Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 4

hands-out materi seminar
hands-out materi seminar

DKS digunakan orang tua dalam mengambil keputusan bagaimana:

  1. Mencegah atau berespon terhadap kenakalan anak atau tingkah lakunya yang tidak patut.
  2. Mempertimbangkan perasaan dibalik perilaku anak. Membantu anak sadar diri dan menggunakan pikirannya, barulah mengambil tindakan yang menguatkan harga diri dan tanggung jawab anak.
  3. Menekankan pada proses belajar, sehingga mencapai makna sebenarnya dari kata: DISIPLIN.

Dua aspek perasaan yang harus diperhatikan:

  1. Perasaan apa yang mendorong perbuatan/kelakuan anak?
  2. Bagaimana perasaan anak setelah pendisiplinan terjadi? Jangan sampai anak merasa terhina, bodoh, takut.

Tiga hal agar disiplin bisa mengubah tingkah laku:

  1. Anak menyadari perasaan yang mendorong mereka melanggar peraturan
  2. Mereka harus mampu memikirkan apa yang mereka lakukan dan yang mungkin terjadi dari perbuatannya, termasuk apa akibatnya untuk orang lain.
  3. Anak harus mampu memperhitungkan bagaimana caranya agar tidak melakukan tindakan semata-mata hanya karena dorongan perasaan

5 prinsip pendekatan DKS

  1. Pikirkan perasaan anak
  2. Mengajukan pertanyaan untuk merubah tingkah laku
  3. Ajarkan keterampilan untuk tidak mengulangi tingkah laku negatif
  4. Gunakan kalimat singkat dan aturan dua kalimat
  5. Fokus pada hal positif

Manfaat menggunakan 5 langkah DKS

  1. Memahami cara berfikir anak untuk bisa mendisiplinkannya
  2. Beralih dari model hukuman yang menyakitkan ke model pendisiplinan yang efektif dan tidak merusak harga serta kepercayaan diri anak.
  3. Memahami mengapa anak menjadi ‘nakal kronis’ dan menghindarinya

Saat pelanggaran disiplin terjadi, lakukan SLP-B (pada anak yang lebih kecil)

  1. Stop
  2. Lihat dan dengar
  3. Pikirkan: apa yang mendorong perbuatan anak?
  4. Bertindak

Contoh: terjadi kasus anak kita menggigit anak tetangga hingga memar/luka dan si anak tetangga menangis kencang. Lakukan: bersihkan luka, balut/perban, tenangkan si anak, pulangkan pada orang tuanya, meminta maaf. Lanjutkan: pangku anak kita, jangan tanyakan siapa yang memulainya, namun tanyakan bagaimana perasaannya, akan terbaca alasan ia melakukannya. Jika ternyata penyebabnya adalah anak kita yang merasa lelah/capek, tidurkan ia, jika lapar, beri makan, selesaikan dengan solusi yang menjawab sumber masalah/perasaan si anak. Meneriaki anak atau memarahinya dengan keras sambil mengomel panjang adalah tidak tepat. Tidak menyelesaikan masalah, tidak membuat anak berhenti mengulanginya, dan yang jelas, tidak relevan. Sebab utamanya hanya mengantuk/lapar dan hal-hal yang membuat perasaannya kacau. Bantu ia melakukan manajemen emosi. Perlakukan dan ahndle emosinya dengan baik. Kalau sudah tenang dan stabil, baru mulai beri input positif. Berlemah lembutlah pada anak. Nabi Musa AS diperintahkan untuk berbicara dengan lemah lembut pada Firaun. Bayangkan! Anak kita tak lebih buruk dari Firaun, kan?

Sementara pada anak yang lebih besar, pengimplementasian SLP-B* adalah sama, dengan perubahan pada bagian ‘B’ adalah baca bahasa tubuhnya, tebak perasaannya, beri nama (misalnya: Oh, kamu panik, ketakutan, capek, dst.), lalu terimalah apa yang dirasakan anak. Pada saat ini, penting bagi orang tua harus mencoba untuk menerima dulu perasaan tersebut meskipun mungkin salah dan membuat tidak nyaman, baru setelahnya mengarahkan anak pelan-pelan ke proses berpikir.

Contoh: Ada anak remaja pulang hingga larut malam, jam 12 malam baru tiba di rumah. Ayah dan Ibu gusar, khawatir, sekaligus merasa kesal dan marah. Diperburuk dengan kondisi dimana ponsel si anak tak bisa dihubungi. Berapa banyak orang tua sanggup menahan amarahnya ketika si anak tiba di rumah? Yang disarankan untuk dilakukan orang tua: redam emosi, lihat keadaan fisik dan ekspresi anak (apakah ia kelelahan, kelaparan, kesakitan, dsb), dari situ orang tua coba selami perasaan anak, sambil ditanyakan juga tidak apa-apa (tanyakan apakah ia lapar/lelah/dll, tanyakan mengapa ia terlambat, tanyakan mengapa ponselnya tidak dapat dihubungi/ia tidak berusaha menghubungi), tanyakan dan tanyakan yang banyak sebelum membiarkan justifikasi dan praduga buruk kita menjadi kian liar dan menyulut emosi, setelah ia menjawab, namai kondisinya (Jadi, kamu belum makan ya dari siang? Jadi kamu kecapean dorong motormu yang rusak? Dll), setelah itu terima apa yang dirasakan anak. Jika situasi memungkinkan langsung menasihati, nasihati/beri perintah dengan kalimat pendek dan direktif. Jika tidak memungkinkan, cari waktu lain, kondisikan.

