Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 2

IMG_6451

Saya jatuh cinta dengan gaya bicara Ibu Elly, sejak awal jumpa. Sebagai sesama orang Sumatera, saya mampu mendeteksi ke-Sumatera-an beliau dari logat bicaranya, ada cengkok khas di sana. Tapi jangan tanya soal caranya menyapa pendengar, orang Jakarta banget! Hahaha. Berkali-kali ia melempar jokes, lalu kami tertawa riuh, dan di ujungnya ia bertanya, “Siape yang elu ketawain? Diri sendiri? Alhamdulillah, masih pada waras, ya!” Yes, we laugh at ourself. Melihat ke dalam, memeriksa tindakan dan ucapan yang sebenarnya tidak penting, saking tidak pentingnya jadi tidak berguna, saking tidak bergunannya jadi tidak berpengaruh dalam pola asuh. Sadar kalau salah, tapi terus dan tetap saja dilakukan. See, kita memang butuh ditolong oleh psikolog, minimal via seminar parenting semacam ini lah.

Ibu Elly mengingatkan pentingnya berulang kali mempertanyakan dahulu ke diri sendiri tentang sejauh apa kewenangan kita terhadap anak. Siapa kita, siapa anak kita? Anak bukan milik kita, ia titipan Allah. Ia amanah besar yang Allah turunkan langsung tanpa perantara, dijadikan dari satu sel sperma dan satu sel telur, dititipkan lewat rahim, dilahirkan dari tubuh seorang Ibu. Anak bukan tempat melakukan kesewenangan. Sebab ia amanah dari langit, menumbuhkannya pun tak sembarangan.

Penting untuk megingat tentang urgensi penanaman disiplin pada anak di usai awal hidupnya. Batasan yang disepakati sebatgai aturan di rumah harus tegas sejak anak berusia 0-7 tahun, usia inilah fase penanaman aturan, karena di usia ini anak masih bisa diatur, karena serabut otak belum bersambungan. Di atas usia 7 tahun, anak-anak yang mulai tersambung serabut otaknya akan mulai menguji batasan yg ditetapkan. Misalnya: ia sengaja melanggar batas waktu bermain, sengaja menghabiskan lebih dari jatahnya jajan, hanya untuk meihat reaksi orang tuanya. Jika batasan sudah jelas dan disiplin sudah tertanam, membantu anak meluruskannya kembali akan lebih mudah, ketimbang jika di usia awal anak dibuat bingung dengan ketidakjelasan aturan. Ketidak jelasan ini bisa karena aturan kerap berubah, aturan tidak jelas batasannya, atau orang tua yang tidak konsisten melaksanakannya.

Terkait dengan hal di atas, Ibu Elly mengingatkan tentang The V of LoVe. Lipat jari manis dan kelingking tangan kiri, lalu tegakkan sisa tiga jari yang lain. V adalah posisi antara jari tengah dan telunjuk. Masukkan jari telunjuk tangan kanan ke rongga V, inilah V of LoVe. Bagian menyempit di bagian bawah ‘V’ adalah fase 0-7 tahun. Telunjuk adalah simbol disiplin. Telunjuk yang menekan ke sudut ‘V’, menggambarkan mudahnya penanaman disiplin di usia dini, lalu merenggangnya bagian tengah dan atas ‘V’ menggambarkan bahwa dengan makin bertambahnya usia anak, pola asuh pun mulai bergeser menjadi kian ‘longgar’. Hal ini berarti pada usia anak yang kian dewasa, orang tua tak bisa lagi melakukan top down approach (bahasa penulis ini sih, bukan bahasa Ibu Elly :D), melainkan berusaha menjadi sahabat anak dan menjadikan dirinya tempat ternyaman bagi anak untuk berbagi. Pola ini bisa diterapkan jika orang tua mengasuh sendiri anaknya. Mendelegasikan pengasuhan kepada orang lain seringkali berakibat sebaliknya, tercipta pola ‘V’ terbalik, dimana anak pada usia 0-7 tahun justru mendapatkan kelonggaran, akses tanpa batas dan aturan yang tidak jelas, sehingga ketika anak masuk ke fase ‘menguji batasan’, orang tua baru mulai mengencangkan aturan dan mengeraskan hukuman. Sudut sempit pada ‘V’ terbalik ada di atas menggambarkan sulitnya anak pada fase lanjut untuk diperlakukan keras dan kaku. Tekanan ini justru beresiko pada ‘lompatan’ anak-anak ke luar jalurnya, misalnya: kenakalan remaja, seks bebas, pemakaian obat-obatan terlarang, penyimpangan seks, dll.

