[Diary Ibubun] [CeritASI] Yaiy, Berhasil IMD!

Saya mau nyenengin diri sendiri lewat tulisan ini, gapapa ya. Penonton harap maklum. Hihihi. Ceritanya, setelah maju mundur pilih RS sana-sini buat tempat lahiran, juga aneka ria DSOG buat bantu persalinan; akhirnya kami putuskan pilih yang deket aja.

Berbekal semangat (masih) pengen lahiran normal sampe titik darah penghabisan *ciyeh*, akhirnya RSIA sejuta ummat cabang Bekasi itu yang kami pilih. Ah, lieur nyeritain prosesnya mah. Ga usah aja lah ya. Pokoknya pilihan DSOG-nya udah ikhtiar maksimal saya, sounding keinginan IMD dan ASIX di RS ini pun insyaAllah sudah dengan usaha mentok. Bismillah, bismillah, bismillah.

Namanya baru nyoba lahiran di RS ini, meskipun udah tanya pengalaman temen, tetep aja bisa ada perbedaan protap RS selang sekian waktu yak. Dulu temen saya bisa lanjut IMD di ruang observasi. Lha saya ndak bisa je! Sedihnya, baru tau pas masuk ruang operasi. Baru tau juga kalo meskipun kondisi bayi dan ibu baik, IMD di ruang operasi cuma bisa 10-15 menit. Hellooowww, mana taunya pas udah bener-bener setengah jam lagi mau operasi pula. Duh, Gusti!

Pasrah. Cuma itu dan rapalan doa yang bisa saya genapkan. Sudahlah gagal kedua kalinya untuk bisa bersalin normal, masa saya harus terbelenggu lagi dengan rasa takut gagal IMD? Ohhh, tidaaak!

Jadi, saya putuskan untuk berpengharapan baik. Saya putuskan untuk berpikir positif. Saya kumpulkan energi untuk meyakinkan diri agar saya terhindar dari efek samping anastesi berlebihan serta kondisi SOS bayi, itu saja. Saya cuma mau IMD. Titik. Allah pasti kasih saya jalan.

Operasi mundur setengah jam dari jadwal semula yang jam 2 siang. Saya mencoba ngobrol dengan para perawat, supaya bisa mengusir jauh-jauh trauma SC yang masih begitu lekat dari ingatan. Hush… Hush. Maka mulailah pengalihan pikiran itu. Tau apa yang kami obrolkan? Pempek! Haha. Ternyata saya, seorang perawat perempuan, dan seorang perawat lelaki selaku asisten DSOG di ruang itu punya hobi makan pempek di warung yang sama. Uhmm… membayangkan cukanya aja udah bikin saya ngiler. Ooopps, ini kan sudah di meja operasi! Sempet-sempetnyaaa.😀

Tak lama, dokter kandungan yang pengucapan namanya sama dengan nama saya itu pun masuk. Selesai greeting sebentar, anastesi yang sebelumnya sudah disuntikkan lewat sela-sela tulang belakang ini pun mulai bekerja. Bersamaan dengan mati rasanya separuh badan bawah saya, tim dokter dan perawat yang ramainya 2 kali lipat dari SC pertama saya dulu itupun mulai beraksi. Hiyyy, saya ogah mengingat dan menceritakan kembali reka kejadian di meja operasi itu. Syeyeeem… Udah ah, udah nostalgia dedel-dedelan perut itu. *tutup mata*

Pokoknya cuma sekitar 15 menit berlalu, seseorang berbisik kalau saya harus siap-siap. Mereka akan mengeluarkan si bayi sambil mendorong perut bagian atas saya. Belum sempat benar-benar bersiap, bayi itu tau-tau sudah keluar. Tangisannya cepat menyebar ke seluruh penjuru ruang dingin itu. Kenceng dan ga pake berenti deh itu tangisan. Bikin saya ikutan nangis saking terharunya.

Dokter belum selesai dengan ‘finishing touch’-nya di area perut saat si kecil disodorkan ke dada kanan saya. OK, dia memang langsung ditempelkan di puting, bukan mencari sendiri. OK, dia memang diletakkan di dada saya, bukan memanjat sendiri. Tapi beberapa refleks sebelum menghisap yang layaknya ada pada IMD ideal, sempat saya saksikan.

