[CeritASI] [NWP-Story] Sapih Temporer Daanish (2)


Menyapih mendadak ternyata memang berat. Berat bagi Ibu, anak, dan tentu saja Ayah. Ini membuat saya kian paham, mengapa menyapih itu perlu proses panjang, yang ga sama antar keluarga yg menjalaninya, mengapa menyapih itu perlu keikhlasan penuh dan tentunya cinta dan kesabaran tanpa batas. Ya, menyapih memang proses yang harus melibatkan cinta; that’s why we call it Weaning With Love (WWL).

Sudah berusaha sounding baik-baik aja, belum tentu anak langsung rela dan ikhlas melepas teman kesayangannya itu. Apalagi kalau dipaksa, apalagi kalau pakai ancaman, apalagi kalau pakai acara bohong, apalagi (naudzubillah) kalau minta bantuan dukun segala. Serius, ini ada loh kasusnya. Seorang ibu pernah terang-terangan sharing di sebuah group yang saya ikuti; bayinya dikasih air putih yang sudah didoakan orang pintar, katanya. Wow… wowww… dikira anaknya diganggu makhluk non-manusia apa ya? *urut dada*

Pada malam-malam awal, proses sapih mendadak ini benar-benar butuh sosok Ayah. Ya, saat bisikan-bisikan halus saya belum didengar telinga Daanish, yang ada ia bertambah gusar dan marah; kenapa begitu mendadak? Tentu saja beberapa kali saya mengalah lalu kemudian menyusuinya lagi, tapi mengalah berarti membahayakan adiknya. Maka, saya tidak bisa selalu mengalah.

Ada banyak malam di mana kenyamanan Daanish menjemput kantuk dengan menyusu digantikan dengan gendongan plus tepukan berjam-jam di bahu Yayahnya. ‘Dongbok”, begitu Yayahnya membahasakan ‘gendong terus bobok’ ke Daanish. Ini menggantikan istilah ‘nenbok’ yang sebelumnya sudah amat lekat di tiap jelang tidur si Raka.

Saya bukan tidak mau paham betapa sudah lelahnya tubuh Yayahnya Daanish setelah seharian bekerja. Belum lagi agenda rapat, persiapan presentasi, sampai ke masalah di pabrik yang kadang memaksanya untuk pulang cukup larut. Saya paham. Tapi, kesepakatan kamilah yang akhirnya menunjukkan jalan ini. Bahwa saya harus stop gendong Daanish dan bahwa proses sapih temporer harus segera dieksekusi.

Saya sedih, jujur saja. Melihat suami yang sambil terkantuk-kantuk dan merajam lelah, menggendong si sulung. Tepukan lembutnya tidak pernah beralih menjadi sentuhan kasar karena gusar. Kesabarannya membumbung makin tinggi tiap kali lengking tangisan Daanish meledak. Allah, saya terluka melihat Daanish tampak terluka. Saya merasa sampah saat hanya mampu terduduk sementara mereka beradu emosi demi sejumput kenyamanan menjemput mimpi.

Tapi saya kuat-kuatkan; Allah takdirkan kehadiran Daanish, dan dengan takdirnya pula janin ini terus bertumbuh sehat. Ikhtiar sudah berusaha kami genapkan, kesabaran tengah berupaya kami sandingkan. Maka Allah adalah sebaik-baik penentu hasilnya.

Satu minggu lebih berlalu, Daanish tampak mulai menerima keadaan ini. Beberapa kali, ia mulai terbiasa tidur tanpa nenen dan tanpa gendongan. Tengah malam pun sudah lama terbebas dari keinginan untuk menyusu, digantikan dengan minum air putih di gelas-gelas kesayangannya. Dua minggu berlalu, dan Daanish akhirnya benar-benar lupa akan teman tidurnya. Tidak malam, pagi, siang, atau sore, ia sudah tidak lagi merengek. Kalaupun sesekali meminta, dengan mengusap kepala dan membisikkan kata-kata lembut saja, ia sudah paham. “Sabar, Nak, nanti kalau Dedek sudah lahir, Daanish boleh kok nen lagi. Bukan, bukan stop selamanya ya, Sayang,” perlahan tapi pasti, saya tahu kalau Daanish mulai mengerti maksud kalimat-kalimat ini.

Ketika saya cerita ke teman tentang niat tandem nursing, pertanyaanya membuat saya terhenyak, “Setelah disapih, apa nantinya Daanish mau nenen lagi?”

