Kalian Pasti Suka Tempat Ini, Daan, Azz!

Yuhuyyy, saya masih mau ngomongin kantor baru saya. Iyaaa, yang cuma 15 menit dari rumah itu tuh. bangga

Jadi, yah, dari pertama menjejakkan kaki di sini dengan menyadang status pegawai pindahan, saya udah punya feeling kalau anak-anak bakal suka tempat ini, seperti yang udah saya ceritain sebelumnya. Geregetan liat pasukan capung bersliweran, burung-burung gereja yang tanpa takut bertenggeran di tanah, kamboja putih eksotik yang bertaburan di atas karpet rumput hijau rapi nan terawat. Ugh, saya beneran gak sabar pengen bawa anak-anak ke sini. Dengan luas, indah dan bersihnya ruang terbuka di kantor, saya jamin, anak-anak akan merasa tempat ini gak ubahnya taman bunga dimana mereka bisa bebas berlarian, menggelinding, dan tertawa riang ditingkahi aneka flora dan fauna yang apik.

Karena atmosfirnya mirip banget sama tempat kerja Ayah saya yang juga jadi ‘area bermain’ masa kanak-kanak saya (ya iyalah, namanya juga satker yang masih dalam garis koordinasi pemerintah bidang ketenagakerjaan. nasib, dari pendidikan ampe karir saya emang ngintilin Ayah saya melulu. :p), saya jadi cerita, deh, ke Kakeknya anak-anak. Sambil senyum-senyum (saya haqqul yaqin beliau senyum, kerasa dari intonasi bicaranya😀 hihihi), dia malah yang semangat nyuruh saya segera ajak anak-anak. Well, kayaknya yang nostalgileee bukan cuma saya, ya. Sejarah berulang di rentangan waktu berbeda padahal bukan suatu kesengajaan itu: keajaiban! Dan inilah yang saya sebut hadiah dari-Nya, jawaban dari permohonan di atas kebingungan yang kemarin-kemarin itu.

Sabtu kemarin, Yayah Azis masuk kantor, dong, pemirsa. Ya iyalah, gak seru! Mau ajak main anak-anak, bingung mau kemana. Ke mall, gak mungkin, rempong! Hwihihi. Spontan bawa duo bocah ini muter-muter naik motor, dari cari nasi uduk sampe beli susu UHT. Masih males pulang, saya kepikiran bawa mereka ke kantor. Liburan, pasti kantor gak rame, tapi juga gak sepi karena anak-anak calon peserta magang ke Jepang pasti masih beraktivitas.

Ealah, ternyata Sabtu kemaren, kantor bukannya rame lagi, tapi rame banget! Ternyata ruang serba gunanya lagi dipakai buat resepsi. Untung, meskipun pake baju kucel, satpamnya inget muka saya yang baru dua minggu mewarnai kantor ini (tsaaahhh… :D). Jadi kami bisa melenggang masuk. Ngegembol dua anak plus bawa makanan dan cemilan yang baru kami beli sebelumnya.

Daanish langsung gak sabar nyobain jalan setapak yang dibuat membelah taman cantik dengan burung-burung di sekitarnya. Azzam gak mau kalah, dia meronta minta turun dari gendongan, dan terburu-buru mengejar Rakanya. Sesekali bocah 1,5 tahun ini terjatuh, sebab undakan di mana-mana. Tapi mereka terkekeh lagi. Berputar di antara pepohonan perdu, mereka tampak benar-benar menikmatinya. “Main, ya, Buuun!” terisk si sulung.

Istirahat, saya minta anak-anak duduk di bangku batu di pinggir taman, kamboja dan bebungaan lain mengitari kami. Rindang. Romantis. Mereka membuka cemilannya, menghisap susu dari sedotan, sambil menggenggam kamboja yang dipungut dari atas rumput. Sesekali orang-orang melintas di lorong dekat tempat duduk kami, tapi anak-anak paling takjub lihat para peserta trainee yang ramai sekali.

