[Testimonial] Unimom Mezzo VS Medela Harmony


pompa

Pernah beberapa kali saya ditanya soal rekomendasi breastpump. Kali ini saya sempatkan tulis perbandingan dua pompa manual yang udah saya coba. Thanks to Santy, sahabat lama yang juga ibu pejuang ASI, yang melungsurkan pompa manual Medela Harmonynya ke saya secara cuma-cuma. Tadinya saya mau beli baru, tapi khawatir gak cocok, saya sounding di status FB jika ada teman-teman yang mau menjual pompa bekas layak pakainya. Sebelumnya, saya sudah mencoba dua pompa, Unimom Mezzo manual dan Little Giant Mosella elektrik. Kapan-kapan in shaa Allah saya tulis juga testimonial yang elektrik, meskipun sampai saat ini saya belum punya pembanding sesama BP elektrik.

Biar bisa komparasi apple to apple, saya bandingkan si Mezzo dan si Harmony dulu lah ya. Semoga informasi ini bisa sedikit membantu para Ibu dan Ayah ASI yang lagi bingung pilih pompa.

1. Mezzo dari Unimom

image

Kelebihan:

  • Harganya terjangkau (dulu saya beli 200-210 ribu, sekarang sekitar 285 ribu)
  • Spare part banyak, harga terjangkau
  • Partisi yang disteril sedikit dan mudah dilepas-pasang, sehingga irit waktu dan tenaga untuk membersihkannya (cuma ada 3 bagian yang harus disteril, terdiri dari corong sekaligus badan pompa, silikon corong, dan katup/valve. kalau tutup corong dan tuas pompa sih gak perlu disteril yah)
  • Hisapannya cenderung tidak menyakitkan, cocok untuk ibu yang baru mulai belajar perah dengan BP
  • Corong yang bersentuhan dengan PD dilapisi dengan silikon massager, yang memberi efek pijat untuk mempermudah LDR
  • Corong berukuran besar (bukan diameternya, ya, tapi tingginya), sehingga lebih banyak area PD yang masuk, sehingga makin mudah pengeluaran ASI
  • Badan pompa yang transparan membuat ibu mudah melihat kuantitas ASI yang keluar (buat saya ini penting! melihat ASI deras bisa bikin aktifitas pompa jadi makin menyenangkan! hehehe :D)
  • Diameter badan pompa yang bersambung dengan botol berukuran standar, sehingga botol bisa diganti dengan merk apa saja, termasuk berbagai merk botol dot
  • Posisi katup yang agak tinggi dari leher botol penampung, memungkinkan kita untuk perah ASI hingga batas maksimal leher botol (misal, saya pakai botol penampung 150 ml, tapi saya bisa menggunakannya hingga 180 ml)
  • Memiliki penutup corong untuk melindungi corong dari masuknya kotoran saat melakukan jeda pumping. penutup ini juga bisa berfungsi sebagai dudukan botol agar botol tak mudah terguling

Kekurangan:

  • Katup/valve mudah robek, yang bisa mengurangi kinerja pompa (pompa menjadi lemah hisapannya)
  • Corong yang dilapisi dengan silikon sering membuat ASIP terjebak di antara kedua lapisannya, sehingga ASIP bocor dan merembes ke luar
  • Bagi ibu yang sudah terbiasa dengan ritual pompa dengan BP merk lain, Unimom akan terasa longgar dan kurang menghisap
  • Untuk membawanya butuh ruang lebih besar, karena corong dan badan pompa menyatu
  • Tuas tidak ergonomis (tidak bisa berputar 360 derajat)

2. Harmony dari Medela

image

Kelebihan:

  • Tuas sangat ergonomis, cocok untuk ibu sibuk atau ibu yang harus perah sambil menyusui (dan ini hal yang paling saya suka dari Harmony)
  • Dibandingkan Unimom, ruang yang dibutuhkan untuk membawanya lebih kecil. Karena corong dan badan pompa bisa dilepas. (Saya menggunakan wadah kedap udara yang setengah kali lebih kecil untuk membawa Harmony ke kantor, ketimbang Unimom)
  • Corong tunggal tanpa lapisan membuat ASI yang keluar tidak akan merembes/bocor
  • Di versi lama dalam paket terdapat 2 corong, yang silikon dan yang plastik. Corong silikon sangat nyaman dan memberi efek pijat untuk memudahkan LDR
  • Hisapan lebih kuat dari Unimom, tapi juga tidak terlalu menyakitkan. Cocok untuk Ibu yang ingin hisapan kuat saat pumping
  • Spare part banyak, karena merupakan salah satu merk pompa terkenal dan banyak penggunanya
  • Pompa tampak terlihat lebih kokoh dengan bahan plastik yang lebih tahan lama dari Unimom
  • Memiliki dudukan botol agar pompa tidak mudah terguling saat diletakkan

Kekurangan:

  • Harganya cukup tinggi (dulu jaman saya beli Unimom, harganya 450 ribu, sekarang sudah 575 ribu)
  • Harga spare part cukup mahal
  • Partisi lebih banyak dan lebih sulit dibongkar-pasang (Ada 4 bagian yang harus disteril: corong, badan pompa, katup plastik, dan pelapis katup silikon. pelapis katup ini kecil dan sangat tipis, riskan hilang. penjual biasanya merekomendasikan untuk tidak membukanya dari katup plastiknya saat membersihkan, meskipun di buku manual merekomendasikan sebaliknya
  • Sementara, silikon di bagian tuas tidak direkomendasikan untuk disteril, meskipun karena tekanan udara, sangat mungkin bagian ujung menonjol menyentuh ASI. Solusinya: dicuci bersih dan disiram air hangat)
  • Di versi yang baru, cuma terdapat corong plastik (corong silikon dijual terpisah). Corong ini kaku dan tidak memiliki efek pijat seperti corong silikon
  • Tidak memiliki penutup corong untuk melindungi corong dari kotoran saat mengganti botol (kalau botol sebelumnya sudah penuh ASIP) atau saat jeda lainnya saat perah

