Kalian Pasti Suka Tempat Ini, Daan, Azz!


Yuhuyyy, saya masih mau ngomongin kantor baru saya. Iyaaa, yang cuma 15 menit dari rumah itu tuh. bangga

Jadi, yah, dari pertama menjejakkan kaki di sini dengan menyadang status pegawai pindahan, saya udah punya feeling kalau anak-anak bakal suka tempat ini, seperti yang udah saya ceritain sebelumnya. Geregetan liat pasukan capung bersliweran, burung-burung gereja yang tanpa takut bertenggeran di tanah, kamboja putih eksotik yang bertaburan di atas karpet rumput hijau rapi nan terawat. Ugh, saya beneran gak sabar pengen bawa anak-anak ke sini. Dengan luas, indah dan bersihnya ruang terbuka di kantor, saya jamin, anak-anak akan merasa tempat ini gak ubahnya taman bunga dimana mereka bisa bebas berlarian, menggelinding, dan tertawa riang ditingkahi aneka flora dan fauna yang apik.

Karena atmosfirnya mirip banget sama tempat kerja Ayah saya yang juga jadi ‘area bermain’ masa kanak-kanak saya (ya iyalah, namanya juga satker yang masih dalam garis koordinasi pemerintah bidang ketenagakerjaan. nasib, dari pendidikan ampe karir saya emang ngintilin Ayah saya melulu. :p), saya jadi cerita, deh, ke Kakeknya anak-anak. Sambil senyum-senyum (saya haqqul yaqin beliau senyum, kerasa dari intonasi bicaranya πŸ˜€ hihihi), dia malah yang semangat nyuruh saya segera ajak anak-anak. Well, kayaknya yang nostalgileee bukan cuma saya, ya. Sejarah berulang di rentangan waktu berbeda padahal bukan suatu kesengajaan itu: keajaiban! Dan inilah yang saya sebut hadiah dari-Nya, jawaban dari permohonan di atas kebingungan yang kemarin-kemarin itu.

Sabtu kemarin, Yayah Azis masuk kantor, dong, pemirsa. Ya iyalah, gak seru! Mau ajak main anak-anak, bingung mau kemana. Ke mall, gak mungkin, rempong! Hwihihi. Spontan bawa duo bocah ini muter-muter naik motor, dari cari nasi uduk sampe beli susu UHT. Masih males pulang, saya kepikiran bawa mereka ke kantor. Liburan, pasti kantor gak rame, tapi juga gak sepi karena anak-anak calon peserta magang ke Jepang pasti masih beraktivitas.

Ealah, ternyata Sabtu kemaren, kantor bukannya rame lagi, tapi rame banget! Ternyata ruang serba gunanya lagi dipakai buat resepsi. Untung, meskipun pake baju kucel, satpamnya inget muka saya yang baru dua minggu mewarnai kantor ini (tsaaahhh… :D). Jadi kami bisa melenggang masuk. Ngegembol dua anak plus bawa makanan dan cemilan yang baru kami beli sebelumnya.

Daanish langsung gak sabar nyobain jalan setapak yang dibuat membelah taman cantik dengan burung-burung di sekitarnya. Azzam gak mau kalah, dia meronta minta turun dari gendongan, dan terburu-buru mengejar Rakanya. Sesekali bocah 1,5 tahun ini terjatuh, sebab undakan di mana-mana. Tapi mereka terkekeh lagi. Berputar di antara pepohonan perdu, mereka tampak benar-benar menikmatinya. “Main, ya, Buuun!” terisk si sulung.

Istirahat, saya minta anak-anak duduk di bangku batu di pinggir taman, kamboja dan bebungaan lain mengitari kami. Rindang. Romantis. Mereka membuka cemilannya, menghisap susu dari sedotan, sambil menggenggam kamboja yang dipungut dari atas rumput. Sesekali orang-orang melintas di lorong dekat tempat duduk kami, tapi anak-anak paling takjub lihat para peserta trainee yang ramai sekali.

