[DiaryIbubun] [CeritASI] Growth Spurt? Tenang, Produksi ASI Bisa Menyesuaikan, Kok!


Bayi growth spurt, PD bengkak, badan panas dingin, sakit kepala, mual-mual, nyeri di simpul luka jahitan, dan kontraksi rahim adalah kombinasi yang super cihuy deh! Ah, enjoy motherhood! 😉

***

Azzam yang biasanya cenderung tidur nyenyak dan lama, tetiba jadi agak rewel dan susah sekali terlelap malam Jumat lalu. Bukan cuma itu, frekuensi menyusu malam yang biasanya cuma 3-4 kali lantaran nyenyaknya, berubah jadi kian sering. Mungkin bukan ‘sering’, lebih tepatnya hampir gak mau lepas. Sekali menyusu bisa lebih dari satu jam. Tertidur sebentar lalu minta lagi. Gantian PD kanan kiri pun Azzam seperti tetap kelaparan dan kehausan. Saya mulai feeling, sedang growth spurt kali ya ini anak? Eh, tapi apa bisa growth spurt di usia sedini ini? Saya kok gak ada ingatan Daanish juga begini ya seumur Azzam dulu?

Hasil guglang-gugling nyambi menyusui, menggendong, dan menenangkan Azzam, saya ketemu satu artikel seputar GS di webnya The Urban Mama. Ternyata paling dini bahkan GS bisa dimulai sejak usia bayi beberapa hari, loh. Bahkan ketika dia baru pulang dari klinik/RS tempatnya dilahirkan. Weeew, kasian ya dedek bayi, dan kasian juga ibunya. 😦

Bisa ditebak hasil dari kelelahan begadang itu, Jumat pagi saya merasa kepala berat sekali. Itupun masih disertai mual-mual setelah minum beberapa teguk air putih. Saya ‘bed-rest’-kan diri sendiri. Menyusui sambil tidur serta berusaha membuat diri tidur saat Azzam tidur, meski sekejap, demi membayar hak tidur malam yang tidak terpenuhi. Makin siang, bukannya makin enak, saya justru merasa menggigil. Padahal Bekasi panasnya mantep! Padahal, oh nooo… badan saya mulai demam. Kalau sudah begini baru deh repot komat-kamit berdoa: Ya, Allah, saya mau sehat, kasihan bayi saya. Huhuhu.

Mungkin karena kondisi tubuh menurun itu, simpul jahitan bekas operasi juga jadi terasa nyeri. Perasaan, lebih nyeri dari yang beberapa hari terakhir malah. 😦 Tambah lengkap, kontraksi pengerutan rahim pasca melahirkan juga lagi intens-intensnya. Aw aww… tambah gak bisa bangun deh saya.

Paginya Azzam gak mandi loh. Soalnya saya sakit, pengasuh Daanish masih takut pegang bayi merah, sementara suami kerja. Azzam juga terpaksa gak dijemur hari itu. Huhuhu. Maaf ya, Nak. Supaya Azzam gak terlalu gampang ‘asem’, yang biasanya dipakaikan clodi, saya pakaikan pospak. Irit tenaga sayanya juga. Bener-bener lagi gak sanggup gantiin clodi tiap 2-3 jam sekali. Belum lagi cuci-kucek clodi kalo Azzam BAB. Aaa, nyerah deh nyerah kalo lagi remuk redam begini. Sekali lagi, maaf ya, Nak.

Setelah makan sepotong donat kentang hasil eksekusi hari sebelumnya dan minum parasetamol, baru terasa badan mulai ringan. Keringat keluar dan berat di kepala pun terbang. Alhamdulillah, mual lenyap dan efek anti-nyeri si parcet juga ampuh menyetop nyeri jahitan dan kontraksi rahim. Meskipun masih lumayan lemes dan pusing, setidaknya saya sudah mampu bangun sedikit. Sorenya pun ‘asem’-nya Azzam hilang sudah, berkat mandi air hangat yang juga mudah-mudahan bisa sedikit meredakan uring-uringannya. Soalnya, sepanjang pagi sampai sore hari Jumat itu, Azzam masih GS: susah lepas nen dan susah tidur nyenyak. Cup cup cup, sabar ya, Nak!

