Ketika Anak-Anak Harus Terluka (4): Curhatlah Dengan Psikolog Anak, Meski Cuma Via Chatting!  

Sekarang saya mau flash-back ke chat history dengan psikolog anak pertama saya. Awalnya sih, saya menghubungi ibu psikolog cantik ini karena mau minta rekomen dari dia buat psikolog anaknya Daanish, eh ternyata dia juga psikolog anak toh. Sayang aja sih yaa, jauhnya gak ketulungan. Hihihi. Dan dengan sabar dan baik hatinya, temen masa SMP-SMA saya ini mau banget dengerin emak galau bin lebay macem saya curhat ke dia. Beneran, saat itu saya masih super galau loh. Itu kan belum lama dari kejadian. Saya juga masih bingung mau cerita detil ke siapa, mau cari solusi gimana, dan mau nyikapinnya juga gimana. Huhuhu. Untunglah ibu sholihat ini mau bantu.

Baiklah, saya bagi sedikit poin-poin dari beliau, ya. Tujuannya cuma berbagi, ya. Siapa tau ada yang bisa diaplikasikan atau siapa tau ada yang mengalami kasus serupa.

  1. Jangan cepat melabeli anak “trauma”. Kata “trauma” sebaiknya gak buru-buru disematkan pada anak yang telah mengalami kejadian buruk. Dalam terminologi psikologi, kata ini hanya digunakan untuk kasus berat dimana telah terbukti jelas beratnya kejadian buruk yang menimpa anak, dan imbasnya pun terlihat nyata dengan adanya perubahan sikap drastis pada diri anak. Pelabelan juga akan membuat anak terpojok sebagai korban, dan membuat orang sekitar (terutama orang tuanya) akan lebih tertekan menghadapi kondisi si anak. Kata ini berkonotasi cukup negatif, dan kata berkonotasi negatif jelas amat dihindari oleh para psikolog. Ingat, kata negatif, memberi nuansa negatif, dan mentransfer juga energi negatif. Label negatif, pasti ada dampak negatifnya, walaupun secara kasat mata tidak nampak. Tenang, dan pikirkan hal positif lainnya selain ‘labelling’.
  2. Usia Daanish (saat itu 2,5 tahun), adalah usia modelling. Anak biasanya gemar meniru apa yang dilihatnya. Semakin banyak terpapar aktivitas negatif, semakin banyak hal negatif yang ditiru. Tapi, biasanya bukan karena trauma, hanya meniru.
  3. Trauma tidaknya seorang anak juga tergantung durasi ia terpapar suatu kejadian buruk. Paparan itu biasanya minimal 6 bulan, kurang dari itu biasanya belum terbentuk trauma.
  4. Cemas boleh, tapi usahakan senetral mungkin saat memaparkan kronologis. Biarkan working diagnosis dari psikolog berjalan untuk menentuka trauma tidaknya anak, juga saran penangakan anak yang tepat.
  5. Membawa anak yang diduga terpapar kejadian negatif ke psikolog adalah langkah tepat. Apalagi jika merasa anak butuh dibantu. Apalagi jika kejadiannya tidak terdokumentasi dengan baik (minim bukti). Psikolog juga akan memantau intelegensi dan karakter/kepribadian si anak. Observasi dan assesmen dari psikolog dapat membantu mermuskan penanganan yang tepat. Sebab dengan kasus yang sama sekalipun, penanganan bisa berbeda. Umur batita memang tidak banyak bisa menerima assesmen, apalagi dengan alat bantu. Lebih banyak diobservasi.
  6. Berusahalah bersikap positif! Hilangkan rasa sedih, dan mulailah memperbaiki. Beritahu anak apa yang sebaiknya ia lakukan, ingatkan jika ia salah. Tiap keluarga punya nilai masing-masing, berpeganglah pada nilai-nilai itu. Memberi tahu anak memang baik, tapi yang terbaik adalah MEMBERI CONTOH.
  7. Biasanya untuk usia Daanish, kalau memang anaknya tidak terlalu sensitif/peka, dengan arahan yang tepat sikap/perilaku anak bisa kembali normal.
  8. Untuk Azzam, kalau ada ketakutan ketika makan akibat perlakuan kasar pengasuh saat memberi makan dulu, bisa diupayakan pendekatan yang lebih intens. Libatkan banyak sentuhan fisik: pelukan, ciuman, kehangatan saat bermain bersama. Bantu anak menenangkan dirinya dan banjiri ia dengan cinta dan kasih sayang.
  9. Secara umum di usia Daanish, anak-anak memang berada pada usia aktif dan pada fase negativistik. Umumnya tampak suka membangkang, self-centered, menolak, dsb.
  10. Dalam kasus Daanish, yang menonjol lainnya adalah penolakan terhadap aktivitas toilet training. Ini juga banyak faktor, bisa memang ada kekerasan, bisa juga karena baru baginya. Ada anak yang jijik, malas, takut, dsb saat memulai toilet training. Penting untuk diobservasi, seberapa berlebihan tantrumnya saat toilet training? Jika anak sampai berteriak, menangis kencang, melempar barang dalam durasi lama, bisa dikategorikan tantrum berleihan/kasar.
  11. Daanish bisa saja sejak awal punya tmperamen sensitif, sikap ART bisa memperburuk. Karakter agak sulit diubah, tapi bisa dikendalikan. Daanish bisa diajari agar tidak marah berlebihan saat ia sedih/kecewa. Temperamen adalah bawaan lahir, dan umumnya genetis.
  12. Sibling rivalry mungkin memng hadir antara Daanish dan Azzam, dan bisa saja diperburuk oleh role model yang salah dari ART. Tapi anak bisa diarahkan. Ubah sikap negatif ke positif. Misal saat Daanish menarik kasar rambut Azzam hingga adiknya menangis, bisa dikomentari dengan membantu Daanish memegang kepala adiknya dengan lembut sambil bilang, “Oh, Daanish maksudnya mau sayang adek kan, ya? Sini sini, kita elus kepalanya Dek Azzam yuk, Daan.”
  13. Catatan buat saya, ibunya: harus bisa release perasaan negatif (bisa dengan meditasi, olahraga, ibadah, dll). Perasaan bersalah pasti ada dan berdampak lama, jadi yang paling pertama harus dilakukan: MENERIMA keadaan dulu. Menerima bahwa kejadiannya memang sudah terlanjur terjadi. Pembawaan sensitif lebih rentan dengan traumatik, tapi dengan menerima setidaknya efek negatif bisa diredam. Menerima adalah proses. Jalani, yakini. Jangan terlalu membebani diri sendiri. Hargai setiap usaha yang sudah diupayakan maksimal. For your children, you are the BEST, you are the UNIVERSE!