Mereka dikumpulkan, lalu setengah berlari, berteriak bilang potongan-potongan kata dalam Bahasa Jepang, “Konnichiwa”, “Hashiraseru”, dsb. Tetiba mereka bergumul menuju satu tempat, duduk tegak dan sejurus kemudian dudung melingkari meja-meja yang sudah disediakan untuk makan. Azzam menatap lurus-lurus ke kantin besar tempat mereka makan dalam dian dan cepat. Berat ya, Nak, untuk menjalani pilihan hidup itu. Dan kelak kamu akan tahu, memang begitulah cara manusia menjalani hidupnya, tidak melulu manis, tidak selalu mudah. Eh, jadi kejauhan deh, mikirnya. πŸ˜€

Saya ajak anak-anak menepi dari keramaian tadi. Mereka berdiri di tengah area taman yang lain. Hanya ada tanaman pendek tanpa pepohonan di sana. Tapi yang seru, puluhan capung oranye beterbangan di atas kepala mereka, rendah sekali. Daanish terlonjak senang dan segera berlari ke sana kemari sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menyentuh capung-capung itu. Dia berputar ke sana-kemari, melompat, memanjangkan tangannya, dan berpikir seolah ia dapat menangkap mereka. Azzam ikut tertawa, ia pun mengulurkan tangannya ke atas. Tawa mereka bertambah ramai. Siang yang sama sekali tak panas itu kian membuat mereka semangat dan tak merasa lelah di sana.

Belum puas, kami berjongkok di rerumputan, menemukan kupu-kupu kecil menghinggpai bebungaan kecil. Kupu-kupu berwarna coklat atau putih yang monoton, kontras dengan ungu-kuning bebungaan liar yang mungil. Azzam selalu ingin menangkap mereka. Tapi, biar kecil, mereka sigap menghindari tangan Azzam. Setiap kali gagal menangkap, bukannya sedih, Azzam justru akan tertawa-tawa. Lucu kali ya, dilihatnya kupu-kupu itu pandai sekali mengelak.

Azzam tampak enggan pulang. Saya menggandeng Daanish dan berpura-pura meninggalkan Azzam. Kami bersembunyi di balik tiang atau pot-pot besar. Dan ketika Azzam mendekat, “Baaa!” Kami berteriak mengejutkan Azzam. Gelak riang tak putus-putus dari dua anak itu tiap kali permainan diulang. Terus begitu sampai kami merasa lelah.

Di lorong, Daanish yang mulai suka diajak berfoto mulai beraksi dengan ekspresi lucunya ketika saya bilang, “Daanish, selfie, yuk,” seraya menyorongkan kamera di depan kami. Angka yang menghitung mundur dimanfaatkan Daanish untuk mengubah-ubah mimik mukanya. Ugh, ini bocah satu yaaa. Gemes!

Anak-anak yang puas main keliatan agak berat ketika diajak pulang. Tapi saya gak kalah akal, dong. alih-alih lewat jalan lorong yang membosankan, saya ajak mereka pulang lewat jalan setapak di area taman lainnya. Sambil dadah-dadah ke kucing lewat dan burung-burung gereja yang beterbangan begitu kami mendekat, akhirnya anak-anak bisa pulang dengan damai. Tanpa Ibubun ngomel-ngomel. Tanpa anak-anak nangis.

Sesiangan yang seru didukung suasana mendung tapi udaranya enak banget. Yang tadinya dikira bakal jadi ngebosenin karena Yayah kerja, ternyata kami berhasil menemukan kesenangan baru. Iyaaa, gitu aja udah bikin liburan jadi seru dan menyenangkan banget loh. Udah murah, deket pula. Yuk ah, kapan-kapan kita main ke ‘kantor’ Ibubun lagi ya, Nak, terutama kalau Yayah kerja dan kita (nyaris) mati gaya di rumah. Have fun with your work, Yayah! Hihihi. ^^

Advertisements

[Resep Masakan Jepang Sederhana] Takoyaki


Takoyaki, sebenernya bikinnya ga susah. Cuma emang sih, seperti kebanyakan resep makanan Jepang lainnya, bumbu dan bahannya yang sering kali langka di Indonesia. Belum lagi harus hati-hati dengan kandungannya. Karena buat yang Muslim, bakal banyak banget kandungan bahan makanan yang harus dihindari terkait kehalalannya. Kalau ada supermarket yang jual barang-barang impor, coba main-main, ya. Dan kalau sudah nemu semua bahannya, cobain deh bikin takoyaki ini. Kalau saya sama suami, karena udah terlanjur ngerasain yang asli, dari yang enak sampe enak banget, susaaah banget ngerasa enak sama takoyaki yang dijual di gerai-gerai. Akhirnya, daripada misah-misuh kesel karena udah ngabisin uang banyak dan gak puas juga, mendingan kita bikin aja deh sendiri di rumah.

image

Oya, sebelumnya saya susah nemu gurita/octopus di sini, jadi biasanya saya isi udang atau bakso kepiting/kanikama. Nah, minggu lalu nemu deh fozen octopus di Carrefour. Ada yang merah, harganya sekitar 80 ribu-an per kilogramnya. Ada juga yang keabuan, harganya cuma separuhnya. Saya beli yang keabuan aja, murah meriah. Hehe. Beli yang paling kecil, kalo gak salah cuma sekitar 16 ribu-an, itu saya pakai buat dua resep di bawah ini dan masih sisa. Mungkin masih bisa dipakai untuk satu resep lagi.

