Ketika Anak-Anak Harus Terluka (2): Kenapa Harus ke Psikolog?


Pernah, dalam satu masa saat saya masih mencari tau kebenaran berita burung tentang “kejahatan” si pengasuh, seseorang berkata, “Kenapa sampai harus ke psikolog? Memang separah itu? Bukannya si pengasuh cuma agak kasar aja, ya?”

Adakah yang sependapat?

Saya tau, meski tidak secara langsung diucapkan, saya menangkap sirat keraguan dari beberapa orang yang caya curhati masalah ini. Mungkin, saya tampak berlebihan, ya, menyikapi masalah ini? Terlalu reaktif? Tidak berkepala dingin? Mengalami panic attack? Err… lebay?

Hehe. Gapapa. Anda juga boleh bilang gitu, kok. Wajar. Saya juga dulu sempet ragu-ragu pilih jalan ini. Meskipun ragu-ragunya gak lama. Tapi sekarang, saya mau bilang: ini salah satu pilihan terbaik dalam menghadapi masalah sedang saya hadapi. Bahkan saya mau sumbang saran, bila anda juga memiliki masalah serupa, dan bingung memulainya darimana, bagaimana kalau coba konsultasikan ke psikolog? Percaya,deh, curhat sana-sini pada awalnya memang membantu, tapi saat anda sampai di titik harus “memperbaiki” yang sudah “rusak”, bantuan paling tepat adalah bertanya [ada yang punya ‘ilmu’nya. Kenapa? Karena kalau alat elektronik rusak saja anda butuh bantuian tukang servis, apalagi jika yang rusak itu begitu abstrak dan tak berwujud bernama: jiwa? Serius, anda yakin bisa “membenahi”nya sendiri?

Nah, saya mau nyambung soal pilihan jawaban yang kemarin itu. Iyaaa, yang tentang pertanyaan ‘Kenapa bisa terjadi dan baru sekarang tau?’ itu loh. Ini ada hubungannya dengan bantuan ‘ilmuwan’ yang saya bilang tadi. Setelah sebulan berkutat, maju-mundur, nangis-bingung, kesel-marah, dan rupa-rupa warna emosi  datang dan pergi tanpa jeda, akhirnya saya menemukan jawaban. Karena saya juga manusia biasa yang butuh alasan-alasan untuk menjelaskan banyak hal yang bising bersliweran di benak saya, maka opsi jawaban ini menjadi salah satu penyembuh.

Pertama, anak-anak saya, secara verbal, belum mampu bercerita. Mereka berkomunikasi, bahkan Daanish bisa bicara, tapi belum bisa melaporkan sesuatu. Inilah kunci gagalnya saya mendeteksi dini kekerasan pada mereka.

anti kekerasan seksual anak posterKedua, besar kemungkinan, mereka belum memahami betul apa yang terjadi di dirinya. Ini bikin saya inget soal aneka poster maupun video pencegahan terjadinya kekerasan, terutama kekerasan seksual, pada anak yang begitu marak beredar paska terungkapnya kasus di JIS. Yap, anak-anak memang termasuk golongan vulnerable karena begitu polos dan lugu, dan celakanya ini yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Jadi apakah kekerasan yang menimpanya itu buruk atau tidak, bahkan apa yang menimpanya itu sebenarnya “benda” apa, mereka tidak tau. Boro-boro mau melapor kan, wong mengidentifikasi saja mereka belum bisa.

Ketiga, anak-anak dengan dunia murninya, baru sampai pada pemahaman bahwa ada sepaket love and hate dalam suatu hubungan. Sepaket itu sudah merupakan “pasangan sah”, gak mungkin ada sendiri-sendiri. Itulah mengapa, seperti dijelaskan oleh Psikolog Astrid yang menangani Daanish, anak-anak biasanya akan tetap sayang/dekat dengan orang tua maupun pengasuh yang telah menyakiti, memarahi, ataupun melukainya. So sweet yah, anak-anak itu. Mereka memaafkan dengan lekas dan menerima dengan tanpa bertanya. Di benak mereka, perlakuan buruk itu seolah segera diseka dengan pemahaman, “Toh, besok-besok, orang tua/pengasuh akan kembali baik dan sayang lagi, kok,” atau “Aha, jadi beginilah ikatan itu, adakalanya disayang, adakalanya dimarahi. Okesip, kalau begitu, terima aja, deh”. Ah, jangankan anak-anak, hayooo ngaku, kadang kita aja yang udah dewasa mikirnya juga gitu, kan. Apalagi yang belum bisa move-on dari orang yang kerjaannya bikin sakit hati melulu, tapi di sisi lain juga bikin klepek-klepek karena cintanya. Aw aw. Eaaa, ngomongin cinta-cintaan deh yaaa, kita. 😀

Sssttt… balik ke topik. Hehehe. Nah, tiga jawaban itu yang sekarang saya kantongi. Apakah lantas karenanya saya bisa feel free terus ongkang-ongkang kaki sambil dadah-dadah ke rasa bersalah? I know you know the answer.

