[Bermain Kaya] Beruang Dari Kertas Kokoru


Sebenernya udah pesen kertas kokoru dari olshop langganan Halaman Moeka, punyanya Mba Retno. Cerita dikit ya, tentang olshop Halaman Moeka (HM) kesayangan ini. Saya sih demen banget deh, belanja di Halaman Moeka. Olshopnya emang fokus jualan buku bekas buat anak-anak dan buku parenting terkait, dan belakangan merambah juga ke jualan bahan prakarya/kreativitas anak dan mainan edukatif. Buku-buku anak bekas yang dijual di HM nih yang bener-bener bikin saya susah ngeren belanja. Bukunya banyak yang jarang, udah gitu banyak versi macam ensiklopedi anak gitu. Pastinya buku cerita anak lokal maupun saduran juga banyak. Tapi karena udah kebanyakan punya cuku cerita anak, saya emang tergila-gilanya sama buku model-model ensiklopedia gitu. Dan buku begituan, banyaaaak di HM. Eh, gak banyak, ding. Cuma dikit. Udah gitu rebutan pula. Makanya, buruan gih, kepoin FBnya di sini.

Saya udah lama naksir kertas kokoru, tapi ga tau belinya dimana. Makanya langsung semangat begitu ada di HM. Tapi karena saya numpuk belanjaan dulu di HM, biar ngirimnya sekalian, saya jadi lupa kalo pernah pesen kokoru. Akhir minggu lalu, ke toko buku karena mau cari kartu bergambar buat permainan kosa kata Daanish, eh, malah nemu si kokoru ini. Girang, akhirnya langsung beli aja, deh. Terpaksa batal beli yang di HM. Aneka bentuk yang dibikin pake kertas kokoru ini di gambarnya sih perasaan gampang, ya. Pas dicoba, lumayan juga. Lumayan bikin jari keriting buat pemula macam saya, maksudnya. Hihihi. Payah nih ya, otak kanan saya. 😀

Buat yang pengen tau kokoru tuh kayak apa. Ini gambarnya. Dia bergelombang, mirip sama kertas kardus kalo sisinya dirobek. Gelombangnya ini yang bikin dia bertekstur dan bervolume. Makanya kreativitas yang bisa dibikin dari kokoru pun jadi bisa lebih ‘hidup’, bisa lebih tiga dimensi (3D) gitu lah.

image

Nah, percobaan pertama, saya bikin dua ekor beruang yang lagi main jungkat-jungkit. Itu tuh, kayak contoh gambar yang ada di kavernya si kokoru di foto di atas. Liat kan, ya, yang gambar sebelah kiri. Seru sih, bikin-bikinan pake kokoru itu. Tapi kan namanya bebikinan sambil ditemenin anak-anak. Pastinya mereka juga bosen kalo dicuekin kelamaan, akhirnya beruang saya dong, cuma jadi seekor. Biar cuma seekor yang penting dia udah duduk manis di atas jungkat-jungkit, sambil pegangan pula. Hihihi. Baru jadi ‘separuh’ gini aja saya udah hepi maksimal. Yah, meskipun beruang saya sempet ga dikira beruang sih ama si Mas. Masa, mentang-mentang moncongnya agak terlalu maju, terus jadi dikira babi, sih. Huhu. Teganya.
image

Yak, inilah hasil prakarya kokoru saya. Beruangnya cuma satu. Tapi seneeeng, karena sambil elus-elus sayang, berulang kali Daan bilang, “Wah, bagus yaaa. Bagus!” Ah, nak, kamu memang fans paling setianya Ibubun, yak. No matter what!

[Bermain Kaya] Dobi, Boneka dari Gulungan Tisu Bekas


Udah lama ngumpulin roll/gulungan tisu bekas, dibuang lagi. Dikumpulin, dibuang lagi. Kenapa susaaah banget ya, cari waktu mau bebikinan prakarya sama anak-anak. Padahal yang ini mah bikinnya gampang banget, ga pake susah.