Saya gak pernah nyoba resep takoyaki lain. Dari awal bikin, selalu pakai resep dari temen yang dulu tinggal di Jepang juga, Mba Marlis, dan resepnya bisa diliat di sini. Mba Marlis sendiri katanya dapet dari temennya yang bersuami orang Jepang. Gak heran, buat saya rasanya pas banget. Jauh lah dengan yang ada di pasaran. Mungkin karena pake kaldu/dashi ikan katsuo yang saya kombinasikan juga dengan kaldu kombu, yah. Yang didalam kurung hasil modifikasi menyesuaikan dengan ketersediaan bahan di tanah air. Ngiler? Yuk, ah, dicoba. ^^

Resep Takoyaki
By Ayreza Ando

Bahan adonan kulit:
100 gr tepung terigu (saya pakai tepung terigu protein sedang)
1 butir telur
340ml kaldu ikan cakalang serut kering/katsuobushi, yang dibuat dari 340ml air direbus dengan 20gr katsuobushi, kemudian disaring (saya pakai 1 sdm kaldu bubuk ikan katsuo/katsuo-dashi dan 1 sdt kaldu bubuk konbu/konbu-dashi. tapi karena stok kaldu bubuk kian menipis dan katsuobushi belakangan cukup mudah didapat dan murah karena merupakan produksi lokal (Makassar) yang diekspor ke Jepang, lain kali saya mau coba buat sendiri dari katsuobushi seperti resep aslinya)
1/4 sdt baking powder
garam secukupnya

Bahan isian:
150 gr gurita/tako yang sudah direbus, potong-potong sebesar 1 cm, atau bisa diganti dengan cumi, udang, atau telur puyuh)
ika iri tenkatsu, yang berbentuk seperti remahan tepung tempura (ini sulit didapat di Indonesia, tidak terlalu mempengaruhi rasa, tidak pakai pun tidak apa-apa)
6 gr pickles ginger/beni-shouga (saya pakai jahe biasa yang dikupas dan dirajang halus)
2 gr udang kering jepang/sakura ebi (saya substitusi dengan ebi/rebon kering yang sebelumnya digongseng hingga harum)

Topping:
bubuk rumput laut kering/aonori (saya pernah baca blog orang Jepang yang tinggal di eropa dan kesulitan menemukan aonori, bisa diganti dengan nori lembaran yang sebelumnya dibakarΒ  sebentar di atas api hingga crunchy, lalu dihaluskan dengan dry mill, atau bisa juga dipotong kecil-kecil saja)
katsuobushi

Saus:
worcestershire sauce atau saus takoyaki (saya masih mengandalkan saus impor via nitip teman, nih. lain kali kalau sudah sukses coba bikin saus sendiri, in shaa Allah saya bagi)
Japanese Mayonaise (andalan saya pastinya Kewpie Mayonaise. sangat tidak disarankan pakai mayones lokal, jauh banget rasanya :D)

Cara membuat:
1. Kocok lepas telur, kemudian campurkan dengan air dingin.
2. Ayak tepung terigu dengan baking powder, kemudian sedikit demi sedikit masukkan ke dalam adonan air dan telur. Aduk hingga rata dan licin.
3. Panaskan cetakan kurang lebih 180 derajat. Olesi dengan sedikit minyak, kemudian tuang adonan sampai 1/2 lingkaran, taburi dengan tako, tenkatsu, jahe merah dan irisan daun bawang. Tuang kembali adonan sampai semua bahan tertutupi. Diamkan adonan selama 1,5 menit agar adonan yang dibawahnya mengeras dan agak matang.
4. Bolak-balikkan terus adonan takoyaki sampai matang dan berwarna kecoklatan. (Saran: Gunakan dua tusuk sate bersih untuk memutar-mutar takoyaki. Putar sedikit demi sedikit dan biarkan sisa adonan di bagian tengah yang belum matang meleleh dan turun ke cetakan. Ini penting untuk membuat hasil akhir tako bulat sempurna dan cantik.)
5. Setelah matang oleskan dengan rata, takoyaki yang sudah matang dengan sedikit minyak goreng. Masak kembali hingga matang dan garing.
Lakukan hal diatas sampai adonan habis

