Displin dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 3

IMG_6536

INTI MATERI

Bismillah. Kalau dua postingan saya sebelumnya ‘baru’ sebatas prolog aka pembuka, mulai posingan yang ini kita akan masuk materi inti seminar Ibu Elly minggu lalu. Beberapa bagian memang mengulang poin-poin di prolog, tapi dengan pendalaman materi yang lebih detil. Seluruh poin dalam hands out yang dibagikan pada peserta seminar, sudah saya masukkan ke catatan ini, dengan penambahan penjelasan lisan dan contoh kasus yang Ibu Elly sampaikan. Beberapa slide yang Ibu Elly tayangkan namun tidak tertera dalam materi cetak, tidak semuanya sempat saya tuliskan ulang. Selain jarak pandang yang membatasi (minus saya cukup tinggi sehingga butuh jarak yang cukup dekat untuk melihat tulisan dengan jelas), kadang kecepatan saya menulis ulang juga kalah cepat dengan jeda waktu penampila slide. Tetapi semaksimal mungkin, yang masih sanggup tertangkap indera penglihatan dan pendengaran, saya coba tuliskan kembali di sini. Gaya tulisan di sini lebih dekat ke gaya tulis ala saya, ketimbang gaya bicara ala Ibu Elly. Jadi penggunaan frase, diksi, dan parafrase bisa jadi menjadi gaya yang sangat berbeda dengan aslinya. Semoga keaslian makna tersirat yang ingin disampaikan Ibu Elly, juga bisa sampai ke pembaca blog ini, meski hanya lewat penulisan ulang ala saya yang jelas masih jauh dari sempurna. Nah, mari siap-siap berasap dan merasa tertampar ya, seperti kami yang menyesaki ruang seminar saat itu. Gakpapa, asalkan setelah ini, meski sambil tertatih, kita perbaiki kesalahan pengasukan kita selama ini.

Apa dasarnya sehingga disiplin itu perlu dalam parenting? Dan mengapa kata ‘disiplin’ harus Ibu Elly rangkaikan dengan kata ‘kasih sayang’? Tidakkah ‘disiplin’ dan ‘kasih sayang’ kerap menjadi dua sisi mata tombak yang berseberangan. Dua mata penjuru angin yang tak kan bernah bertemu? Bagaimana cara mengelaborasikannya?

Disiplin perlu dan penting, karena, sekali lagi, anak adalah anugerah dan amanah Allah yang dititipkan langsung oleh Sang Maha Pencipta melalui rahim seorang ibu. Amanah dari Allah jelas bukan hal sembarangan, jelas bukan hal remeh. Sejenak, mari duduk dan membayangkan saudara-saudara kita yang harus berjuang mati-matian demi mendapatkan buah hati. Kenapa diperjuangkan? Sebab banyak yang ingin merasai menerima titipan itu. Yang pada akhirnya tak perlu bersusah payah, ataupun sudah meminang hasil dari upaya kerasnya mendapatkan buah hati, jangan lantas terlena. Coba rasakan kembali rasa bangga dan bahagia diberi Allah kesempatan menerima titipan yang begitu agung, ketika kita mendapat kesempatan mengasuh dan mendidik manusia-manusia baru. Luar biasa bukan? Oleh karenanya, mari perlakukan anak-anak sebaik mungkin, muliakan mereka. Kelak, kita orang tuanya akan Allah mintakan pertanggungjawaban atas apa-apa yang telah kita kerjakan terhadap amanah luar biasa itu.

Anak membutuhkan bimbingan dan latihan dengan cinta dan logika. Cinta saja tidak cukup, dan logika saja tidak menghidupi. Perpaduan antara cinta dan logika akan menggiring kita pada titik dimana terjadi saling menghormati dan menghargai antara orang tua dan anak. Maka, cintailah anak segenap hati, namun gunakan logika dalam mendidiknya. Disinilah, bagaimana disiplin harus selalu terhubung dengan kasih sayang, pernikahan antara logika dan cinta. Tsaaah… Hehehe.