Dan, masa GS Azzam pun masih berlanjut ke malam Sabtu sampai Sabtu sore, lanjut lagi malam Minggu. Belum tau deh, hari Minggu ini masih terus ga tuh percepatan pertumbuhan di tubuhnya. Kalo di artikel sih GS memang bisa berlangsung sampai 2-3 hari, bahkan seminggu. Nantinya, setelah fase itu selesai, bayi akan tidur lebih nyenyak dan lama dari biasanya. Seolah-olah dia habis kelelahan melakukan pekerjaan yang luar biasa berat. Hihihi, lucu deh, para bayi itu. 😉

Sabar ya, Azzam. InsyaAllah Bubun Yayah juga sabar nungguin Azam GS. Inget kata Yayah ya, Nak, “Mau tambah pinter harus lewatin GS dulu. Hayooo, kamu mau tambah pinter apa, ya? Kami pengeeen deh cepet liat ‘keahlian’ barumu”. Ayok Ganbarou bareng-bareng!

20130915-114323.jpg

Satu hal yang saya catat, tentu saja karena lagi GS, Azzam jadi seriiing dan lamaaa banget menyusunya, dan ini bikin PD saya bengkak melulu. Bisa ditebak, teori produksi ASI yang menyesuaikan permintaan bayi itu bener banget! Gak perlu khawatir meski bayi menyusu terus-terusan hamlir tanpa jeda, ASI kita insyaa Allah cukup kok, Buibu. Dan meskipun bayi menangis dan rewel tanpa henti, itu bukan berarti ASI kurang. Dia butuh ketenangan, kenyamanan dan dekalam Ayah Ibunya. That’s all!

Saya sih ngebayangin GS itu kayak sel-sel maupun kecerdasannya bertambah berkali lipat lebih dari biasanya. Hehe, bener gak ya? Soalnya GS kan diterjemahkan sebagai ‘percepatan pertumbukan’. Kalo dalam fisika kan percepatan itu berbanding lurus dengan kecepatan dan berbanding terbalik dengan waktu. Ciyeeehhhh, keluar deh ilmu SMA dulu. 😀 Jadi jelaslah kalo saar GS itu ada kecepatan tumbuh yang berlangsung dalam tempo waktu yang sebentar. Lha, saya menerjemahkan ‘sesuatu yang tumbuh cepat dalam waktu singkat’ itu kayak sel-sel yang membelah lebih banyak atau kebisaan/kecerdasan bayi yang bertambah lebih cepat. Saat ini jelas si bayi lagi dalam keadaan yang gak sama seperti hari-hari biasa. Wajar dia butuh energi besar; makanya dia menyusu banyak dan sering. Wajar dia merasa gak nyaman; makanya dia susah tidur dan banyak nangis. Ah, seru ya pertumbuhan bayi itu.

Yang jelas, depak jauh-jauh deh pikiran kalo ASI kurang. Susui bayi sesering mungkin dan perbanyak makan-minum, dan voila! Biarkan prolaktin dan oksotosin bekerja sebaik-baiknya. Nah, supaya pabrik ASI bisa berproduksi dengan lancar yang kita butuhkah adalah: pikiran positif. So, bye bye lah itu pikiran aneh bin gak jelas. Mendingan peluk si kecil, untel-untelan gak mandi gapapa, yang penting: menyusuilah sekeras kepala mungkin! *Satu-satunya stubborn yang diijinkan ya ini! :D*

[CeritASI][TandemNursing] Kyaaa, Bekas Jahitan Nyeri!


Ternyataaa, meskipun sudah dua minggu disapih temporer yang blas tanpa menyusu, Daanish tetap mau menyusu lagi. Awalnya dia memang cuma melihat seksama adiknya yang begitu semangat menyusu. Lama-lama, sambil tepuk-tepuk atau tunjuk-tunjuk PD yang satunya, dia mulai bilang ‘nen-ne-nen-ne’ lagi. Kalau sudah mengantuk lebih lagi, keinginannya jadi tidak bisa ditunda, apalagi ditolak.

Memang sudah janji saya, kalau adiknya lahir, Daanish boleh menyusu lagi. Sebab umurnya memang belum dua tahun. Saya cuma berusaha mengurangi frekuensinya, tapi tidak bermaksud menyetopnya sama sekali. Bagaimanapun, Daanish masih punya hak. Meskipun kini hak itu jelas harus dibatasi, karena terkait dengan yang lebih berhak: Azzam.

