[Diary Ibubun] [CeritASI] Azzam: Sekuat Tekad Kami Memperbaiki “Dosa” Silam

Saya mau lanjut cerita pasca ‘sukses’ ber-IMD ria dengan jagoan baru kami: Azzam Harits Andaryaz. Call him ‘Azzam’; while sometimes to tease him we call him also ‘Ritsu’.

Ada doa tentu di dalamnya, pasti. ‘Azzam’ adalah nama pilihan Yayahnya, menggantikan kandidat nama sebelumnya yang juga berawalan ‘D’, layaknya sang kakak, Daanish. Kandidat nama sebelumnya langsung gugur di hari pertama Azzam lahir. Mau tau kenapa? Ehm, mau tau aja apa mau tau banget? *Hahaha, ABG tua banget deh gueee*

Usai momen IMD yang super indah selama hampir setengah jam itu, pihak RS benar-benar menepati janji *dan saya benci itu!* sesuai prosedur mereka: mengambil Azzam untuk observasi, pemeriksaan, dll selama saya dipindah ke ruang observasi. Well, mari ber-positif-thinking; bahwa ini jalan terbaik. Meskipun teman saya yang melahirkan 1,5 tahun lalu di RS yang sama berhasil IMD selama sejam lebih pasca SC karena pihak RS memberlakukan IMD lanjut hingga ruang observasi ibu, bahkan ketika tidak ada permintaan dari pasien. *I do envy you for this, Eka!*

Sudah, sudah, karena ASI saya sudah mulai super lancar sejak hari pertama, bahkan PD mulai bengkak sejak hari kedua, maka saya tidak ingin merusak mood bagus ini. Lupakan soal IMD, kita susun langkah baru, jangan hanya menunggu. *Eh, kayak kenal liriknya, ada yang sejaman dengan saya dan tau lagu apa?* *Mendadak kuis ceritanya :D*

Usai mengazankan Azzam di ruang neo-natus, si Mas menghampiri saya di ruang observasi. Seperti pada kelahiran Daanish, ia mengecup kening, berkata “Otsukare sama deshita”, lalu bertanya tentang kondisi saya. Saya baru sadar kalau kesulitan menjawab pertanyaannya karena merasa menggigil hebat di sekujur tubuh. Geligi terasa gemeletuk. Seluruh tubuh gemetar tidak henti. Padahal ruangan ini jauh lebih hangat dari ruang operasi. Tiga lapis selimut tebal termasuk selapis selimut berpenghangat tidak bekerja sama sekali meredakan gemetar dan gemeletuk tadi. Saya mulai ketakutan (lagi); Rabb, inikah saat saya harus berpulang kepada-Mu? Ya, saya takut, benar-benar takut. Saya kembali tersadar bahwa bekal ‘pulang’ saya teramat sedikit.πŸ˜₯

Lidah kelu di mulut baru terasa cair begitu tempat tidur saya didorong kembali ke ruang perawatan. Saya merasa tubuh saya berhenti berguncang dan kehangatan mulai menjalari lapisan bawah kulit. Di sanalah saya menggenapkan kesadaran dan bertanya sebanyak mungkin tentang keadaan si kecil pada suami. Dia agak bergetar dengan ujung-ujung jari sedikit pucat saat diazankan, namun jagoan kami dalam keadaan baik, sehat, normal. Hanya saja, DSA sempat bilang ke Mas kalau ada kemungkinan si kecil akan mengalami kesulitan menyusu karena ‘tongue tie’ yang dimilikinya.

Saya selalu percaya pada rencana-Nya yang indah; tidak ada yang kebetulan. Di usia kandungan 8 bulanan, saya ‘kecemplung’ di diskusi tentang ‘tongue tie’ di milissehat. Tidak lama, saya ‘kecemplung’ lagi di pembahasan yang sama via status FB teman yang berpengalaman dengan anak ber-tongue-tie. Bahasan jadi lumayan ramai dengan masuknya komentar dari ibu-ibu lain dengan masalah sama, namun dengan kondisi dan penanganan berbeda. Saat itu status saya: cuma pengen belajar.

