[CeritASI] Kenapa Harus Dikampanyekan? (3)

Setelah jadi ‘korban’ kampanye ASI itu, saya ‘terjatuh dan tak bisa bangkit lagi’ dari kubangan rasa haus untuk terus menerus belajar tentang ASI. Ciyehhh, pake ngutip lirik lagu segala nih.πŸ˜€

Awalnya saya tahu ASIX berarti cuma ASI selama 6 bulan. Lalu saya yang terbengong-bengong dengan istilah ‘IMD’, ‘rooming-in’, ‘kolostrum’, dan sebagiainya dan sebagainya itu, pelan-pelan jadi paham. Lepas urusan per-ASI-an di fase awal kelahiran bayi itu, saya kembali harus terengah-engah membaca aneka referensi tentang manajemen ASIP. Terutama, karena saya ibu bekerja.

Mulai dari bikin tabel perbandingan berbagai jenis dan merk breast pump, membuat list keperluan perah ASI sekaligus mencari tempat membelinya, pontang-panting cari penjual freezer khusus ASI, dan seterusnya dan seterusnya. Tau-tau, beragam ‘benda aneh’ yang tak pernah saya jumpai sebelumnya itu sudah terkumpul di depan mata, termasuk ratusan botol kaca ASIP yang unyu-unyu itu.

Belum bernafas dari situ, saya menemukan masalah payudara yang bengkak dan sakit bukan kepalang, tapi tidak bisa diperah. Demam dan meriang sudah jadi langganan kalau sudah begitu. Perih luar biasa saat menyusui, bayi yang menghindari menyusu karena PD terlalu penuh, lecet ringan yang membuat sedikit trauma saat menyusui, LDR yang tak kunjung datang, dan seabrek permasalahan lain muncul tak habis-habis.

Saya mulai patah arang. Apa yang salah? Saya (merasa) sudah membaca banyak, bertanya banyak, berupaya banyak.

Ternyata, kampanye ASI itu tidak cuma mampir di hidup saya. Ia juga singgah di teman-teman saya. Saya menemukan tempat berbagi. Dan tempat berbagi itu kian luas dan hangat dengan adanya komunitas-komunitas yang menyuntikkan kekuatan.

Mengirimkan Daanish memakai toga S2 ASInya, kini, saya harus berjuang dengan satu bab tantangan baru: menyusui saat hamil (nursing while pregnant/NWP). Dan karena insyaAllah si bayi akan lahir saat Rakanya belum genap dua tahun, saya pun harus siap-siap amunisi untuk menjalani menyusui dua bayi sekaligus (tandem nursing). Waaaw, saya pikir saya sudah hampir ‘tamat’ belajar ASI. Ternyataaa, dekat dengan bab kesimpulan saja belum. ^^

Baiklah, saya memang harus kembali rajin belajar seperti masa sekolah dulu. Permasalahan tentang pemberian ASI ternyata tak habis-habis. Pun, hasil riset dan penelitian terkini seputar ASI berkembang begitu cepat.

Ya, berkat jadi korban kampanye itu, saya ‘terikat’ dengan komitmen. Komitmen, yang membuat saya ‘terpaksa’ harus menjadi ‘pelajar seumur hidup’. Sebuah proses panjang, yang tanpa saya sadari, mengubah seluruh paradigma saya tentang dunia pengasuhan anak. Paradigma yang merekonstruksi ulang rencana pemberian gizi (nutrition) dari tubuh (body), pikiran (mind), hingga jiwa/ruh (soul) untuk anak-anak saya kelak. Paradigma yang mendorong keberanian saya untuk tidak hanya belajar buat diri sendiri, tapi juga orang lain. Paradigma yang membuat saya melahirkan blog tempat saya berbago sedikit pengetahuan saya; bodymindsoul.wordspress.com.

Seolah terlahir kembali, saya bertemu dengan ilmu-ilmu lain setelah ini. Saya bertemu dengan perspektif untuk memaksimalkan pemberian MPASI dapur ibu (homemade) meskipun si ibu bekerja. Saya sempat beririsan dengan duo pro-kontra pemberian imunisasi. Meskipun akhirnya memilih untuk menggenapkan seluruh daftar imunisasi yang dianjurkan IDAI, saya bersyukur untuk perjalanan panjang mengatasi kebingungan yang membuat saya ngos-ngosan baca sini baca situ sebelumnya. Seru! Super seru!

Saya juga terjerembab ke dalam komunitas berisi para dokter hebat dan rendah hati yang merubuhkan cara pikir ‘sakit harus ke dokter’ ataupun ‘ke dokter harus dapat obat’ dalam wadah Milis Sehat. Tempat berkonsultasinya pun dinamai ‘Markas Sehat’; penamaan cerdas yang memberi sugesti positif pada khalayak bahwa tempat ini tidaklah ‘sakit’ seperti ‘rumah-rumah’ tempat berobat lainnya. Para pakar ini mendorong semua di dalam wadah itu untuk mampu menjadi dokter di rumah sendiri. Percaya akan kemampuan para orang tua untuk kritis dan menjadi partner diskusi dengan dokter. Serta mengedepankan upaya home treatment, rational use of medicine/drugs (RUM/RUD), dan mengedepankan analisa evidence base medicine (EBM). Benar-benar milis yang bikin dahi berkerut dan kepala cenat-cenut. Orang awam pun harus mampu sedikit demi sedikit membaca analisa kedokteran dan farmasi.

Sejak menjadi sakaw itu juga, saya bertemu dengan para orang tua di komunitas homeschooling, Charlotte Mason Indonesia; yang membuat kepala saya benar-benar berat dengan sumber referensinya. Tapi asyik! Ini lebih ‘gila’ daripada belajar selama menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 saya di Jepang dulu. Ini lebih panjang dan lama prosesnya. Ini proyek riset seumur hidup! Bahkan saya tidak tahu apakah riset saya di dunia parenting anak sendiri ini akan khatam ketika saya tutup usia kelak. Saya tidak yakin akan ada kata ‘selesai’ dalam proses ini bahkan hingga saya yang ‘selesai’.

Dan inilah buah paling manis sekaligus hasil paling ‘gila’ dari hasil kampanye ASI itu (buat saya): menjadikan seorang perempuan yang ragu akan kemampuannya, berubah menjadi sosok yang maniak, terobsesi, dan sakaw akan semesta pengetahuan yang memampukannya menjadi ‘lebih’ dari yang ia pernah bayangkan. Kampanye ini menjadikan kita perempuan-perempuan cerdas dan mumpuni; women’s empowerment!

Tentu saja dengan bertransformasinya perempuan-perempuan menjadi sepositif ini, tidak hanya keluarga yang tercerahkan, tapi juga masyarakat, lalu bangsa dan negara. Bukankah baik buruk suatu negeri, tergantung dari baik buruk perempuan-perempuan pemangku pilar kedigdayaanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s