Disiplin dalam parenting merupakan serangkaian petunjuk tentang bagaimana berperilaku yang seharusnya. Bagaimana kita ingin anak-anak bersikap? Adab seperti apa yang kita ingin ada di rumah kita? Karakter yang bagaimana yang kita ingin tumbuh di diri anak-anak kita? Petunjuk ini haruslah berupa pengasuhan yang baik, agar tertanam perilaku yang baik pada anak.

Tidak hanya itu, disiplin memiliki fungsi untuk memberi tahu anak apa yang boleh dilakukan, dan mengapa; dan juga yang tidak boleh, dan mengapa. Ada kata ‘mengapa’ setelah orang tua menentukan apa yang boleh dan tak boleh. Dan ini sangat penting. Menjelaskan mengapa A boleh dan B tak boleh harus dengan alasan (reason why). Alasan ini harus dipikirkan, dirumuskan dan dicari validitasnya. Tidak boleh asal apalagi tak dipersiapkan! No no no.

Pada proses penegakan disiplin, dalam perjalanannya, akan timbul tanda tanya pada benak anak. Tentu. Karena anak-anak cerdas yang Allah ciptakan tak mungkin serta merta tunduk tanpa sanggahan pada setiap aturan yang diberikan orang tuanya. Pertanyaan macam, “Mengapa aku harus makan buah dan sayur?”, “Mengapa sebagai Muslim aku harus salat 5 waktu?”, dsb tak pelak akan tiba juga di telinga kita. Inilah salah satu tanda berlangsungnya proses terhubungnya serabut otak pada anak. Karena munculnya pertanyaan ini adalah hal yang pasti, maka orang tua harus berwawasan dalam perumusan alasan akan aturan yang ingin ditegakkan. Rumusan alasan ini kelak juga akan mempermudah jika anak mulai menguji orangtuanya, tentang sejauh mana aturan itu ditegakkan. Karena sejatinya, anak-anak akan mulai bertanya sebab dua hal dalam hidupnya: ia belum tahu dan ingin tahu, atau, ia tahu dan ia ingin menguji orangyang dilempari pertanyaan. Keduanya butuh jawaban valid, keduanya butuh jawaban yang dipersiapkan. Saat jawaban belum siap, jangan berikan jawaban yang tidak bertanggung jawab, apalagi bohong. Karena anak adalah makhluk cerdas, ajak ia berdiskusi, dan mintakan ijin darinya untuk mencari tahu lebih lanjut. Orang tuda tidak boleh malu mengakui kalau tidak tahu. So, stop ngeles gak jelas, apalagi tipu-tipu, yaa.

Saya suka waktu Ibu Elly bilang bahwa disiplin adalah membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan. Membentuk kebiasaan mungkin hal yang biasa dikaitkan dengan disiplin. Tapi, meninggalkan kenangan, apa hubungannya dengan disiplin? Yes, sebab disiplin memerlukan wiring alias mengulang-ulang kebiasaan, jelas pengulangan ini akan terpatri lekat dalam ingatan anak. Ibu Elly memberi contoh yang sangat manis sekali, tentang hal ini. Jadi, di masa beliau masih duduk di bangku SMP, suatu hari ikutlah beliau dalam arak-arakan demonstrasi memprotes Soekarno. Di fase saat para aktivis gugur oleh senjata api para aparat militer, termasuk saat gugurnya Arief Rahman Hakim, itulah beliau ada di tengah-tangan kompulan massa yang tetiba menjadi mencekap lantaran banyaknya korban bersimbah darah berjatuhan di mana-mana. Sambil lari tunggang langgang, Ibu Elly pulang ke rumah. Ketakutan dan gemetar, ia disambut Ayahnya di depan rumah. Tahu apa yang Ayah beliau bilang? “Kenapa kamu lari? Balik ke sana dan jangan kembali. Ayah lebih rela kamu mati di sana, daripada mati dirumah digigit nyamuk!” ucap sang Ayah. Begitulah Ibu Elly mengenang caranya bertahan, kuatnya berjuang, dan tangguhnya berusaha. Maka inilah modal Ibu Elly masih dan rela berjuang di tengah minimnya perhatian dan bantuan pemerintah akan kasus-kasus remaja bermasalah yang ia hadapi. Inilah sumber tenaganya, bahwa ia harus rela mati dalam perjuangan, ketimbang mati dalam keadaan nyaman. Tahu kan, bagaimana lantangnya beliau meneriaki kita bahwa negeri ini darurat pornografi. Tahu kan, bagaimana perjuangan beliau mendampingi para remaja BLAST (bored, lonely, angry, stressed, tired) yang menghadapi aneka permasalahan pelik yang bahkan tak sanggup ditampung daya nalar kita, atau bahkan tak sanggup ditampung kuasa rasa di hati kita. Selagi benar, ia akan terus bergaung, begitu ujarnya mantap.