Itu yang saya rasakan ya, selama memakai Unimom dan Harmony. Mungkin lain ibu akan lain pula testimonialnya. Tapi buat saya, secara fungsi dan kenyamanan, kedua pompa ini 11-12 lah. Dua-duanya sama baiknya. Saran saya, kalau memang budgetnya mepet, gak perlu beli Harmony yang mahal, Unimom udah lebih dari cukup. Tapi kalo punya dana lebih, gak rugi punya Harmony. Tuas ergonomisnya itu sangat membantu saat harus pumping sambil menyusui. Kalau saya sih hobby menyusui sambil pumping. Selain karena gampang LDR, juga efisiensi waktu. Saya jadi gak harus punya waktu khusus untuk pumping, terutama selama saya di rumah. Kalau di kantor sih emang harus punya waktu-waktu khusus untuk perah, ya. Juga, kalau sudah terbiasa perah dengan BP lainnya, mungkin Unimom akan terasa kurang kuat hisapannya, dan Harmony bisa jadi solusinya. Semoga membantu sedikit yah tulisan ini. Apapun pilihannya, tetep semangat ASI selalu! ^^

Advertisements

[Seri Yayah-Anak] Ritual Mandi: Jitu Mengakali Waktu


Suami saya yang Yayahnya Daanish-Azzam itu “buruh” di pabrik. Bukan buruh kasar memang, Alhamdulillah, tapi sebagaimana pekerja di sektor swasta lainnya, jam kerjanya panjang dan ketat. Standar sih, suami biasa pergi jam 6:10 pagi dan pulang paling cepat sampai di rumah jam 18:15. Tapi itu jaraaang banget terjadi. Yah, rata-rata jam 8 malam deh. Dulu pernah ada masanya seminggu dalam sebulan kerja shift malam. Duh, saya paling gak tega kalau melepas suami kerja di jam yang sebenernya hak tubuh untuk bisa istirahat. Syukurlah, sekarang gak lagi. Minimal 1x dalam sebulan wajib masuk kerja hari Sabtu dengan jam kerja normal. Kadang bisa 2-3x kalau ada pekerjaan penting lainnya.

Dari kaca mata saya yang PNS, jadwal kerja suami ini udah cukup sibuk. Biasanya suami pergi ke kantor ketika anak-anak masih asyik bermimpi. Pun, ketika ia pulang, lebih sering anak-anak sudah naik peraduan. Kami pun “cuma” punya waktu sekitar dua jam buat ngobrol. Biasalah, update keseharian anak-anak, cerita tentang keluarga, kejadian menyenangkan/menyebalkan di kantor, dan rencana esok hari. Selebihnya, saya harus pumping, menyiapkan ASIP, MPASI; ia pun butuh istirahat.

Saya dan suami in shaa Allah bisa bertahan dengan keadaan ini, bagaimana pun kami sudah cukup lama berumah tangga. Melihat teman lain ada yang lebih jarang bertemu suami/istri, lebih sebentar waktu bersamanya; kami putuskan untuk mensyukuri yang kami jalani. Tapi pertanyaanya, bagaimana dengan anak-anak?

Father is a son’s first hero and a daughter’s first love (anonim).

Indeed, can’t agree more! Saya sangat sangat setuju dengan ungkapan itu. Sebagai anak perempuan, saya benar-benar merasakannya. Saya terbentuk dari kebersamaan dengan Papa yang lebih banyak dari segi kuantitas ketimbang dengan Mama. Tentu saja secara kualitas, kebersamaan dengan keduanya berimbang. Tapi padatnya konten pekerjaan Mama dan jauhnya letak kantornya, mau tak mau sedikit membuat waktu yang kami habiskan lebih pendek. Bandingkan dengan Papa yang seorang “guru” dan tempat kerjanya di depan rumah kami. Ketika tidak ada jadwal mengajar dan pekerjaan lainnya atau di jam istirahat siang, beliau ada di rumah. Saya dan adik-adik bisa lomba makan kacang kulit dengannya di pagi hari, makan es mambo rasa rujak di siang hari, atau karaoke di rumah dengan lagu-lagu lawas miliknya di sore hari. Saya hampir tak merasa kalau Papa bekerja dan harus jauh dari jam sekian sampai jam sekian, misalnya. Ya, karena beliau kayaknya ada terus di sekitar kami. 🙂

Kebersamaan dengan Papa, membuat saya sudah bercita-cita sejak kecil: mau punya suami kayak Papa. Cita-cita yang tanpa saya sadari tumbuh dan mengakar; yang bahkan awalnya tak disadari dari mana asalnya. Terjawab sudah, ternyata inilah buah dari kebersamaan itu, buah dari panjangnya waktu yang kami habiskan itu.

Kembali lagi, lantas bagaimana dengan suami dan anak-anak yang tak punya kuantitas waktu bersama sepanjang itu?

Kecipak Kecipuk, Pakpung Sama Yayah, Yuk, Anak Kocet!

Saya bersyukur sekali punya suami yang sama sekali gak berisik soal makanan, rumah, dan anak-anak. Sebaliknya, dia ringan tangan membantu pekerjaan rumah, selagi dia gak sibuk atau terlalu lelah. Satu lagi, dia paling suka dilibatkan dalam urusan anak-anak. Ganti popok, gendong sampe bobo, main dan jalan pagi/sore, sampe mandiin anak-anak.

Kalau di usia 21 bulan ini Daanish lebih fasih bilang “Ayayah”, lebih sering panggil Yayahnya ketika sedih/takut, dan lari heboh sampe kesandung demi bukain pintu ketika Yayahnya pulang, itu karena quality time mereka berjalan sukses. Sukses berat.

image

Sejak lahir, Daanish lebih sering mandi pagi dan sore dengan Yayahnya. Dimulai dari kondisi pasca SC yang bikin saya bener-bener kepayahan, jalan susah, jongkok gak bisa, angkat berat gak kuat, akhirnya suami yang mandiin si Daanish. Pakpung adalah bahasa Sasak Jawa yang saya kurang tau persisnya dan berarti “mandi”. (Oya, editing dilakukan karena ternyata setelah suami baca tulisan ini, spontan dia bilang, “Pakpung tuh bukan bahasa Sasak.” Loh, bahasa apa dong? Dijawab santai oleh suami sambil ngeloyor pergi, “Gak tau. Bahasa ‘Ibu’ kali. Dulu tau dari Ibu, sih.” Lhaaa, gimana sih ini? Okelah, saya gak bisa tunda edit karena sudah ada komentar yang protes. Hihihi. Begini jadi hasilnya, yah.)

Sedangkan “anak kocet”, baru beneran bahasa Sasak. (Sayangnya saya belum konfirmasi lagi, bener gk inih nulinya yak? :d) Yayahnya Daanish yang 100% berdarah Yogyakarta tapi jauh lebih fasih berbahasa Sasak ini akan membujuk si sulung mandi dengan panggilan khasnya, “Daanish, pakpung sama Yayah, yuk, anak kocet!” Dan dengan mata berbinar, tanpa tolakan, setengah berlari dia akan menghambur ke kamar mandi.