Siapa yang tau kalau di balik itu, Allah menganugerahkan saya amanah yang sedikit lebih berat dari sebelumnya. Menyusui yang sudah jadi ‘mind set’ dan mendarah daging, kini diperkaya lagi dengan kondisi yang butuh perjuangan lebih lagi. Betul, menyusui bayi ‘tongue tie’ (TT) adalah tantangan besar buat para ibu menyusui. Butuh kekuatan, ketegaran, dan… ilmu. Banyak ibu gagal melanjutkan perjuangan memberi ASI lantaran masalah ini, pun kini tak sedikit yang sukses mengalahkannya.

Perhatian ekstra pada hal seputar posisi dan perlekatan saat menyusui adalah harga mutlak. Observasi pada pertumbuhan fisik bayi juga demikian. Ibu dan ayah harus siaga dengan segala kondisi, sekaligus tanggap jika memang suatu saat (jika kondisi lecet puting sangat memburuk, atau kenaikan BB bayi sangat tertinggal) harus dilakukan tindakan medis, insisi salah satunya.

Saya tidak mau lelah-lelah berfokus pada seberapa sakit puting saya. Pertama, sebelum saya tahu bayi saya TT, tidak ada masalah berarti yang terasa; tidak juga rasa sakit saat menyusui. Setelah saya tahu pun, seharusnya tetap sama. Tidak boleh ada sugesti negatif yang mengubah klausul pertama tadi.

Kedua, pada fase awal menyusui Daanish dulu, saya pun harus mati-matian adaptasi dengan rasa pedih dan perih akibat pelbagai masalah. Ibu baru yang belum fasih menyusui cenderung masih gagal dalam memposisikan perlekatan yang baik. Hisapan bayi yang kuat cenderung agak mengejutkan syaraf di sekitar PD yang memang pada dasarnya sensitif. Kemalasan untuk mengompres, memijat PD dan melumuri puting dengan ASI sebelum menyusui, juga memperburuk keadaan. Dan, masih ada segudang masalah lagi. Masalah-masalah ini tentu masih harus saya hadapi meskipun kini sudah menyusui anak ke dua. Pengalaman tidak serta-merta mensterilkan proses menyusui kali ini dari aneka hambatan.

Dua alasan tadi cukup buat saya untuk berhenti mempersalahkan kondisi TT Azzam. Bahwa Azzam TT, itu fakta dan kami harus siap dengan segala konsekwensinya. Tapi menjadikan kondisi ini jadi alasan untuk ‘down’ lalu berlelah-lelah memikirkan efek negatifnya, jelas bukan pilihan tepat. Breastfeeding must go on, with or without this condition! Go breastfeeding gooo! *eh, malah pecicilan bawa pompom :D*

Kondisi TT ini juga yang menjadi ‘trigger’ penggantian si kandidat nama berawalan ‘D’ menjadi nama ‘Azzam’. Alasannya sederhana: untuk memudahkan pelafalan. Bayi TT akan cenderung mengalami sedikit/banyak kesulitan dalam melafalkan huruf ‘R’; dan kami tidak ingin mempersulit si kecil melafalkan namanya sendiri. Nama sebelumnya mengandung 2 huruf ‘R’ *ada yang mau tebak nama di sini? hehe*. Tampaknya, nama ini akan lebih sulit dilafal ketimbang nama ‘Azzam’.

Belakangan, ketika akan menulis catatan ini, saya menyadari makna lebih dalam dari ‘Azzam’. ‘Azzam’ adalah manifestasi dari niat kuat kami untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. ‘Azzam’ adalah pengabdian kami yang meningkat dari yang sebelumnya pernah kami upayakan. ‘Azzam’ adalah ekskalasi ikhtiar kami. Dimulai dari detik pertama Azzam lahir ke dunia: membuat IMD berhasil dilaksanakan. Lalu dilanjutkan dengan tahap selanjutnya: berhasil meniadakan sufor di hari-hari awal Azzam. Doakan kami bisa melanjutkan tahap-tahap berikutnya hingga go beyond urusan ASI.

Ya, Azzam, untuk itulah namamu hadir; agar kami senantiasa ingat untuk memperbaiki keinginan, pengabdian, dan ikhtiar sebagai orang tua. Soleh dan qurrata’ayun selalu ya, Cinta!😑

20130908-051500.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s