[CeritASI] [NWP-Story] Kenapa ‘Maksa’ Tetap Menyusui, Sih?

Helooo ibu-ibu yang hamil saat menyusui, pernah ditanya begitu? Ayo sini merapat-merapat, tapi duduknya 4-6, yak.😀 Saya bukan cuma ditanya, ‘disidang’ juga pernah. Ah, males bahasnya. Tar yang pengen baca, mampir aja ke konten blog saya yang sebelumnya, ya. *Eaaa, promosi :D*

Pertanyaan sebaliknya, juga ingin saya lontarkan pada si penanya: emang kenapa harus dipaksa disapih, sih?

Kalau kita dengarkan jawaban mereka umumnya mereka akan jawab begini:
1. Adiknya di perut akan kekurangan nutrisi, bahaya!
2. ASI sudah berkurang kualitasnya (baca: beracun) buat si kakak, bahaya!
3. Ibunya butuh ekstra energi, nanti jadi loyo bin lemes bin gak fit bin (titan?)…

Saya pernah minta tolong unduhkan paper di jurnal kedokteran internasional yang kira-kira bertemakan tentang penelitian akan perbedaan terhadap janin yang dilahirkan apabila si ibu tetap atau berhenti menyusui. Sayangnya, meskipun sudah minta tolong lewat sahabat-sahabat di University of Nagoya maupun Waseda University, paper itu tetap tidak bisa diunduh. Artinya, memang hanya milik kalangan terbatas, hanya fakultas/kampus yang menjadi member yang bisa mengaksesnya. Tapi, abstak dari tulisan itu tetap dapat diakses, bahkan untuk kalangan non-akademisi sekalipun. Di sana, di bagian kesimpulan, tertulis hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap pertumbuhan fisik anak baik yang ibunya tetap maupun berhenti menyusui saat dalam kandungan. Rekomendasi akhirnya lebih memuaskan hati saya lagi: bahwa ibu-ibu yang menjalani NWP disarankan untuk tetap melanjutkan aktivitas menyusuinya selama kehamilan. Alasannya jelas, karena tidak ada perbedaan signifikan tadi.

Itulah sebabnya setiap orang tua, terutama ibu, itu harus cerdas. Melek informasi, melek teknologi itu gak cuma bisa chatting, fesbukan, atau jual-beli online. “Melek” itu artinya buka mata dan telinga, baca tulisan yang mencerahkan, baca tulisan yang ‘sahih’, baca yang BANYAK!

Paper tadi jelas-jelas mematahkan asumsi pertama; bahwa melanjutkan menyusui akan ‘mencederai’ janin. Mereka yang memojokkan berdasarkan mitos, ‘pengalaman’ yang tidak diukur dengan parameter ilmiah, maupun informasi terbatas yang belum terbarukan; harus dilawan. Eh, bukan maksudnya diajak berantem, loh. Kalau saya, sih, biasanya, kalau statemen negatif itu muncul dari mereka duluan, maka saya akan berusaha sebaik mungkin memberikan ‘counter’ berdasarkan sumber ilmiah tadi. Kecuali kalau mereka yang ‘bebal’ dan makin menjurus ke arah debat kusir, ya, tinggalin aja. Tinggal kita berdoa, semoga ia dan keluarganya kelak tercerahkan dengan semangat ASI yang sama.

Yang nomor 2, saya belum dapat bacaan ‘sahih’nya. Cuma, mari kita nalar dengan logika. ASI adalah makanan bayi yang dibentuk dari sari pati makanan terbaik yang dikonsumsi si ibu. Mungkinkah tiba-tiba ia ‘menjadi beracun’ lantaran si ibu hamil? Kalau iya, lha, ibunya dan janinnya yang akan terlebih dulu keracunan, dong. Kan, yang mengolah ‘racun’ itu ibunya. Dan karena saat NWP tubuh ibu memprioritaskan janin di atas produksi ASI, maka si janin juga akan ‘keracunan’. Benarkah? Jawabannya balik lagi ke paragraf di atas, yah.

Kalau berkurang JUMLAHnya, iya, mungkin. Sebab prioritas tadi, ASI jadi turun produksinya. Lagipula, pada usia kehamilan ke-4 atau 5 bulan, kolostrum mulai diproduksi. Daaan, apakah kolostrum itu? Ayooo, buka lagi kamus ASInya! Yang jelas, sudah jadi ‘sifat’ si kolostrum kalau ia yang berwarna bening itu ‘hanya’ diproduksi sedikit. Hayooo, ada yang berani bilang kalau si kolostrum ini ‘gak berguna’ atau bahkan ‘beracun’? Ets, saya jawabnya pendek aja: udah pernah liat iklan susu kolostrum gak di TV? Nah itu, itu jawabannya. *Sengaja digantung, biar pada mantengin TV liat iklat itu. Xixixi.*

Nah, kalau yang ke-3 gimana? Kalau tidak ada indikasi medis (yang harus juga dibuktikan secara klinis oleh pakar medis tentunya), saya cuma mau bilang: bukannya cuma enggan repot aja, bu?

Soalnya iya loh, NWP itu berat, beraaat banget. Saya awalnya sempet sering sakit kepala. Mungkin letih ya, karena semua makanan yang saya makan diserap oleh dua nyawa. Tapi dibantu dengan makanan sehat, madu, dan suplemen penambah darah, alhamdulillah semua terlewati. Memang awalnya cukup menguras energi dan emosi, karena baik saya, suami, daanish, maupun si janin kan masih dalam tahap penyesuaian diri. Kami masih mencari jalan. Begitu ‘pattern’nya dapet, semua senang, semua riang. Malah, cuma di fase NWP ini saya sanggup bikin cemilan buat keluarga 2-3 kali seminggu! Gila, yah! Apa ga cape? Ya, cape. Tapi sayanya juga jadi doyan ngemil yang enak-enak dan jarang ada jualannya, terus liat Daanish dan Yayahnya lahap banget, siapa yang ga meleleh coba? *wink plus blushing*

Jadi, kalau kita sehat, kandungan sehat, anak sehat, suami sehat, dan dokter menyatakan tidak ada komplikasi medis, mari lanjutkan menyusui selama hamil. Pastinya kondisi janin dan ibu tetap harus diobservasi ketat loh yaaa. So, yuk ah tetap semangat ASI. Tetap berjalan ‘on track’ selagi ada dasarnya. Tetap PD menyusui tapi rendah hati berbagi ilmu, sembari meyakinkan diri sendiri dan sekitar: kalau janin dan saya sehat, kenapa harus berhenti menyusui?

Semangat ASI! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s