Nah, akhirnya tulisan ini jadinya emang poin-poin doang ya, buka ala-ala diary kayak tulisan saya biasanya. Mungkin gak runut, mungkin juga ada yang agak sulit dipahami. Tapi saya berusaha tulis selengkap mungkin. Karena ini konsul pertama saya dengan ahlinya, yaitu psikolog anak. Perlu diketahui, karena konsulnya via chatting, pastinya gak sama dengan hasil observasi/asesmen langsung. Tapi kenapa saya bagi, karena poinnya banyak banget yang ‘ngena’ buat saya. Dan sharing pertama ini bener-bener mengubah sikan dan cara pandang saya, terutama soal pelabelan, penerimaan akan kejadian yang sudah lewat, dan upaya membebaskan diri dari rasa bersalah. Nantinya, bahkan beberapa poin klop kok sama hasil observasi dan asesmen dengan ahli kedua, Ibu Astrid W.E.N, M.Psi di Klinik Kancil. Psikolog Astrid tentunya saya dapet dari rekomendasi psikolog pertama yang saya ajak chatting ini. Sayang lagi di Jerman sih, kalo deket sih, saya datengin. Pertolongan pertamanya bener-bener berguna banget. Makasih banyak, Ibu Afilla Dwitasari, M.Psi. Semoga Allah bales kebaikan Ewi dengan kebaikan berlipat, yah! ^^

image

Pilihan tepat bingit deh curhat sama psikolog saat ketemu masalah beginian. Jelas pengetahuan psikologi anak saya super minim, jelas juga saya butuh bantuan buat menghadapi masalah ini. Curhat dengan temen n keluarga mungkin bikin adem hati sebentar. Lha, terus detilnya saya harus gimana, kan harus saya cari tau juga keleus! Untungnya selain emang udah temenan, Ewi punya ‘ilmu’nya buat ngehandle kacaunya saya saat itu. Ibarat kotak P3K, dia kasih saya pertolongan pertama yang saya butuhkan supaya lukanya gak tambah buruk. Asiknya lagi, masukan buat anaknya dapet, saran buat orang tuanya (terutama ibunya) juga dapet. Cihuy, kaaan! Ah, pokoknya berhutang budi banget deh sama Ewi. Makasih banyak ya, Wi, makasih banget! ^^

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s