Sikat ini sikat itu, gosok ini gosok itu, sabun di sini dan di situ. Kamar mandi becek heboh kalo Daanish udah mandi sama Yayahnya. Tau apa bonusnya? Suara tawa atau cekikikan mereka di balik pintu kamar mandi. Iiiihhh, mandi apa mandi sih itu cowok berdua? Bikin penasaran aja coba ngomongin apa sampe serame itu?

See. Pada akhirnya, semua orang yang melihat Daanish dan Yayahnya selalu sepakat: mereka sangat dekat. Dan lagi-lagi, saya amat bersyukur dengan kondisi ini.

Ada satu titik yang juga menjadi milestone meningkatnya keintiman mereka. Saat saya mulai hamil, saya menghindari menggendong Daanish. Mulai saat itulah Daanish jadi lebih “bau tangan Yayah” ketimbang Ibubunnya. Kelelahan saat hamil juga membuat saya lebih sering minta tolong suami untuk menghandle Daanish; ganti popok, kasih makan/cemilan, ajak jalan pagi/sore, hampir semua deh pokoknya.

Ditambah lagi, dua minggu sebelum HPL, kami putuskan untuk menyapih sementara Daanish. Wah, saya udah cerita kan yah tentang masa-masa sulit ini. Walhasil, Daanish lebih deket ke Yayahnya setelahnya; setelah ritual nenen-bobo digantikan dengan gendong-bobo di malam hari. Bye bye nenen Ibubun, welcome gendongan Yayah. Huhuhu.

Secara pribadi saya pun merasa, saat hamil Azzam kemarin adalah saat saya merasa agak berjarak dengan Daanish. Entah karena kondisi fisik saya saat hamil, atau keintiman baru saya dengan janin, atau apa, saya juga gak tau. Yang jelad sejak itulah kedekatan Daanish dan Yayahnya menguat berkali lipat dibanding sebelumnya. Mereka gak cuma jadi nempel, tapi nempeeel banget. Kadang, bikin saya juga iri liatnya. Hehehe. 😀

Begitulah. Merasa ritual mandi seru ini bisa sedikit “mengobati” rindu Daanish yang cuma punya sedikit waktu bareng dengan Yayahnya, estafet pun dilanjutkan. Meski sampe sekarang masih lebih sering saya mandiin Azzam, begitu ada kesempatan biasanya langsung diambil sama suami. Sabtu-Minggu yang libur, jelas duo Daanish-Azzam pasti mandi sama Ayayah. Hari kerja pun, kalo kebetulan Azzam bangun “subuh”, suami bakal buru-buru mandiin si Azzam sebelum dia tidur lagi. Hehehe.

Pernah karena udara agak dingin seharian, Azzam gak saya mandiin sore. Pas suami pulang kantor, ampyuuun deh, jam setengah delapan malem juga direndem air anget tuh bayi. Hihihihi. Saking pengennya mandiin Azzam, sampe gak ganti baju dulu tuh, masuk rumah langsung gatel mau mandiin Azzam. Anehnya si Azzam malah cengar-cengir ceria. Kakinya dihentak-hentak ke bak mandinya. Riuh suara kecipak kecipuk malah bikin bayi sebulan itu tambah seneng. Aih, bisa kompakan gitu bapak sama anak, yah.

Jadi, yah, di antara kekurangan kami dalam menyediakan segunung kasih sayang buat anak-anak, kami menemukan dampak positif dari ritual mandi bapak-anak ini. Ternyata sentuhan fisik dan psikis seorang ayah saat mandi bener-bener tertanam di jiwa anak-anak. Momen mandi jadi momen yang mereka nanti; penuh tawa dan seru! Ritual mandi juga jadi kesempatan suami ngobrol dengan anak-anak; jadi ajang ngelepasin kangen juga.

Oya, saking seringnya mandiin anak-anak, suami ngeh loh kalo saya ganti merk sabun bayi. Pernah suatu kali saya mandiin Azzam pagi pake sabun bayi yang gak biasanya, karena pas mandiin sabun yang biasa abis. Sorenya padahal udah balik ke sabun biasa loh. Tau-tau pas pulang kantor, suami yang lagi asik nyiumin dua bayi protes, “Azzam dipakein sabun apa sih? Kok, baunya beda?” Ampuuun deh, padahal kan itu kejadian paginya, bukannya udah ketutup sama wangi sabun yang sore ya? Kok idungnya tajem banget yak, bisa sampe melacak ke kejadian hampir 12 jam yang lalu? Bwahahahaha. Saking udah nempelnya itu bau sabun bayi kali yah, di idung suami. 😉

Satu hal sederhana yang selalu suami banggain tiap abis mandiin anak-anak, “Hummm… Kalo mandi sama Yayah rambutnya Daanish dan Azzam harumnya tahan seharian.” Dan itu bener banget, dibandingin dengan mandi sama saya atau pengasuhnya, rambut anak-anak emang bisa lebih lama tahan wanginya. Bener banget, karena setelah saya cek, botol sabun dan sampo bayi emang berkurang lebih cepet kalo anak-anak mandi sama Yayahnya. Mwihihihi… Cinta emang kudu dimodalin yak. 😀

Berbekal pengalaman ini, kami bagi ceritanya di blog, supaya bisa diambil hikmahnya. Mungkin, kalau ada keluarga lain yang juga merasa kesulitan mengakali kuantitas waktu ayah-anak, kenapa gak coba serunya mandiin atau mandi bareng anak-anak? Anaknya seneng, ayahnya seneng! Hasilnya, anak nempeeel ke ayah, dan ibu? Ibu jadi bisa leyeh-leyeh, ongkang-ongkang kaki, atau ngeblog begini! *eh* Hihihihi. ^^

Saat Bayi Mulai Makan, Saat Ia Mencecap Semangkuk Cinta Ibu


Ibu, ketika sudah terlanjur memberikan susu instan lantaran kesulitan mengatur metabolisme internal tubuh guna memproduksi cukup ASI, tidakkah ketika si kecil memulai fase MPASInya ibu berniat “balas dendam” dan memberikan hanya yang terbaik nan alami untuknya? Membuat makanan bayi tidak membutuhkan pengendalian metabolisme tubuh internal, semuanya serba eksternal. Kecuali, niat kuat dalam hati kita tentunya.