Belakangan, saya merasa bahwa menyusui Daanish lagi adalah cara untuk kembali bisa bermesraan dengan Daanish. Pasalnya, belakangan Daanish memang nempeeel banget ke Yayahnya. Ceritanya, Daanish mulai lebih dekat ke Yayahnya sejak saya mengandung. Pertama, karena saya tidak bisa lagi sering-sering menggendongnya. Kedua, rasa lelah sebagai ibu hamil yang kerap membuat saya kehilangan tenaga sehingga harus lebih sering mempercayakan Daanish ke Yayahnya. Ketiga, sapih temporer yang akhirnya sukses itu bisa berjalan sukses dengan melipatgandakan keintiman Daanish dan Yayahnya; otomatis dua lelaki ini jadi tambah kayak perangko lah ya. *jadi inget iklan bedak anti bau badan, deh :D*

Maka, ketika pertama kali Daanish mulai menyusu lagi, pelukan eratnya dan tatapan teduhnya ke mata saya adalah sesuatu yang luar biasa. Saya membalasnya dengan keharuan yang membuncah, seraya kian teryakini bahwa pilihan saya adalah tepat untuk kondisi kami. Ia menyusu pelan dan lamat, seolah menyesap kerinduan, dan seolah benar-benar ingin menikmati kebersamaan kami. Untuk kali pertama sejak masa kehamilan dan kelahiran Azzam, saya kembali mendapat ‘chemistry’ bersama Daanish.

Tapi, hingga hampir tiga minggu usia Azzam, terus terang baru dua kali saya sanggup menyusui Daanish dan Azzam bersamaan. Di hari pertama saya pulang dari RS dan beberapa hari setelahnya. Rasa nyeri pada jahitan bekas SC membuat saya tidak tahan. Belum lagi, baik Daanish, Azzam, maupun saya merasa kurang nyaman. Daanish yang sudah cukup berat dengan BB 12 kg, Azzam yang tongue tie, dan saya yang butuh waktu pulih lebih panjang adalah faktor yang mempersulit. Akhirnya kini, saya lebih banyak menyusui mereka bergiliran, meskipun dalam waktu berdekatan. Daanish umumnya hanya menyusu 2-3 kali sehari. Biasanya pada saat bangun pagi, saat mau tidur siang, dan jelang tidur malam. Pagi dan siangnya sih masih bisa terkontrol. Soalnya jarang bersamaan antara keinginan menyusu si Raka dan Dedeknya. Malam hari yang biasanya agak heboh. Sementara Azzam hobi menyusu lama-lama, Daanish yang sudah mengantuk cenderung tidak sabar untuk mengantre. Kalau sudah begini, saya perlu bantuan suami, ia yang bertugas menenangkan Daanish sementara waktu. Kami ulang-ulang bisikan di telinganya; bahwa Daanish hanya perlu menunggu, bukan ditolak keinginan menyusunya.

Sesekali juga terjadi, dimana Daanish yang asyik menyusu harus terganggu dengan tangisan Azzam. Kalau sudah begini, saya cuma bisa mengelus Daanish, dan mulai bicara padanya. Saya ingin Daanish mempercepat menyusunya, tapi nanti boleh lanjut lagi. Sekarang, ia harus stop dulu, kasihan adiknya. Sering saya tambahkan, bahwa Daanish enak sudah bisa makan buah, sayur, dan nasi, jadi kalau lapar ada gantinya. Sementara Azzam cuma punya ASI untuk mengisi perutnya. Memang anak-anak itu cerdas ya, biasanya meskipun butuh waktu, tidak lama kemudian Daanish berhenti menyusu. Kebanyakan sih bisa sukses. Tidak ada tangisan, tidak ada marah-marah. Malah, dengan lucunya dia bilang “Dah, dah”. Sudah, maksudnya. Dan mulai tertawa sambil menunjuk-nunjuk ketika Azzam mulai mengambil jatah menyusunya.

Mungkin seiring hilangnya nyeri di luka SC saya, nanti tandem nursing yang benar-benar bersamaan itu akan dicoba lagi. Untuk catatan, sejauh ini baru coba menyusui dengan posisi rebah/tiduran miring, Daanish di bawah, lalu Azzam melintang di tubuh Daanish dan menyusu di PD atas. Kepala sampai pinggang Azzam ditopang tangan saya, selebihnya ‘menumpang’ badan Rakanya. Selalu saya coba posisi Daanish dulu, baru Azzam. Padahal di banyak artikel, harusnya posisikan si bayi dulu, baru kakaknya. Hummm, PR besar nih, lain kali harus cari posisi yang nyaman untuk semua.

Oya, satu lagi, meskipun tandem nursing itu sedikit bikin nyeri, dan meskipun antre menyusui itu butuh teknik jitu, perlu diketahui bahwa produksi ASI tetap mencukupi kok, bahkan untuk dua bayi sekalipun. Pernah, saya masih bisa pumping 100ml padahal 2 PD baru saja hampir dikosongkang oleh Daanish dan Azzam.