Anak yang melanggar aturan, bukan tak paham aturan. Mereka sesaat lupa akan aturannya karena terbawa perasaannya. Misalnya: anak sedang senang berlari, lupa kalau tidak boleh berlari heboh di dalam rumah, akibatnya guci Ibu pecah. Ingat, anak di bawah 20 tahun yang belum sempurna neuronnya terhubung ke direktur otak, masih belum matang proses berpikirnya. Apalagi anak 0-7 tahun yang memang pusat rasanya masih jauh lebih dominan.

Anggapan kita yang keliru tentang tingkah laku:

  1. Tingkah laku berkaitan dengan pemikiran
  2. Kita percaya semua orang selalu memikirkan apa yang ia lakukan: SEBELUM, SELAMA, dan SETELAH mereka melakukan sesuatu.

Pada kenyataannya, sebagian besar tingkah laku didorong ole PERASAAN/EMOSI daripada hasil PEMIKIRAN – lantas apakah anak harus dihukum karena hal tersebut? Galilah terlebih dahulu perasaan/emosi yang melatarbelakangi suatu tingkah laku negatif, baru carikan solusinya. Jangan dahulukan amarah dan kekerasan. Anak yang dibesarkan dengan kemarahan, hanya otak di bagian reptil (tengah), reptile of the brain yang bekerja dan berkutat di situ saja, tidak berkembang ke otak bangain lainnya, kecerdasan anak tidak terstimulasi. Balik lagi seperi yang sudah diungkapkan Ibu Elly sebelumnya, Allah ciptakan anak cerdas, anak menjadi mundur kecerdasannya di tangan orang tua. Ketidakmampuan orang tua menggali latar belakang perasaan/emosi juga akan membuat anak tumbuh tanpa mengenali perasaannya karena selama ini perasaannya tidak diperhatikan. Anak terpenjara dengan emosi negatif yang dimilikinya, jangankan mau memahami perasaan orang lain, mengidentifikasi perasaannya sendiri ia tak mahir.

Kekeliruan dalam pengasuhan membawa kita pada jaman di mana anak umur 10-16 tahun saat ini membawa sifat cenderung bunuh diri. Bu Elly sedang menangani dua orang anak perempuan yang terus-terusan menyilet tangannya dengan pisau cukur. Justru bukan dengan tujuan agar meninggal. Mereka melakukannya, mengeluarkan darahnya, menfotonya, lalu mengirimkannya untuk menekan (eg, kirim ke pacarnya sambil mengancam kenapa tidak balas sms, dst). Banyak anak-anak depresi bertanya: mengapa aku dilahirkan, mengapa aku tidak dikehendaki?

Berhati-hatilah dalam bersikap dan berkata-kata pada anak. Anak yang tertekan justru akan melahirkan lebih banyak masalah lagi. Merdekakan jiwa anakmu, buat ia bahagia, why bother what people say/think? Bahagia haruslah jadi salah satu tujuan kita dalam mendidik anak.

Dengan memahami perasaan anak, kita akan lebih mudah untuk menunjukkan bahwa ia mampu menjadi lebih baik. YKBH pernah melakukan pendampingan pada anak yang menadi gamer addict akut. Kini setelah lepas dari masalanya, anak tersebut malah bekerjasama dengan YKBH. Ialah penemu aplikasi Kakatu, sebuah aplikasi yang menjadi filter penggunaan smartphone. Kekurangan pun bisa diubah menjadi kekuatan, asalkan diarahkan dengan tepat.

Biasakanlah untuk sering bertanya pada anak. Entah menanyakan keadannya, ataupun perasaannya, termasuk saat ia melakukan pelanggaran. Mengapa harus bertanya? Karena dengan brtanya akan menumbuhkan kesadaran akan diri sendiri. Alur yang terjadi saat kita bertanya adalah: lemparan pertanyaan -> pertanyaan tersebut diterima dan dicoba direspon anak dengan jawaban -> menjawab mendorong proses berpikiranak -> berpikir menjadi trigger anak untuk mulai mengecek dan memeriksa keadaan dirinya -> dengan memeriksa keadaanya, akan tumbuh kesadaran akan dirinya sendiri (termasuk sadar akan kesalahan dan sadar untuk tidak mengulanginya lagi). Selalu menggunakan kalimat tanya pada anak-anak, juga membantu agar mereka mau look in (melihat ke dalam dirinya sendiri, melakukan pengecekan, berujung kesadaran).