Pertama, jelas ada ekspresi bingung di wajahnya, dan dia perlahan menciumi jari jemarinya. Oh, ini dia reflek menciumi sisa cairan rahim yang konon beraroma mirip PD ibu itu. Reflek ini yang bisa bantu si bayi mengenali ‘gudang makanannya’ sekaligus menjadi marka jalan agar ia berhasil sampai ke puting ibunya. Aih, seneng banget deh bisa ngeliat itu langsung. Di depan idung *bukan mata lagi, saking deketnya* sendiri pula!

Kedua, menyadari puting sudah di depan mata, bayi ternyata gak serta merta menghisap. Ada proses permulaannya. Dia mulai menjilat-jilat areola dan puting. Ini juga refleks yang ada dalam tahapan IMD ideal. Begitu bersemangatnya dia menjilat, air liurnya sampai membasahi wajahnya sendiri. Becek di sana-sini. Tapi serius, seru abis liat semangat dan perjuangannya yang gak kenal menyerah. Huhuhu. Saya cuma bisa terus terisak saking terharunya.

Hanya dengan sedikit panduan, voilaaa… si bayi sudah mampu mengeyot makanan pertamanya. Masya Allah, bayi tuh pinter banget ya! Gak ada yang ngajarin cara menghisap puting, dia udah bisa. Jangan tanya rasanya gimana. Hisapannya langsung kenceng dan mantep dari awal, puting langsung kerasa agak pedih. Ah, tapi gapapa, seneng kok! Well done, Sayang!

Gak lama, udah kedengeran bunyi ‘gluk-gluk’, tanda dia minum sesuatu. Yeiy! Kolostrum langsung keluar, berkat masih menyusui Daanish sampe 2 minggu jelang persalinan. Alhamdulillah.

Well, akhirnya memang ga bisa IMD selama satu jam. Tapi dua kali saya minta perpanjangan waktu saat suster meminta bayi saya untuk diangkat. Kami berpelukan seolah gak mau pisah. Si kecil juga terus menyusu seolah lapar dan hausnya belum terbayar. Saya baru menyerah membiarkan para perawat mengambil si kecil, saat saya perhatikan badannya mulai menggigil dan jemari tangannya mulai sedikit membiru. Mungkin, sekitar 20-25 menit IMD berhasil dijalani.

IMD ideal yang saya harapkan gagal terlaksana 100%. Saya bisa aja kecewa, lantas menyalahkan diri sendiri. Ibu gagal; gagal melahirkan normal, gagal pula IMD sesuai tatalaksana ideal. Tapi, Alhamdulillah saya putuskan untuk tetap merasa puas dan bahagia. Puas melihat bayi langsung pandai menghisap. Puas karena kolostrum langsung keluar. Terbukti, waktu ketemu lagi sama si kecil 5 jam berikutnya, dia udah super aktif menyusu. Gak pake males, gak pake susah menghisap. Perlekatan juga cuma perlu dibenerin dikit, sudah sempurna. Suara ‘gluk-gluk’ pun makin intens terdengar. Bener deh, ini suara paling indah yang pernah saya denger! Beda sama Daanish yang pada malam pertamanya di dunia luar biasa rewel, adiknya tenang tanpa suara. Cuma rengekan kecil kalau dia haus, selebihnya adalah tidur tenang nan pulas.

Saya tau, bukan cuma saya yang puas, begitu juga bayi saya. Saya tau dia bahagia bisa IMD, dia tenang bisa langsung minum ASI yang keluar sejak detik pertama, dan dia nyaman dengan ketidakgusaran saya, ibunya. Jaminan ASIX dari RS dan aktifnya para bidan, suster, dan dokter memberi info dan bertanya seputar keluhan menyusui, adalah titik puas saya berikutnya. Saya bahkan ‘dipaksa’ ikut kelas laktasi meski dalam keadaan berjalan tertatih akibat luka operasi yang belum sembuh. Saya tahu, berbeda dengan Daanish yang sempat (mungkin) dicekoki sufor, kali ini ada dukungan luar biasa dari pihak RS untuk lebih keras kepala lagi menjalani ASIX. Jadi, mari pupuk sugesti positif dan tendang jauh-jauh perasaan negatif yang cuma bikin produksi ASI mampet.

Alhamdulillah, dengan berdamai atas kenyataan dan keterbatasan dalam proses persalinan dan IMD yang gak sesuai keinginan, yang hadir justru kelegaan dan kesyukuran tak berujung. Dan berakhir pada sesungging senyum di sepanjang malam pertama kami di dunia; berangkulan, kami saling mendekap jiwa satu sama lain.

20130904-111325.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s