Cara menyajikan:
Letakkan takoyaki diatas piring atau wadah lainnya, kemudian beri saus, Japanese mayonaise, katsuobushi dan terakhir aonori. Sajikan selagi hangat. (Kalau saya, supaya lebih cantik, mayones dituangkan duluan dengan motif diagonal kiri/kanan, lalu saus dituangkan dengan motif sebaliknya. Sehingga hasil akhirnya nampak seperti jalinan anyaman warna putih-coklat. Lanjutkan dengan memberi topping katsuobushi dan paling atas aonori/nori potong.)

Diary Ibubun: Ibu Yang Bekerja Atau Pekerja Yang Jadi Ibu?


Tidak pernah terbayangkan, bahkan dalam mimpi sekali pun, kembali saya berada di lingkungan seperti ini, dengan aroma yang sama. Saya dibesarkan dengan kebahagiaan masa kecil yang isinya tak hanya bermain dengan anak-anak lainnya, namun juga berdekil-dekil ria duduk di selokan kering di depan bengkel kerja ayah saya, bermain apa saja yang bisa membuat saya gembira. Selagi lelaki itu mengajar, saya akan setia duduk di sana, kadang mengumpulkan sampah bekas kuitansi dan kertas penahan gepokan uang untuk dijadikan uang-uangan, kadang menyusun bebungaan di atas daun mangkokan dan berpura-pura jadi penjual, kadang memotong dedaunan dan berlagak bak koki. sesekali, saya akan berlari mencari ayah saya di dalam, duduk di atas kursi kerjanya (atau mejanya juga, terkadang), meminta sehelai kertas dan alat tulis. saat para siswa tak ada, saya dengan gagah mencorat-coret papan tulis dengan kapur warna-warni, membayangkan rasanya jadi guru seperti ayah saya. saya juga pernah pakai mesin gerinda di sana, untuk mengikir cangkang kerang dan menjadikannya perhiasan. tapi, saya takut dengan silau dan bunga api alat las. saya juga takut gigi-geligi mesin frais dan mesin bubut yang tingginya menjulang beberapa kali tubuh mungil saya dulu. Jadi, saya akan jauh-jauh dari mereka, menutup telinga rapat-rapat, dan berlari secepat mungkin setiap kali melewatinya.

image

Sekarang, sekitar 25 tahun setelahnya, ingatan saya seolah ditarik kembali. Dengan ubin klasik yang mirip lantai rumah nenek saya, dengan tata ruang dan taman yang bergaris merah dengan komplek kantor ayah saya, dengan aroma masa lalu yang bangkit. Seminggu saya di sini, baru kali ini saya mengitari sebagian dari komplek besar ini. Dan ketika menuju masjid, kepala saya tak kuasa untuk menoleh, demi mencium lagi aroma itu. Tolong, jangan bayangkan wangi harum yang menggoda, atau bau sedap yang memanggil-manggil. Cuma aroma khas oli mesin-mesin di workshop mesin. Ya, cuma itu. Aroma yang terlalu lekat dengan ingatan masa kecil saya. Aroma yang memaksa saya menulis satu postingan baru, hari ini.
image

Tentu bangunan tempat saya bekerja kini kalah jauh megah dan gagahnya dengan yang lama. Tentu orang-orangnya tak seramai di sana. Tentu pekerjaan yang dihadapi berbeda. Dengan segala nature dari sebuah unit pelaksana teknis pelatihan yang tunduk pada kuasa pemerintah pusat, jelas kapasitas tempat ini jauh di bawahnya. Apa saya menyesal? Tidak.

