Ketika Anak-Anak Harus Terluka (2): Kenapa Harus ke Psikolog?

Pernah, dalam satu masa saat saya masih mencari tau kebenaran berita burung tentang “kejahatan” si pengasuh, seseorang berkata, “Kenapa sampai harus ke psikolog? Memang separah itu? Bukannya si pengasuh cuma agak kasar aja, ya?”

Adakah yang sependapat?

Saya tau, meski tidak secara langsung diucapkan, saya menangkap sirat keraguan dari beberapa orang yang caya curhati masalah ini. Mungkin, saya tampak berlebihan, ya, menyikapi masalah ini? Terlalu reaktif? Tidak berkepala dingin? Mengalami panic attack? Err… lebay?

Hehe. Gapapa. Anda juga boleh bilang gitu, kok. Wajar. Saya juga dulu sempet ragu-ragu pilih jalan ini. Meskipun ragu-ragunya gak lama. Tapi sekarang, saya mau bilang: ini salah satu pilihan terbaik dalam menghadapi masalah sedang saya hadapi. Bahkan saya mau sumbang saran, bila anda juga memiliki masalah serupa, dan bingung memulainya darimana, bagaimana kalau coba konsultasikan ke psikolog? Percaya,deh, curhat sana-sini pada awalnya memang membantu, tapi saat anda sampai di titik harus “memperbaiki” yang sudah “rusak”, bantuan paling tepat adalah bertanya [ada yang punya ‘ilmu’nya. Kenapa? Karena kalau alat elektronik rusak saja anda butuh bantuian tukang servis, apalagi jika yang rusak itu begitu abstrak dan tak berwujud bernama: jiwa? Serius, anda yakin bisa “membenahi”nya sendiri?

Nah, saya mau nyambung soal pilihan jawaban yang kemarin itu. Iyaaa, yang tentang pertanyaan ‘Kenapa bisa terjadi dan baru sekarang tau?’ itu loh. Ini ada hubungannya dengan bantuan ‘ilmuwan’ yang saya bilang tadi. Setelah sebulan berkutat, maju-mundur, nangis-bingung, kesel-marah, dan rupa-rupa warna emosi  datang dan pergi tanpa jeda, akhirnya saya menemukan jawaban. Karena saya juga manusia biasa yang butuh alasan-alasan untuk menjelaskan banyak hal yang bising bersliweran di benak saya, maka opsi jawaban ini menjadi salah satu penyembuh.

Pertama, anak-anak saya, secara verbal, belum mampu bercerita. Mereka berkomunikasi, bahkan Daanish bisa bicara, tapi belum bisa melaporkan sesuatu. Inilah kunci gagalnya saya mendeteksi dini kekerasan pada mereka.

anti kekerasan seksual anak posterKedua, besar kemungkinan, mereka belum memahami betul apa yang terjadi di dirinya. Ini bikin saya inget soal aneka poster maupun video pencegahan terjadinya kekerasan, terutama kekerasan seksual, pada anak yang begitu marak beredar paska terungkapnya kasus di JIS. Yap, anak-anak memang termasuk golongan vulnerable karena begitu polos dan lugu, dan celakanya ini yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Jadi apakah kekerasan yang menimpanya itu buruk atau tidak, bahkan apa yang menimpanya itu sebenarnya “benda” apa, mereka tidak tau. Boro-boro mau melapor kan, wong mengidentifikasi saja mereka belum bisa.

Ketiga, anak-anak dengan dunia murninya, baru sampai pada pemahaman bahwa ada sepaket love and hate dalam suatu hubungan. Sepaket itu sudah merupakan “pasangan sah”, gak mungkin ada sendiri-sendiri. Itulah mengapa, seperti dijelaskan oleh Psikolog Astrid yang menangani Daanish, anak-anak biasanya akan tetap sayang/dekat dengan orang tua maupun pengasuh yang telah menyakiti, memarahi, ataupun melukainya. So sweet yah, anak-anak itu. Mereka memaafkan dengan lekas dan menerima dengan tanpa bertanya. Di benak mereka, perlakuan buruk itu seolah segera diseka dengan pemahaman, “Toh, besok-besok, orang tua/pengasuh akan kembali baik dan sayang lagi, kok,” atau “Aha, jadi beginilah ikatan itu, adakalanya disayang, adakalanya dimarahi. Okesip, kalau begitu, terima aja, deh”. Ah, jangankan anak-anak, hayooo ngaku, kadang kita aja yang udah dewasa mikirnya juga gitu, kan. Apalagi yang belum bisa move-on dari orang yang kerjaannya bikin sakit hati melulu, tapi di sisi lain juga bikin klepek-klepek karena cintanya. Aw aw. Eaaa, ngomongin cinta-cintaan deh yaaa, kita.😀

Sssttt… balik ke topik. Hehehe. Nah, tiga jawaban itu yang sekarang saya kantongi. Apakah lantas karenanya saya bisa feel free terus ongkang-ongkang kaki sambil dadah-dadah ke rasa bersalah? I know you know the answer.

