[CeritASI][TandemNursing] Kyaaa, Bekas Jahitan Nyeri!

Ternyataaa, meskipun sudah dua minggu disapih temporer yang blas tanpa menyusu, Daanish tetap mau menyusu lagi. Awalnya dia memang cuma melihat seksama adiknya yang begitu semangat menyusu. Lama-lama, sambil tepuk-tepuk atau tunjuk-tunjuk PD yang satunya, dia mulai bilang ‘nen-ne-nen-ne’ lagi. Kalau sudah mengantuk lebih lagi, keinginannya jadi tidak bisa ditunda, apalagi ditolak.

Memang sudah janji saya, kalau adiknya lahir, Daanish boleh menyusu lagi. Sebab umurnya memang belum dua tahun. Saya cuma berusaha mengurangi frekuensinya, tapi tidak bermaksud menyetopnya sama sekali. Bagaimanapun, Daanish masih punya hak. Meskipun kini hak itu jelas harus dibatasi, karena terkait dengan yang lebih berhak: Azzam.

Belakangan, saya merasa bahwa menyusui Daanish lagi adalah cara untuk kembali bisa bermesraan dengan Daanish. Pasalnya, belakangan Daanish memang nempeeel banget ke Yayahnya. Ceritanya, Daanish mulai lebih dekat ke Yayahnya sejak saya mengandung. Pertama, karena saya tidak bisa lagi sering-sering menggendongnya. Kedua, rasa lelah sebagai ibu hamil yang kerap membuat saya kehilangan tenaga sehingga harus lebih sering mempercayakan Daanish ke Yayahnya. Ketiga, sapih temporer yang akhirnya sukses itu bisa berjalan sukses dengan melipatgandakan keintiman Daanish dan Yayahnya; otomatis dua lelaki ini jadi tambah kayak perangko lah ya. *jadi inget iklan bedak anti bau badan, deh :D*

Maka, ketika pertama kali Daanish mulai menyusu lagi, pelukan eratnya dan tatapan teduhnya ke mata saya adalah sesuatu yang luar biasa. Saya membalasnya dengan keharuan yang membuncah, seraya kian teryakini bahwa pilihan saya adalah tepat untuk kondisi kami. Ia menyusu pelan dan lamat, seolah menyesap kerinduan, dan seolah benar-benar ingin menikmati kebersamaan kami. Untuk kali pertama sejak masa kehamilan dan kelahiran Azzam, saya kembali mendapat ‘chemistry’ bersama Daanish.

Tapi, hingga hampir tiga minggu usia Azzam, terus terang baru dua kali saya sanggup menyusui Daanish dan Azzam bersamaan. Di hari pertama saya pulang dari RS dan beberapa hari setelahnya. Rasa nyeri pada jahitan bekas SC membuat saya tidak tahan. Belum lagi, baik Daanish, Azzam, maupun saya merasa kurang nyaman. Daanish yang sudah cukup berat dengan BB 12 kg, Azzam yang tongue tie, dan saya yang butuh waktu pulih lebih panjang adalah faktor yang mempersulit. Akhirnya kini, saya lebih banyak menyusui mereka bergiliran, meskipun dalam waktu berdekatan. Daanish umumnya hanya menyusu 2-3 kali sehari. Biasanya pada saat bangun pagi, saat mau tidur siang, dan jelang tidur malam. Pagi dan siangnya sih masih bisa terkontrol. Soalnya jarang bersamaan antara keinginan menyusu si Raka dan Dedeknya. Malam hari yang biasanya agak heboh. Sementara Azzam hobi menyusu lama-lama, Daanish yang sudah mengantuk cenderung tidak sabar untuk mengantre. Kalau sudah begini, saya perlu bantuan suami, ia yang bertugas menenangkan Daanish sementara waktu. Kami ulang-ulang bisikan di telinganya; bahwa Daanish hanya perlu menunggu, bukan ditolak keinginan menyusunya.

Sesekali juga terjadi, dimana Daanish yang asyik menyusu harus terganggu dengan tangisan Azzam. Kalau sudah begini, saya cuma bisa mengelus Daanish, dan mulai bicara padanya. Saya ingin Daanish mempercepat menyusunya, tapi nanti boleh lanjut lagi. Sekarang, ia harus stop dulu, kasihan adiknya. Sering saya tambahkan, bahwa Daanish enak sudah bisa makan buah, sayur, dan nasi, jadi kalau lapar ada gantinya. Sementara Azzam cuma punya ASI untuk mengisi perutnya. Memang anak-anak itu cerdas ya, biasanya meskipun butuh waktu, tidak lama kemudian Daanish berhenti menyusu. Kebanyakan sih bisa sukses. Tidak ada tangisan, tidak ada marah-marah. Malah, dengan lucunya dia bilang “Dah, dah”. Sudah, maksudnya. Dan mulai tertawa sambil menunjuk-nunjuk ketika Azzam mulai mengambil jatah menyusunya.

Mungkin seiring hilangnya nyeri di luka SC saya, nanti tandem nursing yang benar-benar bersamaan itu akan dicoba lagi. Untuk catatan, sejauh ini baru coba menyusui dengan posisi rebah/tiduran miring, Daanish di bawah, lalu Azzam melintang di tubuh Daanish dan menyusu di PD atas. Kepala sampai pinggang Azzam ditopang tangan saya, selebihnya ‘menumpang’ badan Rakanya. Selalu saya coba posisi Daanish dulu, baru Azzam. Padahal di banyak artikel, harusnya posisikan si bayi dulu, baru kakaknya. Hummm, PR besar nih, lain kali harus cari posisi yang nyaman untuk semua.

Oya, satu lagi, meskipun tandem nursing itu sedikit bikin nyeri, dan meskipun antre menyusui itu butuh teknik jitu, perlu diketahui bahwa produksi ASI tetap mencukupi kok, bahkan untuk dua bayi sekalipun. Pernah, saya masih bisa pumping 100ml padahal 2 PD baru saja hampir dikosongkang oleh Daanish dan Azzam.

20130912-102939.jpg

Sudah menyusui dua bayi plus pumping saja, tengah malam saya masih terbangun akibat nyeri dari PD yang bengkak. Justru, dibandingkan dengan waktu Daanish masih belum berusia sebulan dulu, kali ini produksi ASI jauh lebih melimpah. Dulu, di fase ini, jarang sekali bisa multiple LDR, dan gak pernah bisa perah di atas 100ml. Sekarang, Azzam baru tiga minggu kurang, multiple LDR mah udah jadi makanan harian.

Hasil pumping? Jangan ditanya, usia Azzam dua minggu saya sudah pernah dapat 180ml sekali perah. Serius!

20130912-102749.jpg

Alhamdulillah, Allah selalu tepat janji; rejeki dari tiap nyawa itu sudah Ia tentukan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya; diam dan menunggu atau mau berlari mengejar. Sedikit sakit dan lelah memang, tapi hasilnya pun sebanding. Semangat ASI sama-sama yuk, Ibu-ibu! ^^

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s