Kalau diperhatikan, ketiga jawaban di atas bukanlah garis finish. Ketiganya kian merefleksikan kelemahan pengasuhan saya selama ini, kekurang jelian saya membaca situasi dan kondisi harian, serta mengungkap sederet tugas ekstra yang justru harus saya kerjakan di sela tugas utama sebagai ibu. Ketiga jawaban itu menjadi tolakan pertama saya, sebab pertarungan berikutnya baru saja dimulai. PR begitu menumpuk. Kesalahan begitu banyak. Lubang yang harus ditambal bertebaran. Ibarat rumah, saya harus merenovasi besar-besaran.

Namun keberadaan ketiga jawaban itu yang bisa bikin saya sedikit demi sedikit bisa kembali on track. Saya jadi paham harus mulai dari mana, sebab saya tahu kesalahan saya di mana. Saya tau saya salah, tapi gak terus-terusan menyalahkan diri saya sendiri. Meskipun saya sesekali masih menyalahkan diri sendiri, saya tau kalau kesalahan itu masih bisa diperbaiki. Kenapa saya bisa mulai memperbaiki kesalahan? Yes, it is because I’ve got a (somehow) clear vision on where to start! Endless loop, eh? Hihihihi.

Yang mau saya tekankan, soal endless loop di atas, adalah bahwa saya menemukan jawaban sekaligus alasan untuk bangkit melalui konsultasi dengan ahli kejiwaan, sang psikolog. Banyak titik yang tidak saya sadari berpotensi menjadi titik kritis. Banyak sudut pandang yak gak pernah sama sekali terpikirkan sebelumnya. Meskipun psikolog-psikolog anak yang saya mintai pertolongan sebenernya fokus untuk recovery anak-anak, tapi seluruh ‘diagnosa’ terhadap anak-anak melibatkan saya dan suami. Mulai dari pemaparan kronologis, aktivitas harian, kejanggalan behaviour, sampai ke saran ke depannya; semua menghadirkan orang tua. Begitu orang tua dilibatkan, saya melihat masalah ini dari perspektif berbeda. Pendek kata, para psikolog ini membantu saya melihat dari luar kotak; baik melihat anak-anak, kami selaku orang tua, masalah ini, maupun masa lalu dan masa depan sebagai implikasinya.

Airplane-Oxygen-MasksSekarang saya mengerti, kenapa di peraturan keselamatan moda transportasi selalu ditekankan agar orang dewasa harus memprioritaskan keselamatan atas dirinya sendiri sebelum melakukan tidakan penyelamatan untuk anak-anak atau orang-orang lemah dalam tanggungannya. Sebab jalan ini memungkinkan penyelamatan untuk lebih banyak jiwa. Orang yang selamat, bisa menyelamatkan orang lain. Orang yang sehat, bisa menyehatkan orang lain. Hanya mereka yang memiliki “sesuatu”, bisa melakukan “sesuatu”. Secara kejiwaan, saya yang dewasa pun demikian. Kalau saya “sakit” dan gak tau kalau sedang “sakit”, lantas bagaimana cara saya mendiagnosa “penyakit” anak-anak, apalagi menolong mereka untuk sembuh?

 

Salah satu cara untuk sembuh adalah dengan terlebih dahulu tau kalau kita sakit. Sayangnya, kalau sakit fisik sih masih bisa lah diraba-raba. Lah, kalau sakitnya di jiwa? Maksud saya, sakit yang gak kerasa sakit itu bahaya, apalagi kalau dibiarkan berlarut-larut dan gak ketemu jalan keluarnya. (Mungkin, itu yah yang bikin Mr. Robin Williams memilih mengakhiri hidupnya. Karena dia gak tau sedang “sakit” atau pencarian “obat penyembuh”nya yang belum tuntas? Eh, stop, bukan mau bahas itu loooh. :D)