Kalau diperhatikan, ketiga jawaban di atas bukanlah garis finish. Ketiganya kian merefleksikan kelemahan pengasuhan saya selama ini, kekurang jelian saya membaca situasi dan kondisi harian, serta mengungkap sederet tugas ekstra yang justru harus saya kerjakan di sela tugas utama sebagai ibu. Ketiga jawaban itu menjadi tolakan pertama saya, sebab pertarungan berikutnya baru saja dimulai. PR begitu menumpuk. Kesalahan begitu banyak. Lubang yang harus ditambal bertebaran. Ibarat rumah, saya harus merenovasi besar-besaran.

Namun keberadaan ketiga jawaban itu yang bisa bikin saya sedikit demi sedikit bisa kembali on track. Saya jadi paham harus mulai dari mana, sebab saya tahu kesalahan saya di mana. Saya tau saya salah, tapi gak terus-terusan menyalahkan diri saya sendiri. Meskipun saya sesekali masih menyalahkan diri sendiri, saya tau kalau kesalahan itu masih bisa diperbaiki. Kenapa saya bisa mulai memperbaiki kesalahan? Yes, it is because I’ve got a (somehow) clear vision on where to start! Endless loop, eh? Hihihihi.

Yang mau saya tekankan, soal endless loop di atas, adalah bahwa saya menemukan jawaban sekaligus alasan untuk bangkit melalui konsultasi dengan ahli kejiwaan, sang psikolog. Banyak titik yang tidak saya sadari berpotensi menjadi titik kritis. Banyak sudut pandang yak gak pernah sama sekali terpikirkan sebelumnya. Meskipun psikolog-psikolog anak yang saya mintai pertolongan sebenernya fokus untuk recovery anak-anak, tapi seluruh ‘diagnosa’ terhadap anak-anak melibatkan saya dan suami. Mulai dari pemaparan kronologis, aktivitas harian, kejanggalan behaviour, sampai ke saran ke depannya; semua menghadirkan orang tua. Begitu orang tua dilibatkan, saya melihat masalah ini dari perspektif berbeda. Pendek kata, para psikolog ini membantu saya melihat dari luar kotak; baik melihat anak-anak, kami selaku orang tua, masalah ini, maupun masa lalu dan masa depan sebagai implikasinya.

Airplane-Oxygen-MasksSekarang saya mengerti, kenapa di peraturan keselamatan moda transportasi selalu ditekankan agar orang dewasa harus memprioritaskan keselamatan atas dirinya sendiri sebelum melakukan tidakan penyelamatan untuk anak-anak atau orang-orang lemah dalam tanggungannya. Sebab jalan ini memungkinkan penyelamatan untuk lebih banyak jiwa. Orang yang selamat, bisa menyelamatkan orang lain. Orang yang sehat, bisa menyehatkan orang lain. Hanya mereka yang memiliki “sesuatu”, bisa melakukan “sesuatu”. Secara kejiwaan, saya yang dewasa pun demikian. Kalau saya “sakit” dan gak tau kalau sedang “sakit”, lantas bagaimana cara saya mendiagnosa “penyakit” anak-anak, apalagi menolong mereka untuk sembuh?

 

Salah satu cara untuk sembuh adalah dengan terlebih dahulu tau kalau kita sakit. Sayangnya, kalau sakit fisik sih masih bisa lah diraba-raba. Lah, kalau sakitnya di jiwa? Maksud saya, sakit yang gak kerasa sakit itu bahaya, apalagi kalau dibiarkan berlarut-larut dan gak ketemu jalan keluarnya. (Mungkin, itu yah yang bikin Mr. Robin Williams memilih mengakhiri hidupnya. Karena dia gak tau sedang “sakit” atau pencarian “obat penyembuh”nya yang belum tuntas? Eh, stop, bukan mau bahas itu loooh. :D)

Beneran deh, kalau anda butuh pertolongan, saya sarankan untuk segera cari pertolongan. Pertolongan macam apa? Tentu saja yang tepat dan benar dan merupakan hasil diagnosa ahlinya. Bukan, psikolog bukan cuma untuk ‘orang gila’ atau ‘orang stress’ atau ‘orang depresi berat’, kok. Sejak ada kasus ini, buat saya psikolog adalah teman bicara yang TEPAT; mereka mendengar, mengolah cerita saya dengan instrumen, membantu menyusun ulang kejadian dari hasil observasi, lalu menawarkan solusi. Tentu saja mereka bukan Tuhan, dan sangat mungkin salah. Tapi kalau Allah tidak menakdirkan saya ketemu mereka, mungkin bukan di titik ini saya berdiri sekarang.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s