Ketika sudah bertekad untuk “balas dendam”, mencoba memperbaiki “kesalahan” karena tidak mampu memberi si kecil ASIX selama 6 bulan, saya yakin yang hadir adalah sosok ibu dengan semangat baru. Seorang ibu yang rela belajar masak sederhana demi si kecil. Seorang ibu yang nyemplung grup sana-sini, ikut seminar di sini-situ, dan baca buku/artikel ini-itu, demi dan hanya demi asupan alami terbaik bagi si kecil. Ibu, jika anak riang nan ceria, siapa yang bahagia? Jika anak sehat, imunitasnya baik, tidak sering sakit, lekas pulih saat sakit, dan gagah nan aktif dalam kesehariannya, siapa yang bahagia? Kita, ya, tentu orang tuanyalah yang akan jadi manusia paling bahagia demi melihat si kecil tumbuh demikian baik, bukan?

Saya tidak bicara soal berat badan. Kita sudah tertinggal terlalu jauh kalau hanya mengandalkan berat badan dan kenaikannya sebagai patokan tumbuh kembang anak. Kenapa? Ayo, yang punya akses bisa baca tulisan di blog ini, buka juga kamus sejati si Mbah Google itu dan tanyakan kenapa. Mulai dari titik ini, mari biasakan mencari tahu sendiri, mari upayakan pemberdayaan diri, mari cerdaskan diri sendiri dan marilah mulai “kepo” dan sangat kepo untuk cari tahu apapun tentang tumbuh kembang anak. Ingat, kita adalah orang tua kini, ada nyawa-nyawa yang masa depannya bergantung pada seberapa besar usaha kita untuk membuat fisiknya sehat dan jiwanya bugar.

Saya juga tidak bicara makanan rumahan untuk anak-anak yang lebih besar, meskipun secara pribadi berharap kebiasaan baik masak untuk keluarga bisa diteruskan. Tapi tidak, saya ingin kita fokus pada makanan balita, lebih sempit lagi pada makanan pada fase awal MPASI hingga si kecil berusia dua tahun. Kita bicara tentang bayi yang seumur hidupnya baru belajar mencerna makanan; tegakah ibu jika lidah dan saluran cernanya ‘diperawani’ makanan pabrikan yang telah mengalami sekian proses hingga berkurang atau bahkan hilang kandungan nutrisinya? Oh, please, jangan bilang “biasa aja tuh, gak masalah.” Apalagi kalau kita malah mulai bersiap-siap dengan segala argumentasi (baca: pembenaran) tentang pemberian aneka makanan pabrikan itu. Alih-alih belajar hal baru, kita justru akan kian defensif dan berbangga hati akan pilihan yang serba instan itu.

Sudah baca tentang kontaminasi bakteri Enterobacter Sakazakii pada susu formula yang merknya tidak dipublikasikan oleh pemerintah padahal keputusan pengadilan mengharuskan demikian? Well, saya juga baru tahu setelah nonton acara Kick Andy beberapa hari lalu, dan menemukan bahwa Kemenkes ternyata telah digugat oleh seorang pengacara agar membeberkan temuan tersebut sekaligus mengumumkan produk dimaksud. Gugatan ini dimenangkn oleh majelis hakim dan masyarakat berhak untuk mengetahui informasi yang benar terhadap produk yang dikonsumsinya (perlindungan konsumen). Ajaibnya, meskipun dinyatakan kalah, Kemenkes hingga detik ini kita tak kunjung membuka informasi tentang produk yang sebenarnya mengancam kesehatan anak-anak kita itu. Sungguh ironis.

Susu formula saja bisa terkontaminasi bakteri; bagaimana kita yakin kalau bubur dan biskuit bayi pabrikan bebas kontaminasi? Sekarang, tidakkah kita mulai merasa cemas. Tolong bayangkan saluran cerna yang belum sempurna itu, belum tersedianya segala enzim, geligi yang belum lengkap, dan ah… bayangkan saja tentang seringkih-ringkihnya bayi-bayi baru belajar makan yang amat kita kasihi itu. Betulkah kita tega memberinya “sesuatu” yang kita tidak yakin isi dan proses membuatnya, bahkan tak jua yakin akan manfaatnya untuk si kecil?

image

Ah, ayolah, ibu dan ayah yang sudah sampai pada tulisan ini, saya yakin adalah mereka yang tidak akan tega melakukan hal di atas. Tinggal maju sedikit ke tahap mau baca dan belajar lebih banyak lagi tentang MPASI dapur ibu, dibarengi dengan niat tulus demi memberikan si kecil kesempatan belajar makan yang baik, saya percaya kita sedang menuju ke arah yang sama.

image

Selain niat dan usaha untuk memperkaya ilmu, yang kita perlukan berikutnya cukup belanja makanan segar, olah secara sederhana, dan menyajikannya penuh cinta di hadapan si kecil yang membuka mulutnya lebar-lebar, seolah tak sabar menanti semangkuk cinta itu. Tidak bisa belanja setiap hari, belanjalah seminggu sekali. Rumah kita jauh dari pasar,  manfaatkan supermarket dengan diskon mingguannya. Tidak punya dana lebih dan akses terbatas, titiplah yang sederhana dan pas di kantong pada tukang sayur keliling. Sesuaikan dengan keuangan rumah tangga, sesuaikan dengan kekayaan alam sekitar; cari yang mudah didapat dan murah di kantong.

image

Kita tidak perlu melulu mengikuti resep ideal seperti yang kita baca di buku atau peroleh di internet. Ada labu parang sebagai ganti kabocha. Ada mentimun sebagai ganti zucchini. Ada pisang raja/ambon sebagai alternatif pisang cavendish  Ada kombinasi keju cheddar yang lebih murah (dan sudah lebih banyak beredar di tanah air) dan susu cair untuk mengganti cream-cheese. Ada susu UHT untuk mensubstitusi susu evaporated. Ada banyak, Ibu, banyak sekali makanan lokal yang lebih kaya. Jangan paksakan memasak macaroni schotel, kalau ternyata kue pisang lebih cocok di lidah. Jangan pula paksakan membuat kue lapis legit yang sulit jika pancake lebih mudah dan cepat dikerjakan. Lakukan sebisa kita, masak semampu kita.

image

Perkara kita ingin meningkatkan kemampuan memasak, itu lain urusan. Utamakan dulu kemampuan: baik dana, waktu, dan keterampilan. Jangan terlalu memaksa diri pada awalnya, temukan keasyikan seiring berjalannya waktu. Jangan menyudutkan diri sendiri dan jangan bikin diri kita terlalu lelah. Lebih baik kecil dan sederhana tapi berkesinambungan, daripada besar dan rumit tapi hanya sesekali. Mudahkan diri kita, agar rasa bosan enggan mampir, agar rasa lelah cepat enyah.

image

Begitu kita temukan keasyikan saat menyiapkan makanan si kecil, siapa pun tidak bisa mengerem suka cita saat melakukannya. Begitu kita temukan kebahagiaan di wajah si kecil saat ia makan, apa pun di dunia ini tidak akan sanggup menggantikan rasa bangga menjadi ibunya.

