[CeritASI] Kampanyenya Si Kakek-Nenek (1)

Heihooo! Saya bosen ah, nulis tentang NWP. Tar dikira galau melulu lagi.😀 Tulisan ini juga rikues sahabat di kantor. Begitu saya jawab pertanyaannya tentang gimana reaksi Papa-Mama saya soal keputusan ASIX kami, sontak dia bilang, “Itu, kenapa gak ditulis di blog, Ryk?” Lha, emang penting ya? “Penting,” katanya, “Kan mungkin gak cuma kamu aja yang ngalamin ditentang orang tua pada awalnya.”

Papa-Mama yang sudah hapal betul betapa kerasnya anak pertamanya saja, tetap maju-mundur mengusulkan ini dan itu yang gak sesuai dengan keinginan saya dan suami.Iya, sih, emang. Di dua grup ASI yang saya ikuti, cukup ramai juga pembahasan soal pertentangan ASI yang datang dari keluarga sendiri. Akan terasa makin berat, kalau gesekan itu dari orang tua atau mertua; dilawan keras salah, didiamkan juga gak bisa.

me-daan day1

Detik-detik awal dipertemukan dengan Daanish

Hari pertama Daanish lahir, Mama sudah meminta agar dia dirawat di ruang neonatus. Alasannya, supaya saya bisa istirahat total dan segera pulih. Saya sebenarnya keberatan, tapi akhirnya mengiyakan karena memang tubuh terasa remuk redam. Setelah beberapa menit berlalu, saya minta tolong suami mengecek ke ruang rawat bayi sekaligus menanyakan tentang mekanisme menyusu si bayi; apakah para suster mau bolak-balik antarkan bayi tiap bayi ingib menyusu, ataukah ayahnya yang dipanggil untuk membawa bayi bolak-balik, atau mereka bisa membantu memberikan ASIP ke bayi.

Nyatanya, pilihan terakhir itu sangat sulit. Hasil perah di hari pertama baru benar-benar membasahi dasar botol. Ya iyalah, kalau dipikir-pikir, ini kan ASI awal. Yup, si kolostrum itu. Mana mungkin langsung banjir deras bisa sampai 50-100 ml.

Pilihan pertama dan kedua juga dinafikkan. Mereka tidak sanggup bolak-balik panggil keluarga, apalagi bolak-balik bawa bayi tiap kali ia ingin menyusu. Kalau begini, program ASIX kami bisa gagal total. Akhirnya, suami berinisiatif membawa bayi kami kembali ke kamar dari ruang neonatus.

Begitu Daanish kembali itulah, Mama tampak kesal karena tidak dituruti. “Belum tau sih, rasanya ‘badan rontok’ setelah tua nanti,” imbuhnya. Setelah itu rentetan usahanya menggagalkan rooming-in saya dan Daanish kian gencar. Saya kesal, Mama juga. Terasa sekali kami seolah bermusuhan malam itu.

Pada kunjungan terakhir malam harinya, dokter kandungan memeriksa kondisi saya. Ia bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun saat memeriksa Daanish, ia menduga bayi saya kuning. Hanya menduga, lho. Dia kan DSOG, bukan DSA. Jadi sarannya adalah agar saya makin rajin menyusui, dan segera berkonsultasi dengan DSA esok hari. Memang, secara halus juga ia menawarkan untuk menambahkan sufor, tapi itu hanya jika ASI saya kurang.

Sayangnya, pernyataan dokter kandungan ini ditanggapi reaktif oleh keluarga saya. Daanish yang sering menangis mereka asumsikan sebagai kurang menyusu. ASIP yang belum banyak mereka indikasikan kuantitas yang kurang. ‘Dugaan kuning’ yang disebutkan oleh DSOG tadi, mereka anggap sebagai vonis final tentang tingginya kadar bilirubin.

Ama-ama saya (Pakde dan Bude kalau bahasa Jawanya) juga mengusulkan sufor dan rawat pisah. Mama makin misah-misuh. Suasana ruangan jadi tegang sekali. Melihat saya yang bersikukuh, Papa turun tangan. Dia bilang, simpan saja dulu sufornya, siapa tahu nanti tiba-tiba perlu. Jawaban yang terkesan menengahkan, namun bukan reaksi yang saya inginkan saat itu.

Mama dan Papa saya meradang; apa salahnya sih dengan sufor itu? Sufor juga bagus kok, dan bukan racun. Simpan saja dulu, toh kalau nantinya ASInya banyak, kan tinggal gak dipakai saja. “Tinggalin aja di situ, Sus, sama air panasnya. Siapa tau nanti diperlukan,” keputusan akhir Papa itu benar-benar membuat saya terluka. Sakit sekali rasanya.Tepat di tengah suasana panas itu, dua suster masuk dan dengan tanpa dosa memberikan ‘bingkisan’ sufor berikut satu rak perlengkapan bayi untuk rooming-in. “Saya tidak perlu sufor, Sus,” jawab saya ketus. Air mata sudah menitik satu demi satu di sudut mata ini. Butuh kekuatan, saya genggam tangan suami dan memintanya mendekatkan box bayi Daanish.

