Disiplin Dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 1

susana panggung seminar
susana panggung seminar

Giya Wulan Sari Bekasi, Kamis, 10 September 2015

Elly Risman – Yayasan Kita dan Buah Hati & Hagitama Parenting Organizer

PROLOG

Bahagia sekali rasanya ketika akhirnya saya bisa duduk di sini, di tengah 250-an lautan manusia yang 90% lebihnya berisi kaum hawa, untuk kemudian menyumpal ruangan ini dengan satu tanda tanya besar di kepala kami: hendak dibawa ke mana arah pengasuhan anak-anak kami.

Dan perempuan yang kerap menangani anak-anak bermasalah bagian dari generasi BLAST ini pun kerap memanggil dirinya sendiri “Nenek”. Tak heran, perempuan Aceh yang pernah mengenyam pendidikan tanpa gelas di Florida State University demi mewujudkan mimpi ‘Membangun Sekolah Orang Tua” dan sudah dikarunia cucu ini memang sudah berusia 64 tahun. Usia senja yang tak menyurutkan semangatnya. Ia bahkan lebih tua dari ibu kandung saya sendiri. Tapi jangan tanya energi yang beliau tularkan pada kami; kami tak henti menertawakan kebakhilan kami dalam pengasuhan anak-anak selama ini. Pun, kuasanya tak pelak kerap membuat kami meremang bulu kuduk, demi kisah-kisah hampir tak masuk akal dari kasus-kasus yang ditanganinya. Keunikan caranya bertutur dan kerap memaksa kami jujur, tak gagal pula membuat kami menjatuhkan tetes demi tetes air mata, entah mengingat “dosa” kami dalam hal pendidikan dan pengasuhan anak, entah membayang jauh ke depan tentang betapa jauh perlakuan bruk kami telah merusak anak-anak luar biasa yang telah Allah anugerahkan selama ini.

Astaghfirullahaladziim.

Tahu apa yang diminta oleh Ibu Elly Risman di awal perjumpaan kami? Ia meminta kami semua untuk duduk, layaknya sesama orang tua bicara dengan sesama sesama ortu tanpa gelar dan jabatan. Ia minta kami letakkan segala gelar dan jabatan, baik jabatan formal maupun sosial Ia mengajak kami untuk duduk dan bicara tentang pengasuhan, bicara tentang tanggung jawab dunia akhirat akan amanah bernama buah hati. Selanjutnya, ia mengajukan syarat agar kami sampaikan apa yang kami dapat hari ini kepada minimal tiga orang tua lain yang mana anak-anak kami bermain dengan anak-anak mereka.

Kenapa harus disebarkan? Ibu Elly bilang, jangan pongah, jangan pernah bilang akalu anak-anak kita ‘aman’ dari apapun predator yang mengitarinya. Selagi anak kita adalah generasi masa kini, yang menganal game, internet, dan dunia majemuk lainnya, maka duduk dan bersantai seolah anak tak kan tersentuh buruknya dunia luar adalah tindakan yang sangat tak diharapkan.

Kenapa harus disebarkan? Karena Ibu Elly bilang, generasi kita, generasi anak dan cucu kita adalah generasi darurat pornografi. Saat ini, beliau tengah menangani kasus dua orang anak yang kecanduan pornografi (tidak disebutkan usianya); satu orang anak yang tak bisa lepas sehari pun tanpa maturbasi (bahkan kadang lebih dari sekali maturbasi dalam sehari), dan satu lagi kasus pelajar yang berhubungan badan di toilet sekolahnya. Kasus lain sebelumnya, beliau pernah menemani seorang anak kelas 3 SD yang berhubungan suami istri dengan teman sekolahnya. Innalillahi. Inilah teman-teman anak-anak kita. Inilah generasi anak-anak kita. Inilah, beratnya tantangan pendidikan kita ke depan.

Sampai sini, materi belum dimulai. Saya sudah merasa sesak. Sesak sekali sampai menuliskan kembali pun membuat saya menangis. Ya Allah, harus bagaimana kami?

susana panggung seminar

susana panggung seminar

Harus belajar. Biarlah orang tua kita dahulu mungkin mencipta kesalahan, ketidaktahuannya, kekurangan informasinya, keterbatasan risetnya. Biarlah. Generasi anak-anak kita menghadapi badai yang lebih berat. Kita, orang tuanya, harus bersiap lebih lagi daripada orang tua kita. Tak berilmu, carilah ilmu. Investasikan uang bukan Cuma untuk sekolah anak, tapi juga untuk SEKOLAH ORANG TUA. Mari belajar, mari perbaiki sebelum kita membuat keruasakan yang lebih parah.

Selama ini, masalah paling umum di Indonesia adalah para orang tua yang lemah dalam hal penegakan disiplin, decision making process, dan writing skills. Kita menjadi orang tua yang galak, tapi tidak tegaan. Kita menumbuhkan anak-anak kehilangan kemampuan untuk mengendalikan dan mengontrol dirinya. Acapkali, orangtua bicara terlalu banyak, dan bicara koruptif, hal yang akhirnya jarang membuat anak tumbuh untuk bisa mengambil keputusannya sendiri.

Sulitnya menegakkan disiplin juga disebabkan inkonsistensi dengan pasangan. Ayah dan Ibu dibesarkan dengan kondisi keluarga dan pengalaman masa kecil yang berbeda, dan hal ini pasti akan mempengaruhi gaya pengasuhan. Orang tua juga kerap tak selesai dengan dirinya sendiri, dengan sampah masa lalunya, dengan trauma dan pengalaman buruk yang membelenggunya. Inilah yang Ibu Elly sebut: inner child within. Selesaikan dulu masalah dengan anak kecil di dalam diri anda sendiri, di dalam diri pasangan anda. Dengan ini, anda selesaikan masalah dengan pasangan anda. Tentang pernikahan yang harus sejalan, dengan pola pengasuhan yang harus seirama. Jadilah orang tua yang selesai dengan diri sendiri; selesai dengan urusan dan pergulatan diri sendiri. Orang tua yang tak selesai dengan inner child within, hanya akan melahirkan anak-anak yang kebingungan.

Pengasuhan adalah pengalaman dan pembiasaan. Parenting is all about wiring (wire: cable). Misalnya, ketika Ibu Elly meminta salah satu Ibu menceritakan bagaimana kebiasaannya setelah bangun tidur sejak kecil dulu, si Ibu menjawab kalau ia dibiasakan merapikan tempat tidur, baru melakukan aktivitas lain. Pertanyaan serupa dilemparkan ke seorang Bapak, dan ia menjawab bahwa ia tak dibiasakan merapikan tempat tidur, ia duduk begitu bangun tidur, baru beraktivitas. Jadi, inilah potret keluarga Indonesia tercinta: seorang Ibu dengan wiring kebiasaan bangun tidur beres-beres, Ayah duduk-duduk. Maka, siapa yang setiap pagi berteriak tentang beres-beres? Dan siapa yang duduk-duduk dulu sebelum melakukan yang lain. Pertanyaan: bagaimanakah anak anda? Bingung, yes? Sedah berapa lama kita bertahan dengan tata cara membingungkan anak begini? Mau sampai berapa lama lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s