Sudah jadi janji saya ketika saya meminta dipilihkan jalan oleh-Nya, untuk memulai dan memupuk pikiran positif tentang ‘rumah baru’ ini. Maka saya akhiri perpisahan dengan senyum sumringah, sebab saya tak sabar berada di tempat baru. Maka saya mulai hari-hari pertama, yang tentunya penuh kekikukan dan kelonggaran waktu, dengan tetap senyum sumringah, sebab saya tahu ini takkan lama. Lorong-lorong sempit memanjang dengan hamparan ruang terbuka di kanan dan kirinya, adalah lorong milik saya di masa lalu. Sebuah kesatuan bangunan bernama pusat pelatihan dimana orang-orang menggantungkan hidupnya demi mendapatkan keterampilan guna masa depan yang lebih baik, adalah bangunan milik saya di masa lalu. Aroma yang menguar keluar dari workshop yang rolling doornya terbuka lebar memamerkan deretan mesin-mesin berat di dalamnya, adalah aroma milik saya di masa lalu.
image

Tempat ini, tempat baru ini, ternyata tak cuma mampu menghadirkan senyum sumringah agar saya tetap optimis melihat hari esok. Ia juga mampu menghadirkan sendu, menggelar kembali seluruh memori masa keil yang begitu sarat akan cinta di sebuah bangunan serupa nun jauh di sana, tempat sebagian jiwa ini tertaut. Jelas, tak mungkin saya tak jatuh cinta dengan tempat ini. Sebab ia memendekkan bentangan rindu dengan anak-anak. Ia memungkinkan saya menjumpai dua buah hati saya di separuh hari, menyusui si kecil, mengajak bercerita si sulung, dan lebih banyak waktu sharing dengan para pengasuhnya di daycare. Ia memungkinkan saya berangkat tanpa tergesa, sebab saya tahu 15 menit setelah melangkah keluar rumah ia bisa saya temui. Ia juga yang membuat saya terlalu cepat menjemput anak-anak, sehingga terkadang mereka harus makan sambil merengek minta pulang, padahal belum waktunya.
image

Kamboja yang luruh di taman antar gedung, mengingatkan saya pada si sulung yang gemar mengumpulkan bunga, daun kering, kerikil, dan temuan jalanan lainnya di traynya saat kami melakukan nature walk. Tentu saja, si bungsu yang beranjak besar kini pun tak pernah mau kalah mengumpulkan benda serupa. Hari-hari yang saya jalanin di sini tak lagi pernah sama dengan sebelumnya. Waktu berjalan demikian sempurna di sini. Dentingnya mengingatkan rindu kanak-kanak. Rinainya menggemuruhkan rindu pada anak-anak. Di sinilah, pada saat bersamaan, saya merasa begitu bahagia sebagai seorang anak dan sebagai seorang ibu. Di sinilah, ketika saya merasa bekerja (mungkin) tak lagi perlu digesekkan dengan peran sebagai ibu. Saya tak lagi perlu bingung, apakah saya adalah seorang ibu yang sambil bekerja atau seorang pekerja yang akhirnya menjadi ibu?

Ah, sebentar lagi saya pulang, menjemput anak-anak. Tak ada lagi kekhawatiran membayangkan tangisan dan muka sedih mereka saat terlambat dijemput. Tak ada lagi macet yang membuat jarak dengan anak-anak terasa kian jauh. Tak ada lagi sore yang hilang tanpa bermain dengan anak-anak tetangga karena gelapnya langit saat tiba di rumah. Tak ada lagi dua-jam-jarak-tempuh. Tak ada lagi lintasan rasa bersalah yang menggulirkan air mata di sepanjang perjalanan pergi-pulang kantor. Tak ada lagi.

Saya tahu, waktu bergulir cepat. Kantor berubah. Saya berubah. Anak-anak dewasa dengan segera. Esok atau lusa, kenyamanan ini bisa saja hilang, atau terganti dengan kenyamanan lain. Tapi biarlah, izinkan saya merasakan kehangatan di hati ini barang sejenak. Sambil menyeruput lemon tea hangat di tengah rinai hujan yang selalu membawa kekhawatiran akan tergenangnya kantor ini, izinkan saya, dengan penuh kesyukuran, menikmati sepenggal sore ini.