Beneran deh, kalau anda butuh pertolongan, saya sarankan untuk segera cari pertolongan. Pertolongan macam apa? Tentu saja yang tepat dan benar dan merupakan hasil diagnosa ahlinya. Bukan, psikolog bukan cuma untuk ‘orang gila’ atau ‘orang stress’ atau ‘orang depresi berat’, kok. Sejak ada kasus ini, buat saya psikolog adalah teman bicara yang TEPAT; mereka mendengar, mengolah cerita saya dengan instrumen, membantu menyusun ulang kejadian dari hasil observasi, lalu menawarkan solusi. Tentu saja mereka bukan Tuhan, dan sangat mungkin salah. Tapi kalau Allah tidak menakdirkan saya ketemu mereka, mungkin bukan di titik ini saya berdiri sekarang.

 

Ketika Anak-Anak Harus Terluka (1): Ibu Gagal (?) Pun Harus Bisa ‘Move-On’!


Bagaimana rasanya, jika anda adalah orang tua yang merasa, atau setidaknya telah berupaya, memantaskan diri mengampu tugas baru begitu berjabat tangan dengan Sang Pemberi Amanah, lalu di suatu ketika anda merasa gagal? Merasa bahwa sedikit ilmu yang dimiliki lewat membaca, bergabung dengan komunitas peduli, atau mengikuti seminar parenting itu tiba-tiba tak berdaya melawan kelengahan anda menjaga anak-anak? Bagaimana rasanya, jika tahun-tahun penuh kebahagiaan menjadi orang tua itu terusik begitu mendapati bahwa anda bahkan tak mampu melindungi sang buah hati dari orang terdekat yang menyakitinya?

Terkhusus, apabila anda adalah seorang ibu, yang sudah setengah yakin mampu menyeimbangkan tetek bengek urusan kantor dengan hiruk pikuk urusan rumah, menemukan bahwa kondisi ideal yang anda jalani ternyata tak pernah ada? Bagaimana hati anda menjerit ketika menyadari bahwa pilihan yang dulu dianggap benar ternyata sekarang terbukti salah?

Bagaimana rasanya, ketika di suatu siang yang tak nampak tanda cuaca buruk setitik pun, anda mendapati realita paling mengiris hati tentang si buah hati: bahwa ia disakiti selama anda tak di sisinya. Oh, bukan, ‘disakiti’ mungkin kata yang kurang menghujam. Tepatnya, ia mengalami kekerasan fisik dan masih harus ditambahi dengan kekerasan verbal saat anda meninggalkannya hanya dengan si pengasuh.

Dunia runtuh!

Ya, dunia saya terasa runtuh seketika itu juga. Saya tidak basa-basi. Saya sungguh hancur. Mata tak henti menangis, sakit kepala hebat, insomnia, bingung, dan… depresi.

Saya ibu yang gagal. Saya orang tua abai. Saya tak bertanggung jawab. Saya lalai. Saya… . Ah, kemana saja saya selama ini? Apa saja yang sudah saya kerjakan?

Puing-puing hati seolah terserak tiap kali menatap wajah-wajah mereka, dua lelaki kecil yang untuknya saya (merasa) berjuang selama ini. Saya harus bagaimana? Dari mana memulainya lagi? Apa yang harus saya katakan pada setiap pertanyaan pun pernyataan yang lalu lalang tak henti begitu cerita ini menguar?

image

Sebulan sudah masa berat ini terlewati.Tentu saja lukanya tak semudah itu kering. Tapi saya berusaha untuk ‘move-on’. Dan sebab entah bagaimana di hari yang sama, dua-tiga hari yang lalu, beberapa sahabat serentak bertanya tentang ‘absennya’ saya dari kantor, maka saya putuskan untuk mulai menulis kisah ini. Kisah kelam yang akan saya catat dengan tinta hitam di sepanjang sejarah hidup saya.

Saya berbagi, bukan untuk menunjukkan betapa tangguhnya saya. Sebab, saya memang tidak setangguh itu. Sebulan berlalu, dan saya masih sering dibayangi mimpi buruk. Mengaku sudah mampu ‘move-on’, nyatanya di malam saya menulis ini, lagi-lagi insomnia menemani. Meskipun begitu, saya berani menulis sebab setidaknya saya telah berupaya untuk bangkit. Sebab saya pikir mungkin dengan berbagi akan ada lebih banyak beban yang terangkat. Meskipun saya sangat sadar, tulisan ini akan menuai pro dan kontra. Dan sekali lagi, saya siap untuk itu.