20130912-102939.jpg

Sudah menyusui dua bayi plus pumping saja, tengah malam saya masih terbangun akibat nyeri dari PD yang bengkak. Justru, dibandingkan dengan waktu Daanish masih belum berusia sebulan dulu, kali ini produksi ASI jauh lebih melimpah. Dulu, di fase ini, jarang sekali bisa multiple LDR, dan gak pernah bisa perah di atas 100ml. Sekarang, Azzam baru tiga minggu kurang, multiple LDR mah udah jadi makanan harian.

Hasil pumping? Jangan ditanya, usia Azzam dua minggu saya sudah pernah dapat 180ml sekali perah. Serius!

20130912-102749.jpg

Alhamdulillah, Allah selalu tepat janji; rejeki dari tiap nyawa itu sudah Ia tentukan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya; diam dan menunggu atau mau berlari mengejar. Sedikit sakit dan lelah memang, tapi hasilnya pun sebanding. Semangat ASI sama-sama yuk, Ibu-ibu! ^^

[DiaryIbubun] [CeritASI] Berkat Ini dan Itu, Pabrik ASI Surplus!


Berkat apa hayooo… Berkat kasih sayang Rabb di atas sana, tentu. Berkat dukungan dan motivasi orang-orang terkasih, pasti. Eh, yang lain? Berkat apa yaaa…

Pertama, berkat kehamilan jarak dekat yang saya alami. Saya baru stop perah ketika usia kandungan masuk tujuh bulan. Daanish baru stop menyusu langsung ketika usia kandungan 9 bulan 1 minggu. Jadi, stimulasi produksi ASI bisa dikatakan belum benar-benar berhenti, sehingga ketika Azzam lahir, tidaklah sesulit ketika menggenjot produksi dari nol seperti masa Rakanya dulu.

Kedua, yang saya banggakan, tentu saja prosesi IMD. Selain kepuasan, ketenangan, kesejahteraan dan kebahagiaan bagi saya dan bayi, yang pastinya juga memicu oksitosin; IMD memungkinkan terjadinya lejitan stimulasi produksi ASI sebagai lanjutan faktor pertama di atas. So, you got both, self satisfaction and breastmilk production. Bukankah menyenangkan, mem-boost produksi ASI tanpa harus susah payah atau terbebani; tapi justru dengan melakukan hal yang menyenangkan. Tidak ada paksaan, tidak ada tekanan. Enak di Ibu, enak di bayi. Oleh karena itu, saya pribadi amat sangat menyarankan IMD, seideal mungkin, selama mungkin, sebisa yang mampu kita upayakan dan negosiasikan. Serius, gak bakal nyesel! *eaaa, jiwa tukang jualannya muncul :D*

Ketiga, jam terbang. Teori “Practice Makes Perfect” itu benar-benar ‘benar’ loh. Hehehe. Harus diakui, pengalaman dengan Daanish dulu banyak membuat saya belajar. Saya pelajari ulang segala tentang ASI, sekaligus perbaikan tentang hal-hal yang dulu luput dari pembelajaran. Saya meng-upgrade ilmu dengan tetap mengikuti berbagai seminar dan diskusi meskipun sudah ada Daanish dan meskipun belum tau hamil anak ke dua. Saya memutuskan mulai sedikit demi sedikit berbagi lewat blog dan socmed tentang sedikit yang saya tahu seputar ASI, agar saya tidak lupa ilmunya, agar saya tersentil dengan banyaknya pertanyaan yang tidak sanggup saya jawab, agar saya belajar dan belajar lagi. Dan meskipun belum bisa menjadi Konselor Laktasi, saya mendaftar menjadi anggota AIMI. Semata, agar saya makin dalam ‘tercemplung’ di dunia per-ASI-an dan terus menerus jatuh cinta dengannya.

Nah, berkat yang di atas-atas itulah, saya mulai memetik hasil positifnya. monggo yang mau coba NWP atau IMD yah. InsyaAllah hasilnya gak mengecewakan. Asalkan Ibu dan Ayah juga membekali diri dengan aneka ilmu kanuragan di dunia persilatan, eh, per-ASI-an. Jangan capek, ah, apalagi nyerah. Masa kita untuk bisa berdedikasi penuh dari A sampai Z untuk si kecil itu pendek lho. Tau-tau dia nanti sudah besar, tau-tau mulai lebih enjoy sama teman-temannya, tau-tau kuliah di luar kota/negeri, tau-tau udah mau nikah. Ahhh, tau-tau kita yang menyesal kehilangan momen emas bersama anak-anak kita. 😦

Saya mau cerita sedikit yah. Hari Jumat jam 3 sore Azzam lahir, hari Sabtunya PD mulai terasa penuh, hari Minggu sudah bengkak dan meriang. Hari Senin pagi pertama kalinya marmet 50-60ml sudah di tangan, sisanya ‘stuck’ di PD yang bengkak dan sakit, gak bisa keluar lagi. Perah rutin memang belum terjalani maksimal. Saya ternyata masih perlu waktu beradaptasi dengan dua bayi di rumah. Daanish yang menyusu hanya 2-3 kali sehari, adalah penolong ketika PD bengkak dan terasa sakit sementara saya tak berdaya untuk perah.