Percayalah, binar matanya dan belepotan di pipi dan dagunya saat mencicipi masakan ibu, akan jauh lebih membahagiakan ketimbang melihatnya makan semangkuk bubur instan dan sekerat biskuit pabrikan. Ada cinta dalam semangkuk makanan dan segelas minuman yang ibu siapkan untuknya. Di jiwanya kini, ia cecap cinta dalam sederhananya makanan yang kita siapkan; dan seumur hidup ia takkan pernah lupa “rasa” cinta itu. 🙂

[CeritASI] [TandemNursing] Cara Jitu Cepat Kurus! (2)


Eaaa… lanjut lagi di sini curcolan a la emak-emaknye. Heran yah, perasaan kemaren-kemaren mau nulis gak sempet melulu. Sekarang giliran udah mulai nulis, gak bisa berenti. Tulisan sederhana yang harusnya jadi satu tulisan pendek aja, bisa jadi dua tulisan gini. Dasar emak-emak, disuruh cerita mah, semangat 45. Mumpung hari pahlawan baru lewat sehari! *gagal cari alesan yang tepat 😀

Setahun usia Daanish, dan saya tetap “berat”, perut pun tetap “mbuncit”. Penyemangat hati saya cuman satu: saya gak diet dan gak mau diet demi ASI buat Daanish. Hihihi. Hidup ibu ASI yang lebih cinta ASInya cukup ketimbang mikirin bentuk tubuh deh pokoknya. I heart you, mommies! Sungguh! *nyari temen 😀

Setahun lebih usia Daanish, selain tetap berat, perut kok perasaan tambah maju, yah? Tiga bulan berlalu dan saya baru nyadar: saya beneran hamil! Jadi yaaah, yang tiga bulan terakhir itu saya memang gemuk lucu nggemesin karena memang hamil anak ke dua. (Tunggu, tunggu. Loh, itu kan yang tiga bulan terakhir, yang setelah Daanish umur setaun. Kalo yang 1-2 bulan awal masuk kerja itu, yang dikira hamil dalam bus itu, yang angka timbangan gak turun dan yang gak bisa pake baju seragam kantor itu, apaaa?) Mwehehehe. Let the past be the past ya, pemirsah. Gak baik mengungkin masa lalu, ah. *modus ga mau dibilang gemuk 😀

Setelah tau hamil anak ke dua, saya stop dong bingung-bingung mikirin BB. Soalnya, hamil adalah alasan paling oke buat makan banyak sekaligus pembenaran paling tak terbantahkan untuk setiap kg pertambahan BB. Hihihi. Eh, klausul keren nih, statemen barusan kayaknya kudu dipatenkan. Jadi yang mau merujuk, harus mencantumkan sumbernya ya. 😉 Ayo-ayo sini, yang merasa senasib sepenanggunan dengan saya. Sini, jangan malu-malu. Hihihi.

Singkat cerita, lahirlah Azzam, anak ke dua saya. (Kenapa ceritanya disingkat, karena kalo gak bisa ada jilid 3, 4, 5 dst ini tulisan :p). Azzam lahir saat Rakanya belum genap berusia 20 bulan. Otomatis, saya masih harus juga memenuhi hak Daanish akan ASI. Karena sudah NWP selama hamil Azzam, begitu Azzam lahir saya bertekad lanjut dengan tandem nursing; menyusui dua bayi bersamaan.

Tandem nursing (TN) itu rasanya nano-nano banget loh, para pembaca yang unyu-unyu. Pada awalnya saya gak tahan sama nyeri jahitan dan kontraksi pengerutan rahim yang kerap jadi berkali lipat sakitnya kalo sedang TN. Sakiiiittttt beneran deh. Jauh lebih sakit daripada pengalaman perdana nyusui anak pertama dulu. Baik menyusui bergantian maupun barengan sekali waktu, dua-duanya butuh kesabaran. Sabar nahan sakit. Sabar nahan capek.

Inget rasa nyeri puting juga kan waktu awal-awal menyusui? Ini juga sama, mana kanan dan kiri pula. Beuhhh, kalo gak demi anak dan inget kalo dalam setiap tetes ASI itu ada ganjaran dari Allah aja, nyerah deh nyerah. Huhuhu. Saking stressnya, sesekali saya juga mojok di kamar, nangis. Kadang gak tahan sakitnya. Kadang gak kuat lelahnya. Kadang gak mampu ngendaliin emosinya. Macem-macem deh. 😥

Rasa ‘cuma’ berfungsi sebagai ‘sapi perah’ juga mendadak membumbung. Saya merasa useless. Merasa gak ada guna yang lain selain ngasih ASI ke anak-anak. Entah kenapa ada saat-saat dimana saya ngerasa kecil sekali, kalo ‘cuma bisanya’ menyusui tanpa henti. Gak bisa pegang kerjaan rumah, gak bisa bikinin cemilan Daanish, gak bisa produktif nulis, dan sedang gak aktif kerja di kantor pula. Seharian kerjanya cuma menyusui dan menyusui lagi. Lepas si kakak, lanjut si adek. Baru istirahat bentar, si kakak bangun. Mau rebahan bentat karena sehari semalam belum tidur, eh, setengah jam sekali si adek minta ASI. Di sela-selanya, saya harus mulai pumping, supaya anak-anak punya stok ASIP cukup saat saya mulai kerja nanti. Lelah? Bangeeet! Lahir batin malah. Huhuhu. Saya yang waktu anak pertama gak ngalamin baby blues, kali ini ngalamin berkali-kali. Duh…

Perjuangan dimulai dari hari pertama Azzam lahir. Belum bisa nemuin ritme yang pas antara saya, Daanish, dan Azzam, saya harus bertempur sendirian sejak malam pertama Azzam lahir. RS gak mengizinkan keluarga laki-laki menunggui pasien di bangsal ibu bersalin di atas jam 9 malam. Rasanya? Pengen teriak, deh! Orang tua dan mertua saya jauh. Saya terpaksa SC dan jahitan luar biasa nyerinya. Bangun saya belum bisa, miring pun dipaksakan. Suster kurang sigap saat dimintai tolong. Hasbunallah wa nikmal wakiil nikmal maula wa nikman nasiir, Allah sebaik-baik penguat, dan dari-Nyalah kekuatan yang entah dari mana itu bisa muncul. Pokoknya akhirnya Azzam bisa full ASI dari awal, saya mulai perah dari hari pertama, dan sesekali menyusui Daanish di RS (di rumah dia minum ASIP).