Ini pun udah ada kali seminggu lebih tergeletak aja. Dibawa bobo Daanish, diseret ke ruang tamu, ditaruh di meja rias, diumpetin di boks mainan. Ah, padahal udah lama ngejanjiin Daan mau bikin boneka. Daan juga udah beberapa kali ngingetin, “Bubun, (n)anti (p)asang mata yaaa.” Dan emaknya yang sok sibuk bin sok gampang capek ini pun gak kunjung pasangin mata lucu buat si gulungan tisu bekas.

Kemaren akhirnya beli lem dan kertas origami. Ada beberapa bahan prakarya lain juga. Kalo mata, sudah lama punya. Cuma modal gunting-gunting sederhana dan tempel-tempel, jadilah si Dobi. Nama aslinya Bobi, tapi Daan nyebutnya Dobi. Ini muka versi ke dua, karena yang versi pertama udah abis ‘dioperasi’ sama Azzam, saking gregetannya dia. Hidung dan mulut Dobi versi satu udah dicopot paksa lalu dikulum-kulum sama Azzam. Huhuhu. Kesian, Dobi.

image

Akhirnya, Dobi dibenerin, dikasih hidung dan mata baru. Kali ini dari manik yang lebih gede dan mulutnya dari pompom bulu. Udah begini, baru deh cetar badai anti tsunami alias susah dicongkel Azzam. Dobi pun digiring sana-sini. Digilir dari Azzam ke Daanish. Gantian, Daanish ke Azzam lagi. Serunya,  mereka mau main gantian, gak pake rebutan heboh. Dobi si kesayangan, Dobi si teman baru. Selamat datang di rumah kami, Dobi! ^^

Ketika Anak-Anak Harus Terluka (4): Curhatlah Dengan Psikolog Anak, Meski Cuma Via Chatting!  


Sekarang saya mau flash-back ke chat history dengan psikolog anak pertama saya. Awalnya sih, saya menghubungi ibu psikolog cantik ini karena mau minta rekomen dari dia buat psikolog anaknya Daanish, eh ternyata dia juga psikolog anak toh. Sayang aja sih yaa, jauhnya gak ketulungan. Hihihi. Dan dengan sabar dan baik hatinya, temen masa SMP-SMA saya ini mau banget dengerin emak galau bin lebay macem saya curhat ke dia. Beneran, saat itu saya masih super galau loh. Itu kan belum lama dari kejadian. Saya juga masih bingung mau cerita detil ke siapa, mau cari solusi gimana, dan mau nyikapinnya juga gimana. Huhuhu. Untunglah ibu sholihat ini mau bantu.

Baiklah, saya bagi sedikit poin-poin dari beliau, ya. Tujuannya cuma berbagi, ya. Siapa tau ada yang bisa diaplikasikan atau siapa tau ada yang mengalami kasus serupa.