Penting untuk diingat dalam parenting, bahwa selalu akan menjadi pekerjaan besar bagi para orang tua untuk menciptakan harmoni antara keunikan pada masing-masing anak, fleksibilitas dalam pelaksanaan peraturan, dan batasan yang tegas serta masuk akal sehingga dalam pelaksanaannya aturan disiplin bisa lebih mudah dan mungkin untuk diterapkan (feasible). Dalami keunikan pada diri anak, gaya parenting yang berhasil untuk anak satu, belum tentu cocok untuk anak lain. Contohnya, anak Ibu Elly yang pertama dan kedua, berhasil dengan pola penegakan disiplin dengan menuliskan aturan rumah pada kertas yang ditempel di kulkas. Ketika pelanggaran terjadi, anak-anak diminta berjalan ke depan kulkas, membaca ulang aturan, menyadari kesalahan, dan lalu menerima konsekuensi pelanggarannya. Pada anak ke tiga, cara ini tidak bisa Ibu Elly terapkan. Pada usia enam tahun, putri ketiganya dengan tegas bilang bahwa dia tidak mau melihat kulkas tiap melakukan kesalahan, dia bilang, dia bukan dan tidak seperti kedua kakaknya. Maka Ibu Elly pun tidak menerapkan cara tersebut pada putri ke-3 nya.

Tahukah kita, kalau sebagai akibat pola asuh yang diterima saat kita kecil dan pengulangan kebiasaan lewat proses wiring, masing-masing kita punya ‘tombol’ yang bisa teraktivasi begitu tekanan melanda. Itulah sebabnya, seorang anak perempuan yang dididik dengan teriakan dan bentakan penuh amarah, akan tumbuh menjadi ibu pemarah yang juga akan dengan mudahnya berteriak dan membentak anak-anaknya. Pun, seorang anak lelaki yang dibentuk disiplinnya lewat pukulan dan kekerasan, akan tumbuh jadi ayah yang keras dan mudah melayangkan pukulan dan hukuman fisik pada anak-anaknya.

Selain ‘tombol’ mengerikan yang siap menghajar anak-anak kita kapan saja akibat urusan dalam diri orang tua yang tak beres, ada pula orang tua dengan senjata ‘palu’ dalam mendidik anak. Orang tua ini hanya punya ‘palu’ (baca: kekerasan) yang terus dijadikan senjata menghadapi ketidakmampuannya mengendalikan situasi tertentu saat membersamai anak. ‘Tombol’ dan ‘palu’ sebagai hasil dari sampah masa lalu ini adalah salah satu poin yang sejak awal sessi sudah Ibu Elly ingatkan untuk diselesaikan terlebih dahulu: inner child within.

Saya tertegun waktu Ibu Elly bilang, bahwa Allah sungguh telah menciptakan makhluk sempurna dan cerdas ketika menghadirkan anak-anak di dunia. Kemunduran kecerdasan, baik kognitif maupun kecerdasan sosial, justru terjadi karena asalah asuh yang dilakukan orang tuanya. Orang tua berpotensi besar memundurkan kecerdasan anak. Orang tua berpotensi besar merusak dan atau membuat anak jadi lebih tidak baik daripada proses awalnya anak diciptakan Allah. Subhanallah, kitakah orang tua yang ‘membuat mundur’ anak-anak kita?😥

Oleh karenanya, perenting adalah proses belajar orang tua. Parenting adalah proses panjang yang hasilnya tak bisa dilihat segera. Orang tua harus belajar demi menemukan dan merumuskan cara terbaik dalam mendidik masing-masing anak. Dalam berproses ini, keluarga muslim hendaknya berpegang pada Al-Quran dan Hadits. Ingatkan selalu, bahwa dalam agama Islam, tugas utama orang tua adalah memuliakan anak dan mengajarkan mereka akhlak yang baik. Jadi, anak-anak tidak boleh dihinakan dan dijatuhkan harga dirinya dengan kata-kata dan hukuman yang tak pantas. Sebagian besar hukuman reaktif justru merusak harga diri anak, dan dalam banyak hal karena dielaborasikan dengan kemarahan, hukuman pun menjadi tidak efektif karena anak tak paham mengapa ia dihukum dan tak membuahkan hasil yang baik di masa yang akan datang. Pun, keteladananan adalah hal mutlak jika ingin membentuk pribadi dan karakter positif pada anak.

