[CeritASI] [NWP-Story] Sapih Temporer Daanish (1)

Akhirnyaaa… Mulai kemarin saya resmi menikmati cuti bersalin. Tsaaah… Indahnya, bisa ongkang-ongkang kaki deh di rumah.πŸ˜€ Dan karena di kehamilan ke dua ini saya kurang produktif menulis, saya coba mulai nulis ringan di masa cuti ini. Ga tau yaa sampe kapan. Kalo si kecil udah lahir, masih bisa nulis-nulis ga yah?

Masih tentang cerita seputar NWP. Tepatnya, keputusan dadakan sejak beberapa hari sebelum lebaran terkait NWP ini. Begini, kami kan berupaya supaya bisa VBAC (Vaginal Birth After Caesarean atau partus normal setelah riwayat operasi caesar sebelumnya). Nah, ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi supaya niat ini bisa berjalan mulus. Karena saya lagi males browsing yang kelewat ilmiah banget, saya rangkum singkat hasil konsultasi dengan dua DSOG cantik favorit saya di 2 RS berbeda yah.

Syarat VBAC:
– Jarak antar kelahiran (bukan kelahiran dengan kehamilan loh ya) minimal 18 bulan (kata dr. Wulandari di RSIA Hermina Galaxy, ini hasil riset terbaru). Bukan jarak 2 tahun seperti yang kita tahu selama ini.
– Ketebalan dinding rahim di area bekas operasi (SBR= Segmen Bawah Rahim) minimal 3,5 cm.
– Sebelum muncul kontraksi, kepala bayi harus terlebih dahulu “engaged” di jalan lahir. Gak boleh kebalik. Kalau keduluan kontraksi sementara kepala bayi belum turun, justru bisa bahaya buat bayi dan ibu. Kontraksi akan mendorong bayi keluar, sementara kepala bayi yang belun turun bisa bikin bayi cari jalan termudah untuk keluar. Yep, dia bisa salah keluar paksa lewat luka bekas operasi sebelumnya. “Ruptur” namanya. Ini bisa bikin bayi meninggal, dan berpotensi bikin ibu pendarahan juga.
– Harus terjadi kontraksi diiringi pembukaan dari 1-10 secara alami, tidak boleh ada tindakan induksi.
– Berat bayi tidak melebihi berat bayi yang dilahirkan sebelumnya, atau sebaiknya tidak terlalu besar (sekitar 3kg).
– Syarat lainnya sama dengan persalinan normal lainnya, seperti ukuran panggul, posisi bayi, dll.

Err… cuma itu yang saya ingat. Kalau ga salah ada juga syarat tentang teknik operasi sebelumnya. Tapi soal ini ga terlalu dibahas sama dua dokter saya. Mungkin karena di zaman sekarang, asalkan melahirkan di RS yang peralatannya menunjang, hampir niscaya kalau proses operasi dan penjahitannya sudah dilakukan dengan cara paling minim resiko dan paling cepat proses pemulihannya.

Lihat poin no 3 deh. Jadi, sampai usia kandungan 37 minggu, kepala bayi belum juga turun di rahim saya. Dokter bilang, harusnya anak ke dua bisa lebih cepat, tidak perlu tunggu sampai 38-39 minggu. Dan, kalau terus-terusan begini, dia khawatir terjadi ruptus tadi. Saya diminta segera menghubungi RS begitu terasa kontraksi atau nyeri di daerah luka operasi. Kesimpulannya: saya harus minta si kecil turun perlahan-lahan ke panggul dan mencapai posisi “engaged”, sementara saya harus pula menghindari faktor pencetus kontraksi.

Nah, karena NWP memang sering kali memicu kontraksi, kami putuskan untuk menyapih Daanish secepatnya. Oke, akhirnya saya memang gagal full WWL (Weaning With Love; menyapih dengan cinta), tapi saya melakukannya dengan niat hanya sementara. Untuk satu bulan ini, sampai adiknya Daanish lahir. Selanjutnya, insyaAllah, saya berencana tandem nursing hingga Daanish memasuki gerbang masa sapih sebenarnya.

Satu minggu pertama proses sapih adalah masa-masa paling berat. Saya sering kali menahan air mata; demi merasakan sedih di wajah Daanish. Saya mulai (lagi) menyalahkan diri sendiri. Saya mulai (lagi) merasa ga adil ke Daanish. Saya mulai limbung, lagi dan lagi. Apakah keputusan kami salah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s