  1. Jangan cepat melabeli anak “trauma”. Kata “trauma” sebaiknya gak buru-buru disematkan pada anak yang telah mengalami kejadian buruk. Dalam terminologi psikologi, kata ini hanya digunakan untuk kasus berat dimana telah terbukti jelas beratnya kejadian buruk yang menimpa anak, dan imbasnya pun terlihat nyata dengan adanya perubahan sikap drastis pada diri anak. Pelabelan juga akan membuat anak terpojok sebagai korban, dan membuat orang sekitar (terutama orang tuanya) akan lebih tertekan menghadapi kondisi si anak. Kata ini berkonotasi cukup negatif, dan kata berkonotasi negatif jelas amat dihindari oleh para psikolog. Ingat, kata negatif, memberi nuansa negatif, dan mentransfer juga energi negatif. Label negatif, pasti ada dampak negatifnya, walaupun secara kasat mata tidak nampak. Tenang, dan pikirkan hal positif lainnya selain ‘labelling’.
  2. Usia Daanish (saat itu 2,5 tahun), adalah usia modelling. Anak biasanya gemar meniru apa yang dilihatnya. Semakin banyak terpapar aktivitas negatif, semakin banyak hal negatif yang ditiru. Tapi, biasanya bukan karena trauma, hanya meniru.
  3. Trauma tidaknya seorang anak juga tergantung durasi ia terpapar suatu kejadian buruk. Paparan itu biasanya minimal 6 bulan, kurang dari itu biasanya belum terbentuk trauma.
  4. Cemas boleh, tapi usahakan senetral mungkin saat memaparkan kronologis. Biarkan working diagnosis dari psikolog berjalan untuk menentuka trauma tidaknya anak, juga saran penangakan anak yang tepat.
  5. Membawa anak yang diduga terpapar kejadian negatif ke psikolog adalah langkah tepat. Apalagi jika merasa anak butuh dibantu. Apalagi jika kejadiannya tidak terdokumentasi dengan baik (minim bukti). Psikolog juga akan memantau intelegensi dan karakter/kepribadian si anak. Observasi dan assesmen dari psikolog dapat membantu mermuskan penanganan yang tepat. Sebab dengan kasus yang sama sekalipun, penanganan bisa berbeda. Umur batita memang tidak banyak bisa menerima assesmen, apalagi dengan alat bantu. Lebih banyak diobservasi.
  6. Berusahalah bersikap positif! Hilangkan rasa sedih, dan mulailah memperbaiki. Beritahu anak apa yang sebaiknya ia lakukan, ingatkan jika ia salah. Tiap keluarga punya nilai masing-masing, berpeganglah pada nilai-nilai itu. Memberi tahu anak memang baik, tapi yang terbaik adalah MEMBERI CONTOH.
  7. Biasanya untuk usia Daanish, kalau memang anaknya tidak terlalu sensitif/peka, dengan arahan yang tepat sikap/perilaku anak bisa kembali normal.
  8. Untuk Azzam, kalau ada ketakutan ketika makan akibat perlakuan kasar pengasuh saat memberi makan dulu, bisa diupayakan pendekatan yang lebih intens. Libatkan banyak sentuhan fisik: pelukan, ciuman, kehangatan saat bermain bersama. Bantu anak menenangkan dirinya dan banjiri ia dengan cinta dan kasih sayang.
  9. Secara umum di usia Daanish, anak-anak memang berada pada usia aktif dan pada fase negativistik. Umumnya tampak suka membangkang, self-centered, menolak, dsb.
  10. Dalam kasus Daanish, yang menonjol lainnya adalah penolakan terhadap aktivitas toilet training. Ini juga banyak faktor, bisa memang ada kekerasan, bisa juga karena baru baginya. Ada anak yang jijik, malas, takut, dsb saat memulai toilet training. Penting untuk diobservasi, seberapa berlebihan tantrumnya saat toilet training? Jika anak sampai berteriak, menangis kencang, melempar barang dalam durasi lama, bisa dikategorikan tantrum berleihan/kasar.
  11. Daanish bisa saja sejak awal punya tmperamen sensitif, sikap ART bisa memperburuk. Karakter agak sulit diubah, tapi bisa dikendalikan. Daanish bisa diajari agar tidak marah berlebihan saat ia sedih/kecewa. Temperamen adalah bawaan lahir, dan umumnya genetis.
  12. Sibling rivalry mungkin memng hadir antara Daanish dan Azzam, dan bisa saja diperburuk oleh role model yang salah dari ART. Tapi anak bisa diarahkan. Ubah sikap negatif ke positif. Misal saat Daanish menarik kasar rambut Azzam hingga adiknya menangis, bisa dikomentari dengan membantu Daanish memegang kepala adiknya dengan lembut sambil bilang, “Oh, Daanish maksudnya mau sayang adek kan, ya? Sini sini, kita elus kepalanya Dek Azzam yuk, Daan.”
  13. Catatan buat saya, ibunya: harus bisa release perasaan negatif (bisa dengan meditasi, olahraga, ibadah, dll). Perasaan bersalah pasti ada dan berdampak lama, jadi yang paling pertama harus dilakukan: MENERIMA keadaan dulu. Menerima bahwa kejadiannya memang sudah terlanjur terjadi. Pembawaan sensitif lebih rentan dengan traumatik, tapi dengan menerima setidaknya efek negatif bisa diredam. Menerima adalah proses. Jalani, yakini. Jangan terlalu membebani diri sendiri. Hargai setiap usaha yang sudah diupayakan maksimal. For your children, you are the BEST, you are the UNIVERSE!