Tapi di saat itu, Ibundanya keluar tergopoh-gopoh dari dalam rumah, ikut menyambutnya. Luar biasa yang perempuan itu lakukan demi melihat gumpal gurat ketakutan yang terpampang jelas di raut Elly Risman muda. “Kamu belum makan kan, Nak? Lapar? Belum salat juga, kan?” cecarnya. “Sebentar, biarkan Elly masuk dulu, makan dan salat, ya. Baru setelah itu, kamu balik ke sana kan, Nak?” lanjut perempuan itu. Lihat bagaimana Ibunya mencari jalan tengah konflik antara Ibu Elly dan Ayahnya, dengan tetap menghormati sang suami namun cerdas melindungi putrinya, hatta di depan ayah kandungnya sendiri. Perempuan itu mampu menghadirkan ketenangan dalam ketakutan yang teramat pada jiwa Ibu Elly saat itu, sekaligus menjadi penguatnya. Ibu Elly menceritakan fragmen yang menurutnya masih vividly terekam jelas tiap detiknya lengkap dengan tiap ekspresi para pelaku di dalamnya itu, dengan suara berubah dari sangat ceria, menjadi bergetar haru. Seperti itulah ia mengenang Ayah dan Ibunya. Maka sekali lagi, disiplin JUGA adalah tentang meninggalkan jejak kenangan di benak anak-anak kita. Seperti apa kita ingin dikenang oleh anak-anak kita kelak?

Sampai sini, berat sekali yah urusan tentang disiplin SAJA itu. Saya pikir menegakkan aturan A, B, C, dengan konsekuensi D, E, F, saja cukup. Ternyata oh ternyata, sampai harus melekatkan kenangan baik di benak anak puluhan tahun ke depan, bahkan sampai saat saya telah tiada. Ya Allah, mampukan kami, dengan bimbingan dan pertolongan-Mu, Rabb.

Kenali anak sesuai fase hidupnya. Karena pusat perasaan berkembang dengan sangat dominan di fase awal kehidupan anak, utamanya 0-7 tahun, maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah unsur rasa, yakni:

  1. Anggap penting perasaan anak. Kenali dan pahami perasaan anak.
  2. Ajari anak mengenali perasaannya sendiri.
  3. Ajari anak merasakan apa yang dirasakan orang lain.
  4. Ajari anak-anak menjadi pribadi yang bahagia dan mampu membahagiakan orang lain.

Karena pusat rasa berkembang lebih dahulu dan dominan, serabut-serabut otak belum mulai terhubung secara signifikan. Oleh sebab itu parenting di usia 0-7 tahun adalah bicara tentang pearasaan, bukan pembelajaran kognitif. Penakanan pada aspek kognitif di usia ini bisa dikatakan percuma, karena kesiapan fisiologis otaknya memang belum matang untuk itu. Karena alasan inilah pelajaran calistung di bawah 7 tahun KURANG efektif. Pengasuhan anak tidak boleh lepas dari pengetahuan tentang struktur otak dan cara kerjanya – Brain Based Parenting. Parenting yang menggunakan Al-Quran, Hadits dan dijalankan dengan memperhatikan perkembangan struktur dan fungsi otak akan menghasilkan metode parenting yang menyenangkan.

