Setelah Lulus S3 ASI, Perlukah Susu Tambahan? (2)

Ini janji saya me-repost tulisan-tulisan di FB fan page Pak Wied Harry tentang susu. Tulisan-tulisannya mungkin agak menyebrang dari paradigma yang lama tertanam di otak kita: bahwa susu adalah makanan baik yang mampu melengkapi kebutuhan nutrisi kita. Sebagian dari kita malah berpikir, bahwa susu adalah asupan wajib, karena saking baiknya kandungan di dalamnya. Bu, Pak, mungkin kita pernah ditanya atau bertanya begini, “Eh, anaknya minum susu apa? Lho, gak minum susu sama sekali gapapa tuh? Gantinya susu A susu apa? Bumil/busui bagusnya minum susu apa, ya? Serius, kamu gak minum susu sama sekali?” dan sebagainya dan sebagainya.

Ya, kita kerap merasa heran akan absennya keberadaan susu si “super hero” itu dalam daftar makanan keluarga sehari-hari. Lalu, seringnya kita akan berpusing-pusing ria untuk mencari substitusinya bila si super hero itu tak ada.

Sebagai perkenalan yang mungkin akan agak membuat kita tercengang, saya copy-kan tulisan Pak Wied ini.

***

PRODUK OLAHAN SUSU
Dikutip sesuai aslinya dari buku THE pH MIRACLE* oleh Robert O. Young, Ph.D., D.Sc. dan Shelley Redford Young, L.M.T., hal. 106-111

Seperti kebanyakan makanan hewani, produk susu mengandung residu hormon dan pestisida, mikroba, mycotoxin, dan lemak jenuh. Lapisan di atas semua gula susu (laktosa) terurai seperti gula dan menjadi makanan bagi mikroba berbahaya. Sapi perah memakan biji-bijian yang disimpan dan dicampur dengan hormon dan antibiotik yang dibuat dengan jamur, yang kemudian terkonsentrasi dalam susu. Kemudian, keju dan yogurt juga dibuat melalui proses fermentasi. Dan, susu adalah pemimpin dari semua jenis makanan yang membentuk lendir lengket. SUSU SANGAT MEMBENTUK ASAM. SUSU DAPAT MENINGKATKAN RISIKO KANKER, TERMASUK KANKER OVARIUM DAN KANKER ENDOMETRIUM. Selanjutnya, pasteurisasi menghancurkan enzim bermanfaat yang dimiliki susu. Dan, bahkan, pasteurisasi tidak benar-benar bekerja! Susu yang dipasteurisasi, jika ditinggalkan (Wied Harry: terjemahannya mestinya *didiamkan*) akan membusuk dan berbau, sedangkan susu “mentah” (Wied Harry: maksudnya yang lebih tepat –mungkin- *susu perah segar*) mengental secara alami dan masih layak dikonsumsi.

Dengan semua itu sebagai dasar rekomendasi susu, Anda bisa melihat mengapa semua produk susu harus dihilangkan dari diet Anda (Wied Harry: diet = pola makan). Cobalah susu kedelai, susu almon, atau susu beras sebagai alternatif (meskipun Anda tetap harus hati-hati untuk menghindari sebagian besar produk yang diberi gula tambahan). Jika Anda harus mengonsumsi susu, pilih susu kambing yang belum diproses, yang berasal dari kambing yang diternakkan dan digembalakan secara organik. Susu kambing tersebut mengandung asam caprylic antijamur (Wied Harry: caprylic = kaprilat).

Tidak masalah berapa kali Anda diberi tahu oleh guru dan orangtua untuk minum susu, dan terlepas dari iklan dengan kumis susu yang lucu, gagasan bahwa produk susu (itu) sehat adalah murni dibesar-besarkan – sebuah mitos budaya. Bahkan, jika sapi tinggal di semacam utopia sapi dan menghasilkan susu yang sempurna, mari kita hadapi. Susu sapi bukanlah makanan manusia. SUSU SAPI DIRANCANG UNTUK BAYI SAPI, YANG MEMILIKI PERSYARATAN YANG JAUH BERBEDA DENGAN MANUSIA. SUSU PENUH (WIED HARRY: SUSU PENUH = WHOLE MILK, SUSU BERLEMAK) DENGAN KOMPONEN YANG TIDAK BERGUNA BAGI KITA, dan tidak seharusnya dikonversi untuk digunakan (membuang-buang sumber daya tubuh kita dalam memprosesnya) atau dihilangkan sebagai racun. Tidak ada spesies hewan lain minum susu di luar masa kanak-kanak – dan tentu saja bukan dari spesies di luar mereka sendiri!

Susu hanyalah awal dari masalah. Fakta: dibutuhkan 5 kg susu untuk membuat 0,5 kg keju keras, 6 kg susu untuk 0,5 kg es krim, dan lebih dari 10 kg susu untuk membuat 0,5 kg mentega. INGAT BAHWA DIBUTUHGKAN 20 BAGIAN BASA UNTUK MENETRALKAN 1 BAGIAN ASAM. Bayangkan saja apa yang diperlukan untuk melawan efek dari sumber asam yang begitu terkonsentrasi! Jika diperlukan 20 cangkir basa untuk menetralisasi 1 gelas susu, Anda akan memerlukan 12 kali lipat – 240 cangkir atau 15 galon! – untuk menetralkan secangkir es krim.

Tidak heran begitu banyak orang yang kesehatannya begitu buruk dengan mengonsumsi produk-produk olahan susu. Tidak heran begitu banyak orang yang menderita osteoporosis, sementara masih meminum begitu banyak susu. Tak heran begitu banyak orang yang alergi terhadap produk olahan susu, atau tidak tahan terhadap laktosa. Tidak heran orang bisa menambah berat badan dengan cepat dengan makan produk olahan susudan kehilangan berat badan dengan cepat begitu mereka berhenti mengonsumsi makanan yang sangat terkonsentrasi tersebut. Produk olahan susu terlalu terkonsentrasi, dan menjadi ultra-asam dalam aliran darah.

ULASAN WIED HARRY:
Setelah membaca uraian sisi lain susu, masihkah tertanam kuat dalam benak dan pikiran kita sebagai orangtua untuk mewajibkan anak-anak kita minum susu, jika susu justru membuat pH tubuhnya menjadi ultra-asam alias sangat-sangat-sangat asam? pH tubuh – meliputi pH darah dan jaringan – yang terlalu asam menjadi biang kerok munculnya beragam jenis gangguan kesehatan dan penyakit, seperti alergi, asma, kegemukan, gangguan emosi, eksem, dll. pH terlalu asam mengakibatkan peningkatan konsentrasi darah alias pengentalan darah, sehingga organ-organ tubuh dan seluruh sel tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Untuk membuat konsentrasi darah normal kembali, diperlukan makanan-minuman pembentuk basa sebagai penetral, yakni buah-buahan segar, sayur-sayuran segar, termasuk – terutama – jus sayuran, khususnya jus sayuran hijau karena sifatnya sangat basa, dengan tingkat kebasaan/pH mendekati 10. Penulis dari buku yang saya kutip ini menjelaskan bahwa untuk “… menetralkan konsumsi 1 bagian makanan/minuman pembentuk asam diperlukan 20 bagian makanan/minuman pembentuk basa untuk menetralkannya”. Anda sanggup?

2 Comments

  1. Wow…ternyata,,,dibalik propaganda susu ada sisi lain yang harus menjadi perhatian…
    “SUSU SAPI DIRANCANG UNTUK BAYI SAPI, YANG MEMILIKI PERSYARATAN YANG JAUH BERBEDA DENGAN MANUSIA.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s