Nah, akhirnya tulisan ini jadinya emang poin-poin doang ya, buka ala-ala diary kayak tulisan saya biasanya. Mungkin gak runut, mungkin juga ada yang agak sulit dipahami. Tapi saya berusaha tulis selengkap mungkin. Karena ini konsul pertama saya dengan ahlinya, yaitu psikolog anak. Perlu diketahui, karena konsulnya via chatting, pastinya gak sama dengan hasil observasi/asesmen langsung. Tapi kenapa saya bagi, karena poinnya banyak banget yang ‘ngena’ buat saya. Dan sharing pertama ini bener-bener mengubah sikan dan cara pandang saya, terutama soal pelabelan, penerimaan akan kejadian yang sudah lewat, dan upaya membebaskan diri dari rasa bersalah. Nantinya, bahkan beberapa poin klop kok sama hasil observasi dan asesmen dengan ahli kedua, Ibu Astrid W.E.N, M.Psi di Klinik Kancil. Psikolog Astrid tentunya saya dapet dari rekomendasi psikolog pertama yang saya ajak chatting ini. Sayang lagi di Jerman sih, kalo deket sih, saya datengin. Pertolongan pertamanya bener-bener berguna banget. Makasih banyak, Ibu Afilla Dwitasari, M.Psi. Semoga Allah bales kebaikan Ewi dengan kebaikan berlipat, yah! ^^

image

Pilihan tepat bingit deh curhat sama psikolog saat ketemu masalah beginian. Jelas pengetahuan psikologi anak saya super minim, jelas juga saya butuh bantuan buat menghadapi masalah ini. Curhat dengan temen n keluarga mungkin bikin adem hati sebentar. Lha, terus detilnya saya harus gimana, kan harus saya cari tau juga keleus! Untungnya selain emang udah temenan, Ewi punya ‘ilmu’nya buat ngehandle kacaunya saya saat itu. Ibarat kotak P3K, dia kasih saya pertolongan pertama yang saya butuhkan supaya lukanya gak tambah buruk. Asiknya lagi, masukan buat anaknya dapet, saran buat orang tuanya (terutama ibunya) juga dapet. Cihuy, kaaan! Ah, pokoknya berhutang budi banget deh sama Ewi. Makasih banyak ya, Wi, makasih banget! ^^

Dari Kalian Ibubun Belajar: Episode Daanish


Belakangan, Daanish punya hobi baru: manggil saya dengan panggilan ‘Bubun Yikaaa’ (baca: bubun ryka).

Awalnya saya cuma mau ngajarin konsep nama anggota keluarga ke Daanish. Supaya kalau terjadi apa-apa, setidaknya dia bisa bilang nama kami. Dia sudah fasih bilang ‘Ayah Azis’, ‘Bubun Yika’, ‘Dede Azzam’, ‘Kakek A(ch)mad’, ‘Nenek (K)a(l)sum’, ‘Om Udi’, dan ‘Tante Anci’. Sementara itu dulu, karena baru itu yang Daanish familier. Nanti kalo udah mudik lagi ke Lombok, baru mungkin pelan-pelan direktorinya nambah. 😀

Jadi satu set panggilan plus nama itu harusnya cuma muncul kalau Daan ditanya, “Bundanya siapa namanya?” Atau pertanyaan senada untuk anggota keluarga lainnya. Tapi, si soleh ini jadi lebih sering panggil-panggil saya ‘Bubun Yika’, terutama justru di timing-timing yang ‘ajaib’. 😀

image

Pas lagi normalnya, Daan akan panggil saya ‘Bubun’; saat minta makan/minum, mau pipis/pup, minta tolong setel video Upin Ipin, minta bacakan buku, dan minta tolong lainnya. Itu, kondisi standarnya. Nah, kalau romantisnya kumat, dia bakal panggil ‘Bubun Yika’ di tengah apapun aktivitas kami, cuma untuk mendengar saya menjawab ‘iyaaa’ dengan nada ‘a’ panjang dan diayun. Panggilan manjanya yang saya jawab gak kalah mesra, akan selalu dikembalikannya lagi dengan seulas senyum paling manis di dunia. Tanda bahwa dia memang manggil saya buat ‘iseng’. Tepatnya, iseng-iseng manja versi verbal khusus antara saya dan Daanish.