Mereka dikumpulkan, lalu setengah berlari, berteriak bilang potongan-potongan kata dalam Bahasa Jepang, “Konnichiwa”, “Hashiraseru”, dsb. Tetiba mereka bergumul menuju satu tempat, duduk tegak dan sejurus kemudian dudung melingkari meja-meja yang sudah disediakan untuk makan. Azzam menatap lurus-lurus ke kantin besar tempat mereka makan dalam dian dan cepat. Berat ya, Nak, untuk menjalani pilihan hidup itu. Dan kelak kamu akan tahu, memang begitulah cara manusia menjalani hidupnya, tidak melulu manis, tidak selalu mudah. Eh, jadi kejauhan deh, mikirnya.😀

Saya ajak anak-anak menepi dari keramaian tadi. Mereka berdiri di tengah area taman yang lain. Hanya ada tanaman pendek tanpa pepohonan di sana. Tapi yang seru, puluhan capung oranye beterbangan di atas kepala mereka, rendah sekali. Daanish terlonjak senang dan segera berlari ke sana kemari sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menyentuh capung-capung itu. Dia berputar ke sana-kemari, melompat, memanjangkan tangannya, dan berpikir seolah ia dapat menangkap mereka. Azzam ikut tertawa, ia pun mengulurkan tangannya ke atas. Tawa mereka bertambah ramai. Siang yang sama sekali tak panas itu kian membuat mereka semangat dan tak merasa lelah di sana.

Belum puas, kami berjongkok di rerumputan, menemukan kupu-kupu kecil menghinggpai bebungaan kecil. Kupu-kupu berwarna coklat atau putih yang monoton, kontras dengan ungu-kuning bebungaan liar yang mungil. Azzam selalu ingin menangkap mereka. Tapi, biar kecil, mereka sigap menghindari tangan Azzam. Setiap kali gagal menangkap, bukannya sedih, Azzam justru akan tertawa-tawa. Lucu kali ya, dilihatnya kupu-kupu itu pandai sekali mengelak.

Azzam tampak enggan pulang. Saya menggandeng Daanish dan berpura-pura meninggalkan Azzam. Kami bersembunyi di balik tiang atau pot-pot besar. Dan ketika Azzam mendekat, “Baaa!” Kami berteriak mengejutkan Azzam. Gelak riang tak putus-putus dari dua anak itu tiap kali permainan diulang. Terus begitu sampai kami merasa lelah.

Di lorong, Daanish yang mulai suka diajak berfoto mulai beraksi dengan ekspresi lucunya ketika saya bilang, “Daanish, selfie, yuk,” seraya menyorongkan kamera di depan kami. Angka yang menghitung mundur dimanfaatkan Daanish untuk mengubah-ubah mimik mukanya. Ugh, ini bocah satu yaaa. Gemes!

Anak-anak yang puas main keliatan agak berat ketika diajak pulang. Tapi saya gak kalah akal, dong. alih-alih lewat jalan lorong yang membosankan, saya ajak mereka pulang lewat jalan setapak di area taman lainnya. Sambil dadah-dadah ke kucing lewat dan burung-burung gereja yang beterbangan begitu kami mendekat, akhirnya anak-anak bisa pulang dengan damai. Tanpa Ibubun ngomel-ngomel. Tanpa anak-anak nangis.

Sesiangan yang seru didukung suasana mendung tapi udaranya enak banget. Yang tadinya dikira bakal jadi ngebosenin karena Yayah kerja, ternyata kami berhasil menemukan kesenangan baru. Iyaaa, gitu aja udah bikin liburan jadi seru dan menyenangkan banget loh. Udah murah, deket pula. Yuk ah, kapan-kapan kita main ke ‘kantor’ Ibubun lagi ya, Nak, terutama kalau Yayah kerja dan kita (nyaris) mati gaya di rumah. Have fun with your work, Yayah! Hihihi. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s