Cobaan ini membuat saya benar-benar menata ulang banyak hal, meski pada kenyataanya saya belum melakukan banyak hal. Saya sadar, sejak saat itu, saya tak lagi sama, anak-anak tak lagi sama, pun demikian dengan suami saya. Berubahnya kami, semoga adalah menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi dulu. Mulai dari diri sendiri dulu. Sebab diri sendiri saja sedang hilang bentuk saat ini.

Oh iya, saya ‘kan sudah ‘move-on’, jadi stop ah nulis berbau galau nan gelap nan suram nan menyayat hati. Saya mau cerita bagaimana saya, kami, mencoba tertatih bangkit setelah jatuh kemarin. Bentar, ganti topeng dulu. Eh, salah, ganti gaya nulis, biar agak asyik gitu. 😀

image

Pas banget, hari ini dapet beginian dari FB. Emang pas bener, deh. Pas emang kangen musim gugur dengan gradasi daun momiji, pas juga dengan pesan moralnya. Allah membuat kami ‘jatuh’, sebab ada yng terserak di bawah untuk kami pungut. Allah membuat kami mundur beberapa langkah, sebab kami harus berlari untuk melakukan tolakan terbaik melompati jurang besar di depan kami. Untuk apa semuanya? Untuk naik kelas tentunya. Untuk bisa nulis ini buat jadi pelajaran bagi yang perlu. Dan untuk makin sukses dong, proses ‘move-on’-nya. (Eaaa, lagi demen banget pake kata ini yak :D.)

Saya yang udah (merasa) ‘move-on’ (tuh kan, lagi!) ini sih udah mulai kebas kuping dan bisa kibas jilbab (eh?!) pas ngedenger komen-komen sekitar. Kita mulai dari situ aja ya ceritanya. Biar panas dulu, biar ga usah serius-serius dulu. 😉

Pernah, tetangga di kampung bilang, “Lagian kenapa ga pake CCTV sih, di rumah?”. Haisy! Dikira CCTV murah kayak beli permen yak? Udah pernah cuy, sampe survey sana sini segala, tapi akhirnya mundur pas liat harganya. Mihillll! Bolehlah, kalo ada yang mau beliin. Sini, saya terima dengan lapang dada. Hehe.

Nah, ini juga pasti ada yang gatel kan pengen komen, “Katanya kerja buat anak. Kok itung-itungan, sih?” Haaa… Perlu gitu saya sesumbar kemana-kemana soal usaha saya ‘mengamankan’ anak-anak selama ini? Udah pernah baca belum kasus-kasus di mana para pelaku ‘kejahatan’ serupa bela-belain action di luar ruangan ber-CCTV demi menjaga rahasianya aman?

Ada juga yang bilang, “Gak banyak gaul sih dengan tetangga, makanya baru tau kejadiannya.” Nah, ini ada benernya juga sik. Emang saya sedikit agak kurang gaul di sini. Kurang suka hahahihi yang ujungnya ngegossip, tepatnya. Ets, bukan karena saya gak gaul lho, tapi karena saya (sok) sibuk! Pasti ada yang nyeletuk, “Orang lain juga sibuk keleusss. Emang lu doank!” Hahahaha. Ampun, nyerah deh saya. Saya emang demen nyibukin diri sendiri sih. Sibuk ini, sibuk itu, sok sibuk. Saking sok sibuknya, tiap hari ngerasa kurang waktu. Belum ngerjain ini, belom ngerjain itu. Lhaaa… yang saya anggep priorotas aja belum beres, gimana saya mau banyakin waktu ‘ngegaul’? Eh, no offense. Suka banget bergaul dengan suka bergaul secukupnya itu kayak orang suka banget es krim dan makan tiap hari dengan yang cuma bisa nikmatin es krim kalo makannya sesekali. Nah, itu tuh… saya yang nomer 2!

Terus ada juga yang bilang, “Udah, salah satu anaknya titip ke kampung atau saudara deket.” Ini solusi yang saya paling gagal paham. Kalo nitipin, kenapa cuma satu? Kenapa ga sekalian aja dua-dunya. Hihihi. Bukan, maksud saya, kenapa jadinya harus dipisah sih anak-anak saya? Memang secara psikis mereka akan lebih cepat ‘sehat’ kalau dipisah, gitu? Atau memang mereka akan lebih bahagia kalau dijauhkan dari orang tuanya, gitu?