Dalam memberikan pertanyaan, yang harus diperhatikan adalah:

  1. Tidak menjatuhkan anak
  2. Membuat anak sadar diri
  3. Tidak mengundang reaksi negatif anak

Bandingkan saat kita bereaksi tehadap kesalahan anak dengan memerintah dan dengan bertanya. Misalnya: saat kaki anak naik ke atas meja, apakah kita memilih kalimat “Turunkan kakimu!” atau “Nak, kakimu ada di mana?” Yang manakah kalimat yang lebih cenderung mampu membuat anak sadar diri?

Bertanya menimbulkan efek:

  1. Anak memperhatikan yang dilakukannya
  2. Membuat anak berpikir sebelum merespon
  3. Menggugah kesadaran diri
  4. Anak mengenali dirinya
  5. Tahu apa yang akan dilakukan lain kali
  6. Tanggung jawab ada pada anak
  7. Otoritas internal

Sementara, saat kita memilih untuk mengeluarkan kalimat perintah, yang terjadi justru:

  1. Anak tidak memperhatikan tingkah lakunya
  2. Anak tidak berfikir, hanya patuh
  3. Tidak membangun kesadaran diri/internal tentang tingkah laku
  4. Selalu perlu dikendalikan
  5. Tidak tahu apa yang harus dilakukan lain kali
  6. Tanggung jawab terhadap orang tua
  7. Otoritas eksternal

Contoh: Ibu Elly pernah melakukan pendampingan pada dua orang doktor (salah satunya beroleh gelar phd dari Harvard Uni), yang mengaku tak pernah sekalipun mengambil keputusan dalam hidupnya. Mereka yang secara akademis tampak luar biasa, ternyata mengalami timpang dalam hidupnya. Mereka tidak punya otoritas akan hidupnya, kebingungan saat sendiri, kesulitan mengambil keputusan. Salah satu dari doktor tersebut hipersensitif terhadap keadaan lingkungan sekitar. Dia tidak bisa berada dekat dengan orang lain yang dianggap mengganggunya. Ibu Elly bilang, kalau ada orang yang bersin di dekatnya, tidak tunggu ganti hari ia akan segera pesan tiket ke Singapore, menemui dokter langganannya dan melakukan pemeriksaan medis. Sampai segitunya dia merasa terganggu saat ada orang lain di dekatnya.

Dalam menentukan aturan atau menegakkan disiplin, biasakan menyusun prioritas dan batasan tingkah laku yang diharapkan secara MASUK AKAL, jangan sepihak, libatkan anak. Kalau tidak masuk akal, kasihan anak, dan akan membuat kita lelah. Batasan harus jelas karena akan membuat anak aman, nyaman, dan terlindungi. Ia bebas bermanuver dalam batas, menciptakan rasa tentram selama berada dalam batas.

Kelonggaran dan ketidakdisiplinan atau malah disiplin yang terlalu keras kerap muncul sebagai akibat dari ketakutan ortu yang berlebihan akan masa depan anaknya. Misalnya: orang tua terlalu takut anaknya jatuh/sakit, akhirnya hanya diijinkan main di dalam rumah. Termasuk, menurut saya, orang tua yang tidak belajar RUM/RUD, maunya anak sakit common cold/salesma lekas sembuh, lalu memberondong anak dengan obat-obatan tak perlu, termasuk antibiotik. Padahal antibiotik tidak perlu, dan obat pelega tenggorokan, penekan batuk, pereda mual, dan pereda gejala flu lainnya telah secara empiris dibuktikan TIDAK mengurangi durasi sakit sama sekali.

Sebagai dasar merumuskan aturan, katakan pada anak, mengapa aturan perlu:

  1. Kami peduli denganmu
  2. Kami ingin kamu terlindungi dan aman
  3. Kami ingin budi bahasamu baik
  4. Kami ingin kamu mandiri dan bertanggung jawab
  5. Kami ingin kamu tahu bagaimana belajar hidup bersama orang lain dan menyenangkan

Kunci membuat aturan:

  1. Aturan: seperangkat harapan terhadap anak berupa panduan dan batasan
  2. Didasari: kepedualian, cinta, dan kesepakatan
  3. Prioritaskan yang penting dulu
  4. Masuk akal
  5. Libatkan anak
  6. Jelas dan positif
  7. Konsisten
  8. Konsekuensi

Ciptakan aturan yang menjaga, dan tidak menekan. Aturan didasari atas kepedulian dan cinta, ketakutan pada Allah atas amanah-Nya yang klak harus dipertanggungjawabkan.

Tidak semua hal dalam aturan disiplin anak harus dilibatkan, ada yang memang sudah given, darurat dan urgent.

Penerapan aturan:

  1. Dasarnya: kesepakatan dan konsekuensi
  2. saling respek
  3. Jelaskan aturan dan pastikan anak mengerti
  4. Pastikan aturan sangat perlu
  5. Fahamkan konsekuensi perlu
  6. Terapkan
  7. Evaluasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s