[CeritASI] Kampanyenya Si Kakek-Nenek (2)

si bayi gembul yang sudah pintar menyusu meski gagal IMD :(

si bayi gembul yang sudah pintar menyusu meski gagal IMD😦

Tidak ada yang mampu mengalahkan ikatan keluarga. Sebab itulah, sepulang dari RS, sudah tidak ada lagi ketegangan yang tersisa. Gunung es sudah mencair. Kini, tiba saatnya semua mencurahkan segenap cintanya untuk Daanish. Saya begitu merasakan besarnya kasih sayang untuk cucu sekaligus keponakan pertama ini, dari orang tua dan adik-adik saya. How lucky you are, Daan. ^^

Tapi, apakah hari-hari ASIX berikutnya lancar jaya tanpa hambatan? Hohoho. Tentu tidak!😀

Daanish masih berusia 2-3 minggu waktu terkena oral candidiasis/oral thrush (selengkapnya dapat dibaca di: http://www.mayoclinic.com/health/oral-thrush/DS00408). Bibir dan lidahnya tertutup lapisan putih tebal yang kerap mengelupas dan meninggalkan jejak kemerahan. Sebenarnya ini penyakit lumrah. Bagi bayi ASI, kebersihan PD ibu harus menjadi perhatian. Saya harus rajin mengelap PD dengan lap yang sudah direndam air hangat sebelum dan sesudah menyusui. Pipi dan bibir bayi pun harus dibersihkan dari sisa air susu. Dalam kasus yang memburuk, DSA bisa saja memberikan obat tetes untuk meringankannya.

Tapi, inilah solusi yang diusulkan Kakek dan Neneknya Daanish: beri sesendok air putih tiap Daanish selesai menyusu dan oleskan madu di bibir si kecil. Lagi-lagi, ‘pertempuran’ kecil kami terjadi. Lamanya waktu yang diperlukan untuk penyembuhan Daanish, membuat mereka kian gencar mendesak. Pemberian air putih memang bisa sukses ditolak. Apa daya, beberapa kali bibir mungil Daanish sempat tersentuh olesan madu.

Neneknya Daanish juga tidak sepakat dengan kegiatan pumping saya. Nanti PDmu rusak. Lagipula, ASI berubah jadi darah kalau ditampung, ia tak bisa disimpan! Mereka tambah heran melihat saya mengumpulkan ASIP dalam botol, dan menyimpannya di freezer. Saya bahkan sempat khawatir, kalau diam-diam mereka akan membuangnya karena ketidaksetujuan itu. Karena ini aktivitas rutin, saya coba jelaskan sesederhana mungkin dan sesering mungkin. Buat si Kakek, sudah saya beberkan juga bukti ilmiah berikut rekomendasi WHO atau Unicef tentang ini. Meskipun belum mendukung, perlahan mereka tidak lagi mempertanyakan botol-botol ASIP yang tambah hari tambah banyak itu.

Karena tidak berani membawa bayi keluar rumah sampai usianya 2 bulan, 1-2 kali saya pernah meninggalkannya untuk belanja keperluan maupun kontrol rutin pasca operasi. Prosedur pemberian ASIP sudah saya ajarkan ke orang rumah, termasuk pengasuh Daanish. Melihat Daanish yang tenang dan semangat minum ASIP, ditambah tidak adanya komplikasi medis setelahnya, membuat hati mereka terbuka perlahan-lahan. Tidak ada lagi keributan soal ASIX. Sang Nenek bahkan kerap ikut sibuk menyiapkan wadah untuk botol ASIP (karena di kulkas masih bercampur dengan makanan lain), mensterilkan botol dan pompa, dan bahkan membeli kulkas baru agar ASIP yang kian banyak itu punya ruang penyimpanan yang cukup.

Saya sesekali juga mendengar kalau Sang Nenek mengobrol dengan tetangga atau teman kantornya, bahwa cucunya hanya minum ASI saja. Karena Daanish pertumbuhan fisiknya juga sangat baik dan termasuk ‘gembul’ dibanding bayi-bayi lain, Neneknya pun mulai merasakan dan berbagi manfaat ASI ke lingkungan sekitarnya.