Ada juga yang komentar begini, “Berikutnya cari pengasuh yang terpercaya,” atau “Ambil dari yayasan yang lebih jelas,” atau “Ini ada yang bagus dari kampung, mau?,” atau “Bawa saudara yang bisa tinggal bareng buat ngawasin pengasuhnya.” Ini opsi yang paling njengkelin di awal-awal saya menghadapi masalah ini. Helloooo… saya ini trauma nitipin anak ke pengasuh, lho. Jadi mau bagaimana pun kondisinya, saya gak akan pake pengasuh, setidaknya sementara ini. Boro-boro cari pengasuh berstandar internasional (?), kepikir aja enggak mau pake pengasuh lagi. T_____T Lagian, kurang ‘keren’ apa ART saya kemaren, si pelaku, doi (hasyah, ketauan jadeolnya pake kaa ‘doi’ :D) tuh eks-TKW lho, di dua negara lagi, Malaysia dan Brunei. Nyatanya? Waktu saya lagi jatuh-jatuhnya kemarin, ini komen paling sukses bikin kuping panas. Simpati ama empati lagi main kemana sik? Bolehlah mikir gitu, tapi gak saat itu harus disampein juga kalik. Gak harus kita mengalami, untuk ikut merasakan sakitnya orang kan. Ngerti sih mau bantu, tapi please dong, ah!

Terakhir, ini yang paling seru. Namanya lagi senewen dikasih cobaan mendadak dangdut begini, saya memang pada awalnya langsung tiba pada kecenderungan untuk berhenti kerja dan jadi ibu rumah tangga aja. Nahhh, ngomongin FTM dan WM, saya jamin mulai rame, kan! Pro-kons tentang topik ini emang ga ada matinye. Seru terus, terus aja biar seru! Hehehe.

Separo bilang, “Sayang banget PNS-nya, jangan lah kalo sampe berenti kerja.” Dan ini komen sejuta ummat di kalangan orang terdekat saya. Semua menghalangi niat resign ini. Kalopun gak semua, ya sebagian besar lah. Yang saya masih bingung, sayangnya di mana ya? Emang kalo gak PNS gak sayang gitu? Lagian, memamg beda tempat berdiri kali, yak. Buat saya yang sedang terseok-seok ini, ungkapan ‘sayang pekerjaan’ itu bener-bener di luar konteks saat ini. Dibanding sayang kerjaan, ya saya lebih sayang anak, lah. Udah gitu aja. Titik.

Ada juga yang kasih masukan untuk bertahan setidaknya sampe ikatan dinas saya beres. Masukan yang awalnya pedih juga diterima. Sempet mikir sih, mana sempet mikirin ikatan dinas sementara keluarga carut marut gini. Mikirin udah sejauh mana trauma anak-anak aja udah bikin ulu hati sesek, gimana mau mikirin ‘negara’. Emang negara mau bantu apa kalo psikis anak saya terganggu? Kegedeaaan saya mau mikirin negara mah. Nyatanya ngurus dua anak aja saya ga beres. Huhuhuhu. Tapi setelah saya timbang lagi, masukan ini ada benernya juga. Alasan bertahan selama ini, cuma karena mau ‘bayar utang’. Motivasi kerja udah ampir zero. Tiap hari dateng siang, pulang ‘teng-go’. Gak pernah mau lembur. Sangat membatasi dinas luar kota. Karir udah lama gak dipikirin. Dan sekarang urusan rumah pun ternyata kacau balau! Setidaknya satu hal harus beres. Dan ikatan dinas yang tinggal bentar lagi itu boleh juga lah jadi satu pertimbangan. Biar enak juga milih jalan ke depannya. Bahwa, utang saya udah lunas, udah sah sah sah untuk bye bye, misalnya. 😀

Nah, kalo opsi satu lagi, udah kebayang kan? “Ya iyalah, kamu harus resign. Anak-anak udah jadi korban gini masih bisa mikirin kerja?” Huaaaa… Ini sesuai dengan jeritan hati saya sebenarnya. Tapi kalo udh ditambahin “Apalagi yang dikejer?” atau “Gak cukup nih kejadian kemarin?” atau yang bernada serupa, seolah saya adalah ibu serigala beranak domba yang pura-pura sayang anak… Oh, please, jauh-jauh deh dari saya.

Pernah baca quotes yang tentang setiap orang mengalami perang di medan juangnya masing-masing, kita yang cuma tau seuprit seenggaknya gak perlu menghakimi. Yes, yang itu! Itu deh, itu doang komen saya tentang yang di atas.