Pada fase 0-7 tahun adalah fase emas untuk memulai penanaman disiplin, sebab pada rentang usia ini friksi belum besar, hal ini terkain dengan perkembangan struktur otak anak. Persiapkan diri, sebab mulai usia di atas 7 tahun, neuron otak anak mulai terhubung secara cepat dan di sinilah mulai muncul perdebatan (pertanyaan) akan hal-hal yang diajarkan orang tua. Neuron yang mulai terhubung tak lantas menjadikan otak anak sepenuhnya tersambung dan berada di bawah satu kendali direktur otak, kematangan sambungan serabut hingga ke direktur otak ini baru dicapai pada usia 20-25 tahun. Anak yang tumbuh dengan kondisi pengasuhan yang baik matang lebih cepat di usia kisaran 20 tahun, sementara rata-rata matang di usia 25 tahun .Semakin cerdas anak akibat semakin banyaknya hubungan antar neuron otak ini, semakin kritis anak dan orang tua harus kian melonggar (sebagaimana penjelasan The V of LoVe). Melonggar dan melunaknya orang tua di fase dewasa seharusnya tak menjadi masalah sebab fondasi kokohnya sudah dibangun sejak awal. Ingat selalu kurva ‘V’ ini, dan jangan terbalik!

Selain mengenali fase hidup anak, kenali pula sifat dan karakter masing-masing anak. Cara penegakan disiplin bisa berbeda antara anak satu dengan lainnya, sebab tiap anak adalah pribadi yang unik. Tidak ada cara terbaik dalam menegakkan disiplin, yang ada teori yang serupa namun diimplementasikan berbeda agar tepat sesuai dengan karakter masing-masing anak.

Dalam pelaksanaanya, disiplin haruslah dilaksanakan dengan memperhatikan perasaan anak dan harus berorientasi pada pemindahan tanggung jawab dari pundak ortu (otoritas eksternal) ke pundak anak (otoritas internal). Dengan orientasi tersebut, diharapkan disiplin mampu memicu proses berpikir anak dan proses pengambilan keputusan untuk dan atas nama dirinya.

Otoritas Internal vs Eksternal:

  1. Kalau bertumpu pada otoritas eksternal/orang tua, ketika anak bermasalah sulit mengembangkan kesadaran internal tentang apa yang harus dilakukan ketika orang tua tidak ada.
  2. Otoritas eksternal penting dalam membantu anak mencari jalan keselamatan hidupnya.
  3. Otoritas internal akan menumbuhkan kesadaran diri (membuat anak menyadari apa yang telah/sedang dilakukan) dan lalu mengambil keputusan bagaimana meresponnya dengan tepat/yang terbaik, tanpa harus diberitahu orang tua (bermuara pada kemandirian anak dan kemampuannya mengambil keputusan).
  4. Kesadaran diri adalah awal pengembangan otoritas internal.

Langkah menumbuhkan otoritas internal:

  1. Buat aturan
  2. Sepakati bersama
  3. Diterapkan, kalau ada pelanggaran ditanyakan mengapa
  4. Konsekuensi dan evaluasi

Disiplin yang ditegakkan dengan baik dan benar seharusnya membantu memindahkan kontrol dari tangan orang tua ke tangan anak. Kenapa pemindahan kontrol ini jadi sedemikian penting? Sebab orang tua tak mungkin selamanya ada di sisi anak. Sebab harta orang tua tak selamanya bisa menjamin hidup anak. Untuk ini, orang tua tidak boleh lembek, tidak tegaan, dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s