Diary Ibubun: Ibu Yang Bekerja Atau Pekerja Yang Jadi Ibu?

Tidak pernah terbayangkan, bahkan dalam mimpi sekali pun, kembali saya berada di lingkungan seperti ini, dengan aroma yang sama. Saya dibesarkan dengan kebahagiaan masa kecil yang isinya tak hanya bermain dengan anak-anak lainnya, namun juga berdekil-dekil ria duduk di selokan kering di depan bengkel kerja ayah saya, bermain apa saja yang bisa membuat saya gembira. Selagi lelaki itu mengajar, saya akan setia duduk di sana, kadang mengumpulkan sampah bekas kuitansi dan kertas penahan gepokan uang untuk dijadikan uang-uangan, kadang menyusun bebungaan di atas daun mangkokan dan berpura-pura jadi penjual, kadang memotong dedaunan dan berlagak bak koki. sesekali, saya akan berlari mencari ayah saya di dalam, duduk di atas kursi kerjanya (atau mejanya juga, terkadang), meminta sehelai kertas dan alat tulis. saat para siswa tak ada, saya dengan gagah mencorat-coret papan tulis dengan kapur warna-warni, membayangkan rasanya jadi guru seperti ayah saya. saya juga pernah pakai mesin gerinda di sana, untuk mengikir cangkang kerang dan menjadikannya perhiasan. tapi, saya takut dengan silau dan bunga api alat las. saya juga takut gigi-geligi mesin frais dan mesin bubut yang tingginya menjulang beberapa kali tubuh mungil saya dulu. Jadi, saya akan jauh-jauh dari mereka, menutup telinga rapat-rapat, dan berlari secepat mungkin setiap kali melewatinya.

image

Sekarang, sekitar 25 tahun setelahnya, ingatan saya seolah ditarik kembali. Dengan ubin klasik yang mirip lantai rumah nenek saya, dengan tata ruang dan taman yang bergaris merah dengan komplek kantor ayah saya, dengan aroma masa lalu yang bangkit. Seminggu saya di sini, baru kali ini saya mengitari sebagian dari komplek besar ini. Dan ketika menuju masjid, kepala saya tak kuasa untuk menoleh, demi mencium lagi aroma itu. Tolong, jangan bayangkan wangi harum yang menggoda, atau bau sedap yang memanggil-manggil. Cuma aroma khas oli mesin-mesin di workshop mesin. Ya, cuma itu. Aroma yang terlalu lekat dengan ingatan masa kecil saya. Aroma yang memaksa saya menulis satu postingan baru, hari ini.
image

Tentu bangunan tempat saya bekerja kini kalah jauh megah dan gagahnya dengan yang lama. Tentu orang-orangnya tak seramai di sana. Tentu pekerjaan yang dihadapi berbeda. Dengan segala nature dari sebuah unit pelaksana teknis pelatihan yang tunduk pada kuasa pemerintah pusat, jelas kapasitas tempat ini jauh di bawahnya. Apa saya menyesal? Tidak.

Sudah jadi janji saya ketika saya meminta dipilihkan jalan oleh-Nya, untuk memulai dan memupuk pikiran positif tentang ‘rumah baru’ ini. Maka saya akhiri perpisahan dengan senyum sumringah, sebab saya tak sabar berada di tempat baru. Maka saya mulai hari-hari pertama, yang tentunya penuh kekikukan dan kelonggaran waktu, dengan tetap senyum sumringah, sebab saya tahu ini takkan lama. Lorong-lorong sempit memanjang dengan hamparan ruang terbuka di kanan dan kirinya, adalah lorong milik saya di masa lalu. Sebuah kesatuan bangunan bernama pusat pelatihan dimana orang-orang menggantungkan hidupnya demi mendapatkan keterampilan guna masa depan yang lebih baik, adalah bangunan milik saya di masa lalu. Aroma yang menguar keluar dari workshop yang rolling doornya terbuka lebar memamerkan deretan mesin-mesin berat di dalamnya, adalah aroma milik saya di masa lalu.
image

Tempat ini, tempat baru ini, ternyata tak cuma mampu menghadirkan senyum sumringah agar saya tetap optimis melihat hari esok. Ia juga mampu menghadirkan sendu, menggelar kembali seluruh memori masa keil yang begitu sarat akan cinta di sebuah bangunan serupa nun jauh di sana, tempat sebagian jiwa ini tertaut. Jelas, tak mungkin saya tak jatuh cinta dengan tempat ini. Sebab ia memendekkan bentangan rindu dengan anak-anak. Ia memungkinkan saya menjumpai dua buah hati saya di separuh hari, menyusui si kecil, mengajak bercerita si sulung, dan lebih banyak waktu sharing dengan para pengasuhnya di daycare. Ia memungkinkan saya berangkat tanpa tergesa, sebab saya tahu 15 menit setelah melangkah keluar rumah ia bisa saya temui. Ia juga yang membuat saya terlalu cepat menjemput anak-anak, sehingga terkadang mereka harus makan sambil merengek minta pulang, padahal belum waktunya.
image

Kamboja yang luruh di taman antar gedung, mengingatkan saya pada si sulung yang gemar mengumpulkan bunga, daun kering, kerikil, dan temuan jalanan lainnya di traynya saat kami melakukan nature walk. Tentu saja, si bungsu yang beranjak besar kini pun tak pernah mau kalah mengumpulkan benda serupa. Hari-hari yang saya jalanin di sini tak lagi pernah sama dengan sebelumnya. Waktu berjalan demikian sempurna di sini. Dentingnya mengingatkan rindu kanak-kanak. Rinainya menggemuruhkan rindu pada anak-anak. Di sinilah, pada saat bersamaan, saya merasa begitu bahagia sebagai seorang anak dan sebagai seorang ibu. Di sinilah, ketika saya merasa bekerja (mungkin) tak lagi perlu digesekkan dengan peran sebagai ibu. Saya tak lagi perlu bingung, apakah saya adalah seorang ibu yang sambil bekerja atau seorang pekerja yang akhirnya menjadi ibu?

Ah, sebentar lagi saya pulang, menjemput anak-anak. Tak ada lagi kekhawatiran membayangkan tangisan dan muka sedih mereka saat terlambat dijemput. Tak ada lagi macet yang membuat jarak dengan anak-anak terasa kian jauh. Tak ada lagi sore yang hilang tanpa bermain dengan anak-anak tetangga karena gelapnya langit saat tiba di rumah. Tak ada lagi dua-jam-jarak-tempuh. Tak ada lagi lintasan rasa bersalah yang menggulirkan air mata di sepanjang perjalanan pergi-pulang kantor. Tak ada lagi.

Saya tahu, waktu bergulir cepat. Kantor berubah. Saya berubah. Anak-anak dewasa dengan segera. Esok atau lusa, kenyamanan ini bisa saja hilang, atau terganti dengan kenyamanan lain. Tapi biarlah, izinkan saya merasakan kehangatan di hati ini barang sejenak. Sambil menyeruput lemon tea hangat di tengah rinai hujan yang selalu membawa kekhawatiran akan tergenangnya kantor ini, izinkan saya, dengan penuh kesyukuran, menikmati sepenggal sore ini.

(Ibubun ada di dekat kalian anak-anak, dekat sekali. Semoga inilah yang kalian butuhkan, yang kita inginkan bersama. )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s