Dari Daanish saya belajar banyak. Daanish perasa, sensitif dan agak melankolis. Sisi baiknya adalah dia luar biasa penyayang dan sangat peduli sekitar. Daanislah yang pertama berteriak memanggil kami saat dia merasa adiknya dalam bahaya. Padahal yang dalam bahaya mah anteng-anteng aja dan bodo amat gitu. Adiknya juga sering diingatkan kalau mau melakukan hal yang Daanish ingat pernah kami larang untuknya. Dan begitu Daan paham kata ‘bahaya’, gak lupa selalu dia tekankan kata-kata itu saat bicara pada adiknya.

Daan adalah sosok kakak yang bertanggung jawab. “Adek, kanang (baca: jangan) naik (tangga), ya, ba(ha)ya!” “Dede Azzam, ga wayeh (baca: boleh) pegang ya, setyum (baca:setrum), sakit!” “Awas, jatoh, Dede, ba(ha)ya!” “Ya Alloh, Bubun, Dede Azzam jatoh!” “De Azzam, ee ya? Uh, bau. Ee situ (tunjuk toilet), ya. Cuci!” “Dede, kok di situ? Asta(ghfirullahal)azim. Cini cini!”

Setelah fase-fase keringet dingin liat sibling rivalry mereka awal-awal ‘ketemu’ dulu, sekarang saya bisa senyum-senyum liat Daan mulai bisa berbagi dengan adiknya. “Ini (punya) (R)aka, ya. Ini adek.” Gak semua, barang kesayangan tetap sulit dibagi, sih. Tapi secara umum, Daan mau adiknya juga pegang satu buku/mainan saat dia juga pegang, supaya gak saling ganggu. Liat video di smartphone juga udah gak rebutan lagi. Keduanya mau duduk manis dan nonton bareng tanpa ribut.

Daan mau ambilin sepatu adiknya yang jatuh sebelah. Dia juga gak keberatan bantu kasih minum adiknya yang kehausan. Si murah senyum ini bahkan mau dimintai tolong ambilin lap ingus adiknya buat saya. Kalau Azzam nangis, tangannya cepat mengelus kepala Azzam sambil bilang “Ade, (ke)napa nangis? Syayaaang, syayaaang.” Hihihi. Sok tua banget ya, dia. Bisa yah anak umur belum genap tiga tahun bilang gitu ke adiknya. Mana kalau ngomong kata yang berawalan ‘s’ tuh pasti jadinya ‘sy’ kayak huruf ‘syin’ dalam bahasa Arab pula. Suka cekikikan sendiri jadinya lihat gayanya di Raka kecil ini.

Daanish, si soleh, memang cenderung anak yang tenang. Dia bayi anteng sejak lahir. Gampang ditinggal. Gampang diajak kemana-mana. Saat sakit, sering cuma rintihannya aja yang kedengeran. Baby Daanish lahir dengan suasana yang cukup menegangkan buat kami karena beresikonya kelahiran dengan plasenta praevia yang menyertainya. Butuh waktu 3x lebih lama di ruang operasi saat proses kelahiran Daanish, dibanding adiknya. Dokter harus bekerja ekstra keras menghentikan pendarahan yang tak kunjung berhenti di rahim saya akibat lengketnya plasenta yang tumbuh menutupi jalan lahir. Tapi begitu dibawa ke ruang kaca, semua orang yang pertama melihatnya sepakat akan betapa bersinarnya ia. Ia begitu bersih, putih, dan bercahaya!

Rooming-in yang katanya akan sangat berat dijalani apalagi dengan pertentangan habis-habisan oleh keluarga, justru terlewati dengan sangat mudah. Karena Daanish yang tenang. Karena Daanish yang sangat kooperatif. Daanish mau bersabar saat haus. Daanish mau menunggu popoknya diganti. Daanish banyak tidur.