Lanjut to the next battle, sebulan usia Azzam, suami harus dinas ke Thailand selama 6 hari. Oh, penderitaan belum berakhir ternyata. Saya bergantung sekali pada suami kalau sudah namanya malam hari. Sering, TN terlalu sulit dilakukan karena saya terlalu drop. Saat itulah satu bayi ditimang suami, sementara saya menyusui yang satunya. Baru setelah yang disusui itu tenang, saya lanjut menyusui yang nomor antrian berikutnya. Lhaa, kalau suami gak ada, saya (baca: kami) gimana dong? Sambil berderai-derai air mata, entah bagaimana, akhirnya terlewati juga seminggu itu. Dengan bonus jackpot, saya menemukan 3 posisi baru buat TN yang minim lecet dan sakit. Alhmdulillah.

Masih harus menerima medan pertempuran lain sebagai tanda kasih dari Allah, selama sembilan hari penuh di masa pra dan pasca Idul Adha kemarin, saya ditinggal oleh ART pulang kampung. Ini lebih parah lagi. Nyeri jahitan tentu saja masih, kerjaan rumah full dipegang saya, urusan bayi 21 bulan dan 1 bulan selama 24 jam juga saya pegang. Serunya, entah kenapa minggu itu suami luar biasa sibuk di kantornya. Sabtu Minggu pun tetep ngantor. Hari kerja jangan ditanya, kalo gak pulang larut ya laruuuut banget. Hehehehe. Ada banyak momen dimana saya harus menahan kantuk 2-3 hari; begadang melebihi saat menulis tesis S2 dulu. Dengan lelah fisik, mental, dan pikiran, 10 hari pun berlalu. Ini momen terberat sampai saat ini, dan tentu saja ada banyak sekali mendung, hujan, dan badai di dalamnya. Selama cuti, ini momen paling mellow sedunia deh pokoknya. 😉

Nah, 3 momen besar itu mungkin yang membantu saya cepet kurus. Di luar itu, diet kebetulan saya juga didukung oleh proses TN plus pumping harian yang udah meningkat frekuensinya jadi 3x sehari sekarang. Sekarng sih TN udah makin jago. Alhamdulillah nyeri bekas SC dan kontraksi rahim juga udah gak ada lagi. Makin lancar makin okeh deh tandem nursingnya. Hayuk sini, ada yang mau berguru? *pletak, sok keren amat! :p

Jadi yah, kalo mau cepet kurus, jalanilh TN. Kalo mau TN, punyalah anak dalam usia berdekatan. Hahaha, logical fallacies! Enggak ding. Saya percaya yng saya jalani sudah ditentukan oleh Allah. Termasuk skenario yang mengharuskan saya TN. Saat ini, saya masih aktif menyusui Daanish yang 22 bulan dan Azzam yang 2 bulan. Daanish menyusu 4-6x sehari. Kalo si newborn Azzam bisa 1-2 jam sekali, karena bayi ASI mudah laper dan haus. Di sela-sela itu saya perah 2-3 kali sehari, dengan perolehan sangay bervariasi, mulai dari 100 hingga 400 ml per hari. Ritme ituuu aja tiap harinya.

Tapi, ibu-ibu inget gak tuh rasa laper, haus, ngantuk, dan lelah kalo abis nyusui si kecil? Nah, itu saya mungkin bisa dibilang 2x lipet rasanya. Karena dua bayi yang harus disusui itu. Kadang kayak abis nyangkul di sawah deh rasanya setelah seharian menyusui dll itu. *Halah, kayak tau aja rasanya nyangkul di sawah :)) Kadang juga bingung kalo jadi gak rajin ke kamar kecil jadinya. Mungkin gak karena hampir seluruh makanan cuman kulonuwon aja dan terus bablas jadi ASI dan diambil sama dua bayi saya ya?

Makan sih saya gak senafsu jaman nyusuin Daanish, kadang cuma 2x sehari. Tapi kalo ngemil sih jagonya. Alasan bikin cemilan buat Daanish, ujung-ujungnya saya juga yang ngabisin. Yang pasti masuk tiap haris tentunya buah dan sayur. Kemaren-kemaren sempet aktif minum madu/air madu juga, tapi sekarang lagi abis madunya. Sesekali minum UHT, bukan karena khasiatnya, tapi lebih karea kepengen. Sesekali juga beli tape ketan. Lagi-lagi lebih karen sayanya yang ngidam.

image

Meskipun kadang-kadang pusing kalo kurang makan/minum, tapi sekarang saya bisa berbinar-binar liat angka digital di timbangan. Mimpi muluk-muluk yang dulu itu, udah jadi kenyataan. Kenyataan yang terlalu indah malah. Angkanya gak cuma turun ke masa sebelum hamil anak pertama, tapi terus merosot ke angka pada masa sebelum/awal nikah. Cihuy, eh, alhamdulillaaaaaah! ^^ *peluk timbangan erat-erat

[CeritASI] [TandemNursing] Cara Jitu Cepat Kurus! (1)


OCD mah lewaaat! Diet karbo juga lewaaat! FC juga lewaaat! Hihihihi… Ampuuun, saya gak bermaksud provokatif, lho. Pun, gak bermaksud nyindir-nyindir soal BB para busui. Baca dulu sampe abis yah, semoga ada hal baik yang bisa diambil hikmahnya.

Oke, saya memang gak bisa bilang kalo cara diet a la tandem nursing ini lebih baik dari cara dien A, B, C, dst. Karena saya gak pernah nyoba diet dengan metode apapun. Plus, “keberhasilan” saat saya tandem nursing pun buat saya adalah bonus. Serius, jadi kurus sama sekali bukan target saya. Ayolah, percaya saya, biar tulisan saya laris manis sampe abis. *eh, loh?!