(Ibubun ada di dekat kalian anak-anak, dekat sekali. Semoga inilah yang kalian butuhkan, yang kita inginkan bersama. )

Diary Ibubun: Gerbang yang Memendekkan Bentangan Rindu


Akhirnya, inilah simpul dari maju-mundur dan ragu-ragu saya dari dulu. Udah lama berpikir mau resign, tapi saya gak sanggup gesekan sama keluarga sendiri, bahkan mungkin gak sanggup juga memdamaikan suara-suara hati sendiri. Jalan inilah jalan tengahnya. Mungkin memang sudah takdir Allah, sebenernya saya sudah konsultasi empat mata dengan para atasan tentang ini sebelum musibah terkait anak-anak terjadi. Tinggal eksekusi, datanglah ‘akselerasi’ dari Allah. Gak bisa dipungkiri, salah satu hikmah kejadian itu adalah dukungan masif dari sekitar, termasuk rekan dan atasan di kantor. Dukungan yang gak cuma menguatkan, tapi bikin jalan yang kami pilih ini jadi kian mudah. Kalau biasanya butuh waktu lama dalam poses mutasi pegawai. Well, harus saya bilang, saya gak mengalaminya. Padahal saya bukan siapa-siapa, dan gak ngelakuin lobby khusus. Saya cuma memberanikan diri membuka luka, membiarkan banyak orang tau, menyiapkan diri untuk segala penilaian, dan mempercayakan Allah menggerakkan hati-hati mereka.

Dan tibalah hari ini. Senin pertama di tanggal pertama bulan Desember, saya bersiap melangkah ke gerbang baru. Gerbang baru dalam arti literal. Sebab in shaa Allah mulai hari ini gerbang yang saya masuki demi menjalani dari-jam-setengah-delapan-sampai-jam-empat, berbeda dari sebelumnya. Gerbang ini jauh lebih kecil dan sederhana. Gerbang ini meringkus jarak tempuh berjam-jam yang biasa, menjadi hitungan belasan menit saja. Gerbang ini menciutkan bentangan rindu dengan anak-anak. Dan semoga, dengan izin Allah, gerbang ini pun mampu membuat saya terus mengepak, bahkan kian tinggi.

image

Saya sudah lama melewati masa berat ketika harus memilih. Jadi otomatis, bersendu-sedan meratapi meja kerja yang ditinggalkan atau bangunan bergengsi yang dipunggungi pun sudah tamat. Tapi tetap, butuh energi besar yang memunculkan derai untuk melepaskan kehangatan di lingkaran yang lama. Sejak ‘resmi’ berstatus pegawai dan menanggalkan status gak jelas sebagai honorer dulu, tempat ini telah menjadi rumah kedua, jika dilihat dari kuantitas waktu yang dihabiskan. Tempat yang dulu saya tangisi di hari pertama menjejaknya, yang menyumpal rasa sedih dan ketidakyakinan untuk terus menjalani, yang membuat saya mencari pelarian bernama ‘sekolah’, yang kemudian entah bagaimana jadi tempat paling asyik tiga tahun belakangan ini. Tempat ini yang mengijinkan saya mengecap aneka rasa, senang dan sedih, dan kawan-kawannya. Tempat yang dulu teramat saya benci, dan kini teramat susah untuk tidak mencintainya terus-terusan lagi.

Jika 1 Desember 2007 menjadi hulunya, maka 1 Desember 2014 inilah hilirnya. Tanggal cantik, kebetulan? Ah, saya mulai belajar bahwa semua sudah Allah rencanakan dengan indah, sempurna, dan sebaik-baik jalan. Saya cuma gak bisa berhenti takjub memikirkan semuanya,  termasuk betapa persisnya hari ini dengan tujuh tahun yang lalu.

Selalu dan selamanya, orang-orang yang pernah singgah selama masa tujuh tahun plus delapan bulan ini akan menetap di ruang-ruang hati. Membuat seolah ada gerak lambat setiap kali momen hitam-putihnya diulang. Jika selama tujuh tahun ini rasa itu pudar,  maka hari ini dengan yakin saya akan bilang kalau saya bangga dan bahagia jadi bagian dari keluarga besar Direktorat tempat saya ‘dibesarkan’, pun semua bagian di bawah naungan Ditjen yang sama,  bahkan Kementerian yang sama, yang pernah ‘satu atap’ di Gatot Subroto.

Terima kasih untuk semua waktu, yang menumpahkan tangis dan yang menggelakkan tawa,  selama bersinergi dalam satu atap. Saya tidaklah melangkah terlalu jauh, meski jarak mungkin merentang. Gerbong baru nanti masih dalam satu rangkaian yang sama, dan mengarah pada tujuan yang sama.

Mohon diikhlaskan dan dimaafkan kesalahan dan kekhilafan saya selama kita bersama yang pastinya tak terhingga jumlahnya. Mohon juga diingatkan janji yang belum sempat ditunaikan.

Selalu dan selamanya, kalian di hati. πŸ™‚