[CeritASI] Di Atas Kertas, Kami Gagal ASIX: Tahu-tahu Dicekoki Sufor Tanpa Pemberitahuan :( (2)

Ada puluhan email merespon curhatan saya di milis “asiforbaby”; artinya, ada begitu banyak sumbangan kekuatan yang meneguhkan, sebagian malah berupa doa.

Sebagian dari pembaca tulisan saya sebelumnya, mungkin turut merasakan ‘sakit’ seperti yang saya rasakan. Sebagian lain mungkin merasa saya terlalu ‘lebay’. Ah, gara-gara sufor seuprit doang?

Saya tidak peduli reaksi orang, apalagi yang negatif. Saya peduli pada mereka yang memang ‘sehati’ untuk urusan ini.

Saya tidak mencari suaka lagi, sebab begitu banyak orang sudah memberi saya dukungan yang luar biasa.

Tapi, ijinkan saya bercerita sedikit. Tentang satu hari di mana dalam keadaan saya yang separuh sadar, seorang bayi dikeluarkan perlahan dari rahim saya. Tanpa kacamata dan kesadaran yang baik turun, saya tidak mampu melihatnya dengan jelas. Saya cuma ingat makhluk itu bercahaya; sinarnya melambai dan membuat saya yang menggigil di ruang operasi merasa begitu hangat. Begitu melihatnya, ketakutan akan bayangan kematian begitu memasuki ruang operasi itu pupus sudah. Saya siap menghadapi apapun sekarang.

Lama saya menunggu usainya segala tetek bengek di ruang serba putih itu. Selama itu pula saya menanti; di mana bayi saya? Kenapa ia tidak diletakkan di dada saya untuk mencari sendiri sumber kehidupannya? Kenapa kesepakatan IMD dengan RS dan dokter gagal?

Sesaat sebelum dipindahkan ke ruang observasi, saya sempat bertanya lemah: “Jadi, kapan saya bisa IMD, Dok?” Saya yang separuh sadar dan begitu lemah, tidak tahu kalau empat jam sudah berlalu, dan tidak ada lagi IMD setelah jeda sepanjang itu.

Mereka menjelaskan soal pendarahan hebat, dua kantong darah, kesulitan paramedis untuk menghentikan pendarahan, titik kritis saya, dan sebagainya yang membuat IMD gagal dilakukan. Saya sedih, tapi mungkin inilah jalannya. Saya bertekad, meskipun gagal IMD, bayi saya kelak harus bisa ASI eksklusif. Harus!

Daanish dibawa ke kamar rawat inap dan dipertemukan dengan saya, dan keluarga besar yang datang, pada sekitar pukul setengah 5 sore. Ia sendiri lahir pukul 12.55, tanggal 1 Januari 2013. Ia datang dalam keadaan bersih, harum, dan tertidur sangat pulas. Lelahkah ia setelah melewati perjalanan panjang untuk membuatnya terhubung dengan dunia? Mengapa ia tertidur begitu pulas, tidakkah ia lapar ataupun haus? Pertanyaan-pertanyaan itu cuma mampir sekelebat, kalah oleh gegap gempita akan hadirnya. Pun, kalah oleh beratnya mata saya dan nyeri yang mulai terasa saat obat bius perlahan berkurang daya kerjanya.

Tak lama, ia yang dibaringkan di sisi kanan saya mulai menggeliat lucu. Seakan tau yang diinginkannya. Saya pun terlonjak gembira. Aha! Ini dia waktunya. Inilah saat yang saya tunggu-tunggu itu: menyusui perdana. Ya, saya menyusui untuk pertama kalinya seumur hidup!

Nyatanya, menyusui dalam keadaan habis operasi itu tidaklah mudah. Sakit sekali rasa nyeri di bagian perut itu. Kaki yang kebas, membuat saya tidak sanggup memiringkan tubuh dengan tenaga sendiri. Sambil dibantu suami, juga sambil gemetar menahan sakit, saya cangklongkan tangan di pinggiran tempat tidur. Semaksimal mungkin saya miringkan tubuh ini meski nyeri dan ngilu sembilu justru kian menyayat-nyayat.

Tahu apa ganjaran dari semua proses awal ini? Air mata. Ya, air mata bahagia ketika pertama kali merasakan sensasi menyusui itu. Dan, yes, karena saya juga gak langsung ‘jago’ dari awal, tentu saja perlekatan menyusui si bayi belum benar. Bisa ditebak yang terjadi berikutnya, puting nyeri! Tapi suer, saya gak kapok!

Hari pertama dan ke dua memang paling berat. Tidak cuma pasal penyesuaian, kehilangan darah membuat saya masih harus menerima transfusi darah. Satu jarum untuk darah, ditambah lagi dengan dua tusukan jarum infus. Demi menyusui, salah posisi kerap membuat letak jarum bergeser; luka dan jarum lepas sudah berulang kali terjadi. Tidak apa, saya yang menginginkan demikian.

Mungkin karena operasi caesar anak pertama, proses pemulihannya terasa lama sekali. Empat hari di rumah sakit, saya baru bisa duduk di hari ke-3, dan berjalan di hari ke-4. Rasanya, separuh badan yang mati rasa itu pun baru sepenuhnya berfungsi di hari terakhir. Tapi tak apa, sakit itu terbayar lunas: Daanish bisa full ASI.

Maka, tidak terkatakan pedihnya di saat detik-detik akhir meninggalkan RS dan mengetahui bahwa ‘mereka’ sempat memberi sufor pada Daanish. Ingat, tanpa pemberitahuan lisan, apalagi permintaan perserujuan tulisan di atas materai.

Di hari itu, saya merasa gagal. Di hari itu, saya merasa perjuangan empat hari kemarin sia-sia belaka. Di hari itu, saya gamang. Begitu gamang sehingga jalan di depan tampak kosong.

Jadi, jangan bilang ‘cuma sedikit sufor’ di depan saya. Berikan saja sufor pada mereka yang memang mengiyakan untuk itu, jangan pada anak saya. Kalau memang saya ikhlas dengan ‘cuma sedikit sufor’ itu, untuk apa berbantah-bantahan dengan orang tua sendiri? Untuk apa separuh tubuh kebas yang lukanya menyayat itu dipaksakan sejak mula untuk memberikan ASI pada si bayi? Tolong, jangan bilang ‘cuma’; tidak berarti buat orang lain, tapi luar biasa maknanya buat saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s