20130911-121154.jpg

Sejauh ini, baru 6 botol ASIP berisi masing-masing 100ml yang berhasil dikumpulkan. Sementara, pencapaian terbaik adalah perah ketika Azzam berumur tepat 2 minggu, dengan 180ml dalam satu sessi perah. Alhamdulillah, semoga baik Daanish maupun Azzam bisa mengentaskan pencapaiannya hingga menjadi para Doktor ASI. Semangat! *mengepalkan tangan ke arah langit :D*

[Diary Ibubun] [CeritASI] Azzam: Sekuat Tekad Kami Memperbaiki “Dosa” Silam


Saya mau lanjut cerita pasca ‘sukses’ ber-IMD ria dengan jagoan baru kami: Azzam Harits Andaryaz. Call him ‘Azzam’; while sometimes to tease him we call him also ‘Ritsu’.

Ada doa tentu di dalamnya, pasti. ‘Azzam’ adalah nama pilihan Yayahnya, menggantikan kandidat nama sebelumnya yang juga berawalan ‘D’, layaknya sang kakak, Daanish. Kandidat nama sebelumnya langsung gugur di hari pertama Azzam lahir. Mau tau kenapa? Ehm, mau tau aja apa mau tau banget? *Hahaha, ABG tua banget deh gueee*

Usai momen IMD yang super indah selama hampir setengah jam itu, pihak RS benar-benar menepati janji *dan saya benci itu!* sesuai prosedur mereka: mengambil Azzam untuk observasi, pemeriksaan, dll selama saya dipindah ke ruang observasi. Well, mari ber-positif-thinking; bahwa ini jalan terbaik. Meskipun teman saya yang melahirkan 1,5 tahun lalu di RS yang sama berhasil IMD selama sejam lebih pasca SC karena pihak RS memberlakukan IMD lanjut hingga ruang observasi ibu, bahkan ketika tidak ada permintaan dari pasien. *I do envy you for this, Eka!*

Sudah, sudah, karena ASI saya sudah mulai super lancar sejak hari pertama, bahkan PD mulai bengkak sejak hari kedua, maka saya tidak ingin merusak mood bagus ini. Lupakan soal IMD, kita susun langkah baru, jangan hanya menunggu. *Eh, kayak kenal liriknya, ada yang sejaman dengan saya dan tau lagu apa?* *Mendadak kuis ceritanya :D*

Usai mengazankan Azzam di ruang neo-natus, si Mas menghampiri saya di ruang observasi. Seperti pada kelahiran Daanish, ia mengecup kening, berkata “Otsukare sama deshita”, lalu bertanya tentang kondisi saya. Saya baru sadar kalau kesulitan menjawab pertanyaannya karena merasa menggigil hebat di sekujur tubuh. Geligi terasa gemeletuk. Seluruh tubuh gemetar tidak henti. Padahal ruangan ini jauh lebih hangat dari ruang operasi. Tiga lapis selimut tebal termasuk selapis selimut berpenghangat tidak bekerja sama sekali meredakan gemetar dan gemeletuk tadi. Saya mulai ketakutan (lagi); Rabb, inikah saat saya harus berpulang kepada-Mu? Ya, saya takut, benar-benar takut. Saya kembali tersadar bahwa bekal ‘pulang’ saya teramat sedikit. 😥

Lidah kelu di mulut baru terasa cair begitu tempat tidur saya didorong kembali ke ruang perawatan. Saya merasa tubuh saya berhenti berguncang dan kehangatan mulai menjalari lapisan bawah kulit. Di sanalah saya menggenapkan kesadaran dan bertanya sebanyak mungkin tentang keadaan si kecil pada suami. Dia agak bergetar dengan ujung-ujung jari sedikit pucat saat diazankan, namun jagoan kami dalam keadaan baik, sehat, normal. Hanya saja, DSA sempat bilang ke Mas kalau ada kemungkinan si kecil akan mengalami kesulitan menyusu karena ‘tongue tie’ yang dimilikinya.