Dari Daanish saya belajar kelembutan. Suara Daanish, yang udah pernah ngomong sama Daan pasti tau, selalu lembut menjawab saya, meski kadang suara saya yang gak ada pantesnya untuk didengar anak kecil kerap mampir ke telinganya.

Dari Daanish saya belajar menghargai binar-binar matanya. Sedikit pujian atas prestasinya aja, udah bikin si bocah klepek-klepek seneng sambil terus mengulang pujian untuknya.

Dari Daanish saya belajar romantis. Panggilan sayangnya akan selalu saya rindukan. Entah pada saat ia butuh bantuan, atau saat ia cuma manggil iseng karena ingin dimanja dengan panggilan ngetrennya, ‘Bubun Yikaaa’.

image

I love you, Daan. And I do like the way you call my name. It’s beautiful! ^^

Kalianlah Segala: Tunggu Ibubun Sebentar, Ya!


Saya tahu, untuk menjadikan diri ini cukup kuat untuk sandar, cukup nyaman untuk berlabuh, dan cukup indah untuk rehatnya buah hati, ketegaran fisik saja tidak akan pernah cukup. Ada ruang-ruang sendu yang harus disembunyikan. Ada lemahnya hati yang perlu disemangati. Ada jiwa yang harus diisi dengan cinta; dan cinta dari manusia saja tak kan cukup. Perlu cinta dari Sang Pemilik Cinta yang spektrumnya maha luas.

Saya terpaksa memunggungi dua buah hati yang menangis ingin pelukan ibunya. Saya terpaksa menutup telinga rapat-rapat meski mereka memanggil dengan sendu saat langkah ini menjauh. Saya terpaksa mengebaskan hati. Sungguh, saya tau saya sedang berlakon bagai ibu paling jahat sedunia.

Dulu, waktu ditinggalkan di rumah dengan pengasuh, anak-anak jarang menangis saat ditinggal kerja. Sesekali isakan itu hadir, tapi lebih banyak tawa dan lambaian tangan mesra yang melepas saya melewati daun pintu. Tapi, apa artinya tawa dan lambaian itu jika ternyata mereka tak bahagia setelahnya? Senyum yang keluar hanya karena si pengasuh pandai membujuk, namun kemudian berlaku jahat pada mereka. Saya jadi kian merasa tak mampu membaca anak-anak. Ketika mereka tampak baik-baik saja, nyatanya mereka tidak. 😥

Pemandangan berbeda ditunjukkan anak-anak saat memulai hari-harinya di daycare. Mereka selalu meratapi kepergian saya. Kadang si sulung malah berkeras untuk tidak turun dari motor demi tetap bersama saya. Tangisan histeris dan menyayat kalbu ibu mana pun kerap bertahan hingga berjam-jam. Tidak terbayang lelah dan sedihnya mereka mempertahankan tangisan itu. Demi apa? Demi saya tetap di sisi mereka.

image

Tapi saya terus berjalan, memantapkan hati menutup pintu depan rumah tempat mereka bernaung sementara. Melenggang menjauh dan meneguh-neguhkan diri sambil sayup-sayup suara tangis mereka hilang tertelan jarak.

Meski ada airmata yang harus ditahan, saya merasa sedang berbuat jahat. Meski menekan hentakan rasa sakit di dada, saya merasa sedang menzolimi anak-anak. Meski berkali-kali saya mengiba maaf mereka, saya tau hampanya hati itu tak terganti.

Semoga Allah mengampuni Ibumu ini ya, anak-anak soleh. Kalianlah oase itu. Kalianlah cahaya itu. Kalianlah segala. Maafkan Ibubun ya, Daanish dan Azzam. Sungguh, Ibubun tak lagi punya kata-kata untuk meminta kalian memaafkan diri ini. Tinggallah sebentar di sana, bersabarlah. Kalian tidak pernah sendiri, sebab separuh jiwa ini membersamai kalian, selalu.