Dari Kalian Ibubun Belajar: Episode Daanish

Belakangan, Daanish punya hobi baru: manggil saya dengan panggilan ‘Bubun Yikaaa’ (baca: bubun ryka).

Awalnya saya cuma mau ngajarin konsep nama anggota keluarga ke Daanish. Supaya kalau terjadi apa-apa, setidaknya dia bisa bilang nama kami. Dia sudah fasih bilang ‘Ayah Azis’, ‘Bubun Yika’, ‘Dede Azzam’, ‘Kakek A(ch)mad’, ‘Nenek (K)a(l)sum’, ‘Om Udi’, dan ‘Tante Anci’. Sementara itu dulu, karena baru itu yang Daanish familier. Nanti kalo udah mudik lagi ke Lombok, baru mungkin pelan-pelan direktorinya nambah.😀

Jadi satu set panggilan plus nama itu harusnya cuma muncul kalau Daan ditanya, “Bundanya siapa namanya?” Atau pertanyaan senada untuk anggota keluarga lainnya. Tapi, si soleh ini jadi lebih sering panggil-panggil saya ‘Bubun Yika’, terutama justru di timing-timing yang ‘ajaib’.😀

image

Pas lagi normalnya, Daan akan panggil saya ‘Bubun’; saat minta makan/minum, mau pipis/pup, minta tolong setel video Upin Ipin, minta bacakan buku, dan minta tolong lainnya. Itu, kondisi standarnya. Nah, kalau romantisnya kumat, dia bakal panggil ‘Bubun Yika’ di tengah apapun aktivitas kami, cuma untuk mendengar saya menjawab ‘iyaaa’ dengan nada ‘a’ panjang dan diayun. Panggilan manjanya yang saya jawab gak kalah mesra, akan selalu dikembalikannya lagi dengan seulas senyum paling manis di dunia. Tanda bahwa dia memang manggil saya buat ‘iseng’. Tepatnya, iseng-iseng manja versi verbal khusus antara saya dan Daanish.

Dari Daanish saya belajar banyak. Daanish perasa, sensitif dan agak melankolis. Sisi baiknya adalah dia luar biasa penyayang dan sangat peduli sekitar. Daanislah yang pertama berteriak memanggil kami saat dia merasa adiknya dalam bahaya. Padahal yang dalam bahaya mah anteng-anteng aja dan bodo amat gitu. Adiknya juga sering diingatkan kalau mau melakukan hal yang Daanish ingat pernah kami larang untuknya. Dan begitu Daan paham kata ‘bahaya’, gak lupa selalu dia tekankan kata-kata itu saat bicara pada adiknya.

Daan adalah sosok kakak yang bertanggung jawab. “Adek, kanang (baca: jangan) naik (tangga), ya, ba(ha)ya!” “Dede Azzam, ga wayeh (baca: boleh) pegang ya, setyum (baca:setrum), sakit!” “Awas, jatoh, Dede, ba(ha)ya!” “Ya Alloh, Bubun, Dede Azzam jatoh!” “De Azzam, ee ya? Uh, bau. Ee situ (tunjuk toilet), ya. Cuci!” “Dede, kok di situ? Asta(ghfirullahal)azim. Cini cini!”

Setelah fase-fase keringet dingin liat sibling rivalry mereka awal-awal ‘ketemu’ dulu, sekarang saya bisa senyum-senyum liat Daan mulai bisa berbagi dengan adiknya. “Ini (punya) (R)aka, ya. Ini adek.” Gak semua, barang kesayangan tetap sulit dibagi, sih. Tapi secara umum, Daan mau adiknya juga pegang satu buku/mainan saat dia juga pegang, supaya gak saling ganggu. Liat video di smartphone juga udah gak rebutan lagi. Keduanya mau duduk manis dan nonton bareng tanpa ribut.

Daan mau ambilin sepatu adiknya yang jatuh sebelah. Dia juga gak keberatan bantu kasih minum adiknya yang kehausan. Si murah senyum ini bahkan mau dimintai tolong ambilin lap ingus adiknya buat saya. Kalau Azzam nangis, tangannya cepat mengelus kepala Azzam sambil bilang “Ade, (ke)napa nangis? Syayaaang, syayaaang.” Hihihi. Sok tua banget ya, dia. Bisa yah anak umur belum genap tiga tahun bilang gitu ke adiknya. Mana kalau ngomong kata yang berawalan ‘s’ tuh pasti jadinya ‘sy’ kayak huruf ‘syin’ dalam bahasa Arab pula. Suka cekikikan sendiri jadinya lihat gayanya di Raka kecil ini.

Daanish, si soleh, memang cenderung anak yang tenang. Dia bayi anteng sejak lahir. Gampang ditinggal. Gampang diajak kemana-mana. Saat sakit, sering cuma rintihannya aja yang kedengeran. Baby Daanish lahir dengan suasana yang cukup menegangkan buat kami karena beresikonya kelahiran dengan plasenta praevia yang menyertainya. Butuh waktu 3x lebih lama di ruang operasi saat proses kelahiran Daanish, dibanding adiknya. Dokter harus bekerja ekstra keras menghentikan pendarahan yang tak kunjung berhenti di rahim saya akibat lengketnya plasenta yang tumbuh menutupi jalan lahir. Tapi begitu dibawa ke ruang kaca, semua orang yang pertama melihatnya sepakat akan betapa bersinarnya ia. Ia begitu bersih, putih, dan bercahaya!

Rooming-in yang katanya akan sangat berat dijalani apalagi dengan pertentangan habis-habisan oleh keluarga, justru terlewati dengan sangat mudah. Karena Daanish yang tenang. Karena Daanish yang sangat kooperatif. Daanish mau bersabar saat haus. Daanish mau menunggu popoknya diganti. Daanish banyak tidur.

Dari Daanish saya belajar kelembutan. Suara Daanish, yang udah pernah ngomong sama Daan pasti tau, selalu lembut menjawab saya, meski kadang suara saya yang gak ada pantesnya untuk didengar anak kecil kerap mampir ke telinganya.

Dari Daanish saya belajar menghargai binar-binar matanya. Sedikit pujian atas prestasinya aja, udah bikin si bocah klepek-klepek seneng sambil terus mengulang pujian untuknya.

Dari Daanish saya belajar romantis. Panggilan sayangnya akan selalu saya rindukan. Entah pada saat ia butuh bantuan, atau saat ia cuma manggil iseng karena ingin dimanja dengan panggilan ngetrennya, ‘Bubun Yikaaa’.

image

I love you, Daan. And I do like the way you call my name. It’s beautiful! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s