Eh, ternyata belom beres, ada satu lagi, ini juga pertanyaan yang jadi momok saya tiap malem, bahkan sampe malam ini. Itu adalah, “Kenapa baru tau sekarang? Masak 2,5 tahun ini gak ngebaca gelagat apa-apa?”

Beneran, ini pertanyaan yang masih bikin saya sesek nafas. Masih jadi pertanyaan yang sampe sekarang bahkan saya sendiri pun belum nemu jawaban yang pas. Seenggaknya yang bisa bikin saya agak tenang. Ini pertanyaan berat yang saya gak tau bakal nemuin jawabannya apa enggak. Tapi saya ulangi, karena saya adalah (calon) ibu keren yang udah mulai ‘move-on’ dan bangga dengan ke-‘move-on’-an saya, maka saya sediakan probabilitas jawabannya.

Opsi pertama adalah opsi menyalahkan diri sendiri, dan jawabannya adalah: saya kurang aware. Ya itu, balik ke curhat galau saya di paragraf-paragraf awal. Saya kurang sensitif, saya sering menafikkan suara hati, saya banyak mengabaikan kejanggalan, saya yang kurang bergaul, saya yang merasa semuanya baik-baik saja, pokoknya SAYA yang salah. Ini opsi pling benar, tapi sayangnya gak sehat. Ini opsi yang bikin saya merutuki diri sendiri berhari-hari, sesengukan sepanjang pagi-siang-sore-malam, bikin saya terllu dini melabeli anak-anak ‘trauma’, bikin saya susah ‘sembuh’ dari rongrongan penyakit hati. Dan yang pasti, menuruti hasil konsultasi dengan seorang psikolog cantik nun jauh di Jerman sana, ini opsi yang bikin saya gak mampu membantu anak-anak kembali ke sedia kala. Di lain waktu saya tulis deh, ceritanya. Sekalian juga buat tribute buat salah satu penolong yang kasih saya solusi dari titik yang gak pernahsaya duga: bahwa saya harus ‘sembuh’ dulu, sebelum ‘menyembuhkan’ anak-anak.

Dengan alasan itulah saya tiba di opsi kedua untuk pilihan jawaban atas pertanyaan tadi. Dan ini yang agak melegakan sedikit. Lebih melegakan lagi karena ini didukung juga dengan hasil konsultasi ke psikolog kedua. Konsultasi pertama seumur hidup saya dengan dateng ke klinik dan nertatap muka langsung dengan seorang psikolog (yang dulunya saya pikir hanya untuk orang-orang yang terganggu jiwanya aja). Penasaran? Tunggu curcol saya di tulisan berikutnya aja lah ya. Biar yang pada baca agak-agak penasaran gimanaaa gitu. (Lhaaa… dikira imi cerita fiksi apa yak? :D). Sekarang udah setengah empat pagi, saya mau nyoba tidur dulu. Insomnia ini harus dilawan, diperangi! Merdeka! ^^

Berbenah dan Siap Mulai Berbagi Lagi


Wow, postingan blog saya terakhir ternyata di bulan Februari. Ya ya, itu artinya saya berhenti menulis di sini kira-kira sejak Azzam mulai MPASI. Biasalah, mendadak saya jadi gagap manajemen waktunya. Mendadak merasa susah bagi waktu. Dan mendadak lupa kalo punya blog. Hohohoho.

Dalam hal penyiapan menu MPASI, saya gak seheboh jaman Daanish dulu. Pengutamaan variasi masih jadi andelan. Tapi saya udah gak lagi stok frozen MPASI, sejak punya slow cooker.

Lainnya yang signifikan adalah saya gak lagi pegang aturan FC, termasuk aturan pemberian bahan makanan sesuai umur. Kecuali yang signifikan aja probabilitas pencetus intoleransinya, seperti madu dan produk turunan susu. Selebihnya, saya ganti ke mazhab WHO: apa aja boleh begitu anak mulai makan. Yang penting utamakan pertimbangan asupan zat besinya.

Meskipun gak posting tulisan di sini, sesekali saya upload foto contoh MPASI Azzam. Pelan-pelan nanti saya pindahkan juga ke sini.

Saya mulai nulis lagi, karena kangen cuap-cuap. Pun emang ada kejadian yang saya pikir ada baiknya juga kalo saya bagi di sini. Mudah-mudahan ad hikmah yang bisa diambil. Yak, kita mulai lagi dari nol buat sama-sama belajar yaaa. ^^