Sebelumnya, saya mau cerita gimana sedihnya saya dulu setelah masuk kerja usai cuti bersalin anak pertama. Kejadiannya bukan di awal-awal banget masuk kerja, sudah berjalan 1-2 bulan setelahnya. Rute dari rumah ke kantor memang salah satunya dijalani dengan menumpang bus trans Jakarta. Koridor Cililitan-Grogol termasuk koridor yang rame, bahkan di jam ngantor “agak siangan” seperti yang saya jalani.

Pada satu hari yang indah itu, saya ikut berjejalan masuk ke dalam bus. Selalu menjadi tempat favorit, di area khusus wanita saya berdiri nyempil. Gemblokan lengkap, tas kerja dan aneka pritilan kerja, plus satu tas pendingin (cooler bag) lucu berisi seperangkat breast-pump, botol-botol penyimpan ASIP, cooler gel, dan hand sanitizer. Yep, inilah saya, pahlawan bertopeng! Hihihi, bukan, bukan. Saya resmi jadi ibu bekerja plus ibu perah mulai dari hari pertama masuk kerja pasca cuti bersalin Daanish. Oh, indahnya duniaaa… 😉

Belum, ini sih belum sampe ke bagian sedihnya, jadi jangan nangis dulu dong, ah. Bikin saya ga enak aja :p. Nah, sesaat setelah nyempil di depan para wanita yang duduk itulah, momen paling menyedihkan itu terjadi. Tetiba seorang perempuan muda yang cantik (eh, cantik ga yah? lupa! :D) berdiri dan menatap saya penuh iba. “Ibu, silahkan duduk, Ibu sedang hamil, kan?” ujarnya tulus. Oh my! Sekalipun ingin saya berterima kasih atas sopan santun dan ketulusannya, saya sempat cuma mematung. Alih-alih duduk dan bilang ‘makasih’, saya malah manghadapkan jari telunjuk kanan ke muka sendiri dan dengan polosnya bertanya balik, “Saya?” Dan perbuatan bodoh saya itu diikuti dengan anggukan lembut perempuan muda tadi seraya diiringi tatapan mata-mata yang kian banyak tertuju pada perut saya. Aaah, saya pengen ngilang detik itu juga! Ngilang bentar terus cari penghapus ingatan biar orang-orang di bus tadi amnesia kalo ada saya di dalem bus.

Saya bisa saja menyelamatkan harga diri saya dan mengangkat harga diri si perempuan muda dengan bilang ‘iya, terima kasih’, lalu sekonyong-konyong duduk manis di bangku yang disediakan. Toh, gak ada yang tau kalo saya bohong. Plus, bonusnya saya dapet tempat duduk di tengah macetnya lalin hari itu. Tapi, dengan kuyu dan setengah menunduk, saya jujur bilang, “Gak, Mba, saya gak lagi hamil. Silahkan bangkunya untuk yang lain.” Keliatan keren dan gentle-woman (gyahaha, gender-oriented banget nih penulis :D) sekali yah, pernyataan saya itu. Efeknya dooong, yang luar biasa. Seharian saya gak PD di kantor. Baju luaran yang gedombrong saya tutupkan ke perut, jilbab pashminanya juga. Masih kurang usaha, bolak-balik deh ke kamar kecil demi melihat dengan mata kepala sendiri bayangan tentang seberapa mirip orang hamilnya saya saat itu.

Sayangnya, di kantor gak ada cermin ajaib punya ibu tirinya si Snow White. Saya cuma dikasih potret jujur tentang diri saya; yang membuat saya mahfum kenapa perempuan muda tadi bersikap demikian. Yah, saya terima, sudah nasib. Di atas timbangan, kenaikan BB selama hamil Daanish yang hampir 20kg itu, nyatanya memang baru berkurang separuhnya. Ditambah, saya juga mencintai pembenaran bahwa busui cenderung lebih mudah lapar dibanding bumil. Dan berpegang erat pada klausul bahwa ada pantangan buat bumil, tapi gak ada namanya pantangan buat busui. Semakin banyak saya memproduksi ASI, semakin banyak dan seringlah saya makan, semakin gembullah diri ini. Semakin, oh semakin-makinnya. 😥

Saya percaya, waktu gak cuma bisa bikin luka hati terobati. Saya juga percaya bahwa waktu bisa bikin BB saya balik lagi. Seenggaknya balik ke BB sebelum hamil Daanish lah. Kalo ngarep balik ke BB sebelum ato di awal nikah sih, saya udah yakin ga bisa. Nah, mimpi yang saya setel udah gak muluk-muluk kan sebenernya?

Mulai saat itu, bilang ‘bye bye’ deh ke para baju kesayangan yang gak muat, muat tapi maksa, dan muat tapi bikin keliatan hamil. Huhuhu… Eh, gambar cuma ilustrasi, tidak untuk diminta lantaran udah gak muat lagi loh yaaa. 😉

image

Lagian selain kepada sang waktu, saya juga bergantung nan berpegangan erat pada proses menyusui dan pumping. Saya percaya pada kata-kata manis di berbagai artikel, “menyusui dapat membantu menurunkan berat badan ibu,” sebagai salah satu manifestasi manfaat menyusui. Sayangnya, sampai Daanish jelang setahun, angka di timbangan tak kunjung turun ke titik yang diharapkan. Mimpi tinggal mimpi. Sekarang target saya turunin lagi, ‘asalkan gak ada orang di bus kasih saya duduk karena ngira saya hamil aja, saya udah bersyukur banget!’ Oke, itu aja targetnya. Gak muluk-muluk mau kurus lagi kayak dulu, deh. Enggak. Cuman jangan dikira hamil aja. Titik.

[CeritASI] [TandemNursing] Hore! Nemu Posisi Cihuy!


Ealah, meskipun judulnya provokatif, tapi inget judul folder di dalam tanda kurung kotakya, yak. Wihihiw 😀

Ini cerita lamaaa sebenernya, tapi baru sempet nulisnya. Sejak ganti ke android nih, jadi males ngetik-ngetik. Kalo buat ngetik panjang saya udah terlanjur cinta, cyiiinnn, sama iphone jadoel saya. Sensitivitas de-el-el plus jam terbang pemakaiannya juara!