Penegakan disiplin sejak anak masih kecil adalah hal penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun pada fase ini, orang tua dituntut bijak dalam melaksanakan disiplin. Hadiah dan hukuman kebanyakan tidak efektif di rentang usia ini. Hadiah boleh diberikan asalkan tidak diiiming-imingkan sebelum suatu proses/hasil dicapai. Memberi iming-iming hadiah sebelum anak berhasil akan menumbuhkan sifat bergantung pada hadiah, atau berorientasi hadiah. Hadiah boleh diberikan setelah anak berhasil, tanpa diberitahu sebelumnya. Jadi sifatnya adalah sebagai kejutan atau sebagai ungkapan terima kasih dan kasih sayang atas apa yang telah diupayakan si anak.

Dalam Islam, memukul memang diperbolehkan. Tapi ingat syaratnya yang berderet, memukul boleh jika dilakukan di telapak kaki dan pemukulnya harus dibungkus/dilapis sesuatu yang tidak mengenai kulit langsung. Bayangkan jika kita tengah marah dan ingin memukul, lalu buru-buru mencari kain atau pembungkus untuk membungkus tangan dan alat pukul, bisa dipastikan kemarahan sudah mereda dan menguap setelahnya. Pukulan tak beraturan akan membuat anak merasa dirinya jelek atau tak berguna. Anak-anak boleh dihukum dan diberi hadiah, jika anak sudah mengerti aturan. Jadi terlebih dahulu anak harus paham aturan dan aturan mainnya, paham batasannya kapan disebut menuruti dan kapan disebut melanggar, paham akibat atau konsekuensinya, baru terapkan punish and reward.

Sebisa mungkin, usahakan sesering mungkin tersenyum, terutama di depan anak. Secara fisiologis, senyum membuat otot wajah tertarik dan mengakibatkan batang otak mendingin. Proses ini memicu seretonin mengalir ke otak. Seretonin memberi efek tenang dan anti agresivitas. Dan jika senyum ini dilihat oleh orang lain lalu memicu orang tersebut untuk tersenyum, maka efek yang sama pun terjadi. Inilah sebabnya senyum adalah sedekah buat diri sendiri dan orang lain. Dicoba deh, kalau lagi marah sama anak, cubit atau marah-marahlah sambil senyum, dijamin, gak bakal bisa! Hehehe.

Karena asah-asih-asuh anak-anak adalah urusan antara orang tua dan anak, maka tetapkan model dan gaya parenting anda sendiri. Jangan ikut-ikutan, parenting harus punya prinsip. No matter what people say. Kemampuan orang tua bertahan dan menguat selama proses pengasuhan adalah mutlak. Di kantor YKBH di Jatibening, ada sessi gratis konsultasi untuk umum. Dari hasil pendampingan para remaja bermasalah YKBH, ditemukan kenyataan bahwa pada umumnya kedekatan antar orang tua (baca: keharmonisan pernikahan) umumnya berada pada titik terendah pada saat anak beranjak remaja. Kondisi tidak harmonis ini jelas melemahkan dan memperburuk tekanan yang terjadi pada remaja bermasalah. Gratis konsultasi YKBH bisa dilaksanakan bila orang tua sanggup menemani anaknya selama proses pendampingan, awalnya sebanyak 12x pendampingan. Rata-rata orang tua ini gugur selama prosesnya, dengan menyisakan masalah pelik yang mungkin saja tak terselesaikan. Ini menunjukkan lemahnya hubungan kedua orang tua, dan melemahnya kemampuan untuk secara konsisten bertahan melakukan pendampingan terhadap anak. Pernikahan melemah, anak berkutat dalam kubangan masalahnya. Parenting sangat mungkin membuat seluruh anggota keluarga jatuh bangun saat menjalaninya. Tetapkan prinsip bersama, jalani dengan kuat, dan jangan lupa banyak tersenyum.

Terakhir sebelum masuk ke materi Ibu Elly mengingatkan agar masing-masing kita memiliki kemampuan untuk memproyeksikan tindakan. Pikirkan dari sekarang, sebelum tindakan diambil, apakah yang kita lakukan ke anak akan berakibat baik atau buruk? Keburukan yang kita tebar, bak proyektor, kelak akan muncul dalam wujud yang lebih besar, lebih masif. Bayangkan keburukan sebesar apa yang akan muncul di diri anak kita setelah ia dewasa akibat keburukan ‘kecil’ yang rajin kita tebar sehari-hari. Berpikir sebelum bertindak, bayangkan, proyeksikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s