Saya selalu percaya pada rencana-Nya yang indah; tidak ada yang kebetulan. Di usia kandungan 8 bulanan, saya ‘kecemplung’ di diskusi tentang ‘tongue tie’ di milissehat. Tidak lama, saya ‘kecemplung’ lagi di pembahasan yang sama via status FB teman yang berpengalaman dengan anak ber-tongue-tie. Bahasan jadi lumayan ramai dengan masuknya komentar dari ibu-ibu lain dengan masalah sama, namun dengan kondisi dan penanganan berbeda. Saat itu status saya: cuma pengen belajar.

Siapa yang tau kalau di balik itu, Allah menganugerahkan saya amanah yang sedikit lebih berat dari sebelumnya. Menyusui yang sudah jadi ‘mind set’ dan mendarah daging, kini diperkaya lagi dengan kondisi yang butuh perjuangan lebih lagi. Betul, menyusui bayi ‘tongue tie’ (TT) adalah tantangan besar buat para ibu menyusui. Butuh kekuatan, ketegaran, dan… ilmu. Banyak ibu gagal melanjutkan perjuangan memberi ASI lantaran masalah ini, pun kini tak sedikit yang sukses mengalahkannya.

Perhatian ekstra pada hal seputar posisi dan perlekatan saat menyusui adalah harga mutlak. Observasi pada pertumbuhan fisik bayi juga demikian. Ibu dan ayah harus siaga dengan segala kondisi, sekaligus tanggap jika memang suatu saat (jika kondisi lecet puting sangat memburuk, atau kenaikan BB bayi sangat tertinggal) harus dilakukan tindakan medis, insisi salah satunya.

Saya tidak mau lelah-lelah berfokus pada seberapa sakit puting saya. Pertama, sebelum saya tahu bayi saya TT, tidak ada masalah berarti yang terasa; tidak juga rasa sakit saat menyusui. Setelah saya tahu pun, seharusnya tetap sama. Tidak boleh ada sugesti negatif yang mengubah klausul pertama tadi.

Kedua, pada fase awal menyusui Daanish dulu, saya pun harus mati-matian adaptasi dengan rasa pedih dan perih akibat pelbagai masalah. Ibu baru yang belum fasih menyusui cenderung masih gagal dalam memposisikan perlekatan yang baik. Hisapan bayi yang kuat cenderung agak mengejutkan syaraf di sekitar PD yang memang pada dasarnya sensitif. Kemalasan untuk mengompres, memijat PD dan melumuri puting dengan ASI sebelum menyusui, juga memperburuk keadaan. Dan, masih ada segudang masalah lagi. Masalah-masalah ini tentu masih harus saya hadapi meskipun kini sudah menyusui anak ke dua. Pengalaman tidak serta-merta mensterilkan proses menyusui kali ini dari aneka hambatan.

Dua alasan tadi cukup buat saya untuk berhenti mempersalahkan kondisi TT Azzam. Bahwa Azzam TT, itu fakta dan kami harus siap dengan segala konsekwensinya. Tapi menjadikan kondisi ini jadi alasan untuk ‘down’ lalu berlelah-lelah memikirkan efek negatifnya, jelas bukan pilihan tepat. Breastfeeding must go on, with or without this condition! Go breastfeeding gooo! *eh, malah pecicilan bawa pompom :D*

Kondisi TT ini juga yang menjadi ‘trigger’ penggantian si kandidat nama berawalan ‘D’ menjadi nama ‘Azzam’. Alasannya sederhana: untuk memudahkan pelafalan. Bayi TT akan cenderung mengalami sedikit/banyak kesulitan dalam melafalkan huruf ‘R’; dan kami tidak ingin mempersulit si kecil melafalkan namanya sendiri. Nama sebelumnya mengandung 2 huruf ‘R’ *ada yang mau tebak nama di sini? hehe*. Tampaknya, nama ini akan lebih sulit dilafal ketimbang nama ‘Azzam’.

Belakangan, ketika akan menulis catatan ini, saya menyadari makna lebih dalam dari ‘Azzam’. ‘Azzam’ adalah manifestasi dari niat kuat kami untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. ‘Azzam’ adalah pengabdian kami yang meningkat dari yang sebelumnya pernah kami upayakan. ‘Azzam’ adalah ekskalasi ikhtiar kami. Dimulai dari detik pertama Azzam lahir ke dunia: membuat IMD berhasil dilaksanakan. Lalu dilanjutkan dengan tahap selanjutnya: berhasil meniadakan sufor di hari-hari awal Azzam. Doakan kami bisa melanjutkan tahap-tahap berikutnya hingga go beyond urusan ASI.