Oke, balik ke fokus. Perjuangan ekstra berat itu dimulai pada saat si Mas kudu ke Thailand selama 6 hari, meninggalkan saya, Daanish yang 21 bulan, Azzam yang sebulan, dan (memang ada) ART di rumah. Memang semua urusan rumah sudah tertangani dengan si Ibu asisten, tapi anak-anak tetap di bawah tanggung jawab saya. Yang bikin kesel, saat butuh energi besar begini, nyeri bekas SC tuh ya, masihhh kerasa. Ini nih yang dibilang orang-orang kalo SC tuh cenderung lebih lama pulihnya. Di saya sih, emang bener.

Suami sudah wanti-wanti, demi melihat saya kerap kesakitan bahkan menitikkan air mata saat tandem nursing, kalo saat malam hari Daanish boleh bobo sama asisten di rumah. Biar Azzam aja yang bobo sama saya. Pengalaman dulu kalo saya yang dinas ke luar kota dan harus ninggalin Daanish di rumah, Yayahnya juga gak sanggup ditinggal berduaan dengan Daanish di malam hari, padahal dulu belum ada Azzam loh. Soalnya cuma si Ibu asisten yang bisa bujukin Daanish minum ASIP malem hari dan nidurin lagi setelah dia kebangun. Makanya si Mas ngerti banget beratnya harus tidur semaleman, apalagi dengan dua bayi, apalagi selama seminggu. Dan, apalagi Azzam belum nemu pola tidurnya dan masih naik-turun dengan fase growth spurtnya. Aaaa…, “apalagi”nya banyak beneeer. >,<

Ternyata, beda dengan keadaan kalo ga ada saya, pas ga ada Yayahnya si Daanish justru nempeeel mulu sama saya. Otomatis bobo malem pun pengennya bareng. Niat hati sih mau nidurin dua anak ini satu-satu, karena kalo menyusu dua-duanya suka lamaaa banget. Dan saya saat itu masih belum jago juga cari posisi uenak buat tandem nursing.
Rencana tinggal rencana. Begitu ditinggal asisten istirahat, Daanish dan Azzam yang perlahan mulai ngantuk bersamaan, justru rewel bersamaan. Dua-duanya nangis sekenceng-kencengnya, dua-duanya minta nen, dua-duanya mau saat itu juga. Namanya bayi, mana ada yang mau ngalah. Haus, laper, ngantuk. Perfect combination!

Akhirnya, by the power of kepepet, saya puter otak buat cari posisi menyusui bersamaan yng bisa nyaman buat para bayi juga buat saya. Saya kapok nyobain posisi yang sambil tiduran. Kasian Daanish yang ditimpah sebagian badan adiknya. Kasian adiknya yang separuh badannya gak mantep tersangga. Dan kasian saya yang karena mereka gak nyaman, akhirnya puting lecet karena ditarik anak-anak. Huhuhuhu. 😥

Melalui perjuangan panjang di malam-malam panjang, akhirnyaaa nemu juga tiga posisi yang akhirnya jadi andelan kalo mau nyusuin bareng. Syaratnya cuma satu: siapin bantal yang buanyaaak. Mwehehehe. 😀

Pertama, saya duduk bersila, punggung diganjel bantal dan senderan di tembok, dan kedua paha juga diganjel bantal kanan dan kiri. Lalu, saya posisikan Azzam tiduran di paha kiri. Di atas paha kiri dikasih bantal lagi, Azzam tidur melintang seperti posisi menyusui biasa. Daanish menyusu di PD kanan sambil duduk. Posisi badannya menghadap saya, dengan bagian dadanya menempel ke tulang rusuk saya. Nyetel ketinggian badan si Daanish biar pas dengan PD kanan, tentu saja, pake bantal!

Kedua, dengan posisi saya dan Azzam masih sama, tapi Daanishnya bobo dengan posisi cradle. Hayooo yang busui, inget ga sama artikel/penjelasan dari RS/bidan tentang berbagai posisi menyusui? Yap, cradle adalah posisi seperti memegang bola di sisi kanan/kiri. Jadi, si anak tiduran dengan kepala di bawah ketiak ibu (maju sedikit sampi mampu menyusu langsung di PD), sementara badannya membujur di belakang tubuh ibu. Enaknya posisi ke dua ini, saya bisa handsfree! Asalkan posisinya semua tepat tersangga dengan aneka bantal, dijamin puting gak lecet dan dua tangan bisa bebas ngapaib aja, termasuk internetan. *eh?!

Ketiga, nyontek panduan tandem nursing buat bayi kembar, dimana kedua bayi craddle di sisi kanan dan kiri ibu. Tapi karena ini bukan bayi kembar, melaikan bayi dengan usia dan postur tubuh beda banget, jadi ngepasinnya susah banget. Kalo kurang pas, yang ada puting berasa ketarik ke kanan dan kiri dan sakitnya lumayan. Hiks hiks. Tapi dengan bantuan banyak bantal dan dicoba berkali-kali sampe dapet yang pas, akhirnya berhasil juga.

Oya, posisi apapun itu, pastikan membuat si bayi yang lebih mungil settle duluan yak, jangan kebalik. Soalnya bayi yang lebih kecil jam terbang menyusunya juga belum banyak. Gak nyaman dikit, bisa-bisa puting lecet atau perlekatan salah atau dia gak nyaman. Sebaliknya, si kakak biasanya udah mahir menyusu dengan posisi bagaimanapun. Plus, dia sudah bisa diajak bicara pelan-pelan kalo kita pengen dia bergeser sedikit supaya bisa lebih nyaman.

Saya pengen deh menyertai tulisan ini dengan foto sebagai ilustrasi, tapi belum sempet berfoto. Jiyahhh. 😉 Maksudnya sih biar ibu-ibu yang mau tandem nursing bisa punya masukan juga tentang posisi menyusui bersamaan. Apalagi untuk kasus bukan bayi kembar alias kakak-adik seperti saya. Kebayang pengalaman sendiri, saya juga jungkir balik supaya nemu posisi yang lumayan nyaman gini. Nanti deh, ya, saya coba usahakan ilustrasinya.

Akhirnya, seminggu dengan malam-malam nyaris tanpa tidur dan percobaan posisi menyusui dua bayi pun terlewati. Di akhir minggu, punggung saya pegel, jahitan masih nyeri, dan puting masih perih; tapi saya bersyukur karena dengan berbinar-binar bisa cerita ke suami tentang “penemuan” tiga posisi cihuy ini. Hadiahnya? Pelukan hangat dan ucapan terima kasih bertubi-tubi dooong! Ihihihi…

Sekali lagi, terima kasih Allah akan amanah dua bayi ini. Mereka bener-bener memaksa saya untuk belajar! ^^