cooler bag, karena insulatornya tipis sekali. Setelah semua ASIP dan “guardian”nya masuk, saya bungkus cooler bag dan termos nasi itu dengan plastik besar, serta tidak lupa memasukkan sisa-sisa es batu di dalamnya. Semua disimpan rapat, diletakkan di tempat teratas yang masih tersentuh AC mobil kakeknya Daanish yang akan membawa kami. Bismillahirrahmaanirrahim. Semoga semua ASIPmu selamat sampai tujuan ya, Nak.

Sayangnya, perjalanan tidak melulu mulus lancar. Kami lama mengantri saat naik kapal dan saat sandar kapal. Perjalanan molor jadi 12 jam. Apa kabar para ASIP?

Dengan perasaan dag-dig-dug, selapis demi selapis pembungkus botol kaca dan plastik ASIP pun saya buka perlahan. Alhamdulillah 80% ASIP selamat dengan kondisi beku sepenuhnya atau separuh beku. Sementara, sisanya sudah mencair sempurna, yakni ASIP yang dibekukan dalam plastik es, bukan botol kaca. Jadi, wajar lah ya, kalau mereka jadi lebih mudah cair.

Harusnya ASIP yang cair seluruhnya itu memang harus segera diberikan ke bayi. Kalau mengikuti aturan daya tahan ASI, artinya hanya sanggup bertahan 1×24 jam. Tapiiii, mana saya tega membuangnya? Huhuhuhu. Diberikan sekarang pun, jelas tak akan habis.😥

Lagi-lagi, sambil komat-kamit doa, saya masukkan lagi ASIP yang sudah mencair itu ke dalam freezer. Dibekukan, dan nantinya diprioritaskan untuk diberikan ke Daanish ketika saya tinggal kerja. Idealisme soal daya tahan ASIP itu, saya kalahkan demi idealisme yang lebih besar: menjamin kecukupan ASI selama minimal 6 bulan hingga 2 tahun untuk Daanish.

Jadi, kalau ditanya apakah urusan ekspor-impor saya berhasil atau tidak? I will proudly say “yes”! Soalnya Daanish sehat-sehat aja tuh, meskipun minum juga ASIP darurat yang sudah cair dan dibekukan lagi itu. Hihihihi.

Tetap ya, Buibu, Pabapak, semangat ASI! Mau harus kirim ASIP, mau ASIP mencair, mau ga ada cooler bag/cooler box dan ice gel, mau harus jalan darat, mau apapun kondisinya, tetap semangat ASI! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s