Ya, Azzam, untuk itulah namamu hadir; agar kami senantiasa ingat untuk memperbaiki keinginan, pengabdian, dan ikhtiar sebagai orang tua. Soleh dan qurrata’ayun selalu ya, Cinta! 😡

20130908-051500.jpg

[Diary Ibubun] [CeritASI] Yaiy, Berhasil IMD!


Saya mau nyenengin diri sendiri lewat tulisan ini, gapapa ya. Penonton harap maklum. Hihihi. Ceritanya, setelah maju mundur pilih RS sana-sini buat tempat lahiran, juga aneka ria DSOG buat bantu persalinan; akhirnya kami putuskan pilih yang deket aja.

Berbekal semangat (masih) pengen lahiran normal sampe titik darah penghabisan *ciyeh*, akhirnya RSIA sejuta ummat cabang Bekasi itu yang kami pilih. Ah, lieur nyeritain prosesnya mah. Ga usah aja lah ya. Pokoknya pilihan DSOG-nya udah ikhtiar maksimal saya, sounding keinginan IMD dan ASIX di RS ini pun insyaAllah sudah dengan usaha mentok. Bismillah, bismillah, bismillah.

Namanya baru nyoba lahiran di RS ini, meskipun udah tanya pengalaman temen, tetep aja bisa ada perbedaan protap RS selang sekian waktu yak. Dulu temen saya bisa lanjut IMD di ruang observasi. Lha saya ndak bisa je! Sedihnya, baru tau pas masuk ruang operasi. Baru tau juga kalo meskipun kondisi bayi dan ibu baik, IMD di ruang operasi cuma bisa 10-15 menit. Hellooowww, mana taunya pas udah bener-bener setengah jam lagi mau operasi pula. Duh, Gusti!

Pasrah. Cuma itu dan rapalan doa yang bisa saya genapkan. Sudahlah gagal kedua kalinya untuk bisa bersalin normal, masa saya harus terbelenggu lagi dengan rasa takut gagal IMD? Ohhh, tidaaak!

Jadi, saya putuskan untuk berpengharapan baik. Saya putuskan untuk berpikir positif. Saya kumpulkan energi untuk meyakinkan diri agar saya terhindar dari efek samping anastesi berlebihan serta kondisi SOS bayi, itu saja. Saya cuma mau IMD. Titik. Allah pasti kasih saya jalan.

Operasi mundur setengah jam dari jadwal semula yang jam 2 siang. Saya mencoba ngobrol dengan para perawat, supaya bisa mengusir jauh-jauh trauma SC yang masih begitu lekat dari ingatan. Hush… Hush. Maka mulailah pengalihan pikiran itu. Tau apa yang kami obrolkan? Pempek! Haha. Ternyata saya, seorang perawat perempuan, dan seorang perawat lelaki selaku asisten DSOG di ruang itu punya hobi makan pempek di warung yang sama. Uhmm… membayangkan cukanya aja udah bikin saya ngiler. Ooopps, ini kan sudah di meja operasi! Sempet-sempetnyaaa. 😀

Tak lama, dokter kandungan yang pengucapan namanya sama dengan nama saya itu pun masuk. Selesai greeting sebentar, anastesi yang sebelumnya sudah disuntikkan lewat sela-sela tulang belakang ini pun mulai bekerja. Bersamaan dengan mati rasanya separuh badan bawah saya, tim dokter dan perawat yang ramainya 2 kali lipat dari SC pertama saya dulu itupun mulai beraksi. Hiyyy, saya ogah mengingat dan menceritakan kembali reka kejadian di meja operasi itu. Syeyeeem… Udah ah, udah nostalgia dedel-dedelan perut itu. *tutup mata*

Pokoknya cuma sekitar 15 menit berlalu, seseorang berbisik kalau saya harus siap-siap. Mereka akan mengeluarkan si bayi sambil mendorong perut bagian atas saya. Belum sempat benar-benar bersiap, bayi itu tau-tau sudah keluar. Tangisannya cepat menyebar ke seluruh penjuru ruang dingin itu. Kenceng dan ga pake berenti deh itu tangisan. Bikin saya ikutan nangis saking terharunya.

Dokter belum selesai dengan ‘finishing touch’-nya di area perut saat si kecil disodorkan ke dada kanan saya. OK, dia memang langsung ditempelkan di puting, bukan mencari sendiri. OK, dia memang diletakkan di dada saya, bukan memanjat sendiri. Tapi beberapa refleks sebelum menghisap yang layaknya ada pada IMD ideal, sempat saya saksikan.