Buat saya, inilah tantangan awal ASIX itu: berjuang untuk tidak memberi ruang sejengkal pun buat keberadaan sufor. Tidak bahkan untuk sekadar jaga-jaga. Tidak dan tidak. Titik. Itu harga mati.

Melihat air mata yang kian menetes, suami saya maju, mengambil sufor itu, dan memberikannya ke dua suster tadi. “Dibawa aja, Sus, kami mau mengusahakan ASI ekslusif untuk bayi kami. Nanti kalau benar-benar perlu, kami cari sendiri,” tegas dan wibawa dalam suaranya membuat semua orang berhenti berdebat. Keputusan paling tinggi dan tak dapat diganggu-gugat keluar sudah; keputusan dari wali sang bayi; keputusan dari pemegang tanggung jawab penuh atasnya. Ayahnya.

Tapi tentu saja meskipun sufor itu dibawa pergi, tidak membuat suasana di ruang rawat inap itu jadi nyaman. Udara dengan hawa kesal yang tersimpan masih begitu terasa. Tapi, semua orang pilih tidak lagi mengungkit. Semua lelah, dan memilih untuk berusaha beristirahat. Semua juga masih terkagum-kagum dengan kelahiran bayi mungil di dalam box. Keberadaanya, membuat suasana lebih mudah mencair. Welcome to the world, baby boy!

yah-daan

Yayah dan Daanish tidur bareng di RS

Malamnya, karena letih akibat seharian tegang menunggui kelahiran putranya membuat suami tertidur pulas sekali. Sementara, Daanish begitu sering menangis. Pun, jahitan di hari pertama itu benar-benar membatasi ruang gerak saya. Saya butuh bantuan mengganti popok Daanish. Saya perlu bantuan menggendongkan Daanish dan meletakkannya ke sisi kiri atau kanan untuk menyusuinya. Saya butuh orang lain untuk menimang-nimang dan meninabobokkan Daanish kembali setelah ia menangis sesengukan.

Sambil menahan kesal, menahan rasa tak enak, dan macam-macam rasa hati itu, berkali-kali saya minta bantuan Mama yang juga menginap malam itu. Saya tidak lagi melihat gurat kesal di wajahnya. Meskipun wajah lelah tak mampu disembunyikannya. Tapi, saya tetap saja merasa kurang nyaman.

Untungnya, suami tiba-tiba terbangun sekitar pukul 2 pagi, saat Daanish kembali menangis keras. Ia yang menggantikan popok Daanish dan menggendongkan Daanish untuk saya susui. Ia bahkan terus-terusan terjaga hingga pagi untuk menggantikan ‘tugas’ Mama sebelumnya.

Paginya, Papa dan Mama pulang ke rumah. Mereka harus tetap masuk kantor. Baru sore hari mereka datang, dan pulang ke rumah malamnya. Begitu seterusnya hingga hari ke-4. Mereka tidak lagi menginap dan menunggui saya seharian. Sesekali, adik lelaki saya ikut menginap. Selebihnya, urusan saya, Daanish, dan RS diurus oleh suami.

Saya merasa sedikit sedih dan terabaikan sebenarnya. Pun mulai bertanya-tanya, apakah orang tua saya tersinggung dengan sikap kami? Apakah mereka kapok menginap lantaran keputusan kami yang seolah abai terhadap masukan mereka? Apakah cara kami kurang berkenan?

Namun, setelah dijalani, saya tidak lagi berpikir begitu. Perjalanan memberi Daanish ASI berjalan justru lebih lancar tanpa intervensi mereka. Yah, mungkin memang butuh waktu untuk meyakinkan mereka tentang proses ini. Dan jarak yang terbentuk sementara ini, semoga jadi ruang berpikir bagi dua belah pihak.

Harus berusaha keras melawan rasa sakit, kantuk, lelah, dan ketidakmengertian akan keberadaan bayi baru ini juga justru menguatkan bonding antara saya dan suami. Gesekan-gesekan sejak menit-menit pertama Daanish dipertemukan dengan saya, justru membuat kami merasa perlu menambah stok energi untuk bertahan. Inilah yang kelak ternyata menjadi salah satu kunci keberhasilan ASIX Daanish.

1 Comment

  1. pengen nangis baca ceritanya.. sempet ngerasain juga hampir sama

    Ryka—
    Halo, Mba Degita, salam kenal!
    Pas udah kerasa hasilnya gini, noleh ke belakang memang rasanya haru ya, Mba. Padahal saat2 pas berat2nya itu, duhh… rasanya kayak gak mungkin bisa terlewati. Syukurlah semua sudah lewat ya, Mba, tinggal mantepin semangat buat ke depannya. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s