Sesekali, kami masih berseberangan pikir. Mama meminta saya juga memberikan sufor ke Daanish beberapa waktu sebelum mulai bekerja. Alasannya, supaya Daanish bisa ditinggal dan antisipasi kurangnya ASI. Untunglah jalan tengahnya ada; nyatanya Daanish bisa ditinggal dengan diminumkan ASIP saat saya belanja atau kontrol tadi, dan kuantitas ASIP dalam kulkas yang kian bertambah. Tidak perlu panjang kami berdebat, masalah ini pun selesai.

Dengan pemahaman akan ASI yang kian membaik pun, mereka tetap pernah melakukan pelanggaran atas regulasi ASIX kami. Suatu hari, Neneknya makan semangka, dan meskipun tidak diberi makan, Daanish dicicipkan semangka itu. Daanish kecil pun menjilat-jilat semangka merah yang disodorkan padanya. Kakeknya? Malah tertawa melihat ekspresi Daanish yang lucu. Kontan saya tegur mereka, dan mengulangi bahwa sampai 6 bulan, setetespun atau sebutirpun makanan dan minuman tak boleh mampir ke mulut Daanish.

Bagaimana perubahan Kakek dan Nenek setelah hari demi hari berlalu?

Mereka ikut sibuk lho, saat pengepakan ASIP di kloter terakhir yang pernah saya ceritakan itu. Ikut susun-susun ASIP dan es batu dalam cooler bag, ikut bungkus-bungkus plastik supaya lebih tahan panas, ikut tata-tata ASIP di mobil, dan ikut penasaran sama keadaan ASIP-ASIP itu setibanya di Bekasi. Yeay! Kampanye sukses!

Sang Nenek tetap heboh kalau sudah cerita tentang BB Daanish yang terus naik berkat ASI. Kalau si Kakek, apa kabar ya?

Asyik, dipangku Kakek!

Asyik, dipangku Kakek!

Kakek yang bekerja di Dinas Tenaga Kerja bagian pengawasan ketenagakerjaan terutama pekerja anak dan wanita, ternyata sudah lebih jauh berkampanye ASI. Dalam kegiatan koordinasinya dengan Dinas Kesehatan, beliau sempat bertukar pikiran tentang program penyebarluasan kesadaran ASI yang dijalankan oleh Dinkes ke seluruh lapisan masyarakat. Perlunya dukungan dari instansi maupun perusahaan tempat ibu bekerja adalah hal penting dalam suksesnya pemberian ASI. Spontan, Kakeknya Daanish ini mempromosikan saya. *hasyaaaah, GR! Beneran loh! Beliau menawarkan untuk melibatkan saya selaku ibu ASI yang bisa tetap terus perah dan memberikan ASI untuk Daanish meskipun sudah mulai bekerja. Bahkan, sang Kakek juga ‘menjual’ gerakan kampanye ASI kecil-kecilan yang saya upayakan; mulai dari pumping bareng di ruang laktasi, blog ASI, hingga promosi ASI kepada teman-teman dekat. Wow banget, kan.

Begitulah. Sosok yang tadinya bersikukuh untuk meninggalkan sufor di ruang rawat RS dengan alasan untuk jaga-jaga, yang menyarankan madu dan air putih, yang tidak merasa ada yang salah dengan menyuruh Daanish menjilati semangka dalam fase ASIXnya itu, berubah drastis! Ia yang jadi perpanjangan tangan saya untuk menjamah ranah yang tidak bisa saya tembus. Ia yang sangat mendukung kampanye ASI saya lewat FB maupun di darat saat pulang kampung. Ia yang kini bukan hanya percaya tapi juga berusaha membuat orang lain percaya akan pentingnya ASIX dan hebatnya ASI bagi tumbuh kembang anak. Ah, so proud of you, Pa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s