Pertama, jelas ada ekspresi bingung di wajahnya, dan dia perlahan menciumi jari jemarinya. Oh, ini dia reflek menciumi sisa cairan rahim yang konon beraroma mirip PD ibu itu. Reflek ini yang bisa bantu si bayi mengenali ‘gudang makanannya’ sekaligus menjadi marka jalan agar ia berhasil sampai ke puting ibunya. Aih, seneng banget deh bisa ngeliat itu langsung. Di depan idung *bukan mata lagi, saking deketnya* sendiri pula!

Kedua, menyadari puting sudah di depan mata, bayi ternyata gak serta merta menghisap. Ada proses permulaannya. Dia mulai menjilat-jilat areola dan puting. Ini juga refleks yang ada dalam tahapan IMD ideal. Begitu bersemangatnya dia menjilat, air liurnya sampai membasahi wajahnya sendiri. Becek di sana-sini. Tapi serius, seru abis liat semangat dan perjuangannya yang gak kenal menyerah. Huhuhu. Saya cuma bisa terus terisak saking terharunya.

Hanya dengan sedikit panduan, voilaaa… si bayi sudah mampu mengeyot makanan pertamanya. Masya Allah, bayi tuh pinter banget ya! Gak ada yang ngajarin cara menghisap puting, dia udah bisa. Jangan tanya rasanya gimana. Hisapannya langsung kenceng dan mantep dari awal, puting langsung kerasa agak pedih. Ah, tapi gapapa, seneng kok! Well done, Sayang!

Gak lama, udah kedengeran bunyi ‘gluk-gluk’, tanda dia minum sesuatu. Yeiy! Kolostrum langsung keluar, berkat masih menyusui Daanish sampe 2 minggu jelang persalinan. Alhamdulillah.

Well, akhirnya memang ga bisa IMD selama satu jam. Tapi dua kali saya minta perpanjangan waktu saat suster meminta bayi saya untuk diangkat. Kami berpelukan seolah gak mau pisah. Si kecil juga terus menyusu seolah lapar dan hausnya belum terbayar. Saya baru menyerah membiarkan para perawat mengambil si kecil, saat saya perhatikan badannya mulai menggigil dan jemari tangannya mulai sedikit membiru. Mungkin, sekitar 20-25 menit IMD berhasil dijalani.

IMD ideal yang saya harapkan gagal terlaksana 100%. Saya bisa aja kecewa, lantas menyalahkan diri sendiri. Ibu gagal; gagal melahirkan normal, gagal pula IMD sesuai tatalaksana ideal. Tapi, Alhamdulillah saya putuskan untuk tetap merasa puas dan bahagia. Puas melihat bayi langsung pandai menghisap. Puas karena kolostrum langsung keluar. Terbukti, waktu ketemu lagi sama si kecil 5 jam berikutnya, dia udah super aktif menyusu. Gak pake males, gak pake susah menghisap. Perlekatan juga cuma perlu dibenerin dikit, sudah sempurna. Suara ‘gluk-gluk’ pun makin intens terdengar. Bener deh, ini suara paling indah yang pernah saya denger! Beda sama Daanish yang pada malam pertamanya di dunia luar biasa rewel, adiknya tenang tanpa suara. Cuma rengekan kecil kalau dia haus, selebihnya adalah tidur tenang nan pulas.

Saya tau, bukan cuma saya yang puas, begitu juga bayi saya. Saya tau dia bahagia bisa IMD, dia tenang bisa langsung minum ASI yang keluar sejak detik pertama, dan dia nyaman dengan ketidakgusaran saya, ibunya. Jaminan ASIX dari RS dan aktifnya para bidan, suster, dan dokter memberi info dan bertanya seputar keluhan menyusui, adalah titik puas saya berikutnya. Saya bahkan ‘dipaksa’ ikut kelas laktasi meski dalam keadaan berjalan tertatih akibat luka operasi yang belum sembuh. Saya tahu, berbeda dengan Daanish yang sempat (mungkin) dicekoki sufor, kali ini ada dukungan luar biasa dari pihak RS untuk lebih keras kepala lagi menjalani ASIX. Jadi, mari pupuk sugesti positif dan tendang jauh-jauh perasaan negatif yang cuma bikin produksi ASI mampet.

Alhamdulillah, dengan berdamai atas kenyataan dan keterbatasan dalam proses persalinan dan IMD yang gak sesuai keinginan, yang hadir justru kelegaan dan kesyukuran tak berujung. Dan berakhir pada sesungging senyum di sepanjang malam pertama kami di dunia; berangkulan, kami saling mendekap jiwa satu sama lain.

20130904-111325.jpg