Well, itu yang akan saya cari tahu setelah melahirkan nanti. Untuk sekarang, cuma ada rasa syukur yang teramat; karena Allah membuat pemahaman yang mudah untuk Daanish supaya ia lebih mudah menerima proses sapih sementara ini dan karena Allah telah mengirimkan partner yang luar biasa, yang tidak cuma selalu menjadi pendukung terdepan tapi juga penolong paling handal. Sungguh, tanpa suami yang sedemikian mengangumkan ini, tak mungkin proses ASIX hingga sapih Daanish bisa terlewati dengan begitu manis. Terima kasih sudah menjadi AyahASI dengan caramu sendiri, Mas! Meski tidak banjir informasi tentang ASI, meski tidak berkicau kampanye ASI di socmed, meski tidak sanggup menemani saya menyusui dan pumping tengah malam; dia selalu punya caranya sendiri yang ‘all-out’ dan bikin saya termehek-mehek demi melihat dukungannya. *hapus air mata haru*

Oke, mari kita tuntaskan program ‘sudden and temporary weaning’ ini dan lihat hasilnya nanti ya, Yayah&Daanish! ^^

20130904-193802.jpg

[CeritASI] [NWP-Story] Sapih Temporer Daanish (1)


Akhirnyaaa… Mulai kemarin saya resmi menikmati cuti bersalin. Tsaaah… Indahnya, bisa ongkang-ongkang kaki deh di rumah. 😀 Dan karena di kehamilan ke dua ini saya kurang produktif menulis, saya coba mulai nulis ringan di masa cuti ini. Ga tau yaa sampe kapan. Kalo si kecil udah lahir, masih bisa nulis-nulis ga yah?

Masih tentang cerita seputar NWP. Tepatnya, keputusan dadakan sejak beberapa hari sebelum lebaran terkait NWP ini. Begini, kami kan berupaya supaya bisa VBAC (Vaginal Birth After Caesarean atau partus normal setelah riwayat operasi caesar sebelumnya). Nah, ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi supaya niat ini bisa berjalan mulus. Karena saya lagi males browsing yang kelewat ilmiah banget, saya rangkum singkat hasil konsultasi dengan dua DSOG cantik favorit saya di 2 RS berbeda yah.

Syarat VBAC:
– Jarak antar kelahiran (bukan kelahiran dengan kehamilan loh ya) minimal 18 bulan (kata dr. Wulandari di RSIA Hermina Galaxy, ini hasil riset terbaru). Bukan jarak 2 tahun seperti yang kita tahu selama ini.
– Ketebalan dinding rahim di area bekas operasi (SBR= Segmen Bawah Rahim) minimal 3,5 cm.
– Sebelum muncul kontraksi, kepala bayi harus terlebih dahulu “engaged” di jalan lahir. Gak boleh kebalik. Kalau keduluan kontraksi sementara kepala bayi belum turun, justru bisa bahaya buat bayi dan ibu. Kontraksi akan mendorong bayi keluar, sementara kepala bayi yang belun turun bisa bikin bayi cari jalan termudah untuk keluar. Yep, dia bisa salah keluar paksa lewat luka bekas operasi sebelumnya. “Ruptur” namanya. Ini bisa bikin bayi meninggal, dan berpotensi bikin ibu pendarahan juga.
– Harus terjadi kontraksi diiringi pembukaan dari 1-10 secara alami, tidak boleh ada tindakan induksi.
– Berat bayi tidak melebihi berat bayi yang dilahirkan sebelumnya, atau sebaiknya tidak terlalu besar (sekitar 3kg).
– Syarat lainnya sama dengan persalinan normal lainnya, seperti ukuran panggul, posisi bayi, dll.

Err… cuma itu yang saya ingat. Kalau ga salah ada juga syarat tentang teknik operasi sebelumnya. Tapi soal ini ga terlalu dibahas sama dua dokter saya. Mungkin karena di zaman sekarang, asalkan melahirkan di RS yang peralatannya menunjang, hampir niscaya kalau proses operasi dan penjahitannya sudah dilakukan dengan cara paling minim resiko dan paling cepat proses pemulihannya.

Lihat poin no 3 deh. Jadi, sampai usia kandungan 37 minggu, kepala bayi belum juga turun di rahim saya. Dokter bilang, harusnya anak ke dua bisa lebih cepat, tidak perlu tunggu sampai 38-39 minggu. Dan, kalau terus-terusan begini, dia khawatir terjadi ruptus tadi. Saya diminta segera menghubungi RS begitu terasa kontraksi atau nyeri di daerah luka operasi. Kesimpulannya: saya harus minta si kecil turun perlahan-lahan ke panggul dan mencapai posisi “engaged”, sementara saya harus pula menghindari faktor pencetus kontraksi.

Nah, karena NWP memang sering kali memicu kontraksi, kami putuskan untuk menyapih Daanish secepatnya. Oke, akhirnya saya memang gagal full WWL (Weaning With Love; menyapih dengan cinta), tapi saya melakukannya dengan niat hanya sementara. Untuk satu bulan ini, sampai adiknya Daanish lahir. Selanjutnya, insyaAllah, saya berencana tandem nursing hingga Daanish memasuki gerbang masa sapih sebenarnya.

Satu minggu pertama proses sapih adalah masa-masa paling berat. Saya sering kali menahan air mata; demi merasakan sedih di wajah Daanish. Saya mulai (lagi) menyalahkan diri sendiri. Saya mulai (lagi) merasa ga adil ke Daanish. Saya mulai limbung, lagi dan lagi. Apakah keputusan kami salah?