[CeritASI] Di Atas Kertas, Kami Gagal ASIX: Tahu-tahu Dicekoki Sufor Tanpa Pemberitahuan :( (1)

Ini akan jadi serial baru dalam tagline ‘CeritASI’. Agak sulit untuk memulainya. Sebab, serial ini akan dibuka dengan pengalaman paling getir selama kami mengusahakan ASI untuk Daanish. Satu titik di mana kami selalu merasa sakit ketika mengingatnya lagi; satu fase yang menorehkan luka dalam. Pun, kami buka kegagalan ini pada khalayak, karena kami percaya, ada hikmah di sana. Karena kami ingin, para Ayah Ibu pejuang ASI di sana tidak akan pernah lagi mengalami kegetiran ini.

(untuk selanjutnya kata ganti “kami” akan diganti menjadi “saya”, karena penuturnya adalah saya, Ibubunnya Daanish)

Di tulisan pertama ini, ijinkan saya meneruskan email yang saya tulis ketika Daanish baru berusia lima hari. Aksara di dalamnya begitu berat, ditulis berbarengan dengan air mata yang sulit berhenti menetes. Saya mengumpulkan tiap keping puing semangat yang hancur berantakan, dan berkirim keluh kepada milis asiforbaby@yahoogroups.com; sebuah komunitas yang dinaungi langsung oleh AIMI. Tujuannya satu: agar saya tau ke mana lagi harus melangkah.

—–

From: “ryka” <lolita_ry@…>
Subject: Tau2 dicekoki sufor tanpa pemberitahuan😦
Date: Thu, 05 Jan 2012 17:22:42 -0000
To: asiforbaby@yahoogroups.com

Bunda dan Ayah ASI, perkenalkan, nama saya Ryka. Saya mau curhat boleh yah. Mohon masukannya juga kalo ga keberatan.

Alhamdulillah tgl 1 kemarin, putra pertama kami telah melihat dunia melalui proses SC akibat plasenta previa totalis. IMD yg sdh diiyakan dokter terpaksa gagal dilakukan karena saya mendadak butuh penangangan khusus terkaitkelainan letak plasenta tersebut dan mengalami pendarahan hebat karenanya. Melihat itikad baik DSOG sudah cukup terlihat, hal
ini akhirnya saya ‘maafkan’ dengan berjanji pada si kecil bahwa kelak, untuk urusan ASIXnya, apapun akan saya lakukan.

Si DSOG pun mendukung niat ini, beliau pun tidak serta merta memerintahkan tambahan sufor
begitu melihat si kecil agak kuning, tapi justru memotivasi untuk sesering
mungkin memberikan ASI. Saya sangat bersyukur untuk ini.

Meskipun operasi berjalan cukup panjang dan obat bius yg pun berkali-kali ditambah, saya tetap memaksakan diri untuk rawat gabung dengan si bayi. Kesadaran saya belum pulih benar, tapi untuk bolak balik antar asi ke ruang bayi lebih tak mungkin, sebab meski ASI sudah keluar, belum bisa dipompa.

Bismillah, dengan sisa-sisa tenaga, kesadaran yang naik turun, nyeri bekas
operasi yang terus berdenyut, dan jumlah ASI yg masih minim, rawat
gabung dapat terlewati. Hingga akhirnya tanggal 4 Januari 2013 kami semua bisa melambaikan salam
perpisahan pada RS tempat si kecil lahir.

Pengkhianatan paling menyakitkan selama saya hidup hingga hari ini, adalah ketika mengetahui bahwa pihak RS ternyata pernah memberikan sufor pada si kecil. Hal ini baru kami tahu ketika akan berpamitan pada suster-suster di ruang rawat bayi (neonatus),
sesaat sebelum kami meninggalkan RS. Ada beberapa laporan perkembangan bayi, rujukan dokter dan kassa untuk tali pusar bayi yang mereka serahkan. Bersama dengan itu, yang mengejutkan, sekaleng sufor yang sudah dibuka segelnya pun disodorkan. “Itu sisanya,” kata salah satu dari mereka. “Silahkan dibawa untuk diteruskan di rumah,” ia menutup pembicaraan kami.

Sisa? Sisa apa? Apa-apaan dengan kaleng ini?

Langit terasa runtuh bersamaan dengan gemetar hebat di lutut saya. Padahal sejak
mengazankan si bayi, berkali-kali suami sudah menyatakan kepada setiap nakes di RS, bahwa kami ingin ASIX, dan diiyakan termasuk oleh para suster itu.. Di kartu nama tanda pengenal pada boks bayi pun jelas2 tertulis: ASI
Ekslusif. Penanda yg tadinya membuat kami yakin semua sudah berjalan sesuai kesepakatan.

Yang bisa saya lakukan detik berikutnya adalah menatap nanar ke arah dua suster senior di hadapan saya, dan berusaha keras untuk tidak menampar keduanya. Dengan suara berat dan sarat getaran menahan tangis, Saya ungkapkan dengan sangat gamblang tentang kekecewaan saya. Saya tambahkan pengetahuan saya tentang diwajibkannya RS meminta pernyataan tertulis tentang persetujuan pemberian sufor sebelum secara sepihak memberikannya pada bayi. Ini jangankan yang tertulis, secara lisan pun mereka tidak pernah minta persetujuan, bahkan memberi
tahu pun tidak! Kami benar2 terluka, dan buat kami tindakan mereka terlalu
jahat! Culas!

Nasi memang sudah jadi bubur. Tapi saya berharap ada yang bisa kami lakukan. Menurut member milis sekalian, langkah apa yang sebaiknya kami ambil, agar setidaknya
ada efek jera di pihak-pihak yg melakukan kesalahan di RS tsb? Mohon masukannya, yah.
Kalau ada yang punya solusi yg baik tapi tegas saya mohon sarannya juga
yah.

Terima kasih banyak sebelumnya.

Ryka

Nanti, di tulisan berikutnya akan saya ceritakan cerita lengkap tentang duka ini. Tentang perasaan saya yang merasa “sangat gagal” di usia Daanish yang baru tiga hari. Berkali-kali saya menciuminya dan menahan sesak; saya ingin memohon maaf darinya, atas kesalahan dan kelalaian ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s