Kalianlah Segala: Tunggu Ibubun Sebentar, Ya!

Saya tahu, untuk menjadikan diri ini cukup kuat untuk sandar, cukup nyaman untuk berlabuh, dan cukup indah untuk rehatnya buah hati, ketegaran fisik saja tidak akan pernah cukup. Ada ruang-ruang sendu yang harus disembunyikan. Ada lemahnya hati yang perlu disemangati. Ada jiwa yang harus diisi dengan cinta; dan cinta dari manusia saja tak kan cukup. Perlu cinta dari Sang Pemilik Cinta yang spektrumnya maha luas.

Saya terpaksa memunggungi dua buah hati yang menangis ingin pelukan ibunya. Saya terpaksa menutup telinga rapat-rapat meski mereka memanggil dengan sendu saat langkah ini menjauh. Saya terpaksa mengebaskan hati. Sungguh, saya tau saya sedang berlakon bagai ibu paling jahat sedunia.

Dulu, waktu ditinggalkan di rumah dengan pengasuh, anak-anak jarang menangis saat ditinggal kerja. Sesekali isakan itu hadir, tapi lebih banyak tawa dan lambaian tangan mesra yang melepas saya melewati daun pintu. Tapi, apa artinya tawa dan lambaian itu jika ternyata mereka tak bahagia setelahnya? Senyum yang keluar hanya karena si pengasuh pandai membujuk, namun kemudian berlaku jahat pada mereka. Saya jadi kian merasa tak mampu membaca anak-anak. Ketika mereka tampak baik-baik saja, nyatanya mereka tidak.😥

Pemandangan berbeda ditunjukkan anak-anak saat memulai hari-harinya di daycare. Mereka selalu meratapi kepergian saya. Kadang si sulung malah berkeras untuk tidak turun dari motor demi tetap bersama saya. Tangisan histeris dan menyayat kalbu ibu mana pun kerap bertahan hingga berjam-jam. Tidak terbayang lelah dan sedihnya mereka mempertahankan tangisan itu. Demi apa? Demi saya tetap di sisi mereka.

image

Tapi saya terus berjalan, memantapkan hati menutup pintu depan rumah tempat mereka bernaung sementara. Melenggang menjauh dan meneguh-neguhkan diri sambil sayup-sayup suara tangis mereka hilang tertelan jarak.

Meski ada airmata yang harus ditahan, saya merasa sedang berbuat jahat. Meski menekan hentakan rasa sakit di dada, saya merasa sedang menzolimi anak-anak. Meski berkali-kali saya mengiba maaf mereka, saya tau hampanya hati itu tak terganti.

Semoga Allah mengampuni Ibumu ini ya, anak-anak soleh. Kalianlah oase itu. Kalianlah cahaya itu. Kalianlah segala. Maafkan Ibubun ya, Daanish dan Azzam. Sungguh, Ibubun tak lagi punya kata-kata untuk meminta kalian memaafkan diri ini. Tinggallah sebentar di sana, bersabarlah. Kalian tidak pernah sendiri, sebab separuh jiwa ini membersamai kalian, selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s